Airin tak kunjung menyahut atau pun mengangkat kepalanya. Namun, Rico terus menyenggol lengannya agar ia berdiri dan mengambil lembaran materi yang sedang dipegang oleh Clarisa.
“Rin… loe dipanggil tuh. Ambil kertas materinya! Keknya tinggal loe doank yang belum ngambil.”
“Tolong ambilin dong, Rico! Gue lagi bad mood.”
“Ya udah.” Rico pun bangkit, berjalan ke arah Clarisa dan Bima, lalu hendak mengambil lembaran kertas materi tersebut. Namun, langsung ditolak mentah-mentah oleh Albima Hartawan.
“Kamu siapanya, Airin? Kenapa kamu yang harus mengambilkan ini, untuknya?” tanya Bima, seraya menarik kertas materi itu dari tangan Clarisa, hingga membuat Clarisa sedikit tersentak.
Rico sejenak terdiam, sambil garuk-garuk kepala. Ia harus mengatakan apa, biar membuat dosen baru itu percaya.
“Eem… saya sahabat terbaiknya, Pak. Saya sahabat yang tidak akan pernah menusuknya dari belakang, Pak. Saya tidak akan pernah mengkhianati kepercayaannya, Pak,” sindir Rico sengaja jawabannya nggak nyambung, sambil melirik sengit ke arah Clarisa yang masih berdiri di samping Bima. Lalu, ia pun membuang napas pelan, kembali melanjutkan ucapannya.
“Sahabat saya itu sedang tidak sehat, Pak. Perasaannya sedang kacau, jadi membuat semangat belajarnya menurun. Ia sedang bad mood, Pak,” tuturnya panjang lebar, membuat Bima mau pun teman-teman di kelasnya tergelak tawa, terkecuali Clarisa yang nampak menahan geram kepada Rico, si bancii tengik di matanya.
“Huuh… si Rico, banyak ngomong!” cicit Airin bergumam kesal, saat ditertawakan oleh semua teman satu kelasnya. Mau tidak mau, Airin pun menegakkan tubuhnya, lalu menatap dingin wajah lelaki yang dalam waktu dua minggu lagi akan segera menjadi suaminya.
Ya, di malam lamaran itu, orang tua mereka sudah sepakat untuk menjatuhkan tanggal pernikahan Airin dan Bima tepat dua minggu berikutnya.
Airin sempat meminta waktu untuk menunda sedikit lebih lama lagi, karena terlalu cepat. Namun, lagi-lagi sang ibu malah tidak memberikannya kesempatan. “Cepat atau pun lambat, pada akhirnya kalian akan menikah. Tanggal dan hari yang disebutkan oleh Pak Ganjar ini sangat bagus dan baik, jadi tidak usah diubah-ubah lagi.”
Airin pun tidak bisa lagi membantah, ia hanya pasrah kepada keputusan ibunya. Namun, Airin tidak tahu, bahwa yang ia rasakan itu tidak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan oleh Albima Hartawan. Bukan hanya Airin yang tidak setuju dengan pernikahan tersebut. Namun, Albima pun tidak setuju sama sekali. Hanya demi ia menghindari berada satu atap dengan ibu dan adik tirinyalah, ia rela melakukan perintah sang ayah.
Drap.
Langkah kaki Airin yang dihentakkan kasar ke lantai, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras, membuat semua mata tertuju ke arah Airin yang berjalan dari arah tempat duduknya yang berada paling belakang, hingga ke depan kelas. Tepat berhenti di samping Rico, kemudian menatap sinis dua orang yang menyebalkan di matanya dengan wajah mendongak angkuh.
“Terima kasih, Rico. Terima kasih, udah mau bantuin gue tadi. Walaupun akhirnya loe nggak dibolehin,” ucap Airin sambil mengedipkan matanya ke arah Rico. Namun, ucapannya itu seolah menyindir dosen baru tersebut.
Rico jadi serba salah, akhirnya ia pun hanya mengangguk ragu sambil kembali ke tempat duduknya.
Sementara Clarisa dan yang lainnya nampak menyimak dengan wajah-wajah berbagai macam ekspresi tanda tanya.
Bima tidak terima, kalau calon istrinya itu berani menyindir dirinya di depan anak didik barunya. Ia merasa diejek dan direndahkan, walaupun terdengar seperti ucapan biasa saja. Namun, gengsi dan harga diri Bima terlalu tinggi.
“Saya bukannya nggak ngebolehin teman kamu untuk mengambilkan lembaran materi ini. Saya hanya bertanya, kenapa harus ia yang mengambilnya? Kenapa bukan kamu sendiri, Airin? Emangnya salah, kalau saya bertanya seperti itu, huem?” tanya Bima, mencondongkan wajahnya ke arah muka Airin yang lebih pendek darinya, membuat Airin sedikit terlonjak, lalu memundurkan kakinya beberapa langkah.
Deg!
Jantung Airin berdetak lebih cepat, ketika wajah Bima hampir menempel dengan jarak beberapa centi meter, seperkian detik.
Perasaan apa ini? Jangan aneh-aneh, deh! Aku nggak suka sama lelaki sok, kek dia. Huss... jauh-jauh, sana! Airin bermonolog dalam hatinya yang sedang bergemuruh.
Seketika, suasana kelas semakin tegang. Detik kemudian, banyak pasang mata saling berbisik pelan. Terlihat air muka tidak suka, yang ditunjukkan oleh Clarisa saat menatap keduanya yang seolah sudah saling mengenal sebelumnya.
“Maaf!” ucap Airin menurunkan egonya, sambil mengadahkan tangannya untuk menerima lembaran materi tersebut. “Mana, kertas Materinya untuk saya, Pak?”
Bima tersenyum tipis, sambil menaikkan satu alisnya. “Nih!” Bima menggantungkan lembaran kertas tersebut di udara, tanpa menyerahkan ke tangan Airin yang sudah mengadah.
Dengan terpaksa, Airin pun akan mengambil kertas tersebut, namun terjatuh saat tangan Airin hampir menyentuh lembaran kertas materi tersebut dari tangan Bima.
“Ups… jatuh! Sorry,” ucapnya sambil menyeringai dengan santai.
Sontak Airin pun mendengkus kesal, melihat sikap dosen barunya yang jelas terlihat sengaja itu. “Ck! Sungguh menyebalkan!” gumamnya lirih sambil berjongkok, untuk mengambil lembaran materi yang terjatuh di lantai. Namun, gumaman Airin masih terdengar oleh Bima dan Clarisa.
Bima pun tertawa puas dalam hatinya. Sementara Clarisa nampak tersenyum smirk, melihat Airin yang kesal terhadap dosen barunya yang tampan dan cerdas itu. Clarisa berpikir, mana mungkin dosen baru itu mengenal dan menyukai Airin. Sikap dosen baru itu pun sangat terlihat tidak respect dengan Airin.
Semua pasang mata di kelas tersebut, nampak terlihat bingung dan bertanya-tanya. Kenapa sikap dosen barunya itu seperti tidak suka terhadap Airin? Terlebih lagi di mata Rico dan teman-teman laki-lakinya yang lain.
Tanpa kata, Airin pun langsung membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menuju tempat duduknya di samping Rico. Dalam hati mengumpat kesal, sikap lelaki yang sangat menyebalkan itu sudah keterlaluan. Airin pun akan membalasnya, jika ada waktu dan kesempatan.
“Airin, maaf ya, tadi….”
“Udah, nggak usah dibahas!” potong Airin, membuat Rico pun menelan ucapannya kembali yang ingin ia lontarkan.
“Loe sebenernya kenapa sih, Airin? Apa loe bener-bener masih sakit hati sama dua manusia lucnut itu? Jadi, loe nggak bad mood kek gini.”
“Ceritanya panjang! Nanti, kalau ada waktu, gue bakalan ngomong sama loe.”
“Ngomong ajah sekarang, Rin! Gue nggak bakal tenang, kalau loe nggak ngomong sekarang.”
“Loe udah gila, huh? Ini lagi ada kelas, Rico. Loe nggak takut kena hukuman Dosen sinting itu, nanti?”
“Tahu dari mana loe, Rin? Emangnya Dosen Bima yang baru mengisi kelas pertamanya di sini, langsung memberi hukuman untuk anak mahasiswanya?”
“Ya, nebak ajah. Lagian, dia akan curiga kalo kita nggak merhatiin dia, malah sibuk ngobrol kek gini.”
Rico pun terkekeh pelan. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh teman dekatnya itu. “Iya, deh. Tapi, loe punya utang cerita ma gue, Airin. Awas kalau lupa!”
“Iya… iya, bawel!” Keduanya pun terkekeh pelan.
Bima mulai berbicara di depan kelasnya. Ia pun nampak menjelaskan dengan penuh kharisma, sesuai apa yang tertulis di lembaran materi yang ia bagikan tadi. Sambil sesekali, matanya mengedarkan pandangan dengan sangat tajam ke seluruh ruangan. Terlebih lagi ke arah Airin dan Rico, yang nampak tidak terlalu focus mendengarkan apa yang ia jelaskan. Karena, mereka terlihat sering asik mengobrol, bahkan bercanda.
Sementara anak mahasiswa yang lainnya, nampak focus mendengarkan Bima yang sedang bicara. Dan, beberapa mahasiswi nampak asik memandangi wajah dosen Bima dengan berbagai khayalan ingin menjadi kekasihnya, bahkan menjadi istrinya. Pesona Bima sangat luar biasa di mata para gadis di kelas tersebut.
Hampir satu jam berlalu, Bima pun menyudahi pembahasan materi mengenai istilah-istilah kedokteran yang masih sering kali terlupakan.
“Apakah ada yang ingin ditanyakan dari pembahasan materi yang baru saja saya jabarkan?” tanya Bima, sambil berdiri dari tempat duduknya.
Hening, semuanya menggeleng pelan.
Bima pun mengulum senyum, lalu menatap lurus ke arah Airin dengan tatapan tajam. Ada sebersit ide jahil untuk mengerjai calon istrinya yang sudah berani menomorduakan dirinya saat sedang berbicara serius.
“Kalau tidak ada yang bertanya. Berarti, saya sudah menganggap kalian semuanya sudah mengerti dengan apa yang saya terangkan tadi. Jadi, saya ingin bertanya kepada….” Bima pura-pura menyapu netranya ke semua anak didiknya. “Kamu, Airin!” tunjuk Bima, membuat semua mata menoleh ke arah Airin.
Sontak, Airin pun langsung membeku seketika. Sementara yang lainnya, nampak merasa lega, karena lolos dari pertanyaan sang dosen.
“Mampuss loe, Airin! Moga-moga, Dosen Bima ngasih pertanyaan yang sulit.” Clarisa menyumpahi ex sahabatnya itu.
“S-saya, Pak?” tanya Airin sambil menunjuk ke arah dirinya dengan wajah panik dan suara yang terdengar gugup. Airin tidak terlalu focus dengan materi yang baru saja dibahas oleh Bima. Karena, ia benar-benar malas dan bed mood untuk belajar. Terlebih lagi, yang sedang mengajar di kelasnya, dosen menyebalkan yang sudah memutarbalikkan dunianya sekarang.
Drap!
Langkah tegap dan arrogant, nampak terlihat dari kaki Bima yang berjalan ke arah tempat duduk Airin.
“Iya, kamu! Emangnya, ada lagi yang namanya Airin, selain kamu? Jangan bilang, kamu takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari saya! Makanya, kalau ada Dosen yang sedang menerangkan di depan kelas itu, focus dan perhatikan. Jangan sibuk diskusi di belakang!” Bima sengaja mempermalukan Airin di depan teman-temannya sekelas, seraya menyilangkan tangannya di depan dadanya, lalu tersenyum puas dalam hatinya.
Glek!
Airin tercekat dengan ucapan menohok dosen Bima. Ia kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Karena, semua yang dikatakan calon suaminya itu benar adanya.
Ya Allah, mudah-mudahan si Malaikat Pencabut Nyawa ini, nggak kasih pertanyaan yang sulit, aamiin. Airin berdoa dalam hatinya.