Mereka yang duduk paling dekat denganmu bisa jadi adalah pisau yang akan menusukmu. Sementara mereka yang tidak pernah kau temui, atau duduk paling jauh denganmu bisa jadi adalah perisai yang akan melindungimu.
Cairan kental merah beraroma anyir tiba-tiba keluar dari mulut Bernard. Pria berhidung pesek itu merasakan sakit luar biasa pada tubuhnya, tidak hanya itu ia juga kesakitan seperti tenggorokannya tengah dirobek begitu saja.
“Argh!” Bernard kembali berteriak kesakitan. Melihat sang count yang tiba-tiba telah terbatuk mengeluarkan cairan merah membuat Idril dan Gavril terkejut. Pandangan mereka segera terjatuh pada sosok count yang telah bersimpuh sembari mencengkram tenggorokannya.
“A-apa yang terjadi!? Duke! Ada apa dengan Paman?” tanya Idril yang kini ikut duduk di samping Bernard sembari memegangi tubuh sang count yang masih gemetar karena rasa sakit dan batuk.
Gavril tidak segera menjawab, ia justru menghela nafasnya kasar. Ia ikut duduk bersama Idril, sehingga kini mereka bertiga telah bersimpuh. Iris keemasannya masih saja memperhatikan Bernard yang terus terbatuk dan mengerang kesakitan.
“Count Wilford, Anda … membentuk perjanjian sihir dengan siapa?” Pertanyaan Gavril berhasil membuat Idril terbelalak terkejut. Ia semakin menatap intens pada sosok pamannya yang hanya terdiam.
“Pe-perjanjian sihir …? Ga-vril, kau pasti bergurau bukan?” Ulang Idril seakan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sang duke kembali menghela nafas untuk kedua kalinya. Ia memandang manik rubi gadis berambut pirang di sampingnya. Idril hanya dapat terpaku sembari menjatuhkan pandangan pada sosok count. Isakan kecil terdengar dari bibir tipisnya.
“Paman … kau tega melakukan … hal semacam itu?” tanya Idril dengan suara tidak jelas karena mulutnya yang dibekap menggunakan sebelah tangannya. Iris rubynya telah berkaca-kaca
“D-Duke … bagaimana Anda tega menuduh saya melakukan hal keji semacam itu?” sanggah Bernard dengan nafas yang terputus-putus. Rasa sakit dan panas dalam dirinya tidak lagi terasa. Meski begitu tubuhnya sudah lemas kehilangan tenaga karena menahan rasa sakit.
“Saya tidak asal menuduh. Pertanyaan saya berdasarkan pengamatan yang benar … apa yang terjadi pada diri Anda karena Anda melanggar apa yang tertulis dalam perjanjian. Dan itu berdampak pada tubuh Anda,” tutur Gavril tenang. Ia tidak terganggu sama sekali setelah menerima tuduhan dari sang count. Karena memang begitulah hal yang ia amati. Gavril bukanlah seseorang yang gemar mengucapkan omong kosong, ia adalah pria yang selalu bertindak berdasarkan pengamatan dan fakta.
“Coba saja Anda membahas tentang tragedi Tinuvel, saya dapat pastikan Anda akan kembali mengalami hal yang lebih buruk dari ini … saya tidak akan mencegahnya, jika Anda ingin meregang nyawa,” imbuh Gavril santai.
Perjanjian sihir adalah sebuah hal tabu yang tidak seharusnya dilakukan karena menggunakan sihir hitam untuk mengikat perjanjian antara satu sama lain. Biasanya hanya mereka pemilik energi sihir saja yang dapat melakukannya. Oleh karena itu Bernard yang merupakan setengah Veela memiliki peluang untuk mengikat perjanjian tabu ini.
Ikatan dari perjanjian ini bersifat mengikat, hampir mirip dengan perjanjian yang dilakukan Idril dan Gavril hanya saja tidak ada harga dari perjanjian tersebut. Tidak ada yang dipertaruhkan ketika mengadakan perjanjian itu, kecuali ketika melanggar apa yang telah mereka setujui. Dan Bernard baru saja melakukannya, rasa sakit dan memuntahkan darah adalah dampak dari pelanggaran tersebut.
“Kemungkinan pelanggaran yang Anda lakukan adalah membicarakan tentang tragedi Tinuvel kepada orang asing dan itu … adalah kami,” kata Gavril yang masih terus memberikan pendapat hasil dari pengamatannya.
Bernard menggigit bibir pucatnya. Ia memandang lantai marmer yang terdapat noda kemerahan. Sang count tidak menyangka bahwa hanya menyebut kata tragedi Tinuvel akan membuatnya merasa sekarat.
“Kalau begitu dia tidak lagi berguna … dia tidak bisa memberikan kita informasi bukan? Haruskah kita membunuhnya?” Idril berdiri dan kembali memungut bilah rapier yang tergeletak. Bilah tajam yang mengkilap memantulkan paras gadis bermanik rubi itu.
“I-Idril! Ampuni Paman! Ma-mari cari solusi, jalan keluar yang lain … pasti ada yang bisa Paman lakukan untuk kalian … ka-karena itu ja-ngan bunuh Paman,” seru Bernard panik ketika melihat Idril telah berdiri dengan tangan yang menggenggam bilah rapier. Kedua manik rubinya tampak begitu hampa dan kosong.
“Idril, sepertinya itu patut kita coba … mari gunakan dia sebagai anjing pelacak. Melihat keadaan Count artinya dia memiliki keterlibatan dengan kematian para anggota keluarga Tinuvel. Jika kau membunuhnya sekarang, maka kau hanya memberikan kemudahan baginya,” tukas Gavril yang telah menangkap ujung bilah pedang runcing itu dengan tangannya.
“Gavril! Kau akan mengampuni rubah tua itu!? Setelah apa yang dia lakukan, aku masih harus memberikannya belas kasi⸺”
“Idril, dengarkan aku … apa kau akan melewatkan kesempatan ini dan melepaskan ekor mereka? Aku tahu rasanya sangat menyakitkan, tapi ini adalah jalan yang harus kau tempuh demi membalaskan dendam mereka,” ujar sang duke. Tangan kirinya yang terbebas karena tidak menahan pedang Idril mengusap puncak kepala gadis bersurai pirang itu.
“Baiklah … aku mengerti, mari kita biarkan rubah tua ini berguna lebih lama … Count, jika kau tidak melakukannya dengan benar aku akan langsung mendatangimu dan mencabut nyawamu.”
Bernafas lega, Bernard merasa beban di kedua bahunya sedikit terangkat. Ia mengangguk berulang kali dan terus menerus mengucapkan terima kasih. Sayangnya nasib sang count tidak berhenti di sana.
“Jadi … sebelum menentukan apa yang harus Anda lakukan untuk kami, saya ingin bertanya Anda cukup mengangguk dan menggeleng saja … apakah Anda paham?” Bernard mengangguk ragu-ragu. Tapi pria itu langsung mengangguk cepat saat iris keemasan Gavril mengkilap.
“Apakah Anda adalah dalang dari pembantaian pada Tinuvel?” Bernard menggeleng cepat. Sang duke memandang ke arah Idril yang masih berdiri membeku di sampingnya. Ia mengambil alih bilah pedang dari tangan Idril, membuangnya asal dan menggenggam tangannya erat.
“Kalau begitu Anda hanya menjadi bagian dari mereka dan mengambil keuntungan?” Kali ini Bernard mengangguk dan menunduk dalam. Ia tidak berani memandang ke arah sang duke maupun sosok keponakannya yang bungkam.
“Mulai sekarang aku ingin kau menjawabnya, apakah kau bisa menyusup dan memberikan informasi tentang pergerakan mereka? Hanya menuliskan tentang siapa mereka dan apa tujuan mereka sebenarnya.”
“Jika Anda bisa melakukan itu semua … saya akan mengampuni nyawa Anda, jika tidak Anda tahu sendiri apa yang akan terjadi.”
Gemerisik rantai tiba-tiba terdengar, dari balik tubuh Gavril muncul untaian rantai-rantai besi yang kini telah membelit tubuh Bernard. Sang count tersedak karena kehabisan oksigen, ia tidak akan menyangka dapat melihat salah satu kemampuan seorang Vladmire yang terkenal, rantai yang tidak akan pernah melepas targetnya, kecuali ia tidak lagi bernyawa.
“Sa-saya dapat me-melakukanya …”
“Bagus, saya benar-benar berharap tidak perlu mencekik Anda. Ingat sekali saja Anda berdusta, apa yang akan mereka lakukan pada Anda,” ujar Gavril sembari menyunggingkan seulas seringai.
“Ba-baik … sa-saya mengerti,” jawab Bernard terbata-bata. Ia langsung jatuh tersungkur setelah untaian rantai Gavril melepaskan tubuhnya begitu saja.
“Isaac, kau bisa masuk dan bawa tamu kita … minta dokter Schulze untuk merawatnya terlebih dahulu.”
Tidak lama kemudian sosok pria bersetelan hitam-putih masuk. Ia tidak sendiri, dua orang pria bertubuh tegap datang. Tanpa mengatakan satu patah kata pun mereka kembali meninggalkan ruangan sembari membawa sosok tamu sang duke yang telah lemas tidak berdaya.
Kini suasana ruangan hening hanya ada Idril dan sang duke yang masih berdiri di sana. Gavril yang melihat gadis di sampingnya masih menunduk dalam diam akhirnya membawanya dalam dekapannya.
Sekali lagi ia mencoba menenangkan gadis itu, sebagai seseorang yang telah berjanji untuk selalu bersamanya dan melindunginya hanya ini yang dapat ia lakukan.
“Seperti inilah dunia, Nona Tinuvel … mereka yang duduk paling dekat denganmu bisa jadi adalah pisau yang akan menusukmu. Sementara mereka yang tidak pernah kau temui, atau duduk paling jauh denganmu bisa jadi adalah perisai yang akan melindungimu.”
Idril mengangguk dan terisak. Ia melepaskan pelukan Gavril dan meraih tangan sang duke. Gadis bersurai pirang yang masih sesenggukan itu melepaskan ikatan pita yang menghiasi pinggangnya dan mulai membelitkan nya pada telapak tangan Gavril yang masih mengeluarkan darah.
“Idril … Anda sudah memanggil saya begitu, kenapa harus menyebut saya dengan sebutan nona Tinuvel? Bi-bicara seperti tadi saja …”
Gavril tertawa pelan sebelum akhirnya mengangguk dan mengusap puncak kepala Idril, “Benar … kalau begitu panggil aku Gavril saja, seperti tadi …”