Kunjungan Bernard

1133 Words
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara serak sang butler berhasil memecahkan lamunan seorang pria bermanik krimson. Count Bernard Wilford akhirnya tiba di salah satu kediaman keluarga bangsawan yang amat sangat tidak ingin ia kunjungi.  “Tuan …,” panggil butler Bernard lagi untuk kedua kalinya.  “Aku tidak tuli … bisakah kau diam sebentar, aku tahu aku pasti akan turun dan pergi ke sana,” jawab sang count dengan nada yang cukup tinggi. Ia memijat pangkal hidung peseknya. Berulang kali menarik dan menghembuskan nafas berharap tubuhnya tidak terlihat begitu gemetar.  “Gadis gila … bagaimana bisa dia berani membentuk ikatan yang hanya pernah dilakukan leluhur Tinuvel pertama,” gumam Bernard yang tiba-tiba kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu di kediamannya. Ia tahu dirinya tidak sedang mabuk atau berhalusinasi, simbol di lidah Idril menjadi bukti nyata, belum lagi sang duke sendiri juga menunjukan simbol yang sama di lehernya.  “Sial! Aku ternyata melewatkan beberapa hal … bagaimana ini bisa terjadi?!” “Tuan Bernard, mohon maafkan saya tapi Anda sudah ditung⸺” “Aku sudah akan keluar,” jawab Bernard setengah berteriak. Ia akhirnya melangkah keluar dari kereta kuda miliknya. Ia berdiri cukup lama sembari memandangi bangunan yang tampak kokoh dan megah⸺mansion Vladmire menjadi sebuah tempat yang berhasil membuat sekujur tubuhnya bergidik.  “Anda sudah tiba, Count. Duke sudah menanti kedatangan Anda.” Isaac , butler sekaligus kepala pelayan keluarga Vladmire telah pergi keluar untuk memastikan apakah tamu sang tuan muda masih ketakutan di luar mansion, tetapi melihat pria tua itu telah berdiri di luar kereta artinya ia tidak perlu meminta para penjaga untuk menyeret sang count untuk mengikutinya.  “Silahkan, ikuti saya …” Setelah berhasil meneguk salivanya Bernard mulai melangkah mengikuti sosok pria bersetelan hitam-putih yang kini tengah membimbingnya menuju tempat dimana tuan rumah berada. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa berhenti berpikir, ketakutan menggelayuti setiap langkahnya ketika memasuki mansion. Padahal bangunannya tidak tampak seperti rumah hantu, tapi tubuh Bernard tidak berhenti mengeluarkan keringat dingin.  “Duke menanti di sini … saya harap Anda menikmati waktu berbincang kalian bersama,” ujar Isaac sebelum mempersilahkan tamu sang tuan muda melangkah masuk. Bernard mendelik tajam setelah mendengar ucapan Isaac. Ia merasa tersinggung karena pria itu mungkin tahu bahwa tubuhnya sekarang sedang bermandikan keringat.  “Selamat siang, Count Wilford … bagaimana kabar Anda? Senang bertemu Anda.” Sebuah sapaan hangat yang kembali membuat jantung Bernard bertalu-talu. Siluet seorang pria bersurai hitam menjadi gambaran pertama yang ditangkapnya ketika melangkah melewati pintu. Salah satu pemimpin para bangsawan, tepatnya fraksi timur, duke Gavril Aderito D’Vladmire.  Pria yang sempat datang beberapa waktu lalu ke kediamannya itu tersenyum simpul dari balik meja.  “Selamat siang, Pamanku tersayang.”  Tentu saja, Bernard tidak melupakan keberadaan satu orang lagi yang berhasil membuatnya terjebak di situasi yang amat tidak menyenangkan ini. Satu-satunya keponakan yang tersisa, putri bungsu mendiang saudaranya, Parthenia Idril Tinuvel.  “Selamat siang, Duke Vladmire dan Keponakanku tersayang … Idril,” sapa Bernard yang tampak kesulitan hanya untuk membuka mulutnya. Untung saja wajah gadis bermanik rubi menyalakan api amarah dalam dirinya.  “Anda tampak tidak senang bertemu dengan kami, Count. Apakah Wilford menjadi sangat miskin setelah mengembalikan semua properti dan harta Tinuvel?” Pertanyaan yang baru saja diajukan Idril membuat Gavril tidak bisa menahan tawanya.  “Jangan seperti itu, Idril … kau terlalu berterus terang. Bagaimanapun dia adalah Pamanmu, satu-satunya yang berdarah Tinuvel selain dirimu adalah beliau, bukankah begitu … Count?” Tidak ada bahasa baku lagi, Bernard semakin dibuat gusar karena melihat kedekatan keduanya. Ini akan semakin sulit untuk menarik Idril agar tidak berhubungan dengan Vladmire. Ia sempat berpikir untuk membuat gadis lugu itu kembali bersamanya, sehingga Tinuvel dapat menjadi miliknya.  “Gavril, jangan samakan aku dengan Paman yang hanya setengah Veela … dia bahkan tidak dapat menggunakan sihir dasar, bagaimana mungkin dia menjadi bagian dari Tinuvel? Alasan dia melepas nama Tinuvel … adalah karena itu benar bukan, Paman?” Idril mengulum senyum manis. Ia saat ini sedang setengah menghadap ke arah Bernard karena gadis itu berdiri di hadapan jendela. Bernard tidak dapat mengucapkan satu patah kata pun, tubuhnya terlalu gemetar karena melihat keponakannya yang tampak begitu berbeda,  “I-Idril … meski begitu kita masih memiliki hubungan darah, itulah mengapa se-sebaiknya jangan berkata seperti itu di depan D-Duke,” kata Bernard.  “Hubungan darah ya …? Apakah itu karena Paman adalah saudara ayah? Itu juga kah yang menjadi alasan mengapa Paman mengajukan diri kepada yang mulia raja untuk mengurus setiap tugas Tinuvel?” Tergagap, Bernard tidak menyangka ia akan tertangkap basah untuk kedua kalinya. Manik krimson sang count langsung mengarah pada sosok pria berambut legam yang hanya menyunggingkan seringai menawan.  “Saya hanya memberitahukan kenyataan yang terjadi kepada calon kepala keluarga Tinuvel. Selain itu banyak harus Marquis ketahui sebelum kembali mulai menduduki kursi yang seharusnya menjadi miliknya bukan?” ucap Gavril enteng. Ia tidak merasa terganggu dengan tatapan sinis penuh kebencian Bernard. Ia cukup tahu rubah tua itu pasti tidak akan mampu untuk menancapkan  cakarnya, karena seharusnya ia sadar dengan siapa dirinya sedang berdiri.  “Marquis …? Siapa yang Anda maksud dengan calon kepala keluarga Tinuvel?” tanya Bernard menggebu. Matanya terbelalak sebagai reaksi bahwa dirinya cukup terkejut dengan ucapan sang duke.  “Siapa lagi? Tentu saja, keturunan langsung mendiang marquis … keponakan Anda tercinta, Lady Parthenia Idril Tinuvel,” jawab Gavril sembari melirik ke arah gadis bersurai pirang yang kini telah berdiri di sampingnya.  “Se-sebaiknya Anda jangan berspekulasi lebih lanjut … ba-bagaimanapun kita tidak tahu keputusan raja untuk menunjuk siapa yang akan menduduki posisi marquis,” sergah Bernard. Ia tampak sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak diliputi kepanikan lebih jauh.  “Ini bukan sebuah spekulasi, raja sendiri yang menunjuk Idril segera menjabat sebagai marquis. Usianya mungkin masih sangat muda, tapi bukan berarti ia tidak mampu untuk menjalankan Tinuvel,” tukas Gavril. Ia menunjukan sebuah surat berstempel keemasan sebagai tanda bahwa pengirimnya adalah kerajaan Zoresham alias sang penguasa sendiri.  “Itulah alasan mengapa saya meminta Paman untuk datang kemari. Saya harus meminta apa yang seharusnya menjadi milik Tinuvel kembali … karena ini adalah hak kami bukan Wilford,” ujar Idril yang telah melangkah mendekat menuju tempat Bernard berada. Ia kini berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. Wajahnya sedikit mendongak, sepasang iris rubi memandang angkuh pria di hadapannya.  “Saya cukup berterima kasih karena Anda telah menyelesaikan setiap permintaan yang keponakan Anda ini minta … Duke sudah mengambilnya sendiri, beliau khawatir bila saja Anda mungkin melupakan benda yang seharusnya ada di tangan Anda.”  Bernard menjadi panik. Ia langsung memandang ke arah Gavril berada dan benar saja benda yang dibicarakan oleh Idril telah berada di atas meja. Surat-surat berharga yang telah ia sembunyikan ternyata sudah tertata rapi, “Kau tidak bisa menyebutnya menyelesaikan, Idril … tidak ada nama Tinuvel yang tertera di sini.” “Nah … Paman, apakah Anda melupakan janji di antara kita?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD