Chapter 20. Datang Bulan.

1301 Words

“Uum… harum banget,” gumam Airin lirih, saat sop daging yang Albima masak telah matang. Wangi bumbu rempah yang dipadukan dengan potongan daging dan sayuran, menyeruwak masuk ke dalam indra penciumannya. Krukk! Bunyi yang terdengar dari perut Airin, membuat Albima menatap ke arahnya dengan senyuman yang teramat manis di mata Airin. Wajah Airin yang semula biasa saja, jadi bersemu merah lagi dan lagi. Ia jadi selalu salah tingkah bila ditatap demikian. “Udah lapar banget, cacingnya. Kasihan!” godanya, sambil memotong tempe menjadi beberapa bagian, lalu menggorengnya. “Cacing? Yang bener ajah, perut aku disamain dengan cacing. Huh… Dosen nggak ada akhlak!” grutunya mengertakkan gigi. “Lah, emang saya salah, ya? Bukankah di dalam perut kamu memang ada cacing? Kalau nggak ada cacing, siap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD