Sekar mulai tidak suka dengan tatapan Arya yang cukup menganggu, walaupun tatapan itu merupakan tatapan paling hangat yang pernah ia dapatkan dari seorang pria. Akan tetapi, tatapan itu juga merupakan ancaman atas idelogi yang sudah tercetak jelas dalam benaknya. Kalaupun jika ia harus berakhir dengan menjadi pasangan dari pria di depannya ini, ia tetap harus berpegang teguh pada prinsipnya. Menjadikan kehadiran pria di hadapannya ini, sebagai alat penunjang hidupnya. Bukan sebagai perangkap jiwa yang haus akan cinta.
“Terus, berapa hari kemudian…” Arya pun melanjutkan, ia masih memasang tatapan yang sama. Hingga akhirnya, tatapan itu meredup saat ia harus berputar.
Untuk kedua kalinya, aku lihat kamu pas aku duduk di sana,” kali ini Arya menunjuk sebelah kanannya. Jarak antara mereka duduk, dengan tempat duduk yang di duduki oleh tiga remaja laki-laki masih menggunakan seragam sekolah tak begitu jauh, cenderung bersebelahan namun dengan sudut miring yang berbeda.
Nampak, anak-anak remaja itu tak mempedulikan tangan Arya yang membentang ke arah mereka. Ketiga remaja laki-laki itu lebih memilih menggerakkan jempolnya di atas layar ponsel, sambil sesekali bersuara. Walau tidak terlalu tinggi suara yang mereka hasilkan, sayup dapat terdengar oleh Arya dan Sekar. Sempat membuat Arya sedikit teralihkan, karena ketiga remaja itu sedang memainkan permainan dalam jaringan buatan perusahaan Arya.
“Kenapa?” tanya Sekar bingung, melihat Arya memandangi ketiga remaja laki-laki itu cukup lama.
“Nggak papa, cuman keingat kejadian waktu itu aja!” ucap Arya berbohong, sembari kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Sekar. Membuat mereka kembali bertatap wajah.
“Waktu itu, kamu kelihatan berbeda! Kamu terlihat seperti orang yang frustasi,” nada suara Arya sedikit menurun, seakan ia ikut merasakan apa yang dirasakan Sekar kala itu.
“Tapi, kamu nggak terlalu nampakin itu! Kamu cuman asik memejamkan mata, sambil mendekap cangkir di kedua tanganmu! Kaya gini!” Arya sampai menirukan gaya Sekar dikala gundah melanda hatinya. Terutama, di saat ia berhadapan dengan kasus yang berhubungan dengan wanita. Entah wanita yang menjadi pelaku kriminal, ataupun korban kriminal. Melihat keseriusan Arya mempraktekkan dirinya di saat depresi, membuat Sekar sedikit tergelitik.
“Bukan gitu juga kali aku megangnya!” sanggah Sekar
“Pesananku belum dateng sih, kalo datang nanti kamu lihat sendiri. Cara yang aku pegang nggak sekaku itu!” Tambah Sekar, mengejek Arya.
“Ya pokoknya kamu kaya gitu! Terus, aku juga lihat kalo kamu beberapa kami hirup cangkir. Tapi nggak kamu minum. Aku rada bingung sih, sama sikap kamu waktu itu. Kamu lagi nggak ritual gitu kan?” ejek Arya berusaha membuat suasana mereka jadi lebih bersahabat.
“Ya enggak lah, cuman kalo emang lagi banyak pikiran…. Kebiasaanku ya seperti itu! Terus?” saat Arya ingin mengajukan pertanyaan mengenai apa yang dipikirkan Sekar dengan ekspresi yang sangat depresi seperti itu, tiba-tiba Sekar langsung meminta Arya untuk melanjutkan alasannya menghampirinya kala itu. Seakan mengetahui, bahwa ia siap menyerbu pertanyaan lain.
“Terus, yang ketiga kalinya aku liat kamu dari sana lagi,” kali ini Arya kembali memutar badan, kemudian menunjuk tempat semula.
“Aku baru dateng trus liat kamu lagi senyam-senyum sendiri ngeliatin hape, ya lucu aja gitu. Sekalian menyadarkan aku sih, ini ekspresi lainnya yang pernah kamu tunjukkin. Walaupun ketawamu nggak selepas pas pertama kali aku ngeliat kamu, tapi tetap bisa ngundang perhatian orang. Nih ya, pas aku perhatiin sekeliling… Waktu itu banyak cowok yang datang, terus mereka beberapa kali ngelirikin kamu lho!” Arya seakan menjadi biang gosip bagi Sekar, sungguh tidak cocok dengan penampilannya. Menciptakan tawa kecil yang keluar dari mulur Sekar.
“Kamu kaya emak-emak, sukanya ngomongin orang!”
“Eee… tapi seriusan. Cuman ya mungkin kamu udah biasa kali ya dilirikin cowok gitu. Jujur, aku juga curi-curi pandang ke kamu waktu itu. Tapi, ya kamu nggak nangkap lirikan kita, cowok-cowok yang terpesona akan ekspresimu!” puji Arya yang terdengar lebih seperti menggoda.
“Iya tau, terus?” Sekar tak ingin berbelit-belit. Ia sungguh tidak betah, saat seseorang menggodanya. Walau apa yang ia rasakan Arya hanya berkata apa adanya.
“Terus yang keempat kalinya pas aku nyamperin kamu itu!” kini suara Arya kembali melunak.
“Waktu itu… kamu kembali seperti orang yang frustasi!” tersirat jelas pertanyaan penyebab depresinya Sekar dari guratan wajah Arya. Sekar yang menangkap itu, memilih tak memedulikannya.
“Jujur, aku lebih suka liat kamu pas senyam-senyum. Aku yakin, cowok-cowok yang lirikin kamu waktu itu juga pengennya kamu senyam-senyum gitu aja!”
“Ngaco deh, ngapaen bawa cowok-cowok lain sih?” Sekar mulai tak nyaman.
“Sorry, maksudnya kamu lebih mempesona dengan ekspresi yang ceria. Karena waktu itu kamu terlihat begitu sedih, makanya aku mau kenalan ama kamu. Niatku waktu itu pengen ngehibur kamu. Mungkin aku bisa bikin kamu ketawa, aku punya banyak jokes lho!” ucap Arya sangat percaya diri. Sempat membuat Sekar merasa bersalah. Kebanyakan, orang-orang lebih berfokus kenapa dirinya bersedih, bukan berusaha untuk menghibur diri dan menyampingkan penyebab kesedihannya. Alasan Arya saat itu denga niat ingin menghiburnya, cukup membuatnya terkesan.
Membuatnya tersenyum.
“Kok senyum?”
“Masa kamu bisa nge-jokes? Coba!” pancing Sekar.
“Oooh… itu senyuman ejekan berarti. Oke…” Arya merasa diremehkan.
“Kamu tahu nggak kenapa laut warnanya biru?”
“Hmm... Menurut ilmiah sih, karena warna biru itu punya energi lebih tinggi dibanding warna lain sehingga bisa masuk ke dalam air lebih dalam. Sedangkan warna lain udah abis terserap, makanya pantulan yang berhasil dipancarkan ya warna biru. Tapi bukan jawaban itu kan yang kamu mau?” Arya terkekeh kecil seketika Sekar berubah serius.
“Iya, itu mah aku juga tau... tapi bukan itu!” ucap Arya gemas akan tingkah Sekar yang berubah serius nan bijaksana. Pemuda itu sampai harus menarik napasnya dalam, sebelum membocorkan pertanyaannya.
“Kenapa laut warnanya biru…. soalnya ikan-ikan di laut ngomongnya blu blu blu blu....” kata Arya menahan tawan akan leluconnya sendiri.
“Dih! Apaan si... jayus tau nggak...” ucap Sekar ikut menahan tawa. Roman yang berubah seketika membuat Arya ingin menggodanya.
“Ketawa aja lagi, nggak usah ditahan!” Arya sukses membuat Sekar salah tingkah.
“Dih! Apaan...” saat ingin melanjutkan, tiba-tiba pramusaji menginterupsi Sekar. Arya yang melihat pramusaji bernama Rendi itu sedikit kesulitan menyajikan pesanan mereka, langsung berinisiatif membantunya. Ia berdiri dan langsung mengambil pesanan Sekar, setelah itu meletakkannya ke atas meja di hadapan Sekar.
Kemudian, ia mengambilkan pesanan miliknya dari genggaman pramusaji yang langsung mengucapkan terima kasih. Setelah sajian dipastikan sudah sesuai dengan pesanan mereka, pramusaji tersebut kembali dan meninggalkan mereka dalam keheningan. Suasana momen salah tingkahnya Sekar, masih terasa membungkus kebisuan di antara mereka. Hingga mereka hanya dapat menyingkirkannya dengan menyeruput hidangan yang sudah tersaji.
“So... kapan misteri itu akhirnya bisa terpecahkan?” ucap Arya setelah menyeruput mochaccino pesanannya.
“Misteri apaan? Gunung Merapi? Mak lampir kali ah!” ucap Sekar sambil menyilangkan kedua tangannya di tubuh atasnya, setelah meletakkan kembali cangkir berisi Americano pesanannya ke atas meja.
“Nomor telepon kamu, dan pekerjaan kamu....” ia berdeham sebentar, kemudian memajukan badannya dan membuat gerakan seperti orang yang sedang mengendarai motor. Setelah itu melanjutkan kalimatnya.
“Kalau emang beneran katamu kita jodoh, pasti bakalan ditakdirkan ketemu lagi kok! Saat itu terjadi, kamu boleh simpan nomorku dan aku bakalan kasih tau pekerjaanku...” ucapnya berusaha menirukan gaya Sekar, saat gadis itu meninggalkan Arya di tempat pencucian kilat. Tingkah Arya berhasil menghadirkan tawa kecil di wajah Sekar, memecahkan aura kecanggungan yang sempat bergentayangan di sekitar mereka.
“Apaan sih, norak deh!” kilah Sekar berusaha menyembunyikan rasa panas di kedua pipinya. Ia sangi, rasa panas itu karena cahaya matahari yang berusaha menerobos dari balik dedaunan.
“Aku wartawan, ini kartu namaku,” kata Sekar sambil membuka ranselnya dan mengambil kartu nama yang terselip dalam dompetnya. Arya menerima selembar kerta persegi panjang dengan ukiran Sekar Diajeng Wardani sambil tersenyum puas.
“Woow, pekerjaan yang keren!” ucapnya tak menyembunyikan tatapan takjub, akan kartu nama Sekar yang baru saja mendapat di tangannya.
“Kamu kerja di Berita Ternama? Aku suka nonton program Lacak lho!” celetuk Arya setelah membaca profesi Sekar lekat, ia sampai memalingkan pandangan dari kartu itu, ke bola mata Sekar yang juga menatapnya tak percaya. Bahwa pemuda di hadapannya itu menikmati karyanya.
“Serius?”
“Serius! Programnya bagus, nggak terkesan dokumenter, malah kaya nonton film, keren banget! Kamu di program apa kalo boleh tau?”
“Kantorku dibagi bukan per program si, tapi lebih ke per kategori gitu. Aku di bagian kejahatan dan kriminal.” Sekar berhenti sejenak untuk mereput kembali minumannya. Sambil mendekap cangkir, ia melanjutkan dengan tatapan sedikit santai, seolah membicarakan sesuatu yang tidak terlalu berarti. Padahal, yang ingin ia ungkapkan adalah kebenaran atas orang di balik layar dari program kegemaran Arya.
“Salah satu program yang aku pegang itu Lacak, aku jadi tim penulisan naskah!” ucap Sekar merendah, pasalnya Sekar bukanlah sekedar tim penulis naskah saja. Melainkan, merupakan asisten produser yang seharusnya sudah tak lagi harus turun lapangan, bahkan menulis naskah. Tugasnya hanya memberikan ide dasar dan pandangan umum pada timnya. Namun bukan Sekar jika hidupnya terlalu santai, ia sangat mencintai kegiatan turun ke lapangan sehingga ia memohon pada Si Bos atasannya untuk tetap turun ke lapangan dan sekali-kali muncul di depan layar untuk melaporkan perkara yang menyita perhatian Sekar.
Awalnya Si Bos menentang hal itu, namun di saat melihat kinerja Sekar yang sangat multiasking serta serius dengan keputusannya, akhirnya Si Bos tetap mengizinkan Sekar untuk turun ke lapangan, bahkan akhirnya ia menyerahkan semuanya pada Sekar karena investigasi yang dilakukan Sekar kadang lebih menghasilkan dibandingkan rekan kerjanya yang lain. Bahkan, Lacak lahir dari investigasi yang dibuat oleh Sekar, serta ambisi Sekar yang ingin membuat program ivestigasi terkesan mewah dan menghibur. Semua itu dikerjakan sendiri tanpa bantuan tim khusus, kecuali tim pendukung dari devisi produksi.
“Wooow... Aku nggak percaya bisa bertemu sama salah satu orang yang membuat program televisi favoritku!” ucap Arya menatap Sekar kagum.
Seketika ia pun tersadar.
“Tunggu! Kamu reporter yang sempat viral itu kan? Yang pernah bikin ngamuk pejabat pas di konferensi pers?” tanya Arya memastikan tak salah orang. Tatapan ketakjubannnya hanya di balas permainan ekspresi wajah Sekar yang menganggap reaksi Arya hal yang biasa.
“OH! EM! JI!” Arya sampai harus menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa?”
“Aku nggak nyangka bisa dapetin jackpot kaya gini. Orang di balik layar program favoritku adalah reporter yang sempat membuat keadaan politik geger. Kamu keren!” ungkap Arya sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Sekar, setelah berhasil menutup rapat mulutnya sempurna. Sedangkan Sekar hanya menanggapinya dengan cuek sambil kembali menyeruput cairan yang membasahi tenggorokannya.
“Biasa aja, ya risiko pekerjaan! Tapi thanks ya!” timpal Sekar santai.
“Aku save nomor kamu ya!” izin Arya mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomor yang tertera pada kartu nama Sekar.
“Eh, jangan save nomor yang itu! Itu nomor kerjaan soalnya, save nomor pribadi aja… Soalnya kan kita kenal di luar pekerjaan,” ucap Sekar sambil mengeja nomor pribadi yang harus disave Arya. Tak lama, poselnya berdering. Dengan santai Sekar mengeluarkan ponselnya, kemudian menyimpan nomor Arya yang baru saja meneleponnya. Setelah proses bertukar nomor ponsel selesai, Arya kembali mengorek informasi lebih jauh mengenai Sekar.
“Kamu, kenapa milih jadi wartawan kalo boleh tau?”
“Cita-cita dari kecil. Awalnya, aku mau jadi detektif. Karena nonton anime The Great Detective: Ayumi....”
“Oh! Aku tau anime itu… Aku juga suka nontonnya pas waktu kecil, malah aku koleksi semua komiknya!" potong Arya antusias.
"Trus kamu nggak ikutan jadi detektif?”
“Enggak lah, cuman suka aja. Bukan berarti pengen kan?”
“Hmmm… Tau deh! Aku malah pengen jadi detektif gara-gara film itu…!”
“Trus? Kenapa nggak jadi detektif aja?” tanya Arya sembari menikmati pesanannya yang sebentar lagi tak bersisa. Lain dengan Sekar, yang memilih mengunyah Tirapitonya yang sempat ia abaikan.,
“Pas SMA, gara-gara kasusnya Bu Ratih aktifis hak asasi buruh dan wanita meninggal karena racun.... kamu tau kan?” Arya hanya mengangguk serius.
“Nah asistennya kan sempat jadi tersangka tuh, saat itu Wulandary Herman yang berusaha membuat dia nggak bersalah! Dia menginvestigasi dan menayangkan bukti-bukti kalo asistennya itu korban… Dari situ, aku takjub sama peran wartawan.” Jelasnya dalam usahanya mengunyah kue asal Yunani yang renyah di luar namun lembut di dalam.
“Aku jadi ngefans sama beliau… Lagian, menurutku pekerjaan wartawan mirip-mirip ama detektif. Terutama buat program kriminal dan kejahatan. Sejak itu cita-citaku berubah, lebih pengen jadi wartawan karena perkerjaannya lebih real dan lebih masuk akal aja sih!” ungkapnya masih mencuil ujung kue tiropita yang sudah lenyap setengah.
“Trus, kamu sekarang bekerja di stasiun tivi yang sama dengan beliau? Kamu pasti seneng banget dong?”
“Banget! Tapi sayangnya, sebelum aku lulus kuliah dia udah meninggal... Padahal, salah satu impianku itu… Bisa bekerja satu tim sama dia!”
“Tapi paling nggak cita-citamu berhasil terwujud! Banyak lho, di luar sana yang berjuang demi mewujudkan cita-cita! Bahkan yang lebih miris itu, banyak manusia di luar sana yang nggak punya cita-cita. Mereka terjebak di lingkaran setan karena sekedar bertahan hidup!” satu kalimat yang keluar dari mulut Arya mampu membuat Sekar terbelalak. Pasalnya, apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang Arya pikirkan, ironi pelik yang dihadapi kebanyakan kaum milenial.
“Kok, lagi-lagi kita sepemikiran ya?” ucap Sekar takjub, seperti menemukan serpihan cermin pada diri Arya.
“Oh ya? Kamu mempunyai pemikiran yang sama?” Arya tak kalah takjub, suasana siang itu membuat perasaan Sekar semakin memanas. Gadis itu mendapati diri Arya berbeda dari semua pria yang pernah ia kenal.
Setelah ditelisik, Arya ini sangat berbeda! Beberapa kali, Sekar sudah berusaha bersikap acuh padanya. Namun, semesta seperti kembali mempertemukan mereka. Terlebih, Arya sama sekali tidak memberikan sikap kecewa dan juga protes terhadap semua perlakuan kasar Sekar padanya. Beberapa kali pertanyaan Arya yang tidak langsung dijawab oleh Sekar, tak membuat Arya kesal dan kecewa.
Sikap kasar tak bersahabat yang ditunjukkan Sekar pun, tak membuat pria dengan fisik khas Indonesia asli ini terpancing emosi. Biasanya, pria yang mendekati Sekar akan menjauhinya begitu mendapati Sekar tidak bersahabat, egois dan mementingkan diri sendiri. Sekar menarik senyumnya, ia ingin melihat seberapa jauh Arya dapat bertahan meladeni dirinya. Ia sangsi, pria di depannya akan bersikap nerima sikap tak acuh Sekar terus menerus. Pasti ada sedikit keegoisan dalam dirinya, yang menuntutnya untuk meminta balasan atasan semua yang sudah ia lakukan kepada Sekar.
“Iya! Aku sedih melihat fenomena jaman sekarang, kuliahnya apa, kerjanya dibidang apa! Ironis!”
“Makanya, kita-kita perlu orang seperti kamu Dan…! Lewat media, kamu bisa menyeruakan pendapatmu. Kamu beruntung suaramu bisa didengar. Jadi, menurutku salah satu tugas peran media itu untuk memberikan efek positif kepada masyarakat, bukan sebaliknya!” Entah mengapa, percakapan mereka menjadi lebih mendalam. Sekar sedikit tergelitik juga tersentil atas pernyataan Arya. Ia menyadari bahwa Arya mempunyai daya tarik lebih, selain fisiknya.
“Iya, aku tau! Well, uangmu nggak usah aku kembaliin kan?” ucap Sekar mengalihkan pembicaraan yang membuat suasana di antara mereka semakin mendalam. Baginya, belum saatnya untuk mereka tenggelam dalam padangan hidup masing-masing. Masih terlalu dini bagi Sekar terlibat jauh dengan pria penuh pesona di hadapannya ini.
“Kan, udah aku bilang nggak usah! Kamu yang sok-sokan gak enak, pake gengsi!” ucap Arya enteng semakin menyudutkan perasaan Sekar. Ia bahkan sedikit terkekeh menggoda Sekar.
“Ah, tau gitu aku tadi pesan makan juga! Kebetulan, aku belum makan siang nih!” canda Sekar yang dijawab serius oleh Arya.
“Kamu mau dipesanin apa? Steak? Pasta? Cordon Blue? Turkey?” tawar Arya semangat sembari beranjak.
“Hmmm... US Prime Beef Tenderloin, side dish-nya baked potato, sama sayurnya aku minta brokoli aja. Sausnya yang garlic mushroom ya!” jawab Sekar enteng menyebut menu termahal di kafe ini.
“Minumnya?” Arya sudah berdiri, siap meluncur ke tempat pemesanan.
“Hmm... Strawberry Lemonade boleh!” Sekar menyebutkan minuman perpaduan perasan lemon dan strawberry. Arya langsung melesat menuju tempat pemesanan, meninggalkan Sekar yang duduk dengan perasaan menggelitik. Ia senang, mempunyai permainan baru sekarang. Arya!
“Senang berkenalan dengan kamu Arya! Kita lihat sejauh mana kamu akan bertahan....” ucap Sekar pelan dengan tatapan mengikuti arah tubuh Arya melangkah. Tanpa menyadari bahwa dirinyalah yang sebenarnya terjerumus pada permainannya sendiri.