“Dasar para b*****h itu … bisa-bisanya dia melakukan hal semacam itu padaku. Mereka tidak memiliki otak atau bagaimana? Rubah tua? Anjing pelacak? Berani-beraninya menyebutku seperti itu.”
Hak sepatu pantofel Bernard menggema keras sepanjang lorong. Ia baru saja tiba di mansion miliknya dalam keadaan wajah merah padam. Ia tidak sendiri di belakangnya sang butler memperhatikan langkah tuannya, takut bila saja pria itu tiba-tiba tidak sadarkan diri.
“Apakah para pengawal tidak ada yang tahu bila ada penyusup?” tanya Bernard setelah ia tiba di kamar. Butler kediamannya mengernyit karena pertanyaan pria berhidung pesek itu. Tapi ia tetap saja mencoba memberikan jawaban, sehingga ia mencoba mengingat beberapa laporan beberapa hari ini.
“Tidak ada, Tuan. Semuanya berjalan baik-baik sa⸺” Belum sempat menyelesaikan ucapannya sang butler telah dikejutkan dengan sebuah cangkir keramik yang melayang. Ia dapat merasakan pening pada pelipisnya.
“Dasar tidak berguna! Bagaimana kalian tidak tahu bila ada penyusup?! Apa yang kalian lakukan selama ini … aku membayar kalian mahal bukan untuk duduk bersantai, lihat apa yang terjadi karena kalian lengah?”
“Aku hampir mati … mati!!!” Bernard terengah-engah. Wajahnya kini terlihat sangat merah seperti baru saja direbus. Ia bahkan membanting setiap benda yang ada di dekatnya, entah itu cangkir, teko, bahkan vas bunga mahal. Sang butler yang tidak mengerti alasan kemarahan count hanya dapat menunduk dalam dan membungkuk.
“S-saya mohon maaf karena masih belum bekerja dengan baik … saya mohon maaf tidak memantau setiap tugas para pekerja dengan baik,” ujar butler Wilford. Meskipun ia tidak begitu tahu apa kesalahannya, tapi ia tetap meminta maaf. Sekalipun ia harus terhuyung-huyung karena rasa pening akibat tidak siap saat Bernard melemparkan cangkir keramik.
“Sudahlah … percuma … sekarang aku sudah berada di ujung tanduk. Jika aku tidak melakukan permintaan mereka pasti duke akan datang dan membunuhku, tapi ketika aku menjadi telinga untuk mereka artinya aku harus mempertaruhkan nyawa,” tutur Bernard frustasi. Ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan pria bermanik keemasan yang sempat membuatnya kehabisan oksigen karena lilitan rantai besi.
“Mulai sekarang aku ingin kau menjawabnya, apakah kau bisa menyusup dan memberikan informasi tentang pergerakan mereka? Hanya menuliskan tentang siapa mereka dan apa tujuan mereka sebenarnya.”
“… saya benar-benar berharap tidak perlu mencekik Anda. Ingat sekali saja Anda berdusta, apa yang akan mereka lakukan pada Anda.”
Ucapan Gavril kembali terlintas. Bernard merasa pria itu masih berdiri di sampingnya dan selalu mengucapkan hal yang sama, lagi dan lagi. Ini membuat sang count merasa sangat frustasi, itulah mengapa ia tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.
“A-apakah terjadi sesuatu … Tuan?” Sang butler mencoba menanyakan keadaan kepada sang tuan takut-takut. Entah ia adalah sosok yang sangat profesional atau bodoh, setelah apa yang telah dilakukan Bernard ia tetap saja menanyakan keadaan pria itu.
“Dia tahu … duke dan Idril … mereka berhasil membongkar semuanya, aku tidak menyangka mereka tahu aku menyembunyikan dokumen itu,” jawab Bernard lesu. Ia tampak tidak bertenaga. Bahkan sekarang tubuhnya bersandar pada tubuh ranjang kayu. Otaknya tidak dapat memikirkan apapun kecuali ketakutan akan sakitnya bertemu kematian.
“Anda … sebaiknya memantapkan keputusan Anda, Tuan. Maksud saya Anda tidak memiliki pilihan untuk lepas dari perjanjian itu, tapi … Anda juga tidak ingin terbunuh di tangan nona Tinuvel.”
Tidak ada yang salah dengan ucapan sang butler. Semuanya memang masuk akal. Baik dirinya menghindar atau melakukan salah satu dari keduanya, pada akhirnya Bernard tetap harus menemui akhir dari cerita hidupnya. Setidaknya ia ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama.
Kepala keluarga Wilford itu menghela nafas kasar, ia memandangi pecahan kaca yang berserakan di sana-sini. Entah apa yang dipikirkannya, tapi tiba-tiba saja Bernard sudah berdiri dan menepuk kemejanya yang tertutup debu. Tidak hanya itu ia juga menyodorkan sebuah sapu tangan pada sang butler yang masih membungkuk.
“Aku tahu itu … mau tidak mau pada akhirnya aku tidak mendapatkan apapun. Karena itu siapkan kertas dan pena … aku akan mulai melakukan apa yang duke inginkan,” ujar Bernard yang telah memberikan perintah baru. Sepertinya ia sudah lelah dan pasrah dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya.
“Apakah tidak apa-apa … bila Anda melakukan permintaan duke? Bagaimana jika mereka tahu?’ tanya sang butler yang telah menyeka noda kemerahan di dahinya.
Bernard mengulum senyum masam, kemudian sang count tertawa hambar. Ia benar-benar telah membuat sebuah pilihan, “Sepertinya … tidak apa-apa. Ini adalah sebuah pertaruhan, sama halnya dengan bermain di kasino. Aku hanya mampu memasang taruhan dan mencoba mendapatkan lotre atau setidaknya beberapa uang.”
“Karena duke berkata selama aku tidak menyebut pelanggaran yang dimaksudkannya, aku hanya cukup menutup mulutku dan menuliskannya. Aku juga akan mengirimkan laporan ini secara diam-diam.”
Benar … hanya itu saja yang dapat ia lakukan. Dan begitulah akhirnya Bernard mencoba mempertahankan nyawanya. Dengan bantuan sang butler ia menuju ke ruang baca dimana kertas dan pena yang ia inginkan berada. Secepatnya ia ingin segera menyelesaikan permintaan sang duke Vladmire secepat mungkin. Karena semakin cepat ia memenuhi perintahnya semakin cepat pula ia bisa bernafas lega kembali.
***
“Satu … dua … tiga … satu … ayo, Nona Tinuvel! Perhatikan langkah Anda, ikuti ketukan saya.”
Suara hentakan tongkat kayu yang membentuk nada-nada menggema di seluruh ruangan. Idril tampak bergerak ke sana-kemari dengan tangan yang telah diletakan di bahu Irine⸺sang pelayan pribadi. Berulang kali wanita berkacamata oval dan tebal yang duduk di atas sofa menegurnya. Dan alasannya karena gerak kakinya yang tidak dapat mengikuti suara tongkat wanita tersebut.
“Countess Wilhelm, sepertinya Nona sudah sedikit kelelahan. Saya sarankan untuk beristirahat terlebih dahulu,” ujar Irine yang tidak lagi bergerak. Wanita berkacamata itu hanya mengangguk dan menggumamkan berbagai hal, termasuk ketahanan tubuh gadis bersurai pirang platina yang menjadi muridnya.
“Ternyata … saya sudah lupa berdansa karena menghilang beberapa bulan. Ini sama seperti belajar dari awal, sia-sia saja saya belajar bersama ibu dahulu,” keluh Idril dengan suara rendah.
“Anda harus bersemangat Nona … Anda sebentar lagi akan melakukan pengangkatan. Dan tidak lama lagi gelar marquis akan menjadi milik Anda. Berdansa adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki setiap bangsawan, terlebih lagi para bangsawan atas,” sahut Irine yang mencoba memberikan semangat untuk gadis di sampingnya agar tidak mudah putus asa dalam menyiapkan acara pengangkatannya. Persiapan salah satu tugas pertamanya yaitu menerima gelar kepala keluarga Tinuvel secara resmi yang dilakukan oleh sang raja, dan itu dimulai dari sekarang.