Secercah cahaya berhasil membangunkan sosok gadis bersurai pirang dari tidur panjangnya. Idril mengerjapkan mata setelah merasa terusik. Ia tampak celingukan memandangi keadaan kamar yang masih saja terasa asing baginya. Ini bukan kamarnya di kediaman Tinuvel, karena mansion masih dalam perbaikan Gavril menyarankan agar ia tinggal bersama. Tetapi tidak sampai berbagai kamar yang sama, keduanya hanya dalam hubungan pertemanan saja sehingga mungkin bila ada yang mengetahuinya akan membuat mereka kerepotan. Tapi sepertinya kekhawatiran Idril bisa terjadi lebih cepat karena kebiasaan sang duke.
“Duke, apakah ini kebiasaan Anda atau bagaimana? Mengapa Anda senang sekali menyelinap masuk ke kamar saya?” tanya Idril setelah menangkap sosok pria bersurai kelam yang sedang duduk di sofa sudut ruangan. Ia tengah meneguk cairan kemerahan yang Idril duga sebagai wine melihat sebuah botol menghiasi meja di depannya.
“Apa salahnya? Ada pemandangan yang indah di mansion, saya tidak boleh melewatkannya,” jawab Gavril enteng masih dengan pandangan yang terjatuh pada sosok Idril.
“Melihat seorang gadis tidur itu termasuk pemandangan yang indah? Ternyata Anda memiliki kebiasaan yang aneh ya …,” sahut Idril cukup sarkas dan sinis. Ia yang semula berbaring miring ke arah Gavril memilih untuk duduk dan meraih kimono tidurnya. Sepertinya Irine sengaja menyiapkannya di kepala ranjang karena keberadaan sang duke di sana.
“Hmmm … tidak juga, ini pertama kalinya saya memandangi wajah seorang gadis saat tidur. Wajah Nona Tinuvel terlihat lebih menenangkan saja saat terlelap. Mungkin … seperti itu?” Gavril terdengar tidak begitu yakin dengan ucapannya sendiri. Ia meletakan gelas wine dan berjalan mendekat ke arah ranjang dimana Idril sedang mengenakan jubah tidurnya untuk menutupi gaun tidurnya yang cukup tipis.
“A-apa … a-apa yang Anda ingin lakukan?” tanya Idril yang telah terkejut terlebih dahulu dengan keberadaan sang duke yang tiba-tiba telah berdiri di hadapannya. Ia merapatkan tali jubahnya karena merasa tatapan manik keemasan pria itu seakan sedang memindai seluruh tubuhnya.
“H-hei …! A-apa yang Anda akan lakukan?” Idril terpekik pelan ketika Gavril yang sedikit membungkuk untuk memperhatikan dirinya semakin dekat. Idril dapat melihat paras tampan sang duke yang sangat amat tampan. Jantungnya berdebar begitu cepat, ia berharap agar pria bermanik keemasan itu tidak dapat mendengar degup jantungnya,
“Baguslah … saya tidak akan melakukan apapun, jangan khawatir . Mengapa Anda sampai harus memejamkan mata?” tanya Gavril yang terkekeh pelan. Ia mencoba menahan diri agar tawanya tidak meledak.
“E-eh …” Idril langsung membuka mata dan menatap pria di hadapannya dengan sinis. Perasaan kesal tiba-tiba menggantikan debaran jantungnya, darahnya yang berdesir memanas karena amarah. Tanpa memperdulikan tata kesopanan ia mendorong tubuh Gavril yang masih berdiri di hadapan nya.
“Anda sangat menyebalkan ternyata,” desis Idril masih sembari bersungut-sungut. Ia berjalan meninggalkan sosok sang duke yang justru tertawa terpingkal-pingkal. Pria itu tampak menikmati setelah melihat wajah Idril yang memerah.
“Maaf … maaf, saya hanya memastikan apakah ada luka karena kemarin Anda pingsan setelah kita meninggalkan mansion Tinuvel. Tapi setelah saya perhatikan tidak ada luka memang,” tutur Gavril selepas berhasil meredakan tawanya. Ia kembali melangkah menyusul gadis bersurai pirang berada. Melihat Idril yang terhenti di depan pintu balkon menandakan gadis itu pasti telah mendengarkan penjelasannya.
“Ah … itu benar.” Idril kembali teringat pada kejadian kemarin. Selepas ia menangis begitu keras di bawah pohon ek karena rasa sesak dan sedih yang sepertinya terlalu mengambil alih tubuhnya. Sehingga setelah merasa lelah menangis ketika mereka keluar dari mansion tiba-tiba saja ia merasa lemas dan pusing. Dan benar saja tidak lama tubuhnya menghantam tanah.Untung saja Gavril segera menangkap tubuhnya.
“Jadi … apakah Anda merasa lebih baik? Anda terlihat sangat kesulitan kemarin, saya rasa karena bayang-bayang mengerikan itu masih berada di benak Anda.”
Idril tidak segera menjawab. Ia terdiam terlebih dahulu mencoba menanyakan pada dirinya sendiri tentang pertanyaan yang baru saja diberikan sang duke, tapi nihil Ia mungkin tidak merasa sesak, sayangnya kehampaan masih bertempat di dalam relung hatinya.
“Baiklah, abaikan saja pertanyaan saya. Ngomong-ngomong semalam seseorang tiba untuk mengantarkan sebuah surat untuk Anda secara langsung, Earl Tinuvel,”
Kedua alis Idril saling bertautan. Benaknya dipenuhi tanda tanya mengenai seseorang yang mengantarkan surat untuknya semalam. Dan lagi Gavril selama ini tidak pernah memanggilnya dengan sebutan earl mengingat dirinya belum diangkat secara resmi menjadi kepala keluarga.
“Saya tahu Anda pasti bertanya-tanya tentang surat ini … saya bertaruh Anda akan terkejut setengah mati karena mengetahui isinya,” imbuh Gavril yang telah menyodorkan sepucuk surat yang memiliki cap keemasan di atasnya. Setelah cukup lama memperhatikan surat di tangan sang duke barulah Idril terpekik tertahan. Ia begitu terkejut ketika menyadari siapa pengirim surat tersebut.
“Jangan bilang surat ini …” Idril menyobek ujung amplop begitu saja dan membaca secarik kertas yang memiliki lambang kerajaan mereka. Iris rubinya bergerak kesana-kemari mengikuti kalimat demi kalimat yang tertera di atas kertas.
“Saya diminta melakukan pelantikan … yang mulia raja meminta saya untuk segera menduduki kursi kepala keluarga. Satu bulan lagi … beliau hendak dilakukan pengangkatan!” Idril tampak berbinar. Ia tidak percaya pada isi surat yang baru saja dibacanya. Seharusnya tidak secepat ini, Gavril mungkin telah melaporkan kepada raja bahwa ada salah satu dari Tinuvel yang berhasil selamat.
“Sudah kuduga, sepertinya memang Zoresham akan dibuat kesusahan karena Tinuvel absen dalam menjalankan tugasnya,” ujar Gavril yang telah berjalan mendahului Idril. Ia bersandar pada tembok pembatas balkon.
“Apa maksud Anda? Raja kesulitan tanpa kehadiran Tinuvel? Apakah … posisi kami sangat penting di pemerintahan?” Idril memang masih kurang memahami tentang posisi sebenarnya dari Tinuvel. Meskipun begitu ia terus menambah pengetahuannya dengan buku-buku di kediaman Vladmire. Bahkan Gavril sendiri juga turun tangan mengajarkan secara langsung tentang tugas dan kewajiban seorang kepala keluarga. Untung saja segalanya berjalan lancar mengingat otak Idril yang termasuk dalam jejeran generasi para jenius.
“Anda ingat bila ada dua fraksi yang menyokong Zoresham?”
“Saya mengingatnya … fraksi timur dan barat,” jawab Idril yang telah menyusul dimana sosok pria berambut legam itu berada. Sehingga kini mereka saling berdiri berdampingan untuk memulai pelajaran singkat yang akan diberikan sang duke.
“Tinuvel dan Vladmire termasuk dalam fraksi timur. Selama berabad-abad lamanya keluarga kita memerankan tugas penting untuk raja. Tidak hanya tentang memimpin wilayah kekuasaan kita atau mengawasi bangsawan lain. kita juga bertugas mengurus hal perdagangan dengan kerajaan lain .”
“Dan biasanya segala sesuatu yang berhubungan dengan kerajaan luar dilakukan oleh Tinuvel. Itulah mengapa mendiang marquis kerap meninggalkan wilayahnya karena harus mengurus beberapa hal.”
Jika Idril ingat kembali ia memang pernah melihat Aldrich membaca beberapa buku yang berisi tentang bisnis dan hubungan antar kerajaan atau diplomatik. Sekarang ia tahu kakak sulungnya mempelajari hal tersebut semata-mata bukan hanya demi Tinuvela, tapi karena ia harus memenuhi tugasnya sebagai salah satu kepercayaan raja.
“Kalau begitu selama tidak ada saya bagaimana dengan setiap tugas yang seharusnya Tinuvel lakukan? Apakah semua diberikan kepada kepala keluarga yang lain atau bagaimana?”
“Bisa dibilang hampir seperti itu … sebenarnya tugas mendiang marquiss hendak dialihkan sementara kepada count Conrad yang berasal dari fraksi barat.”
Count Karius Floyen Conrad, penerus tunggal yang sama seperti Gavril. Karena pemimpin keluarga sebelumnya tidak memiliki putra lagi, maka baik count atau Gavril terpaksa harus mengambil alih keluarga mereka. Dan jika dilihat berdasarkan kemampuan count Conrad adalah kandidat paling cocok untuk melakukan hal tersebut karena mereka berbagi tugas yang sama, hanya saja Tinuvel bekerja sama dengan kerajaan di bagian barat dan utara, maka Conrad bekerja di bagian kerajaan selatan dan timur.
“Meskipun berasal dari fraksi yang berbeda tapi kami memiliki tugas yang sama. Saya dapat memahami mengapa raja menyerahkan tugas Tinuvel kepada count. Bagaimanapun akan jauh lebih menguntungkan bila tugas-tugas tersebut diselesaikan oleh mereka yang berpengalaman.”
“Meski mereka berasal dari fraksi yang berbeda,” imbuh Gavril yang terdengar malas. Tanggapan yang diberikan sang duke berhasil menarik perhatian Idril.
“Sebenarnya yang membuat kita berbeda adalah kepada siapa kita menyokong dan memberikan dukungan. Fraksi barat saat ini mendukung pangeran pertama dibandingkan sang raja. Sepertinya mereka sedang merencanakan sebuah revolusi,” tutur Gavril.
“Anda tidak boleh menarik kesimpulan begitu saja … untung saja kita berada di mansion bagaimana jika kita sedang berada di istana?”
Alih-alih mendengarkan Gavril justru terbahak begitu keras setelah mendengar ucapan gadis berambut pirang, “Anda masih belum melihat secara nyata bagaimana fraksi pangeran pertama … mereka benar-benar brutal. Tidak ada yang dapat saya jelaskan lebih lanjut karena akan jauh lebih baik saat Anda melihatnya dengan mata kepala Anda sendiri.”
Tidak ada pilihan lain untuk Idril selain mengangguk⸺mengiyakan ucapan sang duke. Pria itu pasti memiliki alasan sampai enggan menjelaskan seperti apa para kepala keluarga bangsawan dari fraksi barat.
“Sebenarnya Conrad belum sempat menerima tugas itu karena Wilford terlebih dahulu mengajukan diri, sepertinya tua bangka itu sudah merencanakan dengan rapi … dia bahkan sampai bersikeras akan menggantikan sampai mendiang marquiss dan para keponakannya ditemukan.”
Kali ini Idril yang terbahak. Menggantikan sampai mereka kembali? Yang benar saja, mungkin kata meruntuhkan lebih tepat digunakan mengingat ia justru melakukan pemindahan properti secara diam-diam. Ia bahkan mengganti nama kepemilikan menjadi milik Wilford, entah apa yang merasuki pamannya itu sampai bersedia menusuk saudaranya sendiri.
“Dia pasti bercanda … rubah tua tidak tahu diri. Benar, dia sangat membantu Tinuvel, dia bahkan sampai susah payah menyimpan properti dan harta kami,” tandas Idril kelewat sarkas.
“Coba saja kita tidak mengancamnya, pasti dia akan memperalat ku agar menjadi bagian dari rencananya untuk mengambil alih Tinuvel.”
Gavril memilih tidak mengomentari apapun, ia cukup terhibur melihat berbagai macam ekspresi yang terpasang di wajah ayu Idril. Hari-harinya jadi sedikit terhibur karena ia harus mengurus si bungsu Tinuvel.
“Karena itulah Anda harus melakukan yang terbaik untuk menduduki jabatan earl, sedikit saja kesalahan mungkin rubah tua itu akan kembali mengeroyok Anda.”
“Anda akan pergi?” tanya Idril setelah melihat sosok pria bersurai legam melangkah masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu. Gavril tidak menjawab ia justru kembali ke arah Idril dan meletakan setelan jas burgundynya pada bahu gadis itu.
“Benar … tugas saya hanya untuk memberikan penjelasan kecil dan mengantarkan titipan tadi untuk Anda. Belajarlah yang rajin sehingga dapat menjalankan tugas dan kewajiban Tinuvel.” Demikianlah pesan yang diberikan Gavril sebelum ia meninggalkan kamar Idril yang perlahan terasa hangat karena cahaya matahari yang meninggi.
"Tentu saja, aku akan melakukannya tanpa kau minta ... dasar menyebalkan!" bisik Idril.