Aditya Maherdika. Aku mengeja nama itu lagi di dalam hati. Ada rasa perih menyengat hatiku seketika.
Adit, begitu aku menyebut pria tersebut. Sudah 12 tahun berlalu sejak pertama kali aku mengenalnya. Kami bertemu di dojo tempatku berlatih aikido waktu duduk di kelas 1 SMA. Ketika itu Adit adalah pelatih baru.
Di mataku, Adit adalah sosok yang menyenangkan. Murah senyun, sopan, dan juga pintar--terlihat dari gesture-nya ketika berbicara. Dalam sekejap, kami menjadi akrab. Sepulang dari latihan, Adit sering menawarkan diri mengantarkanku pulang. Aku sama sekali tidak keberatan. Jauh di lubuk hatiku, aku mengagumi Adit. Mungkin perasaan kagum itulah, embrio dari perasaan cinta yang baru kusadari dua bulan kemudian.
Adit bercerita bahwa ia sendirian tinggal di kota ini, menge-kost. Dia kuliah di salah satu universitas negeri, mengambil fakultas ilmu pemerintahan, semester lima. Adit berlatih aikido untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Adit bilang, dia ingin belajar mandiri, tidak mau bergantung terus pada orangtuanya. Mendengar itu semua, kekagumanku menggelembung kian besar.
Lima bulan kebersamaan kami, di waktu sore sehabis pulanh dari latihan aikido, Adit mengajakku jalan sebentar pulang ke rumah. Aku tidak keberatan, karena sesungguhnya aku juga ingin berlama-lama dengan Adit. Setelah berkeliling di sebuah taman berlain, membeli dua cone es krim (aku tidak pernah menyangka Adiy tahu es krim kesukaanku, rasa coklat) dan menghabiskannya dalam sekejap, Adit mengatakan sesuatu yang sejak lama aku harapkan. Aditya mengakui bahwa dia menyukaiku sejak pertama kali bertemu, dan sekarang ingin aku menjadi kekasihnya. Aku yang juga memendam perasaan yang sama, menyambut cinta Adit. Sore itu aku menangis bahagia dalam dekapan hangat Adit.
Masa pacaran adalah masa-masa yang membahagiakan bagiku. Adit begitu perhatian, selalu bersedia menjadi sandaran ketika aku membutuhkannya. Adit juga setia, tak pernah sekalipun aku mendengar kabar atau melihatnya sendiri dekat atau menggoda gadis manapun--meski aku tahu banyak gadis-gadis yang suka mencari perhatiannya. Tapi yang terpenting dari itu semua, Papa dan Mama menyetujui hubungan kami. Ketika aku mengajak Adit ke rumah dan memperkenalkan pada kedua orangtuaku, Papa hanya berpesan agar kami bisa menjaga diri. Aku tahu, di usia kami saat itu adalah masa yang rawan. Karena tidak ingin merusak kepercayaan kedua orangtuaku, kami berusaha untuk tidak melewati batas selama pacaran. Hal yang kami lakukan hanya sebatas berpegangan tangan--juga berpelukan ketika aku membutuhkan sandara. Selebihnya kami tidak pernah berbuat macam-macam, termasuk berciuman.
Empat tahu berlalu begitu cepat. Hubunganku dan Adit semakin mantap. Aku sudah lulus dari SMA dan Adit sudah meraih gelar sarjananya. Adit sudah berencana akan melamarku. Aku terharu ketika mendengar betapa seriusnya Adit dengan hubungan kami.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tidak ada angin, tidak ada hujan, juga tidak ada geledek, Adit tiba-tiba menghilang. Begitu saja, secara mendadak. Aku terguncang. Berusaha mencari tahu keberadaannya. Namun, Adit benar-benar lenyap seolah ditelan bumi.
Ditinggalkan Adit, membuat duniaku yang semula penuh warna, berubah muram seketika. Aku menjadi pribadi yang tidak percaya dengan cinta. Aku tidak pernah lagi mau menjalin hubungan, meski banyak pria yang menyatakan cinta padaku. Aku tidak tahu apakah kepergian Adit meninggalkan trauma bagiku. Yang kutahu pasti, aku hanya terlalu takut untuk ditinggalkan dan merasakan patah hati lagi.
***
Pertemuanku dengan Adit—setelah 8 tahun pria itu menghilang—membuat perasaanku kacau balau. Otakku nge-blank. Bibirku hanya mampu membisikkan namanya satu kali dengan ekspresi terkejut luar biasa. Aku yakin tampangku saat itu pasti pucat sekali. Seperti melihat hantu saja--tapi, dia memang hantu dari masa laluku, kan? Beruntung saat itu Pak Herdian berhasil menarik kesadaranku.
Kini aku berada di dalam kelas. Aku berusaha fokus untuk mengajar. Bagaimanapun aku harus bersikap profesional. Masalah hati harus kuketepikan untuk sesaat. Setelah selesai menerangkan materi di papan tulis, aku memberikan soal latihan. Selama murid-murid mengerjakan latihan, aku berkeliling. Melihat sejauh mana kemampuan mereka akan materi yang baru saja aku ajarkan.
Langkahku terhenti di depan bangku murid laki-laki yang terlihat melamun. Mata bulatnya menerawang. Buku dan pensilnya tergeletak begitu saja di atas meja, dalam keadaan tertutup dan tidak tersentuh. Murid laki-laki itu adalah Akbar Nurdaffa Maherdika, anaknya Aditya Maherdika. Ada hantaman sakit yang menyerang d**a setiap kali aku melihat Daffa. Mungkin ini efek kekecewaan dan sakit hati yang kupendam selepas kepergian pria tersebut.
Aku menghela napas, lalu menepiskan tusukan rasa sakit yang merajam hatiku. Aku mengepalkan tangan, berjalan mendekati Daffa. Daffa terlonjak ketika aku menyentuh bahunya. Menyadari keberadaanku, Daffa buru-buru meraih pensil dan membuka bukunya.
"Ada yang nggak Daffa mengerti?" tanyaku berusaha untuk tersenyum. Anak didikku masih duduk di kelas satu sekolah dasar, jadi aku harus bersikap ramah terhadap mereka. Aku tidak boleh galak karena itu akan membuat mereka takut dan tidak mau belajar. Aku selalu berpendapat, guru yang baik itu adalah guru yang membuat muridnya merasa nyaman, bukannya ketakutan. Guru yang menjadi pembimbing untuk membawa muridnya ke arah yang lebih baik.
Daffa masih menunduk. Kepalanya menggeleng pelan. Tapi, buku tulisnya masih bersih dari coretan apapun.
"Kalo ada kesulitan, Daffa boleh nanya sama Ibu, kok. Nanti pasti Ibu bantu."
"Iya," jawab Daffa lirih.
Daffa mulai menulis dan aku memberikannya senyuman hangat. Berharap itu dapat menbuat anak laki-laki itu sedikit rileks dengan lingkungan belajarnya yang baru. Aku kembali berkeliling, berhenti ketika menemukan murid yang kesulitan dalam mengerjakan latihan. Aku beruntung, kesibukan membantu anak didikku membuat pikiran tentang Adit terlupakan untuk sesaat.
***
Sepulang sekolah, aku memutuskan jalan-jalan sejenal ke hutan kota. Lokasinya tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Aku butuh udara segar untuk menetralisir perasaanku yang jungkir balik pasca pertemuan dengan Aditya Maherdika. Pohon-pohon, daun-daun hijau, nyanyian burung, dan suara gemericik air dari sungai kecil di hutan kota selalu bisa jadi penenang di saat aku membutuhkannya.
Aku sedang duduk-duduk di tepi sungai ketika terdengar suara teriakan minta tolong. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Aku menyipitkan mata. Dari kejauhan aku melihat dua orang pria berlari ke arahku. Pria di depan berpakaian lusuh dan terlihat sangar. Tidak butub intelegensi tinggi, aku tahu pria tersebut seorang preman. Sementara yang mengejarnya adalah pria berpakaian necis, seperti pegawai kantoran. Sadar dengan apa yang terjadi, aku segera berdiri. Aku menghadang langkah preman tersebut.
"Minggir!" teriak preman itu kasar. Seringai buas tercetak di bibirnya yang tebal dan hitam.
Aku tidak mengubris perintah preman itu. Malahan, aku melakukan gerakan menggeser kaki ke depan dengan tujuan memperpendek jarak antara kami. Lalu aku memasang kuda-kuda.
Preman itu tertawa melihat apa yang aku lakukan. Ia menatapku dari atas ke bawah, lalu berdecak, "Kau mau mela--"
Belum selesai preman itu berkata, aku langsung melakukan atemi--pukulan langsung kepada lawan dengan tujuan membuyarkan konsentrasi. Tidak sampai disitu, tanpa memberi waktu preman tersebut untuk mencerna apa yang telah terjadi, aku melanjutkan serangan dengan jurus tsuki--serangan pukulan lurus, bisa ke arah perut atau kepala--, disusul yokomenichi--serangan menebas dengan sasaran leher. Kemudian aku melakukan munadori--serangan cengkraman pada kerah baju--dan membanting preman tersebut. Preman tersebut tumbang dan tergeletak di tanah berumput. Dia mengaduh kesakitan. Aku masih ingin menyerang, namun preman itu buru-buru berdiri dan mengambil langkah seribu. Sadar bahwa dia tidak bisa menang melawanku.
Mataku menangkap keberadaan dompet kulit tak jauh dari lokasi preman tadi jatuh. Aku membungkuk dan memungut dompet tersebut. Tebal juga, komentarku. Saat aku menegakkan tubuh lagi, aku menyadari kehadiran seseorang yang jaraknya beberapa langkah di depanku. Sosok itu berdiri dengan raut syok sekaligus kagum. Mungkin dia heran melihat aku yang bertubuh mungil ini mampu membanting preman bertubuh besar yang tadi dia kejar.
Aku menepuk-nepuk dompet itu di tangan dan berjalan mendekati pria berpakaian necis teraebut. Katika kami sudah berdiri berhadapan, aku mengulurkan dompet tersebut.
"Punya kamu, kan?"
Mata biru cemerlang pria tersebut mengerjap dan mengangguk cepat. Tanla mengalihkan pandangan dariku, dia menyambut dompet yang aku sodorkan.
"Tolong diperiksa. Ada yang hilang atau nggak."
"Ah, iya."
Aku sedang menunggu pria tersebut memeriksa dompetnya ketika teringat sesuatu. Aku menepul dahiku keras dan mengumpat. Astaga, bagaimana bisa aku melupakan mobil yang tadi pagi kutinggalkan di tepi jalan begitu saja?
Aku segera berbalik dan berlari menuju pangkalan ojek yang berada di seberang jalan pintu keluar hutan kota ini. Sayup-sayup aku mendenfar teriakan pria tadi memanggilku, tapi aku mengabaikan dan terus berlari. Aku harus cepat-cepat menjemput mobilku dan membawanya ke bengkel.
Ah, sial! Ini semua karena kemunculan pria bernama Aditya Maherdika itu.