Trauma

1618 Words
Sasya 4 September 2018. “Baby, Mau yaa? Please, kamu sayang aku kan?” Aku mendengus sambil memutar bola mataku. Di hadapanku terpaku seorang Janu, kekasihku, yang menahan tubuhku pada dinding sebuah gang kecil di sekitaran kosku, kepalaku berada di antara kedua tangannya yang bertumpu pada dinding itu. "Kamu maksa terus ya." "Ya abis? I want you, Sayang. Kita bisa lakuin itu di kosanku, kosanku campur nggak kayak kosan kamu yang khusus cewek. Aku jadi susah kan mau main-main di kamarmu." Aku mendorong tubuh Janu, "Nggak! Kita putus! Aku udah nggak kuat sama kamu yang terus minta sak sek sak seks!" Buru-buru dia memeluk tubuhku dari belakang, "Maafin aku, tolong aku nggak mau putus. Oke aku kasih waktu kita break sebentar. Tapi jangan putus. Kita udah lakuin semuanya, Sya, semuanya. Kecuali yang satu itu." Yang satu itu, maksudnya, dia mau merenggut keperawananku. Tidak mungkin aku yang berasal dari keluarga cukup agamis rela melepasnya untuk orang yang belum menjadi suami sahku. Biarpun kami sudah sama-sama melihat diri kami telanjang, menyentuh, hingga mencium setiap inci tubuh masing-masing setidaknya keperawananku masih harus terjaga. "Udah ah kamu balik sana ke kosan." Aku berusaha melepaskan tubuhku dari pelukan Janu yang juga sibuk menciumi bahuku. Akhirnya dia berpamitan dan aku masuk ke dalam kosanku. Satu bulan kemudian …. "Sasya! Sasya!" Aku menoleh karena panggilan Janu. Dia berlari ke arahku dengan nafas sedikit tersengal. "Charger laptop kamu ada di kosanku. Kamu nggak mau ngambil?" Benar juga, selama ini aku mencari-carinya dan akhirnya meminjam pada kamar kos sebelah yang punya dua charger, ternyata ada di kos Janu. "Udah nggak ada kelas lagi kan? Pulang ke kosan yuk." Aku dan Janu selalu pulang bersama karena kosku dengannya masih dalam satu komplek yang sama. Sepanjang perjalanan rasanya awkward karena sudah dua minggu kami break, tidak ada contact sama sekali sejak kejadian di gang kecil itu. Setibanya di kamar kos Janu--kosnya sangat bebas dan tidak ada penjaganya, jadi siapapun bebas masuk--.  "Nih." Janu menjulurkan charger laptopku. "Thanks, sekarang aku pulang ya. Cuma mau ambil charger." Aku mencoba membuka pintu kamar Janu namun sepertinya dikunci, dari dalam? Janu membalikan tubuhku lalu mencium bibirku ganas, "Nggak cuma ambil charger, Sayang. Kita lakuin yang satu itu sekarang juga, di sini." "Janc …" Belum selesai aku mengumpat kata kasar, dia langsung membungkam mulutku. "Teriak aja, sekarang masih jam empat sore. Nggak bakal ada yang denger. Orang sini ramenya malem." Janu menarik tubuhku lalu menghempaskannya ke atas tempat tidur, punggungku sakit. Beringas, dia melucuti bajuku, aku pun sulit untuk melawan hingga dia berakhir merenggut keperawananku. Aku menghempaskan tubuhku keluar dari air hangat di bathtub setelah Chika mengajak window shopping di Grand Indonesia dan Senayan City dalam sehari. Gila, Chika tidak cukup apa beli blazer kemarin di f(x)? Aku jadi teringat joke stand up comedy Raditya Dika, ceritanya gebetan dia ajak ketemuan di Grand Indonesia tapi cewek itu tidak jelas mau bertemu di sebelah mana, akhirnya Raditya Dika gempor berkeliling mall yang luasnya Nauzubillah. Gempornya jelas sepertiku tadi, ditambah ke Senayan City. Bye, kakiku. Kupejamkan mataku, kuluruskan kakiku yang pegal-pegal, menikmati air hangat dengan wangi aroma terapi. Terdiam lalu menangis, "sialan Janu." Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu, kenapa masih terus terulang di sela-sela kehidupanku. Janu itu mantanku saat kuliah, kita pacaran dua tahun. Satu tahun awal kami berpacaran biasa-biasa saja, namun entah tiba-tiba Janu ingin sesuatu yang lebih ekstrim dalam hubungan kami. Dia memintaku berpelukan, berciuman, aku masih menerima. Lambat laun semakin terbuka hingga dia berhasil merenggut keperawananku. Kemudian aku merendam kembali seluruh tubuhku hingga hanya bagian mataku saja yg berada di luar air. "Aku nggak hamil, aku dapet," lirihku pada Janu agar tidak terdengar oleh orang lain. "Bagus, tapi tenang aja, Sya. Setelah kita lulus aku bakal nikahin kamu." Aku menghela nafas panjang. Melihat Janu saja rasanya benci ingin mencabik-cabik wajahnya setelah dia berhasil merenggut harga diriku. Bagaimana aku menghabiskan sisa waktuku dengannya? Namun dia tetap harus tanggung jawab. "Don't leave me no matter what, Sayang." Janu merengkuh tubuhku erat namun aku hanya terdiam tidak ada keinginan sedikitpun untuk membalasnya. Saat ini kami baru mengawali semester enam, masih ada lebih dari satu tahun lagi jika kami lulus dalam waktu empat tahun. Aku tidak yakin Janu akan bertahan, atau mungkin aku? Semester enam saatnya kami pergi KKN. Aku dan Janu mendapat desa yang berbeda. Banyak yang memberi info kalau Janu selingkuh dengan perempuan jurusan lain. Awalnya aku tidak mau ambil pusing, tapi lama-lama penasaran, akhirnya aku menyuruh satu temanku yang satu desa dengan Janu menjadi intel, melihat gerak-geriknya disana. Dan benar temanku itu mengirim foto Janu sedang berciuman dengan perempuan lain. Sungguh, hal najis seperti itu benar-benar terjadi dalam hidupku. Rasanya seperti dicabik. Di hari kami bertemu sela-sela KKN aku menonjok hidungnya, benar, menonjok! Bukan menampar seperti adegan sinetron. Kami putus tidak ada kesempatan atau bantahan lagi. Dan sejak itu pula aku berusaha menjauhinya, menyibukkan diri sebagai mahasiswa tingkat akhir, untungnya pula aku memiliki teman-teman yang melindungiku dari Janu. Permasalahannya sekarang, akankah ada lelaki yang menerimaku yang sudah tidak perawan ini? Aku duduk terdiam di dalam bathtub sambil memeluk kedua kakiku. Kalian tahu? Perempuan yang mendapat perlakuan seksual dari kekasihnya memungkinkan terjadi dua hal dalam dirinya, trauma dengan laki-laki atau ketagihan dengan sentuhan laki-laki. Aku? Kalian bisa menebak. Sejak saat putus aku memang trauma berpacaran dengan laki-laki tapi beberapa bulan kemudian tubuhku malah ketagihan ingin melakukan aktivitas seksual, seperti ingin berpelukan, berciuman, ingin selalu diraba-raba tubuhnya oleh tangan laki-laki. Tapi tidak mungkin dengan Janu, sedangkan aku masih belum terbuka untuk laki-laki yang baru. Jadi aku terkadang meraba tubuhku sendiri biarpun rasanya berbeda dengan disentuh laki-laki. Juga m********i, tapi yang ini kuusahakan ditahan.Maka itu kusarankan kalian jangan sekali-kali melakukan aktivitas seksual sebelum menikah, nanti ketagihan sepertiku. Aku meraba-raba kembali tubuhku di dalam air dan terbayang wajah Yogi. Yogi? Kenapa Yogi? "Syaaa! Lo lama banget gue mau mandi! Bentar lagi gue kerja!" Teriakan Chika terdengar jelas di telingaku. Aku bangun dari bathtub memakai handuk kemudian keluar. "Lo kerja jam segini, Chi?" tanyaku melirik jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. "Iya, dua minggu ini gue kedapetan shift tiga, start jam satu sampe jam sembilan pagi. Makanya dari kemarin gue bisa antar lo interview dan window shopping siang-siang di Jakarta," ujarnya enteng lalu masuk ke kamar mandi. Aku menghembuskan nafas, sudah sering aku menasehatinya untuk stop dapat shift lewat tengah malam, selain begadang itu berbahaya untuk kesehatan, Chika ini perempuan, tidak takut apa 'diapa-apain' sama laki-laki keluar lewat tengah malam? Biarpun dia dijemput gebetannya kalau dapat shift tiga. Tetapi, benar-benar parah kantor travel agent yang mempekerjakan Chika, memberikan shift lewat tengah malam untuk perempuan juga tanpa terkecuali. Biasanya dimana-mana laki-laki yang selalu dapat shift tersebut. Diadakan tiga shift karena travel agent itu menerima orderan tiket pesawat dari berbagai negara yang tentunya ada kendala di zona waktu. Maka itu harus ada staf yang berjaga selama 24 jam nonstop. Chika tidak mau resign, tidak tahu lah, alasannya sudah nyaman dan gaji besar plus upah begadang, tapi aku rasa karena tidak mau lepas dari gebetannya itu, ya ampun. Setelah berpakaian, aku loncat ke tempat tidur. Cek smartphone sebelum tidur sudah kebiasaan untukku, jangan ditiru hehe. Aku masih bingung kenapa wajah Yogi yang muncul ketika aku sedang 'ketagihan'. Kebetulan dia upload w******p story. Aku buka, loh ini perempuan yang kemarin di Starbucks, dia mau pergi keluar negeri kah? Melihat lokasinya sedang di Bandara Soekarno-Hatta. Terlihat juga tangan Yogi memegang tangan perempuan itu seperti menahannya pergi. Di caption-nya tertulis 'Too fast to stay, safe flight' diikuti emoji love. Aku menahan tawa, menurutku itu cringe. Sudah dipastikan perempuan itu pacarnya. Jujur aku sedikit, eh enggak, secuil kecewa Yogi sudah punya pacar. Tapi untuk apa? Mau pacaran sama dia, Sya? Toh laki-laki se-hot dia mana mungkin jomblo. Story Yogi pun bergeser ke story milik Angga. Sebuah screenshot email bertuliskan lulus interview dan ditunggu kehadirannya tidak lupa dengan caption "Ready for the next steps baby!" Wait, ini kan? Sudah ada hasil pengumuman interview? Tiba-tiba muncul pop up w******p dari ... Yogi?   Yogi - Berindo Ada apa nih liat story gue? Wkwk gimana hasil interview lo?   Me: Yee emang kenapa sih -_-, Ini baru mau cek email Tadi gue mandinya kelamaan Yogi - Berindo Waduh mandinya ngapain aja tuh? Hehe Buruan sana cek udah dari sejam lalu   Eh kenapa dia tanya aku mandinya ngapain aja? Padahal aku memikirkan dia saat aku .... Aku mengabaikan chat Yogi dulu lalu cek email. Hasilnya persis seperti w******p story Angga. Aku lolos!   Me: Gi, gue lolos! Lo gmn?   Yogi - Berindo Wkwkwk alhamdulillah ya Sama dong   Me: Iya alhamdulillah Berarti kita beneran saingan dong? Kuotanya berapa sih? Yogi - Berindo Gk tau Sya Semoga kita bedua lolos Biar bisa jadi rekanan   Jadi rekan kerja satu divisi bersama Yogi? Asyik juga. Aku tersenyum lebar dan pipiku merona. "Heh bocah, lo kenapa girang banget dah?" tanya Chika yang baru keluar dari kamar mandi. Aku berteriak lalu memeluk Chika yang masih hanya berbalut handuk. "Gue lolos Chi gue lolos!" Kita berdua berteriak sambil loncat-loncatan. Sampai paman masuk kamar memarahi kami dan menyuruh Chika bersiap kerja dan aku bersiap tidur. Namun smartphone-ku bergetar lagi.   Yogi - Berindo Sya Me:  Ya? Yogi - Berindo Besok mau gue jemput? Lo di sawah besar kan?   Me: Iyaaa astaga Tapi rumah lo di Pondok Indah kan? Ga kejauhan?   Yogi - Berindo: Gk jauh sekalian jemput Angga di Mangga besar. Besok gue bawa mobil abang gue Gue maksa loh Sya wkwkwk   Me: Oke okee besok kutunggu ya Tau alamatnya kan? Kemarin udah ku kasih tau   Yogi - Berindo Tau, see ya tomorrow   Aku tidak paham lagi kenapa dia maksa sekali jemput aku dari kemarin. Pacarnya? Apa benar dia buaya ... Oke yang penting aku tidak berduaan sama dia. Ada Angga juga. Soal psikotes tenang saja, aku sudah lama belajar untuk hal itu dalam waktu yang lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD