Hello You

2486 Words
Sasya 3 September 2018. Sasya 3 September 2018. Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi dan gila, Jakarta sedang jam-jam macetnya. Setidaknya aku masih ada satu setengah jam sebelum mulai interview kerja. Aku sampai bela-bela datang ke Jakarta dari Banyuwangi untuk interview ini, yakin semua orang dari jauh pasti melakukan hal yang sama. Siapa yang menolak tawaran kerja di perusahaan media berita sekelas Berindo? Apalagi fresh graduate sepertiku, ini kesempatan langka. Aku menghela nafas, cahaya matahari menerpa wajahku, menembus kaca bus Transjakarta yang aku tumpangi. "Hahh panas," gumamku. Tapi kucoba mengalihkannya dengan memanjakan mata melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ciri khas ibukota ini. Ada untungnya juga aku berdiri menggantungkan tangan di pegangan Transjakarta. Aku dapat melihat pemandangan yang mungkin hanya sesekali dua kali pernah kulihat dalam hidupku. Kupikir, kapan terakhir ke Jakarta? Saat SMA kelas 10 mungkin, saat mengunjungi beberapa saudara yang merantau ke Jakarta. Selebihnya? Pasti mereka yang mudik ke Banyuwangi menemuiku. Ketika melintasi bundaran HI, aku tertegun melihat suasana modern ini. Mungkin kalau kalian melihat reaksiku saat ini juga, kalian pasti tertawa. "Hey!" Seorang wanita menepuk bahuku. "Kenapa, Chi?" Lamunanku buyar. "Gak usah mangap gitu juga kali," wanita itu tertawa kecil, "jangan kelihatan ndeso lo di sini," sambungnya lagi. Perkenalkan ini Chika, dia satu-satunya sepupu yang usianya sepantaranku, makanya kita sangat dekat. Rumahnya memang di Jakarta bersama paman dan tante, di daerah Sawah Besar. Aku izin menumpang di sana selama beberapa hari. Kalau lolos jadi karyawan tetap, aku akan sewa kost meskipun mereka ingin aku tinggal di rumah mereka saja, namun sayangnya aku orangnya tidak enakan. "Hush, siapa yang mangap!" "Itu lo tadi kayak gitu. Yowis nanti juga tiap hari kok liat bundaran HI," jawabnya santai kemudian diaminkan olehku. Halte berikutnya adalah halte Gelora Bung Karno. Halte Gelora Bung Karno. Kira-kira begitulah bunyi pemberitahuan bus ketika tiba di tiap halte. "Eh GBK nih, kita udah sampe." Chika menarik tanganku turun dari bus. Jadi ini GBK yang sering diadakan pertandingan sepak bola dan konser K-pop itu ya? *** Chika mengajak jalan kaki, awalnya kupikir jauh sekali jalan kaki. Namun pemandangan moden nan mewah kawasan SCBD ini membuatku lupa akan lelahnya berjalan kaki. Di sana terdapat kantor-kantor terkenal, mall dengan baju mewah ber-branded, juga cafe-cafe lucu yang tentu harganya tidak ramah untuk kantong orang biasa sepertiku. Berjalan di pedestrian yang nyaman untuk kaki. Perkiraan pun salah, ternyata tidak terlalu jauh hingga kami tiba di lobinya. "Sasyaaaa fighting!" Ia berteriak memberikan semangat sampai beberapa orang menoleh ke arah kamu, aku hanya menaruh jari telunjuk di bibirku yang tersenyum tulus. "Doain gue ya!" Aku melangkahkan kaki menuju lift setelah menukarkan KTP dengan kartu akses masuk. "Eh Sya, tunggu dulu! Rambutnya dirapikan dong cantik. Nih kemejanya juga kusut gara-gara tadi padet di bus," ujar Chika menghampiriku untuk merapikan tampilanku."Nah, now you are ready!" "Thanks, oh iya nanti lo nunggu di mana?" tanyaku mengingat interview cukup memakan waktu lama. "F(x) aja lah Sya, sekalian cari blazer buat gue kerja." Benar juga, Chika sudah bekerja magang di travel agent bahkan sebelum dia lulus kuliah. Aku pun mengangguk melambaikan tangan pada Chika. Di lorong yang penuh lift, aku kebingungan naik lift yang mana. Ah sudah lah, naik yang pintunya terbuka saja. Ada cukup banyak orang yang ingin menggunakan lift disini. Tujuanku adalah lantai 46, astaga tinggi sekali. Pintu lift di sebelah kananku terbuka, kucoba naik... Eh tunggu dulu, kenapa tidak ada lantai 46? Aku kebingungan sendiri di dalam lift, orang-orang cuma memperhatikanku hingga lift berbunyi ting pintu ditutup. "Tunggu dulu! Tunggu dulu!" Jariku lincah menekan tombol buka pintu lift tapi lift gak menurut. Tiba-tiba muncul sepatu pantofel pria menahan pintu lift yang tertutup hingga terbuka kembali. "Mau interview Berindo kan? Pake lift sebelah. Ini lift lantai ganjil." Sesosok pria menyembulkan kepalanya, mengajak gue keluar pindah ke lift sebelah. Sinting! Ganteng banget! batinku. Baik, tolong jaim Sasya jaim. Tidak mungkin kisah romantis yang cheesy bertemu cowok ganteng di w*****d terjadi padaku di hari pertama di Jakarta. Tidak mungkin! By the way, bagaimana dia tahu aku mau interview? Aku buru-buru keluar lift dan langsung antri bersama laki-laki tadi. Kini aku berdiri di sampingnya. “Lo pasti baru pertama kali ke sini ya?” tanyanya. Aku menoleh, "Iya, thanks banget ya tadi." "No prob." Kami berdua pun diam. Menunggu giliran masuk lift. "Oh iya kok lo bisa tau gue mau interview?" Aku mencoba memecah keheningan diantara kita. Laki-laki itu tersenyum lebar, "Tadi temen lo teriak fighting ke lo itu kedengaran kemana-mana, udah ketebak pasti lo mau interview." Aduh ada-ada saja si Chika. "Ya ampun, sebenernya dia sepupu gue. Udah nggak aneh sih dia kaya gitu. Maklumin aja ya," ucapanku dibalas tawa kecilnya. Aku coba tanya namanya tapi pintu lift sudah terbuka dan kami harus masuk. Tombol lantai 46 sudah menyala ditekan salah seorang dalam lift. Di dalam lift, kita paling pojok. Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke telingaku, "Yogi," bisiknya kemudian mengulurkan tangannya. "Sasya." Aku menjabat tangannya. "Nice to meet 'ya. Cewek yang namanya imut." Hah! Apa-apaan dia? batinku. Aku membuang muka agar ekspresi yang bercampur aduk ini tidak terlihat olehnya. *** Setibanya di lantai 46. Kami duduk di kursi yang sudah disediakan sesuai urutan kedatangan. Kursi-kursi itu posisinya berjajar ke samping menempel pada dinding. laki-laki yang bernama Yogi itu celingak-celinguk. "Kenapa? Cari orang?" tanyaku. "Iya gue kesini bareng temen gue. Tapi tadi gue telat. Kayaknya dia di barisan depan ... Oh itu dia." Yogi melambaikan tangannya ke seorang laki-laki di kursi barisan depan. Sebelumnya aku mau tanya, di Jakarta laki-laki pada glowing semua ya? Enggak Yogi enggak temannya bikin aku ber-wow ria. Tapi ada perbedaan mencolok dari mereka berdua biarpun sama-sama ganteng. Yogi gantengnya maskulin, di wajahnya ada alis tebal melengkung, mata coklat yang tajam, hidung mancung, rahang tegas dengan brewok tipis yang sepertinya baru cukuran pagi ini, rambutnya pakai pomade dengan gaya undercut. Dilihat dari fisik, dia atletis, bahu lebar dan aku tebak-tebak tingginya sekitar 177-178cm dariku yang tingginya 165cm. Kalau temannya itu, hanya beberapa menit pertama melihatnya, aku langsung bisa lihat wajah imut putih glowing seperti artis Kpop, bulu mata lentik memberikan kesan feminim, rambut panjang dengan poni belah tengah yang tertata, juga tubuh kurus, untuk tingginya aku tidak bisa menebak karena posisi dia duduk, tapi sepertinya lebih mungil dari Yogi. "Dia temen SMA gue namanya Angga. Nanti gue kenalin lo juga sama dia," ujar Yogi yang membuatku mengangguk. Yogi menyerongkan tubuhnya ke arahku. "Giliran kita masih lama. Kalo boleh tau lo dari mana? Dulu kuliah dimana?" Aku bilang aku lulusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya angkatan 2014. Sedangkan dia lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia angkatan 2013, seharusnya dia sudah lulus dari tahun 2017 namun molor satu tahun karena dia sibuk berorganisasi. Kami sama-sama melamar jadi jurnalis. "Biar gue tebak, lo pasti cumlaude?" cetus Yogi. "Mmm yes ...." Dia menepuk kedua tangannya, "Right, just guessing. Let me guess again, pasti di Jakarta tinggal sama sepupu lo yang teriak di lobi tadi." "Right! Itu sih gampang ketebak. Then let me guess now." Sekarang ku coba tebak asalnya dari Depok, mengingat kampusnya di UI. Namun ternyata dia asli Jakarta, rumahnya di Pondok Indah bersama ortu dan adiknya. Abangnya sedang lanjut kuliah S2 di Perancis. Mendengar itu mataku sedikit terbelalak, Pondok Indah bukannya perumahan yang sangat mewah di Jakarta? Yang ada rumahnya Ahmad Dhani? Lalu abangnya tadi kuliah di Perancis? Sudah ganteng pintar tajir pula, isn't he too perfect? "Waw, kalo adik lo cewek atau cowok? Kuliah di UI juga?" tanyaku. "Yes, cewek, sekarang semester 3 jurusan Sastra juga kayak lo. Tapi dia Korea, pusing gue liat dia oppa-oppa melulu. Kadang gue pulang-pergi kampus bareng dia. Tapi karena semester kemarin dia ngekost, jadi nggak pernah lagi," jawabnya meringis. Aku tertawa, "Ya wajar lah anak cewek, oppa-oppa mulu." "Tell me about yours." Dia tersenyum sambil memicingkan matanya. "Well ..." Belum sempat aku menjawab. Laki-laki yang kutahu bernama Angga itu melambaikan tangan padaku dan menunjuk Yogi yang membelakanginya. "Eh temen lo tuh," bisikku menepuk bahu Yogi. Saat Yogi menoleh, Angga mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa, mulutnya terlihat bergumam "Doain gue ya doain gue". Aku dan Yogi tertawa kecil melihat ekspresinya, gemas. "Angga nggak ngelamar jadi jurnalis kaya kita. Dia ambil HR. Dia anak psikologi Universitas Negeri Jakarta, seangkatan gue," ujar Yogi. Aku hanya ber-oh-ria. Yogi kembali ke topik sehingga aku menceritakan keluargaku di Banyuwangi, hanya keluarga biasa, asli Jawa Timuran. Punya kakak perempuan yang sudah menikah, baru-baru ini tinggal di rumah barunya. Dan adik kembar laki-laki yang baru saja lulus SMA. "... kita sama-sama anak tengah. Gue yakin lo bahagia kakak lo nikah gak tinggal bareng lo lagi, terus sekarang lu ke Jakarta lepas dari gangguan adik-adik lo. Ya kan?" Tebakan Yogi tepat sasaran. "Ya ampun iya banget! Kakak cewek tuh cerewet banget kayak kuntilanak, tambah adek cowok bandel-bandel, aduh pusing! Untung abis dari kost di Malang gue langsung minggat lagi ke Jakarta." Aku kegirangan karena Yogi satu frekuensi sekali denganku. Semoga selanjutnya kita akan terus berteman. Obrolan kita gak kerasa sampai-sampai kita dipanggil masuk ruangan. Sumpah, pagi ini jauh dari ekspektasi yang akan tegang dan menghafal skenario interview. Semua berubah karena sosok Yogi. *** "Udah kelar? Gimana?" Yogi bertanya selesainya aku dari ruang interview. "Not bad," responku. Kemudian Yogi menanyai apakah aku akan langsung pergi atau tetap di sini, menawariku untuk pergi bersamanya karena dia bawa motor. Biarpun sebenarnya dia juga harus menemui seseorang tapi ia bersedia mengantarku. Angga yang sedari tadi berdiri di belakang Yogi langsung sewot, "Woy Gi! Lo nggak mau kenalin gue?" Yogi baru ingat harus mengenalkanku pada Angga. Kami berjabat tangan."Salam kenal Sasya, hati-hati sama Yogi. Dia buaya." lalu Angga ketawa puas, aku pun ikut nyengir sambil melirik Yogi. Tanpa ragu, Yogi menoyor kepala Angga. "Oh iya psikotesnya lusa kan ya?" Aku melerai pertikaian mereka. Asal kalian tau, interview hari hanya interview pertama masih ada beberapa step lagi untuk bisa jadi karyawan tetap disini. "Iya Sya, semoga kita bertiga lolos interview tadi." Omongan Yogi tersebut diaminkan oleh kami. Berjalan menuju lift, Yogi kembali bertanya apakah aku mau diantar pulang olehnya. "Pepet teruuuss! Inget Yogi ingeett." Angga kembali berulah. Yogi hanya mendengus. Sambil melihat jam tanganku. Aku mengatakan bahwa sepupuku menungguku di f(x) cukup lama, sekitar dua jam, dan aku harus segera menemuinya. "Oh pas banget gue juga mau ketemu orang di sana," cerocos Yogi. "Nggak usah Gi, gue naik ojek online aja. Lagian dekat. Nih gue udah booking order." Entah menurutku sebagai perempuan, menerima ajakan laki-laki yang baru kenal beberapa jam yang lalu itu nggak banget. "Yogi, jangan maksa kamu kisanak." Kata-kata Angga selalu sukses membuatku menahan tawa. Yogi menghela napas. "Oke, tapi boleh minta nomor w******p lo kan? Bukan apa-apa sih, buat update recruitment ini aja." "Masih aja ya Yo---" Omongan Angga terpotong olehku. "Oh boleh kok, nih." Akhirnya kami bertiga bertukar nomor w******p. Setelah itu gue pamitan ke mereka berdua karena ojek online-ku sudah menunggu di pos satpam gedung. *** Sesampainya di f(x) aku langsung menemui Chika di salah satu butik wanita plus size. Iya berat badan Chika seingatku di atas 80 kg. Tapi dia cantik, jago make up, dan memadu-padankan fashion, berat badan bukan halangan dia untuk tampil stunning. Ah, itu dia. "Chi! Sorry lama, tadi banyak yang interview juga," kataku mendekatinya. Dia memonyongkan bibirnya padaku. Bukan karena bete menungguku, tapi karena .... "Syaaaa ... Pilihin buat gue. Bagusan ini atau ini? Nanti lihat juga deh yang di butik sebelah. Itu juga lucu banget blazernya. Gue pusing sejam doang mikir mau beli yang mana!" Gubrak, rasanya aku ingin ambruk mendengar ucapannya. Dasar perempuan, susah sekali menentukan pilihan, aku juga kadang seperti itu sih kalau belanja. Aku menghela nafas, "Udah dicobain semua belom?" Chika mengangguk. Aku pun ikut bingung, kalau sudah seperti ini, butuh seorang laki-laki buat menentukan pilihan. Mataku langsung tertuju ke luar butik. Seorang laki-laki yang baru kukenal tadi pagi sedang menunggu telpon darinya diangkat. "Yogi?" gumamku. Ternyata dia tidak berbohong soal pergi ke f(x) setelah interview. "Siapa tuh, lo kenal? Ganteng banget!" Chika ternyata dari tadi melihat gerak-gerikku. "Dia juga interview bareng gue tadi di Berindo," jawabku singkat, "tunggu disini ya, Chi." Aku coba menghampiri Yogi. Aku menepuk bahu Yogi saat dia selesai menelpon. Dia tidak terlalu terkejut, dia tau aku ke f(x) menemui sepupuku. Setelah chit-chat sebentar kemudian aku mengajaknya ke butik tadi untuk mengenalkannya pada Chika, terlihat mata Chika berbinar-binar dan senyum merekah melihat ketampanan Yogi. Memang, perempuan mana yang tidak terpesona dengan Yogi di pandangan pertamanya? Tanpa basa-basi, kami memintanya untuk memilih blazer mana yang cocok untuk Chika. "This one, yang warna gelap saja dan lipatan di pinggang bakal membuat lo terlihat lebih langsing pake blazernya," ujar Yogi percaya diri. Chika angguk-angguk saja dikasih saran oleh laki-laki ganteng. Langsung lari ke kasir untuk beli pilihannya Yogi. Dasar. "Sorry, orang yang gue tunggu udah sampai disini, yang penting kalian udah nggak bingung lagi kan? Duluan ya." Yogi pamitan pada kami. "Terima kasih Yogi." Berbarengan sekali aku bicara itu dengan Chika. Yogi melambaikan tangan pada kami lalu berlalu begitu saja entah ke mana dia pergi. "Mau pulang sekarang?" tanya Chika setelah Yogi menghilang dari peredaran. Aku mengajak Chika berkeliling mall ini terlebih dahulu. Pokoknya selama di Jakarta, dia benar-benar harus jadi tour guide-ku. Sekalian refreshing sebentar dari interview tadi. Ah tidak, interview tidak menguras tenaga dan pikiranku. Malah aku bersenang-senang karena Yogi, dan Angga tentu saja. Di interview-interview kerja sebelumnya, aku memang biasa berjumpa dengan orang-orang baru yang cukup ramah. Namun itu hanya sebatas saat interview saja, ke sananya, kami tidak pernah bertemu lagi. Entah untuk Yogi dan Angga ini, aku tidak ingin berpisah dengan mereka. Semoga kami bisa diterima di Berindo dan terus bersama selamanya. Destinasi terakhir yang dipilih Chika untuk menutup hari adalah Starbucks. Saat memesan kopi aku melihat sesosok dia lagi, duduk di kursi yang saling berhadapan dengan seorang wanita. Yogi. Astaga hari ini sudah ketiga kalinya aku bertemu dia. By the way, itu siapa? Pacarnya? "Sya, woy! Bengong melulu, liatin siapa sih? Mau mau pesen apa?" Chika mulai sewot. "Samain aja sama lo deh, Chi." "Ya elah ya udah." Aku kembali fokus ke sosok Yogi. Hingga beberapa detik kemudian dia tersadar diperhatikan olehku. Kali ini dia cukup terkejut seperti orang yang ... Ke-gep? Kemudian dia tersenyum dan memberi high five padaku, diikuti lirikan dari wanita di hadapannya itu. "Oooh jadi dari tadi lo liatin Yogi? Bilang-bilang dong! Gue juga mau cuci mata." Raut wajah Chika kemudian berubah, "Eh dia sama siapa tuh? Ceweknya b aja masa. Cantikan lo lah. Atau kakaknya ya? Keliatan lebih tua deh." Julidnya Chika keluar. "Shut! Yogi nggak punya kakak cewek, kakaknya cowok lagi di Perancis." Chika terbelalak, "Lo tau sampe segitunya? Selamat anda akan segera move on dari Janu, ndoro Sasya," canda Chika sambil tertawa puas. Aku menghela napas lalu mencubit pipi Chika untuk tidak meluncurkan nama itu lagi di hadapanku. "Ciee Yogi lirik-lirik lu terus tuh cieee," goda Chika lagi mengalihkan pembicaraan. Aku menempelkan telunjuk pada bibirku menyuruh Chika diam sambil sesekali melirik pada Yogi. Memang, laki-laki itu tak hanya sekali dua kali curi-curi pandang ke arah sini. Namun dia seperti mencoba fokus dengan wanita di depannya. Sudahlah, hari ini capek urus kegilaannya Chika sudah habis interview pula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD