Roni menyusuri lorong kantornya mencari-cari keberadaan Sekar. Rasa penasarannya menumpuk. Apalagi, rangakaian pertanyaannya lewat pesan singkat di aplikasi WhatsUp tak digubris oleh Sekar. Hanya terdapat dua centang biru dari semua pesan yang ia kirim, sejak pagi dini hari hingga pukul satu siang har ini.
Harusnya, ia dapat menemukan Sekar dikantornya karena kebetulan jadwalnya dan Sekar hari ini bersambungan. Di mana, ia mendapatkan jatah masuk kerja pagi, pukul delapan. Sedangkan Sekar, mendapatkan jadwal kerja siang, pukul satu Waktu Indonesia Barat. Sudah hampir sepuluh menit Roni mencoba mencari Sekar, dan selama sepuluh menit itu pula ponselnya selalu tertempel di telingan kanannya.
“Eh Boy! Kamu lihat Dani nggak?” tanya Roni saat melihat Pandu sedang membersihkan salah satu kaca ruangan meeting dari luar ruangan. Roni berharap akan menemukan Sekar di ruang meeting, karena memang Sekar sering menyelesaikan naskah di sana.
“Mas Dani atau Mbak Dani, Mas?” tanya Pandu balik.
“Mbak Dani!”
“Oh, Mbak Dani tadi kayaknya di ruang editing deh Mas!” jawab Pandu sempat menghentikan pekerjaannya untuk melayani pertanyaan Roni.
“OK deh, tengkyu yak!” jawabnya langsung membalikkan badannya, kemudian melesat tanpa memastikan terlebih dahulu apakah Sekar berada di dalam ruangan meeting tersebut atau tidak. Namun saat tiba di ruang editing, gadis yang ia cari tak dapat ditemukan. Roni sedikit geram dan gusar, ia sampai harus emosi. Karena Sekar seperti meghindarinya, ia mulai bertanya-tanya ada apa dengan Sekar.
Mengapa gadis itu seperti menghindarinya, namun prasangka tersebut langsung dihilangkan jauh-jauh dari benaknya. Ini bukan sekali atau dua kali Roni tak menggubris pesan atau telponnya, melainkan beribu kali. Dengan alasan, terkadang Sekar tak tahu kapan terakhir kalinya ia meletakkan ponselnya.
Bisa saja, gadis itu tak menyadai kalau saja, saat ini keberadaannya sangat jauh dari alat komunikasi nirkabelnya tersebut. Walaupun begitu, Sekar tak pernah cemas atas keberadaan ponselnya. Ia tahu betul, tak akan ada yang ingin mengambil benda pribadinya itu. Walau maling sekalipun. Karena, ponselnya sudah terlalu tua untuk di jual. Maling yang tidak berpengalaman sekalipun tahu, tak akan ada yang mau beli. Jangankan beli, dikasih pun tidak ada yang mau. Baginya, ia tak ada alasan khusus untuk mengganti ponselnya. Selama ponsel itu masih dapat dipakai dengan baik.
Setelah hampir lima belas menit, Roni menyapu seluruh gedung kantornya untuk menemukan Sekar. Akhirnya ia menyerah, pemuda yang menjadi satu-satunya teman akrab Sekar, memilih kembali ke ruangan kerjanya, untuk melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia membuka pintu ruangan kerjanya, ia langsung melangkah dengan cepat, sempat membuat Sekar yang sedang duduk sendiri menatap layar laptopnya melompat kaget karena Roni menutup pintu dengan keras.
“Woy Ron, tutup pintunya pelan-pelan dong…!” tegur Sekar sedikit ketus.
“Kamu dicariin dari tadi juga…!” jawab Roni tak mau disalahkan, ia langsung menyeret kursi kerjanya lalu duduk di samping Sekar.
“Dicariin siapa?” dijawab oleh Roni dengan menunjuk dirinya sendiri. Serta memasang mimik wajah yang geram
“Oh! Ngapaen nyariin aku?”
“Ngapaen nyariin kamu…? Dari semalam aku WU kamu, tapi nggak di bales-bales cuman di read doang!”
“Oh… itu….” jawab Sekar santai, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Roni. Tatapannya masih tertuju pada layar laptopnya, sambil membiarkan jari-jari mungilnya menari di atas keyboar laptopnya.
“Hmmm… kasih tahu nggak yaaa…?!” lanjutnya sambil terkekeh iseng.
“Sialan nih anak, ngerjain orang ya? Jadi gimana kalian udah resmi pacaran?” pertanyaan yang dari semalam Roni tunggu jawabannya. Pertanyaan yang membuatnya uring-uringan, karena Sekar sama sekali tak mengacuhkannya.
Bukan karena ia sangat ingin tahu dan penasaran, atas undangan makan malam Arya kepada Sekar. Bukan juga karena ia ingin mengetahui hubungan mereka. Namun, lebih ke perasaan peduli terhadap sahabat yang sejak awal ia kenal, tak pernah menaruh perhatian sama sekali terhadap hubungan asmara. Awalnya, Roni sempat curiga, bahwa Sekar tak menyukai laki-laki saat pemuda itu ditolak saat menyatakan perasaannya pada Sekar lima tahun lalu. Ia pun tidak sengaja menciptakan rumor tersebut, saat menggali informasi kepada teman satu tim Sekar kala itu. Sehingga, membuat kesalah pahaman antara mereka. Namun berkat kejadian itu, ia justru lebih dekat dengan Sekar. Serta, mampu mengubur perasaan sukanya dan menaikkan tingkat kepeduliaan layaknya sahabat.
Sesaat jari Sekar berhenti menari, ia memutuskan untuk menceritakan semua kejadian ya ia alami semalam. Termasuk Arya, yang berencana menjodohkannya dengan Panji. Juga menenai pemuda yang baru dikenalnya itu, yang berniat untuk membantunya mendapatkan Arya. Sekar kemudian memutar kursinya untuk berhadapan dengan Roni. Ditatapnya sahabatnya itu dengan lekat, lalu timbul keisengan lain sebelum ia menceritakannya.
“Kenapa kamu mau tahu?” tanya Sekar bermain peran. Ia sampai harus memasang wajah ketus.
“Pake nanya lagi!” Roni ikutan ketus.
“Ya, karena aku sahabatmu satu-satunya. Dan aku peduli sama kamu! Aku mau kamu percaya sama aku, termasuk hubungan asmaramu. Biar kedepannya saat kamu ada masalah sama Arya, aku bisa membantu kalian!” Sekar sangat tersentuh dengan ucapan tulus Roni. Namun, ia masih ingin menjahili sahabatnya itu.
“Yakin?”
“Iyalah, emangnya apa lagi?” Roni berusaha menahan sabar meladeni Sekar.
“Bukan karena kamu cemburu, ‘kan?” Sekar semakin memancing. Roni tiba-tiba mengubah ekspresinya. Raut wajah yang semula gemas, menjadi tersinggung dan sedikit marah.
“Maksud kamu?”
“Kamu masih ada perasaan ya ke aku Ron?” Sekar berusaha menahan tawa, ia sampai harus memasang ekspresi aneh. Akan tetapi, ekpresinya itu tidak dapat ditangkap dengan baik oleh Roni. Karena pria itu sudah mulai termakan rasa singgung yang langsung menyakiti hatinya.
“Kenapa kamu mau tahu urusanku? Apa kamu mau berusaha menggagalkan….”
“Gila ya kamu!” Roni tak kuasa menahan emosi. Sekar masih berusaha mahan tawa, ia sukses dengan rencana menjahili Roni.
“Kenapa? Wajar dong…”
“Sudah tiga tahun lebih kita bersahabat, kamu masih ragu tentang perasaanku ke kamu? Setelah kamu sudah sering gonta-ganti pacar, ada nggak dari sekian banyak hubunganmu itu yang pernah aku gagalkan? Ditambah, aku udah tiga tahun pacaran sama Dewi!”
“Ya… itu kan karena aku nggak suka mereka, dan mereka cocok masuk kriteria jadi pacarku! Lagian, kamu lupa? Dewi sering ngeluh karena kamu terlalu peduli sama aku?” ungkap Sekar membeberkan fakta.
Inilah alasan mengapa Roni tidak lagi sakit hati setelah mengetahui fakta bahwa alasannya menolak Sekar, bukan karena gadis itu tak hanya menyukainya. Melainkan, karena Roni merupakan teman kerja Sekar. Sampai kapan pun, Sekar tidak akan pernah ingin menjalin hubungan asmara dengan orang yang akan menjadi rekan kerjanya. Ia percaya, hubungan profesional akan menjadi bias ketika hubungan itu terlibat dengan persoalan pribadi.
“Tapi kali ini beda, aku suka sama Arya! Mungkin sudah masuk ke tahap sayang… Bisa saja kamu bakalan ngerusakin hubungan serius pertamaku karena cemburu, atau karena kamu mau balas dendam. ” tambah Sekar, berhasil memancing emosi Roni lebih dalam.
“Jadi, kamu pikir… Aku bakalan ngerusak hubunganmu dengan Arya. Karena aku cemburu atau belas dendam… Begitu?” tanya Roni mengulangi alasan yang dibuat-buat Sekar, dengan tatapan yang memancarkan kekecewaan. Sekar dapat menangkapnya, dan ia pun bersyukur. Roni ternyata tulus berteman dengannya. Namun, ia masih belum ingin mengakhiri kesenangan ini.
Sekar memilih mengangguk, menambah intesitas antara mereka berdua yang sudah menegang. Membuat Roni hanya dapat menatap Sekar dengan tatapan sedih. Ia kecewa akan kepicikan Sekar. Ia pikir, Sekar memahami perasaannya yang tulus untuk menjadikannya sahabat. Terlebih, gadis di hadapannya ini tidak memiliki siapa pun untuk bersandar. Selama tiga tahun, perasaan Roni pada Sekar tak lebih dari seorang saudara. Ia kini bahkan telah memiliki kekasih hati, dan berencana akan menikahinya tahun depan.
Sekar pun tahu itu.
Walau di awal masa pacaran mereka, Dewi gadis yang kini menjadi dambaan hati Roni, sering mengeluh karena Roni sangat peduli kepada Sekar. Namun seiring berjalannya waktu, Dewi tak lagi cemburu. Mereka bahkan sudah menjadi teman, walaupun tidak sedekat hubugannya dengan Roni. Beberapa kali, mereka pernah bermain bersama. Saat itu, Roni sangat memperlihatkan kepedulian dan kasih sayangnya penuh pada Dewi, membuat Sekar turut senang akan kemesraan mereka.
“Yaudah, kalau memang itu yang kamu pikirkan. Kayanya nggak ada alasan lagi buat aku berlama-lama di sini!” ucap Roni setelah tak dapat lagi menahan kekecewaan. Menurutnya, mungkin ini alasan mengapa orang-orang tidak betah dengannya. Sekar terlalu keras kepala dan hanya melihat dari sisinya saja. Roni pun bangkit, tak ingin lagi melihat sosok Sekar. Akan tetapi saat ingin beranjak, Sekar langsung menariknya. Membuatnya kembali duduk ke tempatnya semula.
“Sorri… becanda!” ucap Sekar berusaha menenangkan Roni. Ia bahkan tersenyum sembari berusaha menahan tawa.
“Becanda apaan? Becanda, karena sudah meragukan perasaanku ke kamu?” tanya Roni kesal.
“Bukan…”
“Terus becanda apaan? Becanda karena udah mencurigai aku bakalan ngerusak hubungamu sama Arya?” serang Roni tak memberikan kesempatan pada Sekar untuk bicara.
“Apanya yang bakalan dirusak, kalau hubungannya aja nggak ada!” ungkap Sekar serius.
“Maksudmu?” kini seluruh perasaan kesal terhadap Sekar tergantikan oleh perasaan membingungkan dari ucapan Sekar.
“Hmmmm….” saat ingin membeberkan kejadian semalam, tiba-tiba pesawat telepon yang terbaring tak jauh dari laptop Sekar berbunyi.
“Entar yak…” ucapnya pada Roni yang semakin bingung. Secara perlahan Sekar kembali memutar tubuhnya beserta tempat duduknya sesuda itu memencet salah satu tombol yang ada pada pesawat telepon tersebut, ia terlalu malas untuk mengangkat gagang pesawat telepon tersebut.
“Iya…” ucapnya kemudian sebagai jawaban untuk siapapun yang menghubunginya.
“Maaf Mbak Dani, ini Widya….” terdengar suara wanita dengan nada tinggi sedikit cempreng.
“Kenapa Wid”
“Ada kiriman makanan Mbak…”
“Oh! Ok deh, tengkyu ya Wid….”
“Iya Mbak, bisa diambil sekarang nggak Mbak, soalnya meja resepsionis rada penuh, ini timnya Mas Bowo lagi mo syuting di luar, jadi nitip beberapa barang di meja resepsionis, jadinya saya taro makanannya di lantai, mending buruan di ambil takut ketendang nanti Mbak…”
“Oh ok Wid, saya ke sana sekarang ya… terima kasih ya Wid…!” ucap Sekar sambil memencet kembali tombol yang ia pencet di awal, lalu menoleh pada Roni yang masih menatapnya bingung.
“Mau ke mana?”
“Ke bawah, ada kiriman makanan. Widya suruh aku ambil sekarang, soalnya dia taro di lantai karena mejanya penuh!”
“Dari Arya?” hanya dijawab gelengan kepala oleh Sekar. Ia sangsi, Arya masih akan mengirimkan makanan untuknya. Kalaupun itu memang dari Arya, ia tidak akan begitu senang. Mungkin Arya sengaja mengirimkan makanan sebagai tanda permintaan maafnya atas kejadian semalam. Mengingat itu membuat Sekar semakin kesal. Sampai detik ini, Arya tidak menghubunginya lagi, bahkan sekedar meminta maaf karena sudah meninggalkannya dengan Panji. Sekar sampai bersumpah, tidak akan memaafkan pemuda yang sudah mematahkan hatinya itu dengan makanan. Ia akan memaafkan Arya, apabila pemuda itu meminta maaf dengan tulus di hadapannya, serta menyesal karena telah menjodohkannya dengan Panji. Ia akan memaafkan Arya, kalau pemuda itu memohon padanya.
Untuk menjadikan Sekar kekasihnya.
“Kok gitu?” tanya Roni semakin bingung, setahunya baru Arya saja yang mengirimkan Sekar makanan secara konsisten. Sekar langsung beranjak dan diikuti oleh Roni.
“Mau ke mana?” tanya Sekar cemas, ia takut Roni pergi begitu saja. Tapa memberikannya waktu untuk menjelaskan keisengan yang baru saja ia lakukan ke Roni. Ia takut, hubungannya dengan Roni akan retak. Namun, jawaban yang diberikan Roni justru membuat Sekar semakin bersalah sekaligus bersyukur memiliki sahabat yang tulus seperti Roni. Ia bahkan berjanji, akan menghargai dan memperlakukan Roni lebih baik lagi.
“Mo ke bawah, bantuin kamu!” ucapnya datar, masih terpapar sedikit emosi dan kekecewaan. Walaupun begitu, ia tetap tidak tega membiarkan Sekar membawa makanan yang jumlahnya banyak. Karena selama ini, Arya selalu mengirimkan makanan tidak hanya untuk Sekar. Melainkan, untuk dirinya yang juga merupakan teman satu tim Sekar.
“Nggak usah, tunggu di sini oke. Jangan kemana-mana. Aku bakalan ceritain semuanya!” ucap Sekar lembut meninggalkan Roni dengan sejuta pertanyaan.
Roni seketika merinding, tidak pernah Sekar berbicara selembut itu padanya.
“Dan! Kamu kenapa sih?” tanya Roni khawatir, ia memilih ikut berjalan di belakang Sekar menuju pintu.
“Nanti aku ceritain. Kamu di sini aja udah…!” ucap Sekar ketus, kembali menjadi Sekar yang ia kenal. Membuat Roni berdiri mematung dengan perasaan bingung.