“Dan!” sekar tertegun saat Roni menepuk pundaknya. Setelah berkali-kali memanggilnya setelah mendapati Sekar yang dicari-carinya, hanya terduduk diam di atas meja kerjanya.
Dengan tatapan kosong menatap layar laptopnya yang menyala.
“Eh kenapa Ron?”
“Malah bengong... Tumben? Udah kelar naskahnya?” Roni mencodongkan tubuhnya, memeriksa. Apa yang sedang dikerjakan Sekar. Namun, ya ia temukan justru kebingungan. Halaman yang terbuka, tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Masih tertera halaman yang sama, saat terakhir Roni mengintip naskah yang harus ia rangkai menjadi sebuah tayangan audio visual. Tiga jam lalu.
“Astagaaa...” ia terkagetkan dengan naskah yang harus ia selesaikan hari ini. Tanpa sadar ia menjerit mengagetkan Roni.
“Kamu kenapa si?”
“Belum aku kerjain... s**t!” panik, ia langsung mencari berbagai berkas pendukung untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Tiga jam terduduk di depan laptop menyala, alih-alih selesai megejarkan tugas, malah hanya dipakai dengan memikirkan Arya. Membuatnya menjadi tidak fokus.
“Lho, kok bisa? Mau aku garap nih videonya! Yaudah, kamu kerjain aja dulu gih, deadline-nya juga diundur kok!”
“Heh, kok bisa?”
“Ada wawancara eksklusif sama President. Bu Michelle berhasil membujuk pihak istana. Jadi, program kita ga jadi tayang!”
“Syukurlaaah...” ucap Sekar sembari mengendurkan ototnya yang sekejap tegang. Ia mendaratkan kepalanya di atas celah sempit antara laptop dengan bibir meja kerjanya.
“Emang dari tadi kamu ngapaen aja?” tanya Roni bingung, tidak biasa Sekar membuang waktu tiga jam tanpa hasil. Harusnya, dengan kemampuan super Sekar. Naskah sudah siap disulap Roni menjadi tayangan yang menarik, paling lambat satu setengah jam yang lalu.
“Gapapa, cuman banyak pikiran aja!”
“Arya?” Sekar tak dapat mengelak. Terlebih ketika Roni menatapnya dengan tatapan menyelidik. Di tambah, guratan bibirnya yang seakan mengejek. Serta, gestur tangan yang ia silangkan.
“Yaudah sih, kenapa nggak kamu aja yang bilang suka ama dia?” ucap Roni sambil menarik kursi yang ada di sebelah meja kerja Sekar, kemudian duduk di sampingnya. Ingin mendapatkan informasi lebih, mengenai kisah Sekar dan Arya. Secara garis besar, ia sudah paham persoalan hati Sekar. Karena memang, saat ini Sekar hanya mempunyai satu teman dekat. Yaitu, Roni. Semua teman-teman masa sekolah, masa kuliah, teman sepermainan, sudah hilang dari kehidupannya.
Pada umumnya, manusia akan selalu berada pada lingkungan baru. Sehingga, menggantikan posisi manusia lain yang selama ini berada di dekat mereka. Termasuk kehidupan Sekar, yang sudah tidak terlalu erat pada kehidupan sosial. Ia percaya, bahwa manusia hanya terjalin karena kepentingan. Saat kepentingan itu usai, selesai sudah titel pertemanan dalam diri mereka. Roni kini, sudah menatap tajam Sekar yang masih terdiam. Kemudian, Sekar memutar kursinya dan berhadapan dengannya.
“Gengsi laah... Lagian bukan itu masalahnya, udah tiga hari balas WhatsUp-ku seadanya! Aku telponoin, di-reject terus. Cuman bales WU doang. Bilang sorry lagi ribetlah, lagi meeting-lah, lagi nggak bisa diganggulah! Banyak banget alesannya! Kan jadi bikin nggak mood dan mikir macem-macem!” keluh Sekar yang membuatnya tidak produktif hari ini. Tiga jam hanya ia pakai untuk mencari alasan logis, atas sikap Arya yang sedikit berubah. Ia tersiksa atas perasaan yang tidak pasti.
“Seriusan?”
“Beneran! Nih, liat aja kalo nggak percaya!” saat Sekar hendak mengambil ponselya yang terbaring di samping laptop kerjanya, Roni menghentikan aksinya dengan ucapan yang monohok. Cukup membuat Sekar berang.
“Bukan! Maksudnya seriusan kamu jadi kaya gitu? Akhirnya, kena karma juga ya!” ledek Roni tersenyum lebar.
“Kurang ajar, sialan kamu!”
“Becanda… Ya, positif thinking aja! Siapa tau, dia emang bener-bener sibuk!” ucap Roni berusaha menenangkan Sekar.
“Iya aku paham, tapi….”
“Tapi…?” Roni memancing, berusaha tidak terlihat penasaran.
“Aku nggak punya bukti kuat, kalau dia beneran lagi sibuk!” akhirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya. Sekar membicarakan soal asmara dengan orang lain.
“Maksudnya?”
“Ya, aku nggak bisa mastiin dia itu beneran sibuk atau enggak! Siapa tahu dia boong kan? Terus pelan-pelan ngindarin aku? Di saat aku mulai terbuka buat dia.”
“Sumpah aku nggak percaya dengan fenomena di depanku!” ujar Roni dengan tatapan takjub.
“Hah? Apaan sih?” protes Sekar kesal. Ia sampai harus mengambil kota kecil berisi penjepit kertas, lalu mengeluarkan satu dengan ukuran kecil berwarna merah. Kemudian melemparkannya ke badan Roni.
“Kamu suka beneran dengan Arya?” pertanyaan Roni kembali membungkam Sekar. Ia sudah mengetahui jawabannya beberapa waktu lalu, kalau memang dirinya terpaku oleh Arya.
“Aku nggak tahu, kalau bisa tenggelam dengan perasaanku sendiri. Aku pikir, ini cuman perasaan wajar akibat sering bertemu. Akibat sering mendapatkan perhatian. Aku nggak tahu, bahwa perhatian yang dia kasih Arya itu, candu buat aku!” Sekar akhirnya memilih menumpahkan perasaannya kepada Roni. Untung, lagi-lagi kantor mereka tak terdapat orang lain. Sehingga, waktu mereka yang harusnya digunakan untuk bekerja. Dipilih Sekar untuk menuangkan perasaannya. Berkat tertundanya acara mereka, paling tidak Sekar terselamatkan satu hari.
“OK! Hmmm… sebagai orang yang pernah digantungin seseorang, aku paham perasaanmu!”
“Hah, kamu digantungin siapa?” pertanyaan Sekar hanya dibalas dengan tatapan tak percaya oleh Roni, ia bahkan sampai harus menatap gadis itu lekat. Sembari mengerucutkan bibirnya, menandakan bahwa orang yang ia maksud adalah Sekar.
“Oh, ya sorry. Kan katanya kamu udah move on? Makanya bisa berteman sama aku?”
“Terpaksa berteman, karena aku di bawah tim mu. Mau nggak mau harus jadi temenmu!” rajuk Roni tak serius. Sekar pun mengetahuinya. Roni tulus berteman dengan Sekar, terlepas cerita lalu yang menyelimuti mereka.
“Oh ya? Ya besok tinggal aku minta orang lain aja. Kalau emang kamu nggak mau di bawah timku.” Sekar ikut permainan merajuk Roni.
“Silakan, emangnya ada yang betah mau kerja ama kamu selain aku?” ucap Roni tak mau kalah. Membuat Sekar sudah tidak nyaman mengikuti alurnya.
“Yaudah gih sana, aku mau balik kerja!” ucap Sekar mengusir Roni, sembari memutarkan tubuhnya kembali ke laptopnya yang masih menampilkan halaman yang sama.
“Sori, sori… ya ampun… Maaf!” ucap Roni penuh penyesalan, berusaha menghentikan kursi kerja Sekar yang mulai bergerak.
“So?” pancing Roni setelah Sekar kembali menghadapnya. Dengan tatapan tak bersahabat.
“Apa?” tanya Sekar ketus.
“Kamu serius suka sama Arya?”
“Sepertinya gitu, aku juga baru menyadarinya setelah sikapnya yang mulai berubah. Coba, apa namanya kalau bukan suka? Saat perasaan kita jadi nggak menentu karena hilangnya kabar dari orang yang ingin kita hubungi? Aku nggak pernah seperti ini. Kamu tahu sendiri kan?” Roni hanya mengangguk.
“Terus, di saat dia nggak bisa dihubungi seperti ini. Perasaanku jadi kalut. Entah kenapa aku jadi takut, kalau dia nggak mau ketemu aku lagi. Pikiranku tuh…”
“Penuh dengan pikiran negatif, kamu pasti berpikir. Apakah Arya sudah punya pacar? Gitu kan?” hanya dijawab anggukan tak bersemangat oleh Sekar.
“Kenapa nggak pastiin langsung aja!” ucap Roni memberi saran.
“Itu dia masalahnya, aku baru menyadari. Aku nggak begitu mengenal Arya…” lirih Sekar menyesal.
“Maksudnya? Bukannya kamu udah lama kenal ama dia? Hampir setahun, ‘kan? Lebih lama dari pada masa pacaranmu lho!” goda Roni berusaha mencairkan suasana canggung yang sempat membalut.
“Aku nggak tahu dia tinggal di mana. Aku nggak tahu, tempat kerjanya di mana. Aku juga nggak kenal lingkungannya. Selama ini kita selalu bertemu berduaan, udah kaya orang pacaran. Dia nggak pernah bawa orang lain, begitu juga dengan aku.” sesal Sekar.
“Nama kantornya kamu tahu?” tanya Roni berusaha membantu. Hanya dijawab gelengan lesu.
“Hmmm… yaudah! Kasih waktu aja!”
“Sampai kapan? Ini udah tiga hari dia nggak bisa dihubungin.”
“Kamu udah cek sosmednya?” lagi-lagi Sekar mengeleng. Ia tak terpikirkan untuk menjadi detektif. Serta menelisik seluruh jejak digital yang ditinggalkan Arya.
“Namanya dia siapa? Biar aku cek Potogram-nya. Siapa tahu, dia aktif di sana. Atau mungkin dia aktif di Eyesbook.” ucap Roni semangat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia pun penasaran akan sosok Arya yang sering membagikan makanan untuknya. Selama ini, setiap kali Arya datang ke kantonya untuk memberikan makanan pada Sekar, ia selalu tidak berhasil mengintip sosok Arya. Ada saja yang menghalangi.
“Arya Alvaro!” seketika jemari Roni sibuk menari di atas layar kaca ponselnya, yang berbentuk segi panjang kaku. Sedangkan Sekar langsung menggerakkan kursinya, menimbulkan suara menggangu hasil gesekan roda kursinya dengan lantai kantor mereka.
“Coba pakai V bukan F” saran Sekar, setelah mereka telah berusaha mencari jejak digital di berbagai media sosial atas nama Arya Alfaro. Namun, tetap saja tidak mereka temukan. Bahkan, ketika mereka mengetik nama Arya dengan ejaan yang benar.
“Coba ganti pake PH ya, jadinya Arya Alpharo!” insiatif Roni. Ia sudah menjelajah berbagai media sosial, atas segala varian nama Arya. Mulai dari yang paling populer, hingga yang jarang orang gunakan. Bahkan, Roni sampai harus mencari di bagian pencarian gambar. Berharap, ada situs yang pernah mengunggah foto Arya. Namun, mereka tidak menemukan hasil apapun.
“Kalian cocok kayanya, sama-sama nggak punya sosial media. Tapi, paling gak kamu punya rekam digital. Arya sama sekali enggak. Apa karena dia nggak berpangaruh ya?” ucap Roni menyimpulkan. Ia tak memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, melainkan meletakkannya di meja kerja Sekar. Tapat di samping ponsel Sekar yang berbaring tak jauh dari laptopnya.
“Tuh kan, makin susah ngebuktiinnya! Aku sama sekali nggak tahu kantornya dia, nggak tahu tinggalnya di mana, enggak tahu juga orang-orang yang kenal sama dia!” beber Sekar lesu.
“Tuh, ‘kan! Nyesal kaaan… makanya jangan larang orang yang mau kenalan sama orang lain doong…!” serang Roni sedikit geram. Ia masih kesal atas sikap Sekar yang melarangnya ikut menemui Arya, ketika pemuda itu berkunjung. Padahal, Roni sudah sangat penasaran akan sosok Arya. Begitu juga dengan teman kantor lainnya, yang kecipratan mendapatkan makanan gratis. Membuat hubungan Sekar dengan mereka yang semula sekadar hubungan profesional, masuk ke janjang yang lebih bersahabat.
“Bisa nggak sih, nggak nyalahin orang lain atas kejadian yang sudah terjadi?” ketus Sekar jengkel. Ia sampai menatap Roni tajam nan mengancam.
“Sorry, sorry… abisan aku cuman gemas aja.
“Gemas kenapa?”
“Ya, jujur aku turut perihatin dengan pengalaman pertama kamu kaya gini! Wajar dong! Sebagai satu-satunya teman yang kamu punya, aku pengen ikut bantu!” ucap Roni tulus, membuat Sekar tak enak hati.
“Santai, aku bisa ngatasin ini kok. Tengkyu ya!” ucap Sekar sedikit ingin kembali mengambil jarak antara dirinya dengan Roni. Ia tak ingin terlalu terikat dengan teman sekantornya itu. Walaupun, selama ini memang Ronilah yang tampak bersahabat dengannya. Di saat orang-orang akhirnya memilih menyerah, dan membiarkan Sekar sendiri.
“Gak masalah, tapi…”
“Tapi apa?”
“Menurutku, kamu harus kasih batas waktu. Mau sampai kapan kamu harus diginiin sama Arya. Takutnya kamu di-ghosting!”
“Hah? Di-ghosting? Apaan tuh?” Sekar yang memang sangat tidak mengikuti fenomena sosial terkini, kecuali berita kriminal dan situasi politik. Cukup asing, dengan kata-kata yang sedang digandrungi saat ini.
“Itu istilah kekinian. Intinya, seseorang yang mengakhiri sebuah hubungan dengan mendadak. Terus, mutusin segala macam jalur komunikasi tanpa sebab dan penjelasan apapun. Ya hilang gitu aja kaya setan!”
“Jadi, aku di-ghosting?” tanya Sekar lesu.
“Ini kenapa aku anti bersosial, karena manusia itu seenaknya….” ucap Sekar meninggi. Seakan kecewa dengan hubungan interpersonal. Padahal, tanpa disadari Sekar pun melakukan yang sama. Berlaku seenaknya terhadap orang yang ingin membuka hati padanya.
“Belum tentu, Dan! Sabar. Kapan terakhir kali kamu hubungin dia?” Roni berusaha menenangkan.
“Barusan, sebelum kamu datang. Cuman centang satu. Sebelumnya centang biru doang, nih!” Sekar berbalik, mengambil ponselnya. Namun saat ingin menunjukkan isi percakapannya dengan Arya, yang membuatnya hari ini sangat tidak bersemangat. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Di ujung atas layar, tertera nama Arya sedang menghubungi Sekar. Membuatnya seketika terpaku.
Namun tidak dengan Roni, ia malah tersenyum.
Mengejek tingkah Sekar yang baru pertama kali mengalami kecanduan asmara.