Juara Kedua - Fiersa Besari
Berapa banyak lagi cemburu?
Berapa banyak bual?
Terhanyut menepis realita.
Kau bukanlah milikku.
Aku pilihan, kaulah jawaban.
Jelaskan arti adil.
Tolong menetap utuh karena.
Aku letih berbagi.
Mampukah kekasihmu setangguh aku?
Menunggu tapi tak ditunggu.
Bertahan tapi tak ditahan
(Reff) Sampai kapan kau mau begini.
Menjalani kisah rahasia?
Tak sadarkah di balik senyuman.
Sungguh 'ku terluka?
Jika kau tidak bisa pastikan.
Sudahlah, aku mengalah saja
Kau adalah pemenang walaupun
Aku juara kedua
Pada sebuah titik bifurkasi.
Sudikah kau mengerti?
Aku ingin cuma ada kita.
Tanpa dustai dia.
Mampukah kekasihmu setangguh aku?
Menunggu tapi tak ditunggu.
Bertahan tapi tak ditahan.
(back to reff)
'Ku memberimu yang terbaik.
Mengapa dia mendapatkan.
Apa yang terbaik darimu?
(back to Reff)
Juara Kedua
***
“Sasya ... “
Ucapan lembut seorang laki-laki menembus lubang telinga seorang wanita bernama Sasya.
Sasya menoleh, menatap laki-laki itu, pandangan mata mereka saling berjumpa.
Dua sejoli yang saling mencinta dalam diam dan hanya bisa sebatas rekan kerja, duduk di kursi berbahan kayu di rooftop gedung pencakar langit tempat mereka bekerja. Dipertemukan bahkan sejak awal mereka interview rekrutmen, dalam kondisi yang menyulitkan mereka untuk bersatu.
“Kenapa, Yogi?” Suara Sasya memecah fokus laki-laki bernama Yogi itu yang sedari tadi menikmati keindahan seseorang yang dia tatap.
Kemudian Yogi angkat bicara, “Apa yang bakal lo lakuin kalo pacar lo udah nggak peduli lagi sama lo? Udah ngerasa dirinya prestisius, sombong, nggak butuh lo lagi? Beda sama waktu awal-awal pacaran, lo masih mau pertahanin dia?”
Sasya berpikir, “Ya gue minta penjelasan dulu ke dia, kenapa bisa begitu. Mungkin ada alasan yang jelas?”
“Terus kalo disaat itu juga lo tertarik sama orang lain gimana? Orang baru yang selalu isi ruang kepala dan hati lo? Tetep berusaha minta penjelasan buat pertahanin hubungan kalian?”
“Apaan sih lo nyuruh gue mikir gini?” Sasya tertawa, “Kalo udah ngerasa nggak nyaman, ya tinggalin. Tapi pake cara baik-baik, jangan lo selingkuh hati.”
Yogi meringis lalu bergumam, “Selingkuh hati ya.”
Sasya mendekatkan wajahnya pada Yogi, “Masih mending kan daripada lo jadi cewek terus diperlakuin kasar secara seksual sama mantan pacar lo sampe bikin lo trauma.” Air muka Sasya berubah lesu, “Itu nggak bisa pake cara baik-baik, maafin pun susah.”
Sedikit ragu, Yogi membelai rambut Sasya untuk mencoba menenangkannya, dan membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. Karena rooftop ini jarang dikunjungi orang, mereka berdua sedikit bebas.
“Gue harap nanti bakal ada cowok yang bisa atasin trauma gue, satu hobi soal buku sama gue, dan ngelamar gue tanpa babibu. Karena gue nggak mau pacaran cuma buat main-main sampe disakitin lagi.”
Mendengar kriteria Sasya, Yogi mengernyitkan dahi, dia tidak suka buku dan dia tidak cepat ingin menikah. “Tapi Sya, cowok yang langsung ngelamar nggak ngejamin dia baik atau nggak, tulus atau nggak, kalo ternyata dia jahat?”
Sasya meringis dan bangun dari bahu Yogi, “Nggak tau lah. Gue nggak jadi mikir ke sana-sana dulu. Turun yuk, jam dua kita mesti ke Kemendikbud buat interview Bapak Menteri di sana nanti sore. Lo juga kan?”
Yogi tersenyum lebar yang kemudian berjalan di samping Sasya untuk memulai pekerjaan mereka sebagai seorang jurnalis. Mereka berharap selalu bisa bersama berjalan berdampingan seperti ini.