Di perpustakaan.
“Apa? Dosen baru itu, calon suami loe, Airin?” tanya Rico dengan raut wajah terkejut, ketika Airin mulai bercerita soal masalah pelik yang sedang di hadapinya.
“Huss! Pelanin suara loe, Rico! Apa loe mau semua orang tau, kalau gue dan Dosen Bima itu punya hubungan, huh? Mau ditaruh di mana muka gue, kalo sampai semua orang tau?” omel Airin setengah berbisik, sambil menutup mulut Rico dengan wajah kesal.
Rico pun mengangguk patuh, sambil meringis garuk-garuk kepala.”Iya, Maaf! Keceplosan.” Rico menyingkirkan tangan Airin dari mulutnya dengan lembut.
“Awas, jangan sampai orang lain tau masalah ini! Cuma loe yang gue kasih tau, Rico. Setelah gue dikhianati oleh Bayu sama Clarisa, gue udah nggak bisa percaya ama orang lain lagi, selain sama keluarga gue,” ancam Airin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rasa sesak dalam dadanya kembali menghampiri, ketika terbayang kejadian sabtu pagi tempo hari, di gudang kosong itu. Semua kejadian yang ia lewati, membuatnya hilang kepercayaan kepada orang lain.
Sejak hari itu, Airin seolah bergidik takut untuk pergi ke gudang kosong di belakang kampus lagi, seperti ada rasa trauma yang menghinggapi sisi jiwanya yang paling terdalam.
“Gue janji, Rin. Gue nggak akan pernah berkhianat seperti dua manusia lucnut itu, Rin. Loe bisa pegang, janji gue.” Rico bersumpah dengan hatinya yang tulus, sambil menoel hidung bangir Airin.
Rasa sayang Rico, terhadap Airin begitu besar. Seperti rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Rico pernah memiliki seorang adik perempuan yang hanya terpaut jarak dua tahun saja dengannya. Namun, sebuah kecelakaan merenggut nyawa adiknya terjadi, saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sejak Rico dipertemukan dengan Airin di fakultas yang sama dan satu kelas pula, hubungan mereka sudah terjalin sangat dekat. Rico, Airin dan Clarisa, sama-sama bersahabat sejak masuk awal semester.
Dalam persahabatan mereka, awalnya baik-baik saja. Namun, disaat Rico mengendus ada glagat tidak beres dari Clarisa, ia pun mulai memata-matai gerak-gerik salah satu sahabatnya itu. Rico tidak ingin, dalam persahabatan ada ketimpangan, ada pengkhianatan dan sesuatu yang disembunyikan.
Betapa terkejutnya Rico, saat menemukan satu fakta dari sahabatnya yang sudah terjalin beberapa tahun belakangan ini, jika Clarisa sudah berselingkuh dengan kekasih sahabatnya sendiri, Airin.
Lama, Rico berpikir untuk mengatakan sebuah fakta tersebut. Namun, Rico masih belum siap untuk melihat persahabatan mereka hancur.
Setelah meyakinkan diri, akhirnya Rico pun harus mengambil keputusan final, jika Airin harus tahu apa yang dilakukan oleh pacar dan sahabatnya itu selama berada di belakangnya.
“Okay! Gue percaya sama loe, Rico.” Airin mengulas senyum, sambil mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.
“Loe tuh cengeng banget sih, jadi perempuan. Udah, jangan nangis! Ntar, gue bantuin cari jawabannya,” ujar Rico mengusap air mata Airin dengan tangannya lembut. “Dosen baru itu, keknya perlu kita kasih pelajaran, Rin. Seenaknya ajah, kasih tugas sebanyak ini. Keknya dia sengaja kasih pertanyaan yang sulit sama loe tadi, biar loe nggak bisa jawab. Terus, dia bisa kasih hukuman kek gini sama loe.”
Ya, pertanyaan yang diajukan oleh dosen Bima tadi, membuat Airin kesulitan untuk menjawabnya. Meskipun Airin tidak terlalu focus mendengarkan apa yang disampaikan oleh dosen Bima saat membahas materinya, akan tetapi ia masih bisa mendengar dan menyerap apa-apa saja prihal penting ke dalam otaknya.
Airin berdecak kesal, apa yang Rico katakan memang sama dengan apa yang dipikirkannya. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. “Ya, kita harus kasih pelajaran.”
***
“Bayu…” ucap lirih Clarisa hendak menyambut kedatangan lelaki yang sangat dicintainya, saat sedang berdiri di ambang pintu kelasnya. Namun, Bayu seolah tidak mendengar panggilannya, lalu berjalan masuk ke dalam kelas melewatinya begitu saja.
Bayu mencari Airin, tanpa perduli dengan tatapan sayu Clarisa. Ia berniat untuk meminta maaf dan bersedia melakukan apa pun untuk Airin, agar Airin tidak memutuskannya. Ia tidak mau putus dengan Airin. Ia masih sangat mencintainya, dan tidak akan melepaskan gadis yang selama satu tahun ini ia jaga.
Ya, selama satu tahun menjalin hubungan dengan Airin, Bayu tidak pernah menyentuh sekali pun milik berharga Airin. Hanya menyentuh sebatas wajah, kening, pipi dan bibir. Itu pun, teramat jarang Bayu lakukan. Karena, hanya moment-moment tertentu saja.
Airin selalu menolak, jika Bayu meminta lebih. Alasan yang clasik, tapi Bayu menghargainya. Betapa berharga dan berkelasnya, gadis seperti Airin yang bisa menahan dan menjaga kehormatannya untuk suaminya kelak. Bayu pun sangat bangga dan senang, memiliki gadis mahal seperti Airin, yang tetap mempertahankan kesuciannya di zaman sekarang ini. Zaman yang sudah edan, zaman yang sudah terkontaminasi dengan dunia luar, dunia bebas, seperti Negara-negara Eropa.
“Aku akan memberikan semua milikku yang paling berharga, jika kita sudah naik ke pelaminan.” Kata-kata itulah yang selalu Airin lontarkan, setiap Bayu menginginkan lebih dari sekedar berciuman.
Namun, Bayu tidak bisa mempertahankan prinsip seperti Airin, dikala tergiur dengan godaan gadis lain seperti Clarisa. Gadis yang dengan murahnya, menyerahkan tubuhnya dengan sukarela kepadanya. Bayu yang merupakan laki-laki normal dengan segala penasaran fantasi liarnya, yang belum pernah tersalurkan itu pun tidak mampu menolak apa yang ditawarkan dengan murahnya oleh gadis seperti Clarisa.
Pada akhirnya, Bayu pun bermain cinta dengan Clarisa di belakang Airin. Dengan kesadaran dari keduanya, mereka pun nampak bersandiwara di hadapan Airin dan Rico selama ini. Dan, pada akhirnya semua rahasia yang mereka tutupi itu pun, ketahuan jua.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga. Begitulah apa yang sudah Bayu dan Clarisa lakukan selama ini di belakang Airin.
“Apa kalian melihat pacarku, Airin?” tanya Bayu kepada salah satu teman sekelas Airin.
“Airin ada di Perpustakaan, Kak.”
“Perpustakaan?” tanya Bayu mengernyitkan dahinya aneh. Nggak biasanya, pacarnya itu pergi ke sana.
“Iya.”
“Okay! Makasih infonya.” Bayu lantas pergi meninggalkan kelas tersebut langsung bergegas menuju perpustakaan.
Adik kelasnya itu pun hanya mengangguk, sambil menoleh ke arah Clarisa yang nampak menatap kepergian Bayu dengan wajah sendu.
***
“Hey… mau apa lagi loe, Bangsatt! Masih punya muka loe, untuk nemui Airin, huh?” Rico terlihat emosi saat menghalangi Bayu yang hendak menemui Airin.
“Bukan urusan, loe. Jangan halangin, gue! Minggir.” Bayu mendorong bahu Rico dengan kasar, lalu menarik tangan Airin untuk menjauh dari Rico.
Ia harus bicara empat mata dengan Airin sekarang juga. Ia tidak mau hubungan mereka putus, ia tidak mau kehilangan Airin.
“Lepasin gue, Bayu! Gue nggak mau ngomong ama loe lagi.” Airin meronta, berusaha melepaskan cekalan tangan Bayu yang sangat kuat.
“Gue benci ama loe, Bayu! Loe bajingann!” maki Airin di sela langkahnya yang diseret paksa oleh Bayu.
Bayu tidak perduli dengan ocehan dan makian Airin. Yang ingin Bayu lakukan, lekas mencari tempat yang tenang untuk bicara. Akhirnya, Bayu pun berhasil membawa Airin ke ruangan praktek laboratorium yang hanya dipakai jika ada kegiatan praktek.
Ruangan praktek itu pun nampak kosong, sepertinya tidak ada jadwal praktek.
“Lepasin, Bayu! Sakit, tangan gue.” Airin memekik marah.
“Iya, Aku akan lepaskan. Tapi, kamu harus dengerin aku ngomong dulu. Please!” Bayu memasang tampang melas.
“Iya. Cepetan, lepasin tangan gue!” Airin mengabulkan permintaan Bayu untuk mendengarkan apa yang mau ia omongin.
Akhirnya, Bayu pun melepaskan cekalan tangan Airin dengan tetap siaga satu. Ia tidak ingin, Airin kabur sebelum ia bisa berbicara dengannya.
Airin meringis lirih, ketika melihat pergelangan tangan kanannya memerah, akibat cekalan Bayu yang terlampau keras.
Brukk!
Bayu menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai, sambil duduk bersimpuh di hadapan Airin dengan kedua bola matanya yang sudah berkaca-kaca, menatap Airin dengan tatapan dalam dan tulus.
“Aku minta maaf, Airin. Aku nggak mau kita putus. Sampai kapan pun, aku nggak mau kita putus. Aku sangat mencintaimu, Airin. Semua yang kamu lihat kemarin, bukan kemauanku. Clarisa yang terus memaksaku, untuk melakukan itu. Aku tidak pernah mencintainya, seperti aku mencintaimu, Airin. Hanya kamu wanita yang ada dalam hatiku, dan akan menjadi istriku. Dua bulan lagi, aku akan wisuda, Airin. Aku akan segera bekerja di kantor Papaku, dan secepatnya aku akan melamarmu, Airin. Tolong, jangan pernah putus dariku! Jangan pernah tinggalkan aku, Airin!”
Airin bergeming, tidak bisa berkata-kata. Sejujurnya, ia masih sangat mencintai Bayu. Namun, perasaanya terlampau sakit oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Bayu.
Sementara, di tempat yang sama dengan mereka. Ada sepasang bola mata elang, menatap dengan tatapan menghunus tajam. Seringai licik pun nampak terukir tipis dari bibirnya. “Jadi, dia pacarmu yang selingkuh itu!”