Hingar bingar music beat khas Club malam menguar keras, mengiringi para pengunjung yang asyik menikmati dunia malam atau sekadar melepas penat. Termasuk Elara.
Ia dan sahabatnya bernama Felisa kini sedang minum di area meja bar panjang tak jauh dari lantai dansa.
"Kau benar-benar gila, El? Kau baru memberitahu sahabatmu ini jika selama ini menikah kontrak!" Felisha berseru dan protes disertai mata yang menatap Elara bombastik. Ia mengira sang sahabat menikah sungguhan dan bahagia bersama pria billionaire bernam Casias Langford. "Wah kau sungguh pantas mendapatkan peenghargaan akting terbaik tahun ini!" sarkasnya lagi.
"Maaf, Beb. Tapi, itu bagian dari perjanjanjian," balas Elara enteng. "Tapi ... karena aku akan bercerai besok maka, aku tidak peduli lagi." lanjut Elara tak ingin ambil pusing.
DRTTT!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Elara dan wanita itu langsung membukanya.
"Nyonya maaf, aku sungguh kecewa sama Tuan karena dia ternyata yang mengkhianatimu. hikss."
Rupanya sang asisten rumah tangga, Gloria yang terlanjur sayang pada Elara yang mengirim pesan tersebut.
Namun, bukan pesan Gloria yang membuat hatinya meringis, melainkan foto Casias yang turut dikirimkan dalam pesan tersebut. Tina sang mantan suami dan juga Casias sedang saling memeluk. Hati Elara bertambah pilu kala spot mereka berpeluk ialah di kamarnya.
"Bahkan Tina sudah menjadi penghuni kamarku saat kita belum resmi bercerai. Kau sungguh tak membuang waktumu, Cas," gumam Elara sembari tersenyum kecut disertai air mata yang spontan keluar dengan sendirinya.
Felisha yang menyadari hal tersebut langsung menguatkan Elara. "Jangan bersedih, El. Jalanmu masih panjang. Tak ada guna menangisi pria yang sudah menyakitimu!"
"Kau benar. Aku pasti bisa melaluinya."
"Kalau begitu kau harus melepaskan dirimu, El. Suamimu mungkin sedang bercinta dengan model itu. Ayo kita menggila malam ini!" seru Felisa mengajak Elara bersulanh.
Tak lama, Elara dan sang sahabat menggila di lantai dansa. Elara menari liar melepaskan topeng istri formalitas.
Sehari lagi, El. Hanya tinggal besok hidupmu akan bebas dari drama, batin Elera antusias.
Tak lama, sebuah keributan terjadi tak jauh dari tempat Elara menari. Seorang pria tiba-tiba menari tangaan Elara dan mendekap di kerumunan.
"Hi. Cantik!" sapa sang pria mengenakan hoddie. Harus Elara akui, pria itu cukup tampan dan lebih muda darinya. Namun, Elara menolak untuk mencari pelampiasan. Terlebih, ia masih harus menjaga image sebagai istri Casias di hari terakhir.
"Hey lepas!" seru Elara menggeliat, berusaha melepaskan jeratan tubuh atletis itu. Namun, usahanya sia-sia. Cengkraman pria itu sangat kuat dan ia sama sekali tak mengindahkan protes Elara.
Sang pria malah berbisik, "tolong aku kali ini, nyawaku dalam bahaya."
Mendengar ucalan tersebut, Elara terkesiap. Dari kejauhan terlihat dua pria kekar menyerobot kerumunan dengan raut bringas.
Untuk sejenak ia terdiam, tak tahu harus berbuat apa, terlebih Felisha sedang pergi me-reffil minuman sehingga ia harus meng-handle situasi genting sendirian.
Namun, tak lama berpikir, jiwa penolong Elara bangkit secara spontan. Ia tak ingin ada pertumpahan nyawa karena dirinya menolak menolong. "Bagaimana aku menolongmu?"
Sang mendekatkan wajah Elara seolah sedang beradegan berciuman. untuk sejenak, Elara tertegun jarak kedua bibir mereka terlampau dekat. Meski begitu, Elara sama sekali tak merasakan getaran berlebih, karena Casias untuk saat ini masih bertahta di hatinya.
"Sial! Kita kehilangan jejak penggoda istrimu!" Celetuk salah seorang pria yang sempat terhenti di dapan Elara.
"Ayo kita tetap mencari b******n itu! Aku akan menghajarnya habis-habisan!"
Cara mereka pun berhasil, dua pria beringas itu pergi akhirnya pergi menjauh dari posisi sang pria dan Elara yang berpura-pura sebagai pasangan yang sedang berciuman.
"Ikuti aku! Di sini belum aman," ajak sang pria menggandeng tangan Elara.
Sesampainya di spot sepi, keduanya mengembus napas lega.
"Seriously? Kau menggoda istri orang?" celetuk Elara. "Jika benar begitu, harusnya aku biarkan kau dihabisi mereka karena aku benci perebut pasangan orang."
Bukannya menjawab, pria itu malah terkekeh mendengar dumelan Elara.
"Apa yang lucu, hah?" kesal Elara.
"Haha, tidak ada. Aku hanya heran, ternyata masih ada wanita cantik berstatus menikah yang menebar dirinya dengan berpakaian seksi dan menari vulgar di tengah kebanyakan p****************g ... tapi menasehati orang utuk setia," sindir balik sang pria seraya matanya tertuju pada cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Elara.
Sial! Dia benar. Aku lupa melepas cincin palsu ini!
Seketika Elara terkesiap dan lantas menyembunyikan tangannya ke belakang. "Kau tidak tau apa-apa tentang hidupku!"
Belum sempat Elara berkata lagi, dua orang berpakaian serba hitam tiba-tiba menyergap masing-masing kedua tangan Elara dan sang pria lalu dibelenggunya kuat ke arah belakang.
"HEY LEPAS!" pekik Elara.
Alih-alih mengindahkan, salah satu pria itu malah melaporkan penangkapan Elara dan pria asing yang bersamanya kepasa seseorang melalu microphone di telinganya. "Kami telah menangkap mereka, Bos."
Beberapa saat kemudian.
Elara digiring paksa untuk diarahkan ke area lantai 2 Club malam tersebut. Tas dan ponselnya disita, seolah Elara seorang penjahat.
Setelah sampai di sebuah ruangan, tubuh Elara dan pria asing itu di dorong paksa hingga mendekati kursi tunggal dimana seseorang sedang duduk dan membelakangi.
"Kau bikin masalah lagi, hah?!" sentak suara pria yang belum menampakan rupanya.
"Siapa bilang? Aku tidak tau wanita yang kusapa tadi sudah bersuami!" sergah pria di sebelah Elara.
" Sudah berapa kali kukatakan padamu untuk tidak membuat skandal dengan mengganggu istri orang! Dasar memalukan!?" Pria di kursi itu berbalik, memasang raut murka.
Untuk sejenak, Elara terpana. Ia langsung bisa merasakan jika pria dihadapannya memiliki aura kharismarik tinggi.
Pria itu tampan dan atletis, sorot matanya tajam, tapi Elara dapat melihat kelembutan dan wibawa yang memancarkan dari balik topeng dinginnya.
"Apa sudah selesai menatapku?" Tanpa Elara sadari, sang pria menyindirnya.
Pria itu tidak salah tebak, siapapun dapat melihat jika Elara menatap kagum ke arahnya sedari tadi.
Elara segera berkedip dan menggelengkan kepalanya cepat. "What, no! Aku tidak menatap–"
"Apa kau tak malu, Nyonya? Kau bersuami tapi malah berkencan dengan berondong muda seperti adikku?! Apa suamimu kurang memuaskanmu!? Apa kau kekurangan uang untk hidup bermeaah mewahan?"
"WHAT!" Elara tercengang hebat karena situasi yang berubah total berbalik memojokan dirinya. Seakan ia pelakunya.
Di sisi lain, ponsel Elara bergetar di dalam tas yang disita. Nama Casias terpampang dilayarnya