Yogi
5 September 2018
Kalian tahu tidak? Dari semalam aku senyam-senyum seperti orang gila. Oke, sedih juga karena pacarku sudah balik ke Australia. Tapi entah, rasa sedih itu tertutup oleh seorang gadis yang baru aku temui dua hari yang lalu bernama Sasya. But anyway, gadis itu akhirnya menerima ajakanku buat ke kantor bersama, i mean calon kantor, setelah sedikit memaksa. Itu adalah taktik kalau aku sudah mulai tertarik sama perempuan, antar-jemput dia kemana pun.
Tetapi, masih ada sedikit rasa bersalah di hatiku. Selama mengarungi jalan dengan mobil aku terpikir masa-masa sebelum Mala---pacarku--- pergi kuliah di Australia. Kami baik-baik saja saat itu, seperti sepasang kekasih muda pada umumnya. Hingga aku ingin mengubah hari itu, hari di mana Mala mendapat surel bahwa ia diterima di Sydney University untuk S2 dengan beasiswa LPDP. Mau dengar kisahku dengan Mala? Jadi, kita pacaran sudah tiga tahun lebih. Seangkatan dan sejurusan. Sebenarnya Mala tidak secantik gadis-gadis yang aku pacari atau sekadar aku buat baper sebelumnya. Namun ada yang membuatnya terlihat spesial di mataku.
"Yogi! Yogi!" teriak Mala sambil loncat-loncat. Aku menaruh telunjukku di bibirku menyuruhnya untuk tenang karena kami berada di sebuah mall untuk berjumpa. Setelah ia berhenti, ia menunjukkanku sebuah surel berisi penerimaan beasiswa LPDP.
"Kamu diterima? Congratulation! So proud of you!" Aku ingin memeluknya tapi banyak orang di mall ini. "Tapi ... kamu jadi jauh dong. Kalau aku kangen, gimana?" imbuhku sambil memonyongkan bibirku agar terlihat sok imut di matanya.
Mala menjitak kepalaku. Menurutnya, itu bukanlah hal yang perlu kami risaukan. Teknologi sudah mutakhir, dapat mendekatkan orang yang jauh begitupun sayangnya, menjauhkan orang yang dekat. Namun yang kami butuhkan sekarang hanyalah mendekatkan yang jauh. Jarak beribu kilometer bahkan beda benua dapat dilawan oleh video call ataupun telepon atapun chat. Dia berjanji akan masih menghubungiku, pun usahakan mampir ke Indonesia ketika sedang musim liburan.
"Tapi kamu jangan bandel ya di sini, jangan lirik-lirik cewek lain waktu aku nggak ada." Kali ini Mala yang bertingkah sok imut, pakai menggembungkan pipinya segala, aku jadi gemas.
Aku tertawa lalu mencubit hidungnya. "Yang ada kamu yang lirik-lirik bule di sana."
"Aw! Tapi aku 'kan nggak nakal kayak kamu." Mala mendengkus.
"Yang penting komunikasi tetep jalan ya, Sayang."
Kemudian kami membahas mengenai skripsiku yang tak kunjung usai. Maksudku, sudah selesai tingga menunggu antrian sidang. Hampir 50% yang mengerjakan skripsiku adalah Mala. Dasar aku, pemalas yang tidak suka belajar. Rasanya ingin cepat melamar kerja saja, tetapi ijazah belum di tangan sebelum aku wisuda. Berbeda dengan pacarku itu, dia rajin belajar dan cukup ambisius bidang akademis maupun non-akademis. Bahkan dia adalah ketua BEM jurusanku. Bisa dibilang, aku dan Mala perbandingannya 180 derajat, Hal itulah yang justru membuat kami saling melengkapi. Aku juga selalu mengajak Mala untuk refreshing dan bermain agar tidak terlalu dipenuhi hasrat ambisinya itu. Seperti yang dapat kalian lihat sekarang salah satu hasil ambisinya, dia menerima beasiswa LPDP.
"Tapi kamu paham 'kan skripsi kamu? Jangan bilang karena aku banyak bantu kamu, kamunya nggak ngerti," oceh Mala mengaduk kopinya. Sekarang kami sudah memilih cafe yang kami kunjungi di mall ini.
"Iya lah, Mal. Masa aku mau sidang nggak ngerti apa-apa. Apalagi kalau dosennya Pak Suryo. Beuh! Abis aku dilumat." Ucapanku itu membuat Mala tertawa puas.
Aku menatap wajah Mala. "Mal, kamu malu nggak punya pacar yang belum lulus? Sedangkan kamu udah mau S2 lagi, LPDP lagi."
Mala mengerjap. "Kok malu sih? Kamu tuh ya, harta karun berhargaku. Di luar sana banyak cewek centil yang minta digodain kamu, mau jadi pacar kamu, pengen tak hih."
Aku tersenyum mendengarnya. Tanpa kutebak-tebak, Mala juga mengajakku untuk S2 di Australia, menyusul dirinya setelah aku wisuda. Sebenarnya dengan kecerdasanku, aku pun bisa meraih beasiswa seperti Mala. Namun urung karena aku ingin bekerja, menghasilkan uang sendiri tanpa harus diberi oleh ayahku lagi. Pun, itu alasan yang kubuat-buat karena tidak mau harus belajar lagi. 12 tahun sekolah, sudah lewat lima tahun untukku kuliah S1, apa tidak mual blajar terus?
" Iya udah deh, terserah kamu. Atau kerja aja di Australia?"
Aku terkekeh sambil mengacak rambutnya. "Kamu ngebet banget."
"Abis tadi kamu yang nggak mau jauh dari aku. Aku kasih solusi deh."
"Iya, iya, kita liat nanti ya."
Menghela napas panjang. Aku harus terima kenyataan kalau aku belum bisa menyusulnya ke Australia detik ini juga sejak lima bulan yang lalu. Aku pun tiba di rumah minimalis gaya masa kini, kalau dilihat dari share location yang diberikan Sasya, benar rumah yang ini. Kucoba telpon dia, tidak diangkat, lalu kutelpon untuk kedua kalinya. Cukup lama akhirnya dia angkat, "Halo, Gi." Suara lembut yang memikat terdengar dari seberang sana.
"Halo, Sya, gue udah di depan rumah lo nih. Bener 'kan nomor 9?"
"Iya betul, sebentar ya gue masih ngalis nih duh. But overall i'm ready, nggak lama kok tinggal ngalis aja. Maaf ya."
Aku hanya bisa bilang oke lalu mematikan telpon. Sudah biasa aku menunggu perempuan dandan ketika diantar olehku. Tidak lama kemudian, masuk telpon lagi tapi bukan Sasya melainkan Angga. Kuangkat, "Sabar Ga."
"Iye santuy, gue juga masih siap-siap. Tumben lo mau nganterin gue, kesambet apaan lo? Udah sampe mana sekarang?" ujar Angga.
"Sawah Besar---" belum kulanjutkan obrolanku kaca mobil jok sampingku diketuk Sasya. "Udahan dulu, Ga." Aku mematikan telpon Angga, lalu membuka kunci pintu mobil dan Sasya pun masuk. Wangi parfum buah yang segar langsung menyeruak dalam mobil.
"Sorry ya, Gi, pasti lo lama nunggunya." Sasya memulai obrolan.
"Nggak apa-apa. Abis ini kita ke rumah Angga dulu, nggak jauh kok dari sini." Ujaranku diangguk olehnya.
Selama perjalanan aku lirik-lirik Sasya dari pucuk kepalanya hingga ujung sepatu heels-nya, damn she's so gorgeous. Rambut hitam legam bergelombang tergerai, make up yang fresh, blazer juga celana bahan dengan warna senada terlihat cantik dipakai dengan tubuh langsing dan tingginya itu. Tapi sayangnya buku sebesar saku yang dibacanya itu mengganggu pandanganku.
"Nggak pusing Sya baca di mobil?" tanyaku.
"Hmm?" gumamnya padaku, "gak kok." Lalu dia kembali menikmati bukunya yang kurasa buku soal-soal psikotes. Suasananya jadi canggung. Kita terdiam, sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Aku mendehem. "Ada gue loh, di samping lo."
"Sorry, gue grogi banget mau psikotes padahal kemarin malam udah pede karena sering belajar psikotes." Dia pun menutup bukunya. "Oke, gimana persiapan lo buat psikotes?"
"Nggak ada," jawabku sambil tertawa.
Dia menaikan satu alisnya seraya tersenyum. "Alright mr confident."
Tak lama kami pun tiba di rumah Angga, ternyata dia sudah menunggu di teras dan langsung lari membuka pintu jok depan mobil padahal di situ ada Sasya.
"Astaghfirullahalazim!" Mereka terkejut dan sama-sama beristighfar membuatku tertawa renyah.
"Lo di belakang, Angga!" teriakku.
"Woy lo napa gak bilang-bilang mau ada Sasya?" gerutu Angga sambil menonjok bahuku dari jok belakang.
"Lah Angga nggak tau kalo gue ikut?" Sasya memicingkan matanya padaku. Nah loh, dia ikut menghakimiku.
"Abis Angga cerewet kalo gue antar-jemput cewek, udah kaya bini gue aja."
"Suuzon mulu sama gue," cetus Angga.
Jujur iya, Angga paling emosi kalau aku antar-jemput perempuan selain pacarku sendiri. Kalau kata dia, gak ada taubat-taubatnya lo, Gi.
Sepanjang jalanan menuju Berindo, mereka berdua sibuk bahas psikotes. Sasya semringah sekali mengingat Angga alumni jurusan psikologi. Bahas Kraeplien, Wartegg, atau apalah itu namanya sampai ujung-ujungnya bahas MBTI. Padahal aku sengaja ajak Angga biar gak terlalu berduaan sama Sasya, takutnya dia menolak. Ternyata malah aku yang dicuekin.
"Hah, kalian belajar?" Aku mencoba memotong obrolan mereka.
"Lo mah nggak usah belajar gue yakin bakal lolos Gi," ujar Angga.
"Seriously?" timpal Sasya.
"Sya, gue emang keliatannya bego. Tapi gak ada yang tau isi otak gue yang encer ini," kataku sambil menunjuk kepalaku.
"Isi otak lo ya bokep." Omongan Angga itu membuatku membungkam mulutnya. Sasya tertawa puas.
"Gi! Yogi! fokus nyetir kita udah sampe bundaran HI." Kira-kira itu omongan yang dilontarkan Angga ketika mulutnya dibungkam. Kita sebentar lagi sampai.
---
Kita duduk bertiga berjajar di kursi yang telah disediakan, harap-harap cemas menanti sebuah jawaban. Jawaban apakah lolos psikotes atau nggak. Berbeda dari interview sebelumnya yang membutuhkan waktu satu hari lebih mengetahui hasilnya, kalau ini psikotes langsung diketahui hari ini juga lewat layar yang terpampang nyata di lobi. Disaring menjadi 30 orang yang lolos psikotes untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) lusa nanti.
Setengah jam kita menunggu akhirnya muncul list nama-nama yang lolos psikotes beserta nilainya. Sasya di urutan ketiga, aku di urutan keempat, coba kalau aku belajar aku pasti di urutan pertama. Sasya kegirangan dan memberikan high five kepadaku.
"Udah kan? Yuk cabut," ajakku.
"Angga belom, kita tungguin du---" Belum selesai Sasya melanjutkan kalimatnya Angga sudah melakukan selebrasi telah mengisi urutan kesembilan.
"Angga urutan ke sembilan, Sya. Tadi gue udah liat. Mau langsung balik ke rumah? Ikut kita ngafe yuk," tawarku.
"Oh iya, kayaknya nggak bisa deh. Gue mau ketemu tante gue di Thamrin City, mau beli batik buat ibu-ibu pengajian. Chika nggak bisa nemenin," tuturnya.
Angga menghampiri kami berdua. "Ibu-ibu banget ke Tamcit, budhe gue yang rumahnya di Citayam sering belanja disana naik KRL."
"Ya udah, kita anterin ke Tamcit ya. Ga, nanti kita melipir ngafe di GI aja."
---
"Thanks for today guys! Seneng banget gue hari ini, makasih tumpangannya ya, Gi," kata Sasya yang hendak turun dari mobil. Kali ini dia duduk di jok belakang, senyumnya merekah bahkan matanya pun terlihat seperti tersenyum. Ah manisnya, aku pun jadi ikut senang, kalau gak ada Angga di jok sampingku pasti aku sudah senyum-senyum salting. Setelah itu aku dan Angga melipir ke GI untuk minum kopi dan vaping, kita pilih di outdoor Djournal Coffee.
"Gue emosi sama lo, lo jadiin gue kambing congek." Angga membuka obrolan sembari menyalakan vapor.
Aku tertawa kecil. "Sorry banget. Lo paham 'kan Sasya nggak bakal mau kalo cuma berduaan sama gue di mobil. Lagian waktu otw Berindo dia lebih akrab sama lo." Aku pun ikut menyalakan vaporku.
"Itu namanya karma, Yogi." Kemudian Angga menghisap vapornya. "Kalo sampe Sasya bikin lo khilaf, gue nggak mau tau soal Mala," sambungnya.
Mala, benar, Mala lagi. Baru saja tadi pagi aku memikirkannya. Kali ini Angga bertanya-tanya pula. Wajar sebenarnya dia ingin tau soal pacarku. Selama ini dia hanya melihat kami lewat unggahan media sosial. Sepertinya dia ingin tau lebih dalam soal Mala.
Angga kembali membuka mulut. "Oh iya, lo pernah cerita kalo Mala itu ketua BEM Ilkom dan lo wakilnya. Keren juga si Mala menang suara dari lo. Biasanya kalo kandidat cewek dan cowok bersaing, yang menang cowok. Lah ini?" Angga tertawa renyah sesudah membuyarkan lamunanku.
"Cuma beda 2 suara. Lagian dia lebih kompeten dan lebih niat dari gue buat jadi ketua BEM. Gue sih Alhamdulillah dia yang menang," jawabku santai.
Nah, itu salah satu poin awal mula aku pacaran dengan Mala. Biar kuceritakan lagi kisahku dengan Mala. Dia ketua aku wakil ketua BEM jurusan, jadi kita sering berkoordinasi. Sifatnya yang ambisius, pekerja keras, disiplin mengubah sikapku yang masa bodoh dengan akademis karena merasa pintar selalu dapat nilai bagus tanpa belajar, dan suka main perempuan. Bahkan sebelum pacaran dia yang selalu mengingatkanku mengerjakan tugas akademis dan organisasi bahkan ibadah. Dia menjitak kepalaku kalau aku jalan dengan perempuan yang berbeda dari yang kemarin. Mendukungku saat aku down setelah berkelahi dengan ayah.
"Gue nggak terlalu kenal Mala, kita beda kampus. Tapi yang gue denger dari cerita lo, dia gokil banget bisa mengubah lo sebegitunya," cetus Angga masih dengan vapor-nya.
Aku agak dongkol dengan pernyataan Angga itu. Sebegitu bejatnya kah aku dulu? Memang saat Sma dan awal kuliah aku sangat bandel. Tetapi karena aku tampan daan cerdas. Kalian bisa katakan, aku dulu adalah bad boy yang digemari remaja wanita pembaca w*****d. Hingga saat ppertengahan kuliah aku berpacaran dengan Mala. Dia mencoba membuatku lebih jinak, tidak mengizinkanku ikut dalam geng motor lagi, tidak lalai akan tugas dan ibadah.
"Makanya itu, Ga. Gue pertahanin dia sampe tiga tahun. Dulu boro-boro pacaran lebih dari setahun. Coba lo perhatiin selama gue pacaran sama dia, gue gak pernah keliatan gandeng cewek lain kan?" ucapku panjang lebar lalu menghisap vapor-ku.
Angga tertawa keras. "Bacot, kalo disodorin Sasya juga paling lo khilaf. Gue yakin seribu persen karena Sasya tipe lo banget."
Aku tidak mengelak, Sasya memang benar-benar menggoda. Ditambah ada hal mengganjal soal hubunganku dengan Mala lima bulan belakangan.
"Angga ...." gumamku sesudah meneguk americano-ku.
"Ape? Muka lo kenapa tiba-tiba jadi lesu begitu?"
"Lo nggak salah soal gue bakal khilaf sama Sasya. Mala berubah drastis akhir-akhir ini, semenjak dia ke Australia."
"Udah lah, lo jangan khilaf lagi, memang kenapa si Mala?"
"Gue berasa gak dianggap pacar lagi sama dia ...."