Chapter 5. Di Kampus Yang Sama.

1171 Words
Buru-buru, Airin menundukkan pandangan, lalu menutupi kepalanya dengan tas punggung miliknya yang ia taruh di atas meja. Airin merutuki nasibnya sendiri, bisa-bisanya dosen baru itu adalah calon suaminya. Kenapa dunia ini begitu sempit? Apa sudah habis stok Dosen untuk menggantikan Dosen Tari? Lagi-lagi ia hrus bertemu dengan lelaki menyebalkan tersebut. Ya, di mata Airin, lelaki yang bernama Albima itu sangat menyebalkan. Sejak pertemuannya pertama kali di jempatan dekat sungai tempat favoritenya untuk mencari ketenangan diri, terpaksa jadi berantakan dan ia pun harus pergi dari sana untuk menghindarinya. Lelaki aneh, sok kegantengan, sok tahu dan sok pintar, semua ada padanya. Rektor pun mulai menyapa semua anak mahasiswa di kelas tersebut dengan ramah. Beliau pun kemudian mengenalkan dosen baru itu sebagai pengganti dosen Tari yang akan pindah tugas ke luar kota mengikuti suaminya yang bertugas. “Selamat pagi Anak-anak, kedatangan saya kali ini, untuk memperkenalkan Dosen baru kepada kalian. Beliau ini yang akan menggantikan tugas Dosen Tari untuk mengisi mata kuliah yang biasa diajarkan di kelas ini. Silahkan, Dosen Bima!” tutur rektor tersebut dengan sangat berwibawa dan tegas. “Terima kasih, Pak Rektor. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya.” Bima pun nampak mengangguk hormat, lalu diangguki pula oleh rektor tersebut. Bima pun mulai menyapa dan memperkenalkan dirinya di depan kelas. “Asalamualaikum, selamat pagi Anak-anak.” Ucapan salam diawali oleh Bima. “Waalaikumusalam, selamat pagi juga Pak Dosen!” Semua menjawab dengan serempak, kecuali Airin yang hanya menjawab lirih di balik tas yang menutupi kepalanya. “Sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, siapa saya dan dari mana saya berasal. Salam kenal untuk anak-anak mahasiswa dan mahasiswi semuanya. Nama saya Albima Hartawan. Untuk lebih akrab, cukup panggil saja saya Dosen Bima. Asal tempat tinggal saya, di Jakarta. Hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk perkenalan kali ini. Mohon kerjasamanya untuk ke depannya. Terima kasih.” “Nah, ada yang mau bertanya tentang profil Dosen Bima? Siapa tahu ada yang mau lebih kenal dekat dengan beliau.” tanya rektor yang mendampingi Bima. “Saya, Pak!” Clarisa mengacungkan tangannya dengan cepat, lalu disusul dengan mahasiswi yang lainnya, nampak antusias dan riuh. “Saya juga, Pak!” “Ya, Pak. Saya juga mau bertanya, Pak!” “Saya dulu, Pak! Saya duluan!” Suara gaduh pun mulai memenuhi seisi ruangan kelas tersebut. Sementara Airin, hanya bisa menutupi kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya, saking brisiknya. Rico yang berada tepat duduk di samping Airin, hanya menatap aneh dan bingung. Kenapa sikap Airin tidak seperti biasanya? Seperti ada yang sedang ia sembunyikan dan khawatirkan. Rico pun, jadi bertanya-tanya tentang sikap Airin yang aneh itu. “Sabar-sabar, Anak-anak! Satu persatu, jangan rebutan!” tahan pak rektor kewalahan. “Tolong, suaranya dikecilkan. Jangan sampai mengganggu ketenangan kelas yang lainnya!” Sontak, suara gaduh itu pun seketika lenyap, berganti dengan ketenangan. “Terima kasih. Sekarang bisa kita mulai lagi sesi perkenalan dan tanya jawabnya.” Pak rektor pun mulai mengintuksikan. “Dimulai dari, kamu! Ya, silahkan kamu perkenalkan diri, dan apa yang ingin kamu tanyakan,” tunjuk pak Rektor ke arah Clarisa. “Terima kasih, Pak Rektor,” ucapnya, lalu tersenyum genit ke arah dosen Bima. “Perkenalkan nama saya, Clarisa Juliana. Saya mau tanya sama Pak Dosen Bima. Apa Pak Dosen Bima sudah menikah atau belum? Soalnya, Pak Dosen Bima tidak menjelaskan statusnya tadi. Terima kasih.” Bima pun mengulum senyum, lalu menjawab dengan santai. “Baik, Nona Clarisa Juliana. Saya akan menjawab pertanyaan Anda. Status saya untuk saat ini masih single. Terima kasih.” Sontak, suara riuh pun kembali terdengar memenuhi ruangan kelas tersebut, saking hebohnya. Karena dosen tampan yang baru tiba di kelas mereka itu pun ternyata masih single, alias belum menikah. “Waah… masih sendiri, guys!” “Buka lowongan jadi teman special nggak, Pak?” “Bisa nih, ngajak jalan!” “Wiss, bakalan betah nih berlama-lama di kelas.” “Makin semangat nih belajarnya. Udah ganteng, baik, single lagi. Slebeew…! “Tarik mang… hobah!” “Asikk….” Lontaran-lontaran kata pujian dan kekaguman dari beberapa mahasiswa perempuan di kelas itu pun, membuat Bima mengulum senyum dan sedikit salah tingkah. Ini, kali pertama ia bekerja menjadi tenaga pengajar, dengan gelar Master yang dimilikinya. Gaji yang ditawarkan untuknya pun tidak main-main, bahkan dua kali lebih tinggi dari pengajar yang sudah lama di sana. Karena, ia salah satu mahasiswa fakultas kedokteran yang lulus dengan nilai terbaik dari Inggris, dengan menyandang gelar master, S2. “Husss! Tolong, di pelankan suaranya!” pak rektor pun nampak kewalahan sambil geleng-geleng kepala. Seketika, suara riuh itu pun kembali terhenti. “Silahkan, Dosen Bima! Anda bisa mulai kembali berinteraksi dengan Anak-anak di kelas ini.” “Terima kasih, Pak Rektor,” ucap Bima santun. “Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu, Dosen Bima.” Pak rektor mengangguk kecil, lalu dianggukan kembali oleh Bima. “Selamat belajar dengan Dosen Bima ya, Anak-anak. Semoga belajarnya tambah semangat!” ucap pak rektor menghadap ke arah anak-anak sebelum pergi. “Tapi, kalian jangan terlalu brisik!” tekannya mengingatkan, kemudian meninggalkan ruangan kelas tersebut. “Baik, Pak Rektor!” seru hampir semua anak gadis di kelas itu dengan antusias, terkecuali Airin yang masih enggan menaikkan kepalanya. Detik berikutnya, Bima mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Ia menyadari, ada satu titik tempat duduk yang sedari tadi mengusik pikirannya. Ia pun nampak tersenyum miring, sambil mengernyitkan dahinya. “Untuk sesi perkenalannya, saya kira sudah cukup sampai di sini, ya Anak-anak. Kalau masih ada yang ingin bertanya tentang profil saya, bisa dilakukan di lain waktu. Karena, saya harus segera mengisi jam kelas ini sesuai dengan tugas saya dua jam ke depan. Terima kasih,” tutur Bima, lalu dianggukkan oleh semua anak di kelas itu. Airin kebingungan, ia mesti bagaimana lagi. Pasti, lambat laun, calon suaminya itu akan melihatnya juga. Tap… Langkah kaki Bima pun mendekati tempat duduknya, lalu menyimpan tas miliknya yang berisi laptop dan beberapa buku mata kuliah kedokteran. “Adakah yang bisa membantu saya?” tanya Bima di sela aktivitasnya mengeluarkan laptop dan ATK miliknya. “Saya bisa, Pak Dosen Bima!” sahut Clarisa dengan antusias. “Terima kasih, Nona!” ucapnya tersenyum tipis. “Oh iya, siapa nama kamu? Saya kurang menyimak, tadi.” “Clarisa Juliana, Pak Dosen Bima!” sahutnya dengan suara selembut mungkin. “Oh… okay, Nona Clarisa. Bisakah, kamu membantu saya untuk memanggil satu persatu teman-teman kamu, untuk maju ke hadapan saya?” tanya Bima nampak serius. “Bisa, Pak! Tapi, untuk apa ya, Pak?” “Untuk mengambil lembar materi ini,” sahut Bima sambil menunjukkan tumpukkan kertas yang dipegangnya, lalu diserahkan kepada Clarisa. “Baik, Pak Dosen Bima!” ucap Clarisa mengangguk patuh. Clarisa pun mulai memanggil satu persatu teman-temannya di kelas itu, sambil memberikan satu lembar kertas berisi materi pembelajaran untuk setiap mahasiswa. “Airin Mahardika Putri!” panggil Clarisa dengan malas dan terpaksa, untuk nama terakhir yang ia sebutkan. Sontak, Bima pun terkejut sambil menatap lurus ke arah seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya dan penasaran siapa di balik tas yang menutupi wajahnya tersebut. "Calon Istriku..." gumamnya lirih. "Ternyata, ia kuliah di kampus ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD