Melanjutkan Mimpi Aldrich

1118 Words
Hanya tinggal menghitung hari menuju tenggang waktu yang dijanjikan raja membuat Idril harus mulai mempersiapkan dirinya. Setelah pengantar pesan tiba di kediaman Vladmire, sejak saat itulah Idril mulai menjatuhkan fokus kepada hari pengangkatan. Karena nantinya acara ini akan menjadi momen yang penting, ia ingin melakukan segalanya dalam keadaan yang sempurna. “Idril, acara pengangkatan adalah momen dimana dirimu akan debut di hadapan para kepala keluarga bangsawan. Kau belum mencapai debut secara resmi, jadi kau harus membuat kesan pertama yang baik … ini yang Isaac ucapkan padaku sebelum duduk di kursi kepala keluarga,” tutur Gavril sembari memandang ke arah sang butler yang telah setengah membungkuk dan mengulas seutas senyum. Isaac mungkin merasa sedikit tersanjung karena tuan mudanya mengutip kata-kata yang sempat ia berikan kepadanya di masa lalu. Idril yang kala itu tengah duduk dan meneguk segelas air hanya mengangguk. Bukannya ia tidak ingin menanggapi pesan Gavril. Ia baru saja selesai melakukan latihan berdansa dengan countess Wilhelm. Lagi pula mana mungkin dirinya melupakan kata-kata sepenting itu, bahkan sampai sekarang pun ia masih mengingatnya. Itulah mengapa sang duke sampai menghubungi instruktur dansa yang paling terkenal di antara para bangsawan. Countess Cordelia Wilhelm adalah mantan artis opera yang multitalenta. Bukan hanya pandai dalam seni bermain peran, sang countess juga lihai dalam menggerakan tubuhnya dengan gemulai kesana-kemari. “Selamat pagi, Nona Tinuvel. Perkenalkan saya adalah Cordelia Wilhelm. Sebuah kehormatan tersendiri untuk menjadi instruktur Anda,” sapa seorang wanita berkacamata pada hari pertama Idril kembali berlatih dansa. Mungkin dahulu ia pernah melakukan pembelajaran semacam ini, tapi entah mengapa saat Gavril memintanya untuk melihat kemampuan dansanya Idril tiba-tiba saja lupa bagaimana tubuhnya harus bergerak. Bukankah hal semacam ini sangat menyebalkan? Entah mengapa ia bisa melupakan setiap gerak, langkah, dan ketukan yang telah ia pelajari. "Tidak apa-apa … mungkin kau berdansa di mimpi. Jadi, kau lupa ketika terbangun dari tidurmu,” kata Gavril yang terdengar seperti sedang meremehkannya. Idril yang kesal akhirnya hanya dapat mendelik ke arah sang duke. “Aku bersumpah … aku sudah bisa berdansa karena ibuku telah memberikan pembelajaran tentang berdansa, sekalipun usiaku masih terbilang muda,” tandas Idril cepat. Ia tidak menerima bagaimana sang duke meremehkannya. Gavril mengangguk⸺ia mengiyakan saja ucapan gadis bersurai pirang saat ditanya kemana hilangnya kemampuan yang semula ia banggakan itu, “Baiklah … mungkin karena kau sudah bertumbuh, dan kau melakukannya ketika masih sangat muda kau jadi lupa … ingatan manusia lemah bukan?” Mendengar tanggapan Gavril yang sepertinya sedang bergurau membuat Idril memilih mengangguk saja. Ia mungkin sudah cukup muak dan lelah untuk membalas sang duke. Dan sejak perkenalan dengan countess Wilhelm, hari-hari Idril yang kebanyakan diisi dengan persiapan untuk pesta pelantikannya. Banyak yang ia lakukan selain berdansa, salah satunya yaitu tetap menambah wawasannya agar dapat memuli perbincangan dengan bangsawan lain. “Astaga … mengapa banyak sekali yang harus kulakukan,” keluh Idril lirih. Ia meletakkan kepalanga di atas meja dimana terletak beberapa buku. Idril memandangi tumpukan buku yang terlihat tidak lagi menggunung seperti hari sebelumnya. Tiba-tiba saja entah mengapa, Idril teringat akan si sulung Tinuvel. Aldrich selama ini selalu berkutat dengan berbagai buku-buku yang dibawakan para pelayan. Pemuda itu bekerja keras demi mempersiapkan dirinya demi menjadi kepala keluarga mereka. Tapi akhirnya semua usaha yang dilakukan si sulung Tinuvel berakhir sia-sia. Kesedihan melingkupi perasaan Idril membuatnya berkaca-kaca ketika menatap tumpukan buku di hadapannya. Padahal ini bukanlah momen untuk mengenang kembali masa lalu, tapi sejak ia memulai persiapan pengangkatan benaknya semakin tidak tenang. Beberapa kali ia bahkan memikirkan hal gila, salah satunya adalah keraguannya untuk mengambil alih tugas Aldrich. Berulang kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang merebut apa yang seharusnya menjadi milik sang kakak. Ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan mengingat dirinya hanya satu-satunya Tinuvel yang selamat. “Apakah terjadi sesuatu?” Sebuah suara berhasil membuat Idril sedikit terlonjak, karena penampakan sosok tampan di hadapannya yang muncul secara tiba-tiba. Meski melihat raut yang cukup masam dari Idril tidak membuat Gavril gentar dan ketakutan. Pria itu justru mengulum senyum menawan. Dan itu terlihat menyebalkan, pikir Idril. “Tidak ada … aku hanya sedang beristirahat,” jawab Idril yang mencoba mengelak. Ia mencoba kembali untuk fokus pada lembaran papyrus di atas meja, sayangnya benaknya masih saja melalang buana. “Kau gelisah … kau tahu? Biarkan aku menebaknya,” ucap Gavril kembali memecah keheningan. “Tidak … jangan menebaknya, kita tidak sedang bermain tebak-tebakan. Aku hanya sedang beristirahat itu saja,” sanggah Idril kembali. Ia tidak membalas pandangan sepasang manik keemasan yang kini tengah menatapnya. “Idril … kita hidup dalam sebuah roda. Dan sama halnya dengan roda, banyak yang terjadi pasti selama roda itu berputar dan bergerak.” “Itulah mengapa manusia dan makhluk lainnya terkadang dibuat kerepotan. Hal-hal yang tidak terduga itu membuat mereka harus bertindak cepat … bisa dibilang menciptakan sebuah improvisasi.” “Dan apa yang terjadi padamu adalah salah satu improvisasi dalam hidup.” Tidak ada sanggahan lagi. Idril memilih mendengarkan ucapan sang duke, ia mencoba mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan si pria bersurai legam. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pendapat pria itu, sebaliknya apa yang diucapkannya lagi-lagi adalah sebuah kenyataan. “Aku … takut bila Aldrich berpikir aku merebut tempat yang telah dipersiapkannya bertahun-tahun lamanya,” kata Idril akhirnya. Ia mengepalkan tangannya ketika teringat pada bayangan sang kakak yang telah berusaha demi posisi seorang marquis. Melihat gadis bersurai pirang di hadapannya tampak bersedih membuat Gavril menghela nafasnya pelan. Ia merasa gadis yang selalu dibanggakan mendiang marquiss sebagai gadis yang jenius menjadi seseorang yang berotak udang. Sebenarnya sang duke ingin terbahak karena mendengar ucapan Idril. Tapi ia tidak ingin memulai perang di antara mereka, sehingga akhirnya Gavril memilih untuk duduk bersandar di meja tempat Idril membabat habis buku-bukunya. “Bukankah aku sudah bilang? Hidup itu terkadang ada improvisasinya dan apa yang terjadi padamu adalah salah satunya. Apakah kau tahu Aldrich akan tewas?” “Tidak ada yang tahu bahwa ini semua akan terjadi, Idrill. Bahkan Aldrich pun mungkin berpikiran sama denganku.” “Seandainya kalian tahu ini akan terjadi di masa depan, apakah kalian akan diam saja meski dibantai habis-habisan? Tidak, bukan?” Idril hanya mengangguk lesu dan kembali mengiyakan ucapan Gavril. Entah mengapa, pria itu kerap datang di saat dirinya sedang terduduk dalam posisi yang rendah. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku yakin Aldrich pun berpendapat sama denganku untuk menjadikanmu sebagai kepala keluarga Tinuvela, itu pilihan yang benar dibandingkan memberikannya kepada si rubah Wilford” imbuh Gavril. “Karena Aldrich tahu … lebih baik mimpinya jatuh di tangan adiknya, daripada tergeletak begitu saja seperti sebuah sampah. Karena itu anggap saja apa yang sedang kau lakukan saat ini bukan merebut mimpi kakakmu …” “Sebaliknya kau sedang melanjutkan impiannya untuk memimpin dan melindungi Tinuvel.” “Melanjutkan mimpi Aldrich ya … kupikikir itu bukan hal yang salah …”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD