Chapter 8. Desakkan Bayu.

1203 Words
“Sayang…” panggil Bayu, menatap penuh harapan dengan wajah memelas sedih. Ia meraih kedua tangan Airin yang terasa dingin dalam genggamannya. Airin sedikit tersentak, kemudian menggigit bibirnya risau. “Heem…” gumamnya. “Kamu mau maafin aku ‘kan, Sayang? Aku masih sangat mencintaimu. Kamu juga masih mencintaiku kan, Sayang?” tanyanya dengan nada menekan. Airin tidak menjawab, hanya menatap wajah lelaki yang selama ini telah mengisi ruang hatinya yang kosong menjadi penuh warna. Airin tidak bisa memungkiri, jika hati dan pikirannya masih dipenuhi dengan sosok dan nama Bayu hingga detik ini. Perasaan cinta yang dalam, tidak mudah dihilangkan begitu saja. Namun, kesalahan Bayu teramat sangat fatal. “Kita akan tetap berpacaran seperti dulu kan? Kita bisa mulai semuanya dari awal kan, Sayang? Aku tidak mau hubungan kita sampai berakhir. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Airin Mahardika Putri.” Bayu sedikit memaksa. Airin tetap bungkam, hanya menggelengkan kepalanya pelan, dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. “Airin… tolong katakan sesuatu! Jangan diam saja, Sayang!” Bayu tidak mau menyerah. Meskipun sangat jelas, jika kepala Airin menggeleng itu merupakan satu tanda penolakkan. Airin kembali menggeleng. Ia tidak bisa menerima Bayu kembali untuk menjadi kekasihnya seperti dulu lagi. Akan tetapi, lidahnya begitu kelu hanya untuk sebuah kata ucapan tidak saja. Bayu semakin mempererat genggamannya, membuat Airin sedikit mendesis lirih. “Aawh… lepasin tanganku, Bayu! Ini terasa sakit,” pinta Airin, berusaha mengurai gengaman tangan Bayu. Namun, Bayu tidak berniat sedikit pun untuk melepaskannya. Ia pun bangkit dari posisi duduk bersimpuhnya, lalu berdiri mengikis jarak dengan wajah Airin. “Kamu mau apa, Bayu? Kamu jangan macem-macem!” Airin nampak panik, melihat wajah Bayu yang berada beberapa inci saja dengan wajahnya. Sapuan hangat dengan deru napas yang menggebu-gebu, keduanya saling mengunci rapat pandangan. Bayu menggeleng pelan, seraya tersenyum tipis. Ia merasa Airin sudah kembali membuka hatinya, karena sudah memanggilnya dengan kata kamu, bukan kata loe lagi. Airin mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan sikap mantan kekasihnya tersebut. “Terima kasih, Airin. Kamu sudah menerimaku kembali,” ucap Bayu sangat percaya diri. “Apa maksudmu, Bayu? Siapa yang menerimamu kembali, huh? Jangan kePDan kamu, Bayu!” Airin menolak kata-kata Bayu. Ia pun tidak mengerti, mengapa lelaki di hadapannya itu sangat percaya diri sekali. Bayu tidak menjawab pertanyaan Airin. Cukup hanya ia lah yang tahu. Bayu yakin, masih ada cinta yang tersimpan indah di hati Airin untuknya. Hanya ada satu cara untuk mengikat Airin, agar ia tetap berada di sampingnya. Satu keinginannya yang selalu ditolak Airin selama ini, akan ia jadikan sebuah senjata untuk menyerang pertahanan Airin. “Aku akan menemui Ibumu, Airin. Aku akan katakan kepada beliau, jika kita sudah menjalin hubungan selama satu tahun di belakangnya selama ini. Aku pun akan mengutarakan niatku kepada beliau, untuk menikahimu setelah aku wisuda nanti.” Deg! Jantung Airin tersentak dengan sangat keras, kedua bola matanya pun terbelalak kaget. Glek! Airin pun sampai tercekat, mendadak tubuhnya menegang, saking terkejutnya dengan kata-kata Bayu yang seperti sebuah ancaman besar untuknya. Ya, Airin sangat sadar dengan apa yang dikatakan Bayu. Dirinya paling takut untuk mengenalkan lelaki yang dekat dengannya selama ini kepada ibunya. Karena, ia selalu teringat pesan sang ibu, yang tidak mungkin ia lupakan. “Tugas kamu itu belajar. Jangan sok-sokan mencari uang! Ibu masih sanggup untuk membiayai kamu kuliah dan kebutuhanmu sehari-hari. Kamu hanya cukup kuliah yang bener, jadi anak yang nurut sama perkataan Ibu, dan tidak terjebak dengan pergaulan bebas di luar sana!” “Bagaimana, Sayang? Kamu sudah siap, bukan?” Pertanyaan Bayu, membuat Airin seketika mengerjap. Bayu pun mengecup bibir Airin singkat, membuat Airin ingin menampar wajah Bayu. Namun, tangannya masih berada dalam genggaman tangan Bayu, membuat Airin pun hanya bisa terbelalak marah. “Rasa bibirmu masih begitu manis, Airin. Aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu.” Dengan tidak tahu malunya, Bayu memainkan alisnya ketika menatap Airin dengan sangat intim. “Brengsekk loe, Bayu! Cuih!” maki Airin, terpaksa meludahi wajah Bayu karena sudah berani melecehkan dirinya. Meskipun itu ciuman yang sering diberikan oleh Bayu, ketika masih berpacaran dulu. Namun berbeda untuk sekarang ini. Rasanya menjijikkan. “Shitte!” umpat Bayu terpaksa melepaskan genggaman tangannya, untuk mengusap wajahnya yang terkena air ludah Airin. Hugg! Jleb! Airin mengangkat satu kaki kanannya, untuk menendang tepat area kemaluann Bayu, agar ia bisa kabur dari tempat itu. “Ahh…” Bayu meringis kesakitan, refleks memegangi miliknya yang terkena tendangan kaki Airin. Sekuat tenaga, Airin mendorong tubuh Bayu hingga tersungkur ke lantai. Kemudian, Airin pun lari sekencang-kencangnya. “Shitte, kabur lagi!” Bayu mengumpat, sambil berusaha bangkit dari atas lantai. “AIRIN… JANGAN LARI KAMU!” pekik Bayu sambil menahan sakit tepat di area senjatanya, lalu mengejar Airin dengan langkah tertatih untuk menyusulnya. *** Brukk! Airin menabrak tubuh seseorang, yang ia tidak ketahui siapa yang sedang menarik dan membekap mulutnya. Karena, posisi Airin sedang membelakangi orang tersebut. “Diam! Jangan berteriak, Airin! Biarkan pacar kamu itu pergi dulu,” bisik seseorang dari belakang tubuhnya yang sepertinya Airin kenali suaranya. Bisikan seorang lelaki yang sejak tiga hari ini mengganggu ketenangan hidupnya. Airin pun hanya bisa membisu dan membeku, dalam beberapa saat. Lelaki itu pun menyeret tubuh Airin untuk bersembunyi di belakang tumpukkan barang-barang dan alat-alat untuk praktek, yang sering digunakan oleh mahasiswa fakultas kedokteran. “AIRIN…. AIRIN…!” Bayu masih memanggil Airin dengan berteriak keras, seraya netranya menyapu seluruh ruangan yang ia lewati. “Kemana perginya, Airin? Kenapa sangat cepat sekali larinya?” tanya Bayu heran sendiri. “Hey… Bayu! Mana temanku, Airin?” tanya Rico, sesaat sampai di ruangan praktek laboratorium. Ya, Rico memutuskan untuk menghampiri Airin dan Bayu, setelah hampir setengah jam tak kunjung kembali. Rico pun mencari ke seluruh penjuru kampus, namun tidak juga menemukan mereka. Dan, tepat di pencariannya ke ruangan praktek laboratorium, Rico pun bertemu dengan Bayu. “Gue nggak tau. Airin kabur, sehabis nendang senjata gue. Ini juga gue lagi nyariin dia. Tapi, larinya cepet banget. Emang loe nggak berpapasan sama dia, huh?” Mendengar penuturan Bayu, Rico tertawa terpingkal-pingkal. “Syukurin loe, Bayu! Makanya jangan selingkuh, kalo nggak mau kehilangan. Emang enak, senjata loe ditendang.” “Ck! Minggir loe.” Bayu mendorong bahu Rico dengan kesal, karena ditertawakan. Ia pun segera pergi dari ruangan praktek laboratorium itu. Rico pun mengekori langkah kaki Bayu yang terlihat sedikit mengangkang, layaknya anak kecil yang baru selesai dikhitan. “Kasian…. Kasian… Kasian!” ledek Rico, melewati langkah kaki Bayu, dengan tersenyum menyeringai. “Shitte! Bocah bedebahh itu, berani-beraninya ngeledekin gue. Awas, kalo ketemu lagi, abis loe!” Bayu mengepalkan tangan kanannya ke arah Rico yang semakin menjauh. *** Perlahan, Albima melepaskan bekapan tangannya yang menutupi sebagian wajah Airin, saking besar dan lebarnya tangan miliknya. Haah… Airin pun akhirnya bisa bernapas lega dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia pun segera menjaga jarak dengan tubuh Albima yang beberapa saat lalu menempel begitu dekat. Airin memutar tubuhnya dengan cepat, lalu menatap sinis wajah Albima yang nampak datar di hadapannya. Tidak ada kata terima kasih dari bibir Airin, justru sebaliknya Airin memarahinya. “Kenapa Bapak ada di sini? Terus, ngapain juga bantuin saya?” Albima hanya mengedikkan bahunya, lalu melangkah pergi meninggalkan Airin dengan sejuta tanya dalam benaknya. Namun, langkahnya terhenti tanpa berbalik menghadap Airin. “Jangan lupa serahkan tugas kamu, setelah jam mata kuliahmu selesai! Saya tunggu di ruang Dosen.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD