03. Serendipity

2391 Words
“Dan...!” Roni tak kuasa untuk tidak meninggikan suaranya, sudah tiga kali ia memanggil Sekar yang duduk berjarak tiga meja dari sebelah kanan meja kerjanya, namun tak satupun sahutan yang ia dapat dari Sekar. Mereka tengah berada di ruang kerja Divisi Kejahatan dan Kriminalitas dari stasiun televisi Berita Terrnama, stasiun televisi yang mengkhususkan program iformasi tanpa sentuhan program hiburan sama sekali di negeri ini. Sistem pembagian divisi pada tempat kerja Sekar cukup unik, karena seluruh pekerja di sana terbagi berdasarkan jenis berita, bukan berdasarkan jenis program televisi, jenis gaya atau aliran program televisi, ataupun jam tayang program televisi. Hal ini dilakukan agar mereka dapat fokus pada lingkaran yang sama, dan menghasilkan beberapa program dari satu sumber berita. Sehingga terdapat divisi politik, divisi infotainment*, divisi olahraga, divisi ekonomi, divisi budaya dan seni, divi kesehatan, divisi edukasi dan tak tertinggal divisi kejahatan dan kriminalitas tempat Sekar berjuang menyambung nyawa. Bukan tanpa alasan mengapa Sekar memilih dunia kriminal sebagai mata pencahariannya, sejak kecil ia sudah tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan detektif. Hal tersebut terjadi karena ia tidak sengaja memencet remote control televisi pada minggu sore, seketika tayangan pada layar kaca yang menggantung di ruang makan, yang juga merangkap sebagai ruang tamu, serta dapur rumah Sekar, menyuguhkan serial anime yang menceritakan seorang detektif SMA memecahkan berbagai kasus pembunuhan. Ia mengagumi bagaimana seorang anak remaja putri dapat berpikir secara analitis, logis dan rasional, sehingga setiap celah yang ditinggalkan oleh sang pembunuh dapat ia telusuri dan temukan kebenarannya. Dari aksinya, tugas polisi diringankan dan ia disematkan gelar pahlawan. Sejak satu episode singkat mengenai kasus penculikan anak kecil yang tayang pada minggu sore itu, Sekar teryakinkan bahwa saat ia besar nanti, ia akan menjadi seorang detektif seperti layaknya tokoh fiktif tersebut. Selang beberapa tahun setelah ia menetapkan cita-citanya sebagai detektif, tragedi kemanusiaan menimpa negeri ini, saat Sekar memasuki usia remaja. Tidak banyak kasus pembunuhan dengan racun yang sering digunakan dalam film kolosal dapat dijumpai pada kehidupan nyata. Sekar ingat saat itu ia masih duduk di bangku SMA kelas dua, semua orang yang ia kenal, mulai dari guru sekolah, teman-teman, tetangga rumah, keluarga, dan seluruh media massa membicarakan mengenai kasus seorang aktivis muda yang tewas akibat racun dengan rumus formula NaCN, KCN, HCN, dan CNCl**. Tak lama kemudian, polisi menentukan tersangka, akan tetapi ada sedikit kejanggalan pada kasus aktivis tersebut, dikarenakan dengan mudahnya ditemukan bukti yang tertuju langsung pada tersangka. Sehingga. banyak muncul spekulasi di masyarakat serta pro dan kontra mengenai kasus tersebut. Dari semua dugaan, tidak sedikit yang berpihak pada polisi dan jaksa penuntut umum karena terdapat banyak hal yang memberatkan tersangka. Momen tersebut juga dijadikan kesempatan besar oleh media untuk meningkatkan jumlah penonton, pembaca dan pendengar, bahkan ada pula yang memanfaatkan kasus tersebut sebagai pengalihan isu. Akibatnya, muncullah komentar negatif disertai ujaran kebencian tertuju pada sang korban tertuduh. Pula, menimbulkan amukan massa yang lebih percaya bahwa dirinyalah penyebab tewasnya aktivis yang berjuang untuk rakyat kecil tersebut. Semenjak itu, hidup tersangka mengalami perubahan, terutama pada kesehatan mental dan jiwanya, membuat tersangka menjadi manusia yang terisolasi. Bukan hanya itu, ia bahkan sempat akan diusir dari wilayahnya setelah beberapa kali tempat tinggalnya diusik masyarakat sekitar. Padahal saat itu statusnya masih sebagai tersangka, belum terdakwa apalagi terpidana, sampai akhirnya kasus tersebut mendapatkan titik terang. Berkat hasil investigasi dari seorang wartawan senior yang ia lakukan secara mandiri, muncul nama tersangka baru dengan sejumlah bukti kuat, bahkan tersangka baru jugalah penyebab mengapa tersangka lama ikut terseret. Bukti-bukti yang mengarah pada tersangka lama ternyata sudah dipersiapkan oleh tersangka baru. Nama tersangka lama yang sebelumnya dipandang kotor oleh masyarakat, akrhinya kembali bersih, hidupnya pun menjadi lebih baik, walaupun orang-orang yang menghujatnya banyak yang enggan meminta maaf ataupun menyesal telah memperlakukannya secara tidak manusiawi. Semua hal yang berkaitan dengan kasus tersebut diikuti oleh Sekar, dan sekali lagi ia terkesima dengan apa yang saksikan pada layar kaca. Ia terpesona dengan cara kerja media, betapa mudahnya dapat menggiring opini masyarakat, dapat memutar balikkan keadaan, dan dapat memaparkan kebenaran. Sejak saat itulah cita-citanya berubah, ia tak lagi ingin menjadi detektif, melainkan seorang wartawan yang dapat memberikan kebenaran atas suatu kasus, agar masyarakat tak lagi dapat dibodohi, serta ingin mencegah oknum tertentu yang memanfaatkan media sebagai alat kepentingan bagi pribadi serta kaumnya. Selain itu, Sekar juga bercita-cita ingin bekerja dengan sang wartawan senior. Akan tetapi, cita-citanya untuk dapat bekerja dengan sang wartawan senior kandas dikarenakan sang wartawan wafat saat Sekar masih menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Paling tidak, sebagian cita-citanya terwujud, kini ia bekerja pada satu instansi yang sama dengan program ivestigasi pembelaan kepada korban penjebakan pembunuhan terhadap aktivis muda, investigasi yang dilakukan oleh sang wartawan senior idola Sekar. “Woy, Dan!” kali ini Roni terpaksa memberikan usaha lebih pada gelombang yang keluar dari mulutnya. Usahanya berhasil mengusik Sekar yang sedari tadi hanya terpaku di depan layar laptopnya. “Anjrit, kaget aku! Napa sih? Lagi konsen nih kelarin naskah buat Lacak,” gerutu Sekar tanpa menoleh pada Roni, jarinya senantiasa menari di papan ketik laptop meja kerjanya. Sudah hampir tiga jam ia berada pada posisi seperti itu tanpa mengubah posisi duduknya, bahkan kopi yang dari dua jam lalu ia buat masih terisi penuh, tanpa menyisakan konveksi kepulan asap di atasnya. Suara dari berbagai macam program acara televisi yang tersuguhkan oleh sebelas layar kaca berukuran tiga puluh dua inci yang tertempel di dinding ruangan tersebut tak dapat memecahkan konsentrasi Sekar. Tak heran tanpa ragu Roni melantangkan suaranya, untung saja usahanya membuahkan hasil, Sekar seketika terperanjat, sempat jantungnya bergemuruh. Roni pun nampak tidak bersalah setelah membentak Sekar, karena di ruangan berukuran tak lebih dari limas belas meter persegi ini, tidak terdapat manusia lain kecuali mereka berdua. Bukan karena mereka bekerja lembur, sedangkan yang lain sudah pulang lebih terlebih dahulu. Bukan juga karena sudah saatnya istirahat untuk makan siang, sehingga rekan kerja mereka memilih meninggalkan pekerjaan untuk mengisi perut. Bukan juga karena mereka bekerja di tanggal merah. Itu dikarenakan tim mereka yang terdiri dari sebelas orang termasuk ketua divisi dan Sekar, mempunyai tugas sendiri-sendiri dengan jam istirahat yang tidak menentu. Selain itu, sistem pergantian jam kerja dalam dua puluh empat jam serta pembagian untuk keliling ke beberapa kantor polisi, pengadilan, kantora kejaksaan, lembaga hukum, dan tempat kejadian perkara membuat ruangan sempit tersebut tidak begitu menyesakkan. “Lagian kamu kebiasaan, padahal katanya mau berubah buat jadi lebih peka ama keadaan sekitar? Udah lupa ama kejadian kamu hampir ketabrak gara-gara terlalu fokus liatin hape?” keluh Roni, Sekar menoleh padanya tanpa menghentikan jemarinya bekerja diatas papan ketik sambil mengembangkan senyumannya, seolah ia adalah anak kecil polos yang belum mengerti bahwa apa yang ia lakukan tidak baik. “Sori, masih usaha buat ngerubah itu. Kenapa?” pandangannya kembali terpaku pada layar laptop. “Si Bos nanya! Kamu mo balik jam berapa? Dia bilang, ini udah sejam lebih dari jam kerjamu lho, lagian Lacak juga deadline-nya masih tiga hari lagi! Nanti malam kan giliran kamu buat ngider-ngider, sana pulang, tidur gih!” kata Roni sambil merentangkan tangannya ke arah Sekar. Memamerkan ponselnya yang berisi pesan dari produser mereka yang mereka panggil Si Bos, bukan merujuk pada seseorang yang mempunyai posisi lebih tinggi dibanding mereka, melainkan Si Bos merupakan akronim dari Bekas Orang Suruhan. Julukan tersebut disematkan karena mereka semua mengerti bahwa produser mereka dulunya bekas orang suruhan salah satu penguasa tertinggi di negeri ini. Ia berbelot, ikut menjatuhkan sang penguasa dengan menjadi informan terpercaya media penyiaran tempat Sekar bekerja. Sejak sang penguasa jatuh, ia berganti profesi menjadi wartawan dan kini karirnya menanjak, bahkan tak lama lagi posisi executive producer akan tersematkan padanya. “Kok dia malah WA ke kamu?” tanya Sekar tanpa sedikit pun menoleh ke arah Roni. “Hapemu dimana?” seketika Sekar kebingunan, pandangannya teralihkan dari layar laptop untuk menyusuri meja kerjanya. Hanya terdapat beberapa tumpukan kertas, dan alat tulis, ia tidak mendapati keberadaan ponselnya di sana, padahal seharusnya ponselnya berada di sebelah kanan layar laptop kerjanya. “Coba miskolin hapeku dong?” kata Sekar sedikit panik, ia memandang Roni dengan tatapan memelas tanpa berkutik dan berusaha mencari keberadaan ponselnya. Roni pun langsung mengetuk-ngetuk layar ponselnya untuk menghubungi ponsel Sekar, kemudian ia mengaktifkan mode pengeras suara. Hanya terdengar nada sambung dari seberang sana. “Kamu silent?” “Enggak kok...” sahutnya berusaha berkonsentrasi mendengar dering ponselnya, tak lama sayup terdengar suara pria dari arah luar ruang kerja mereka. “Hape sapa tuh yang bunyi?” tampaknya sumber suara itu terdengar dari ruangan divisi olahraga yang letaknya tepat di sebelah pantri yang terletak di ujung lorong. “Kebiasaan nih anak!” gerutu Roni, sembari meletakkan hapenya ke meja kerjanya kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sekar hanya tertawa kecil kemudian kembali jemarinya bekerja di atas papan ketik, Roni yang menyadari bahwa Sekar tidak ada pergerakan satupun akhirnya berceloteh. “Kok malah balik kerja bukannya ambil hape ato balik gitu?” “Ini mau di-save dulu, abis itu ke pantri, trus balik!” jelasnya sembari menunduk untuk mengambil ransel coklat yang terletak di bawah kaki kirinya, kemudian berdiri sambil menyelempangkan bagian kanan tali ransel ke pundak kanannya, setelah itu ia mengambil gelas terisi kopi hitam pekat yang belum sempat diteguk, lalu mulai melangkah meninggalkan meja kerjanya. “Duluan yaak...” pamit Sekar saat melewati Roni menuju pintu keluar, tak lupa ia menepuk bahunya. “Iyo, jangan lupa nanti malam nginep di Polsek!” ucap Roni tanpa menoleh sedikit pun juga tidak mendapat jawaban dari Sekar. Sekar tidak melajukan motornya menuju kosnya, ia malah mengemudikan mesin beroda dua tersebut ke arah berlawanan. Sekar berniat sebelum memanjakan tubuhnya di atas kasur, ia ingin memberikan asupan gizi bagi kesehatan mentalnya dengan menyeruput secangkir Americano serta mengunyah sepotong kue Tiropita di kafe kesayangannya, Dacha. Sudah hampir satu bulan ia tidak menjalankan ritualnya untuk menyeruput secangkir kopi sambil menikmati pemandangan interior kafe Dacha yang bernuansa vintage, dengan sesekali memperhatikan jalan yang berada tepat di seberang kafe tersebut. Cukup membayangkannya saja sudah membuat hormon serotonin dan dopamin-nya meluncur deras dari sistem endokrin-nya. Sekar mempunyai cara cukup sederhana untuk membahagiakan dirinya dalam menjalani hidupnya yang tidak teratur. Serendipity, istilah itu sangat cocok disematkan pada situasi yang Sekar alami saat ini, kebetulan-kebetulan yang nampaknya sengaja diatur oleh semesta membawanya kembali bertemu dengan Arya, awalnya ia tidak menyadari kehadiran pria tersebut di dalam kafe kesukannya. Sampai ketika ia berjalan dengan langkah kecil menuju tempat pemenasanan, ia melihat pahatan tubuh yang sedikit familier baginya. Sedang berdiri dalam antrean. Arya berada pada barisan terakhir, di depannya ada dua orang yang ikut berjejer mengikuti garis antrean yang sudah ditetapkan. Langkah Sekar sempat terhenti, ia ragu untuk melanjutkan arahnya. Ia cukup sangsi, mengapa dalam rentang waktu satu bulan, ia bertemu dengan orang yang sama di tempat yang berbeda dengan cara yang sulit bila dikatakan hanya sebuah kebetulan. Akan tetapi setelah menyadari bahwa tidak mungkin pria itu mengikutinya, ia memilih untuk kembali melangkah sambil menatap tajam dan penuh keheranan ke arah Arya. Sampai akhirnya jarak mereka tak lebih dari satu meter, Sekar terus memperhatikan bagian tubuh belakang Arya tanpa menoleh ke arah yang lain, hingga akhirnya Arya menyadari sepasang mata sedang mengintainya dari belakang. Arya memutar tubuhnya pelan dan langsung tersenyum lebar begitu mendapati mata besar Sekar melotot padanya, disertai ujung alisya yang saling tertarik, menimbulkan kerutan di atas hidungnya yang lancip besar. “Akhirnya misteri itu terpecahkan!” ujarnya masih sulit mempercayai pemadangan di hadapannya. “Misteri apa? Gunung Merapi?” ketus Sekar melipat tangannya ke atas rongga tubuh yang membungkus alat pernapasannya, seraya membuang mukanya ke kiri. Tampak jam pendulum sebesar lemari baju, yang Sekar miliki di kamar indekosnya dengan ukiran khas Abad Renaisains bertengger megah diantar dua pilar pada dinding utama kafe tersebut. “Nomor kamu, pekerjaan kamu, kamu nggak lupa kan?” kata Arya yang kini sudah penuh berhadapan dengannya. Sekar haya menjawab dengan menggerakkan kepalanya maju sambil memocongkan mulutnya, Arya menoleh kebelakang dan mendapati ruang kosong dalan antreannya, seketika ia mundur dengan langkah kecil. “So....?” Arya menaikkan alisnya, sambil menepuk tangannya dan menarik bibirnya, ia berlaku seimut mungkin di hadapan Sekar. “Sooo... aku masih gak habis pikir kenapa kita ketemu lagi, hellooo... kota ini besar dan penduduknya banyak!” “Kamu lupa kita pertama kali ketemu di sini? Aku nyamperin kamu?” “Trus?” “Ya berarti ada kemungkinan kan kamu bakalan ke sini lagi?” “Jadi maksudmu....” belum selesai perkataan yang keluar dari mulut Sekar, tiba-tiba sang kasir menyadarkan bahwa sekarang sudah giliran Arya untuk memesan kebutuhannya. “Oh mas nya! Seperti biasa mas?” ucap sang kasir begitu Arya berbalik badan dan melihatnya dengan jelas. “Iya mas...” “Emang belum dateng-dateng juga mas, orang yang mas tunggu?” tanya sang kasir sambil memasukkan daftar pesanan Arya pada sistem penjualan. “Ini orangnya di belakang saya...” ucapnya tersenyum puas sambil mengangkat tangan kanannya, dan melipat sikunya ke arah belakang, menunjuk Sekar yang berjarak lebar dengannya. Sekar yang merasa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan mereka, tak kuasa untuk tidak mencondongkan tubuhnya ke arah kasir. Begitu pula sang kasir yang berusaha mengintip siapa orang yang selama ini ditunggu Arya. “Oooo... waah nggak sia-sia dong mas setiap hari ke sini, udah ada sebulan belum si mas?” goda sang kasir, yang hanya dibalaskan senyuman berarti oleh Arya tanpa memedulikan gelombang tak suka yang terpancar dari dua bola mata Sekar. “Totalnya seratus dua puluh lima ribu rupiah mas, mau dibayarkan seperti biasa juga?” lanjut sang kasir. Arya hanya mengangguk dan kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu memindai kode QR yang tertera pada ponselnya ke suatu kotak persegi di samping layar komputer sistem penjualan. “Ini struk dan nomor pesanannya ya mas...” ucap kasir tersebut ramah. Arya menyambutnya setelah mengucapkan terima kasih. Lalu bergeser ke arah kiri, mempersilakan Sekar untuk memesan kebutuhannya. “Gapapa kan aku tunggu di sini?” ucapnya pada Sekar setelah mendapati dirinya ditatap sinis oleh Sekar. Sekar tidak menimpali, “Mas tolong Americano sama Tiropitanya satu ya!” “Totalnya sembilan puluh tujuh ribu Mbak” saat Sekar ingin membayar, dengan tangkas Arya langsung menempelkan ponselnya ke atas mesin pemindai kode QR. Tindakannya membuat Sekar untuk tidak menahan emosinya. “Eee... nggak bisa doong! Mas tolong di-cancel, saya pesan ulang!” hardik Sekar pada sang kasir yang tak melakukan kesalahan apapun. “Maaf mbak sudah masuk ke sistem nggak bisa di-cancel!” “Sorry bukannya lancang, anggap aja ini bentuk permintaan maafku tempo hari di tempat laundry! Kalo kamu nggak suka nanti kamu bisa bayar ke aku!” ucap Arya tak menyiratkan penyesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD