Iris krimson Bernard berulang kali bergulir kesana-kemari. Sang count sebisa mungkin berusaha menghindari tatapan mengintimidasi dari gadis di hadapannya. Bernard tidak menyangka mereka akan semudah itu dapat menemukan dokumen asli yang telah sembunyikan.
“Saya jadi heran … Anda membawa setumpuk dokumen bersama Anda, kalau begitu salah satu diantaranya itu palsu, tapi melihat Anda menyembunyikan dokumen-dokumen ini di ruang tersembunyi yang terletak di kamar Anda artinya ini semua … adalah dokumen yang asli,” tutur Gavril sembari menepuk tumpukan kertas di atas mejanya.
“Pa-palsu …? Ma-mana mungkin saya berani memalsukan dokumen-dokumen sepenting itu, Duke!” seru Bernard yang mencoba mengelak dari tuduhan yang diberikan oleh Gavril. Sayangnya ekspresi sang count menunjukan sebaliknya. Ia terlalu panik saat mendengar salah satu ruangan yang hanya diketahui olehnya seorang.
“Anda tahu alasan mengapa leluhur Anda memilih untuk mengajukan perjanjian dengan leluhur saya? Itu karena kami adalah seorang Asmodia … tidak seperti kalian yang setengah Veela dianugerahi kemampuan sihir tertentu, kami dapat melampaui para manusia dan kalian.”
“Mungkin jauh lebih kuat dibandingkan manusia pada umumnya … tapi tetap saja leluhur Anda ingin menerima perlindungan dari Asmodia karena keturunannya terancam. Hanya mengambil dokumen sebuah hal yang sangat remeh temeh,” ucap Gavril yang tiba-tiba saja telah berdiri di samping Bernard. Tangannya merangkul bahu sang count. Bernard gemetar hebat, ia dapat merasakan sesuatu yang berbahaya dari sosok pria bermanik keemasan itu.
“Mengalihkan seluruh harta dan properti Tinuvel, lalu mengajukan diri untuk mengambil alih tugas Tinuvbel. Tidak hanya itu sekarang Anda berusaha menipu kami dengan memalsukan dokumen … Idril, bagaimana pendapatmu?”
Gadis bersurai pirang yang sejak tadi terdiam hanya memandang tanpa ekspresi. Tidak ada amarah, kesedihan, maupun kesakitan. Idril seperti kehilangan emosinya, gadis itu terlalu muak dan kecewa pada sosok yang seharusnya menjadi pundak untuknya bersandar, tapi sebaliknya ia justru menerima pengkhianatan yang amat menyakitkan.
“Paman … apalagi yang sudah Paman lakukan? Apakah Paman juga yang menginginkan Tinuvel hancur? Apakah Paman juga yang mengirim para b*****h itu? Apakah … apakah Paman yang membunuh semua orang …”
Suara Idril terdengar begitu penuh rasa sakit. Ia bahkan kehilangan suaranya di akhir kalimat. Gadis bermanik rubi itu menatap nyalang ke arah Bernard. Nafasnya kembang-kempis, emosinya di ujung rambut. Siapa sangka orang terdekatnya akan menodongkan pisau pada keluarganya sendiri.
“I-Idril … te-tenangkan dirimu … Pa-Paman a⸺”
Brukkkk
“Kau memintaku untuk tenang? Biar kuberitahu setenang apa aku ketika melihat jasad kedua orang tuaku di hadapanku, apakah kau tahu sekeras apa aku untuk tenang saat melihat kakak perempuanku mengorbankan dirinya?!”
“Apakah kau tahu aku berusaha mati-matian untuk tetap tenang saat membalaskan dendam Aldrich yang kehilangan sebelah tangannya?! Apa yang kau ketahui!? Kau … kau bahkan tidak tahu mimpi buruk apa yang kulalui ketika dilecehkan baron gila itu!”
“Dan kau berani-beraninya memintaku untuk tetap tenang?!”
Habislah sudah kesabaran Idril. Ia bahkan beberapa kali mendorong bahu Bernard keras dan membuat sang count terhuyung beberapa kali. Ia mungkin sedang cedera, mungkin di mata pria tua itu ia hanya seorang gadis kecil tidak berguna dan naif.
Bernard membeku. Ia tidak dapat menggerakan tubuhnya barangkali hanya seinci pun, iris krimsonnya terlalu terpaku pada sosok sang keponakan yang sedang dipenuhi amarah. Ia tidak pernah menyangka akan melihat gadis yang selalu disebut sebagai bidadari Tinuvel murka.
“Mengapa hanya diam saja? Apa kau bisu? Padahal kau masih bisa bernafas, lalu kenapa kau bungkam?” Idril menarik kerah Bernard dan menatap tajam tepat lurus ke manik krimson sang count. Gavril memilih agar tidak ikut campur kali ini. Ia merasa Idril harus melampiaskan setiap kemarahannya itu, sudah sewajarnya bagi Idril untuk murka setelah mengetahui semua fakta dan pengkhianatan bagian dari keluarganya sendiri. Tapi ia tidak dapat diam ketika tiba-tiba saja Idril melangkah lebar dan meraih bilah pedang yang menjadi pajangan di ruangannya.
“Aaaaarghhhhh!!!!!” Bernard berteriak ketakutan ketika ujung bilahnya berada tepat di hadapannya. Lututnya lemas, tubuhnya kini bersimpuh dengan air mata yang telah berlinangan membasahi pipinya. Ia ketakutan setengah mati.
“Jawab! Kukatakan sekali lagi … jawab!” seru Idril. Kali ini bilah rapier di tangannya berselimut api yang menyala. Bernard dapat merasakan hawa panas menyengat kulit wajah keriputnya.
“A-aku … aku tidak melakukannya … a-aku tidak bisa me-mengatakannya!”
“Karena itu aku memintamu untuk mengatakannya! Sebelum tenggorokanmu hancur!”
“Idril …” Sebuah suara berhasil memecahkan amarah dalam dirinya. Dekapan hangat yang menenangkan tiba-tiba saja melingkupi tubuhnya. Ia dapat mendengar bunyi degup jantung seseorang yang terdengar teratur.
“Kau akan membunuhnya … jika kau membunuhnya, kita tidak akan mendapat petunjuk apapun dari Count,” tutur Gavril lembut. Pria itu akhirnya turun tangan setelah melihat Bernard yang hampir menjadi rubah panggang. Ia tidak bisa membiarkan Idril menghancurkan satu-satunya bukti yang dapat membawa mereka pada pelaku di balik tragedi mengerikan itu.
Seakan baru saja disiram air Idril perlahan mulai bernafas teratur. Ia bahkan menjatuhkan bilah pedang, begitu pula dengan sihir api yang hampir membakar sang count. Idril mencoba mengikuti instruksi Gavril, ia menghirup dalam-dalam aroma musk dan kayu manis yang terasa amat menenangkan.
“Jadi … Count, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?” tanya Gavril setelah memastikan gadis dalam dekapannya tidak akan mengamuk kembali. Bernard yang sempat terdiam membeku tergagap beberapa kali saat tersadar.
“Maafkan saya! Maafkan saya … ampuni saya, saya mohon! Sa-saya akan lakukan apapun … ta-tapi jangan bunuh saya, be-benar itu benar saya mengakuinya … karena itu ampunilah saya,” jawab sang count sembari bersimpuh dan menggosokan kedua tangannya berkali-kali.
Gavril menaikan sebelah alisnya dan melirik ke arah Idril yang sekarang sedang mencengkram erat rompi hitamnya.
“Bicara dengan benar … sebenarnya apa yang sudah Anda lakukan. Jika Anda tidak menjawabnya dengan benar, saya sendiri yang akan menghancurkan jantung Anda juga seluruh anak keturunan Anda,” ancam Gavril yang langsung ditanggapi oleh sang count dengan anggukan cepat.
Sebelum memulai pengakuannya Bernard terlebih dahulu menghirup nafasnya dalam-dalam. Ia juga meneguk salivanya ketika bertatapan langsung dengan iris keemasan sang duke yang mengintimidasi, ia merasa seperti malaikat pencabut nyawa saat ini sedang berdiri menodongkan sabit kematian padanya.
“Sa-saya memang melakukan pemalsuan a-agar saya dapat mengambil alih beberapa harta dan properti Tinuvel ya-yang Idril masih tidak ketahui. Kemudian seperti yang Anda katakan saya ju-juga mengajukan diri untuk mengambil alih tugas Tinuvel.”
“Itu semua agar saya dapat mengalihkan keuntungan yang biasanya didapat Tinuvel pada Wilford … sehingga sa-saya mendapat keuntungan.”
Iris krimson Bernard mengerjap beberapa kali ketika kembali bertemu pandang dengan sepasang manik keemasan sang duke. Ia kembali menghembuskan nafas berulang kali untuk memastikan jantungnya tidak melompat keluar karena berdebar terlalu kencang.
“Lalu …?” tanya Gavril lagi karena sang count yang tiba-tiba terdiam.
“Me-mengenai tra-tragedi yang terjadi pada Tinuvel … sa-say⸺argh!”