Sumpah di Bawah Senja

1668 Words
Ringkikan kuda dan roda kayu yang tidak lagi bergerak menjadi tanda bahwa kereta kuda mewah itu telah sampai tempat tujuannya. Seorang pria bersurai kelam melangkah keluar dari dalam, ia sempat memperhatikan sekilas pemandangan di hadapannya sebelum akhirnya ia beralih untuk mengulurkan tangan kepada sosok gadis bersurai pirang yang menjadi penumpang terakhir dari kereta kuda tersebut.  “Aku … tidak menyangka akan menjadi satu-satunya yang bisa kembali ke sini,” ujar Idril sembari menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia memandangi sebuah bangunan yang tampak berdiri kokoh. Tidak ada yang berubah, kecuali beberapa pekerja yang sedang berlalu lalang untuk membenahi tembok-tembok yang sempat hancur.  “Saya tidak merubah apapun … hanya memang membenahi bagian-bagian yang rusak,” kata Gavril yang ikut memandangi mansion kediaman Tinuvel yang masih dalam perbaikan. Setelah kejadian berdarah itu terjadi sang duke memang mengajukan perintah langsung kepada raja agar dapat melakukan penyelidikan. Itulah mengapa ia dapat memperbaiki bagian mansion yang hancur.  “Mengapa Anda mau melakukan hal merepotkan seperti ini? Padahal Anda mungkin bisa saja mengabaikan mansion Tinuvel, sekalipun sedang mengadakan penyelidikan.” Idril terdengar parau, Gadis itu mungkin sedang mati-matian menahan agar cairan bening di pelupuk matanya meluncur membasahi pipi.  Berdehem beberapa saat, Gavril tidak segera menjawab pertanyaan Idril. Ia memilih memperhatikan sudut mansion yang tampak begitu asing di matanya, “Mungkin karena keluarga kita sudah sangat lama mengenal … sebagai kepala keluarga Vladmire saya memiliki kewajiban memenuhi perjanjian leluhur kita.”  Lagi-lagi mereka kembali membicarakan tentang orang-orang di masa lalu. Idril jadi merasa marah setelah mengetahui kebenaran di balik hubungan kedua keluarga, mungkin alasan Tinuvel dijadikan target adalah untuk menghancurkan ikatan di antara mereka. Bukankah ini sangat mengesalkan?  Alih-alih melindungi seluruh keturunannya, leluhurnya di masa lalu justru membuat mereka jatuh dalam lubang kehancuran dan binasa. Ikatan yang dibuatnya justru berakhir sia-sia. dan lagi leluhurnya itu juga secara tidak langsung menghancurkan Tinuvel.  “Ternyata Vladmire amat sangat pemurah … saya cukup berterima kasih karena kalian masih berusaha menepati janji, padahal kemungkinan seseorang yang selamat pada kami sangat kecil.” “Tentu saja … kami, para Asmodia bukanlah seorang pembual,” sahut Gavril sembari terkekeh pelan. Ia sedang membanggakan loyalitasnya sebagai seorang kepala keluarga dan Asmodia.  “Tapi, apakah Anda sebenarnya sudah mengetahui bila ada salah satu dari kami ada yang selamat atau bagaimana?” tanya Idril setelah menyadari ada beberapa hal yang sempat terlewat.  “Mungkin saja …? Saya tidak tahu sebenarnya siapa saja yang selamat, dan berapa banyak yang berhasil lolos … mungkin ini bisa disebut sebagai insting sebagai seorang Asmodia,” tutur Gavril mencoba menjelaskan sebaik mungkin kepada Idril yang masih saja berdiri di sampingnya.  “Jangan berharap saya dapat menemukan anggota keluarga Tinuvel yang lain, jika saya memiliki kemampuan seperti itu saya pasti sudah menemukan Anda di tempat si gemuk Gerald.  Siapa sangka ternyata pria bersurai legam itu dapat mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Idril sempat berharap mungkin saja Gavril bisa membantunya menemukan Aldric yang sampai saat ini belum ditemukan. Sayangnya seperti penjelasannya tadi, bila Gavril memiliki kemampuan melacak Tinuvel pasti mereka dapat diselamatkan, termasuk dirinya yang tidak harus menerima perlakuan tidak senonoh dari Frederic.  “Apakah Anda tidak ingin masuk ke dalam?’ tanya Gavril yang berhasil memecah lamunan Idril. Ia sepintas memandang wajah tampan sang duke, sebelum akhirnya ia mengangguk ragu.  Belum sempat mereka melangkah masuk Gavril menyadari bahwa Idril masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Gadis itu masih tetap memandangi mansion dari sana meski kedua manik rubinya menyiratkan kerinduan pada bangunan kokoh itu.  Gavril menghela nafasnya pelan. Ia kembali ke arah si bungsu Tinuvel dan meraih tangan Idril. Sang duke menggenggamnya lembut, tidak hanya itu ia juga mengusap permukaan jarinya dengan ibu jari⸺berusaha menenangkan ketakutan dan rasa cemas Idril.  “Tidak apa-apa … bukankah saya sudah bilang Anda tidak lagi sendiri,” ujar Gavril dengan sirat ramah.  Dengan nafas yang terengah Idril mengangguk. Ia mencoba menahan rasa sakit dan ketakutannya, sehingga membuatnya kesusahan hanya untuk bernafas. Untung saja Gavril secara sukarela menawarkan tangannya untuk menjadi media pelampiasan emosi gadis bermanik rubi. “Baiklah, ayo kalau begitu.” Kini keduanya mulai memasuki mansion setelah sempat hampir lima menit berdiri di pekarangan. Nafas Idril tercekat begitu melihat keadaan rumah tempatnya dibesarkan selama ini. Persis seperti apa yang diucapkan oleh Gavril, pria itu benar-benar tidak merubah barangkali seinci pun sudut atau mengganti perabotnya. Ia hanya membenahi saja bagian yang hancur akibat para penyusup.  “Aku pulang … a-aku benar-benar pulang,” lirih Idril sembari mencengkram lengannya yang masih dibalut perban. Akibat cengkraman yang terlalu kuat membuat noda kemerahan merembes.  “Lady Tinuvel … jangan melukai diri Anda sendiri,” ucap Gavril yang telah menahan tangan Idril agar tidak mencengkram lengannya lebih kuat. Mendengar suara sang duke berhasil menyadarkannya dari rasa sakit dan pedih bayangan tragedi itu. Ia memandangi jarinya yang tampak memiliki bercak noda kemerahan yang berbau anyir.  “Saya tahu Anda pasti merasa sakit. Itu semua hal yang wajar … tidak ada yang tidak akan merasa sakit setelah melalui mimpi buruk itu,” imbuh pria bermanik keemasan yang saat ini sedang membalut telapak tangan Idril. Ia tampak berhati-hati ketika mengikatkan sapu tangan berwarna putih di lengan gadis bersurai pirang itu.  “Saya … hanya masih tidak dapat mempercayai apa yang telah terjadi. Semuanya berlangsung begitu cepat dan … saya merasa seperti itu semua sebuah mimpi,” kata Idril yang telah mengulum senyum masam.  “Tapi begitu saya menyadari kehadiran Anda di sini, saya langsung tersadar jika ini semua bukan mimpi. Saya kembali kemari bersama Anda … bukan Maggie, atau Aldric. Itu membuat saya merasa … sedikit sesak.” Tidak ada percakapan diantara keduanya. Suara besi perkakas para pekerja saja yang mengisi. keheningan kembali datang. Gavril hanya diam, ia memilih untuk membiarkan mereka larut ke dalam suasana sedih ini, sampai akhirnya Idril sendiri yang menyudahi keheningan mereka dengan menarik tangan sang duke untuk melanjutkan tur kecil mereka.  Sehingga keduanya kembali melangkah menyusuri lorong panjang mansion. Sesekali mereka akan berhenti dan mengamati setiap sudut ruangan yang ada. Idril melakukan hal yang sama, berdiri di ambang pintu dan terdiam seolah ia sedang mereka ulang setiap memori yang pernah dimiliki ruangan tersebut.  Sesekali Idril akan menjelaskan fungsi ruangan yang mereka kunjungi, apa yang sering ia lakukan di sana. Kegiatan apa saja yang kerap dilakukan para penghuni kediaman Tinuvel dan ruangan mana saja yang biasanya ia atau kedua kakaknya sering kunjungi. “Apakah ada sesuatu?” tanya Gavril begitu mereka tiba di sebuah pintu yang terlihat jauh lebih tua dari biasanya.  Idril tidak menjawab pertanyaan sang duke. Ia justru semakin mengeratkan genggaman tangan mereka sebelum akhirnya mendorong pintu di hadapannya. Hatinya langsung mencelos begitu aroma papyrus menyambut indra penciuman mereka. Rasa rindu tiba-tiba saja menghampirinya.  Deretan rak-rak tinggi berisi jajaran buku-buku koleksi anggota keluarga. Meski sebenarnya hampir separuhnya diisi dengan buku-buku sang ibu. Idril melepas genggaman tangan Gavril dan meraih salah satu buku secara acak. Ia tidak membacanya, gadis bersurai pirang itu hanya memandangnya sendu saja.  “Dulu … saya sering sekali menghabiskan waktu di sini. Saya akan membaca berlembar-lembar buku dan terkadang Maggie … akan mampir dan mengusik saya, kakak kedua saya itu sangat jahil,” tutur Idril yang kembali membuka lembaran kisah di salah satu ruangan yang cukup berkesan untuknya.  Ia melangkah menyusuri setiap perabotan. Ujung jarinya seolah sedang mengumpulkan satu persatu jejak memori yang masih tertinggal di sana. Memutar reka ulang adegan yang dirindukan. Langkahnya terhenti begitu melihat sudut ruangan perpustakaan yang berhasil menyayat hati.  Meski begitu ia tidak lari, sebaliknya Idril kembali berjalan dan berhasil menemukan celah di balik rak buku. Ia mengingat lorong ini. Mereka⸺dirinya, Maggie dan Aldric melarikan diri melalui pintu darurat yang menghubungkan perpustakaan dengan bagian luar mansion.  “Kemana Anda akan pergi?” Gavril menarik ujung lengan gaun Idril. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat. Dan entah mengapa sang duke berakhir mengekor di belakang gadis bersurai pirang itu.  Sebuah lorong panjang dan gelap terasa lembab juga hening, tidak ada satu pun cahaya yang menerangi cahaya jalan yang menjadi pintu darurat. Setelah berjalan dengan perasaan campur aduk akhirnya secercah sinar senja menyapa. Hembusan angin membelai paras ayu Idril. Ia sangat mengingat tempat ini. Ia tidak melupakan bagaimana ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri orang tuanya tewas. Ia juga tidak lupa pengorbanan kakak keduanya demi menyelamatkan dirinya dan Aldric, meski pada akhirnya hanya ia yang berhasil selamat.  Brukkkk Kedua lutut Idril melemas. Ia tidak lagi sanggup berdiri. Gaunnya mencium permadani hijau yang menyelimuti tanah tempat mereka berpijak. Cairan bening yang sedari tadi susah payah ia tahan akhirnya lepas juga. Idril menangis tersedu sedan. Ia merasa sesak, tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit itu kembali menyeruak masuk. Berulang kali ia memukuli rerumputan, entah kepada siapa ia marah dan memaki.  Apakah itu kepada dirinya sendiri yang gagal melindungi keluarganya? Atau karena ia merasa kesal dan benci kepada komplotan yang telah menciptakan luka juga tragedi dalam hidupnya? Di sela-sela tangis juga kesedihannya itu tiba-tiba Idril  merasakan kehangatan melingkupi tubuhnya. Ternyata Gavril kini tengah mendekapnya erat. Pria itu mengusap surai pirangnya sembari menggumamkan kata-kata penenang.  “Tidak apa-apa … marahlah, sedihlah … saya tidak akan melarang Anda. Sebaliknya berjanjilah agar Anda tidak menunjukan kelemahan ini di hadapan orang lain.” “Kenapa …?” tanya Idril sesenggukan dan parau.  “Bukankah akan sangat menggelikan jika musuh melihat musuh tertawa kegirangan karena melihat Anda menjadi hancur dan lemah seperti saat ini? Alasan Anda membangun kembali ikatan leluhur kita bukankah agar Anda dapat menancapkan luka yang sama?” Apa yang baru saja diucapkan Gavril benar. Idril menjual jiwa, raga bahkan harta kepada pria itu agar ia dapat menjebloskan orang-orang yang mengharapkan kematian juga kehancuran Tinuvel. Sehingga akhirnya Idril mengangguk mantap dan mencengkram setelan yang dikenakan sang duke hingga kusut. “Aku bersumpah … aku pasti … akan mencabut nyawa mereka semua. Aku akan membalaskan rasa sakit yang dirasakan ayah, ibu juga kedua saudaraku.” “Aku bersumpah ….” Di bawah rindangnya pohon ek kedua pria dan wanita itu saling mendekap satu sama lain. Hamparan rerumputan dan teriknya cahaya senja menjadi saksi sumpah dari keturunan terakhir Tinuvel. Ikatan yang usang kembali terlahir, dendam serta amarah merupakan akarnya. Dan sekali lagi Idril kembali menanamkan sumpah itu ke dalam ingatan juga hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD