DUA

1027 Words
Sepertinya Mama masih bersikukuh dengan rencana gilanya--maksudku perjodohan konyol--itu. Buktinya seminggu sudah berlalu sejak pertama kali pembicaraan itu terjadi, tapi pagi ini Mama masih membahasnya saat sarapan. Aku memilih bungkam lantaran bosan mendengar perihal itu-itu terus. Allen yang beginilah. Allen yang begitulah. Dan bla-bla-bla lainnya. Memangnya aku peduli? Mau dia ganteng, jelek, atau tidak punya wajah sekalipun, aku tetap tidak akan peduli. Aku memasang tampang masa bodo, berharap Mama sadar dan segera berganti topi. Tapi, aku lupa kalau kekerasan kepalaku ini turunan Mama. Mama mengabaikan sikapku dan tetap semangat membahas si Allen itu. "Papa udah berangkat, Ma?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Udah. Pagi-pagi banget. Katanya ada kerjaan yang musti dikelarin sebelum meeting pagi ini." Oh iya, cerita sedikit tentang papaku, beliau adalah GM di sebuah perusahaan pembuat kertas.Posisi yang sangat menjanjikan di usianya sekarang--omong-omong Papaku berumur 56 tahun. Dengan posisi Papa sebagai GM, banyak yang heran kenapa aku malah berakhir sebagai guru di sebuah SD. Menurut mereka, seharusnya aku mengikuti jejak Papa, mengambil jurusan bisnis ketika kuliah dulu, seperti yang Kak Adel lakukan. Tapi, aku mensyukuri profesiku saat ini karena ini adalah mimpiku. Untunglah Papa dan Mama mendukung--meski awalnya Mama keberatan karena menurutnya profesi guru itu tidak menjanjikan. "Oh, ya. Lusa, keluarga Tante Kumala datang. Mama undang makan malam. Ara bantuin Mama masak, ya." "Tante Kumala?" "Iya. Biar kamu dan Allen ketemu dan kenalan." Aku mendesah. Aku pikir siapa pula Tante Kumala itu tadi. Ternyata teman Mama yang anaknya mau dijodohkan denganku. "Ma, Ara kan udah bilang nggak mau dijodohin." "Enaknya kita masak apa, ya, Ra? Ayam goreng? Rendang? Pepes ikan?" tanya Mama, sengaja tidak acuh dengan protesku. Akhirnya akupun memilih jurus terakhir yang kumiliki: masa bodo dengan ocehan Mama. "Terserah Mama, deh. Ara nggak peduli." Setelah itu aku mengakhiri sarapanku dan bergegas pergi ke sekolah. *** Aduh! Aku mendang ban mobil yang kempes dengan hati dongkol. Padahal sepuluh menit lagi aku sudah diharuskan berada di sekolah. Ada briefing mingguan yang wajib diikuti setiap pengajar yang diadakan pada Senin pagi sebelum upacara bendera. Mana lokasiku saat ini masih jauh dari sekolah. Di sekitar sini juga tidak ada bengkel mobil. Kalau begini, tidak ada jalan lain. Aku terpaksa naik ojek dan meninggalkan mobilku di sini, yang akan kuambil sepulang sekolah nanti. Aku mengambil barang-barangku, mengunci mobil, lalu bergegas menuju pangkalan ojek--seingatku--berada tidak jauh dari sini. Aku terlambat sampai di sekolah. Setelah membayar ongkos ojek, aku berlari menuju gedung sekolah. Dalam keadaan seperti ini aku mengutuki kenapa sekolah ini memiliki halaman yang luas. Ditambah lagi, ruang staf pengajar tempat briefing dilakukan berada di lantai dua. Mana harus naik tangga lagi karena tidak ada lift. Sampai di lantai dua, napasku sudah putus-putus. Rasanya sudah mau mati saja. Kakiku rasanya juga mau lepas dari engselnya. Aku berhenti sejenak, membungkuk dengan salah satu tangan memegang d**a, mengatur napas. Setelah merasa lumayan baik, aku merapikan penampilan dari pantulan kaca pintu, kemudian mendorong pintu tersebut dan masuk. Seperti yang aku takutkan, kepala sekolah sudah berada di tempatnya, memimpin briefing seperti biasanya. Ruangan hening. Semua mata tertuju padaku. Aku paling tidak suka menjadi pusat perhatiab seperti ini. Aku pun membungkukkan badan dan mengucapkan, "Maaf, aku terlambat." Aku buru-buru menuju kursi yang biasa kududuki saat briefing. Briefing kembali dilanjutkan. Briefing hari ini pun hampir sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Membahas kegiatan seminggu ke depan, tentang kondisi mengajar di kelas, tentang perkembangan siswa--juga permasalahan yang terjadi, dan hal-hal yang dianggap perlu lainnya. Tepat jam 7.10, kepala sekolah pun menutup briefing. "Bu Kiara, selepas upacara nanti, temui saya di ruangan," kata kepala sekolah sebelum berdiri dari tempat duduknya. Aku yang sadar diri telah melakukan kesalahan berdiri dan mengangguk, "Baik, Pak," jawabku cepat. Setelah sosok tambun kepala sekolah menghilang dari pandangan, aku merosot di tempat dudukku. Mood-ku anjlok. Nanti aku pasti akan mendapat teguran dan ceramah mengenai pentingnya disiplin waktu. "Tumben telat, Ra." Aku menoleh dan mendapati wanita dengan wajah berbentuk hati sudah duduk di sampingku. Ekspresinya menunjukkan kepedulian. Wanita itu adalah Faradila, orang yang paling dekat denganku di sekolah ini. "Ban mobilku bocor di jalan, Far." "Oh, gitu. Ntar kamu jelesin aja yang sebenarnya ke Pak Herdian. Dia pasti ngerti." Aku tersenyum. Dalam hati berharap apa yang Fara katakan benar, kepala sekolah akan mengerti dengan alasan keterlambatanku. Bel masuk berbunyi nyaring. Aku dan Fara pun berdiri dan keluar menuju halaman untuk mengikuti upacara bendera. *** Aku menarik napas, menenangkan gemuruh di d**a, lalu mengentuk pintu ruang kepala sekolah. Tak lupa aku mengucapkan salam, "Permisi, Pak." Pak Herdian, yang duduk di balik mejanya, mengangkat wajah dan mengangguk. Beliau mempersilakanku masuk dan duduk di hadapannya. "Saya minta maaf atas keterlambatan saya hari ini, Pak." Tanpa membuang waktu aku segera meminta maaf. "Di jalan ban mobil saya bocor," lanjutku kemudian, menjelaskan alasan keterlambatanku pada Pak Herdian. Pak Herdian tersenyum tipis dan mengangguk. "Saya mengerti," jawabnya, membuat perasaanku plong. "Tapi, saya harap kejadian ini tidak terulang lagi, ya, Bu Kiara." "Saya janji tidak akan mengulanginya, Pak." "Sebenarnya saya memanggil Bu Kiara ke sini bukan untuk membahas keterlambatan tadi. Tapi, hari ini ada murid pindahan ke sekolah kita. Masih kelas satu. Karena Bu Kiara yang megang kelas satu, saya ingin meminta tolong Bu Kiara menemani murid ini ke kelas dan memperkenalkannya pada murid-murid yang lain." "Baik. Akan saya laksanakan." "Kalau begitu, kita temui murid ini dan walinya sekarang. Mereka sudah menunggu." Pak Herdian berdiri dan aku mengikutinya. Kami berjalan menuju ruangan tempat biasanya kepala sekolah menerima tamu. "Pak Aditya, ini Ibu Kiara. Nantinya Bu Kiara ini yang akan menjadi wali kelas anak Anda." Pria yang dipanggil Pak Aditya itu mengangkat wajahnya dan berdiri. Saat dia menoleh padaku, dan tatapan kami bertemu, mendadak waktu terasa berhenti seketika. Semuanya memudar dan lenyap. Dua hal yang masih kusadari adalah detak jantungku yang menggila dan pria bernama Aditya tersebut. Aku juga melihat percikan keterkejutan dari mata hitam pria tersebut. "A-Aditya?" bisikku lirih dengan suara bergetar. Satu nama, yang hanya mengucapkannya, butuh kekuatan luar biasa. "Kiara?" Mendadak ratusan pertanyaan bermunculan dan berputar-putar di benakku. Kapalaku berdenyut sakit dan pusing. Tapi, aku tidak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Aditya. Aku memejamkan mata. Menenangkan diri dari badai yang tengah memorak-porandakan hati. Aku benar-benar tak habis pikir, setelah bertahun-tahun menghilang, kenapa pria itu harus hadir di hidupku kembali?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD