Chapter 4. Dosen Baru.

1453 Words
Di kelas. Dengan langkah berat, Airin mengayun langkah kakinya menuju kelas. Hari pertama di minggu ini, membuat semangat Airin untuk mengikuti mata kuliahnya menurun. Senyuman iblis, dari wajah Clarisa terlihat menatap kedatangan Airin yang kini sudah menjadi ex sahabatnya. Namun, Airin seolah tidak perduli, meski perasaannya saat ini campur aduk. Ingin marah, ingin mengumpat, ingin memaki dan ingin menumpahkan segala unek-unek yang ada di benaknya, ia urungkan. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya, jangan sampai mempermalukan diri sendiri. Sabar… sabar, Airin! Orang sabar, pasti disayang pacar. Airin bergumam dalam hatinya. Eh, kok pacar? Aku ‘kan udah nggak punya pacar. Aku punyanya calon suami. Airin menggeleng-gelengkan kepalanya. Lah, kok malah calon suami, sih? Waah… udah gak bener nih, keknya otakku! Ngapain juga inget-inget calon suami Malaikat Pencabut Nyawa kek dia. Ngeri, guys! Airin bergidik ngeri membayangkan wajah lelaki yang dua hari lalu melamarnya. “Rico, gue mau duduk di samping loe,” ujar Airin mendekat ke tempat duduk Rico, seraya melirik sinis saat melewati bangku yang di duduki oleh Clarisa. “Silahkan, Tuan Putri!” ucap Rico menerima dengan senang hati, sambil meminta teman laki-lakinya untuk pindah. "Sana, duduk di depan!" titahnya. Laki-laki itu pun hanya mendengkus pelan sambil bangun dari tempat duduknya. “Ck! Tuan Putri? Lebay!” cibir Clarisa dengan ketus, namun Rico sangat tidak terima. “Huh… sirik ajah loe, pagar makan tanaman! Dasar, sahabat nggak ada akhlak!” sembur Rico dengan sindiran. Mendengar perseteruan Clarisa dan Rico, beberapa pasang mata di kelas itu pun nampak ikut menyimak dan memperhatikan keduanya. “Heh… berani loe sama gue? Dasar cepu, leo!” balas Clarisa dengan sengit. “Berani gue. Kenapa harus takut, sama cewek modelan kek loe, huh?” Rico terbakar emosi, ia langsung bangkit hendak menghampiri Clarisa. Namun, Airin buru-buru menahannya. “Rico, jangan cari masalah! Ngapain sih orang kek gitu diladenin?” Airin menggeleng pelan. “Eleh… beraninya sama cewek. Dasar, bancii!” celetuk Clarisa semakin menjadi-jadi. Rico tidak terima, ia hampir melepaskan cekalan tangan Airin. Namun, Airin tetap menahannya lebih kuat. “Jangan terpancing omongannya, Rico!” “Nggak bisa, Airin! Mulutnya itu kek sampah,” tolaknya dengan kemarahan yang sudah memuncak. “Terserah kamulah, Rico!” Airin pasrah, tidak ingin menahan Rico lagi. Perseteruan semakin heboh, hampir semua anak di kelas itu bersorak riuh, sambil bertepuk tangan. “Balas….” “Balas….” “Balas….” Rico pun semakin semangat, mendapatkan support dari teman-teman sekelasnya. “Apa loe bilang, huh? Bancii? Apa loe nggak salah ngomong? Tadi ‘kan loe yang nantangin gue. Bilang ajah loe yang takut, kalau gue lawan. Dasar Iblis Betina, loe!” maki Rico dengan geram dan bersungut-sungut. Clarisa bangkit, lalu menatap sinis ke arah Rico tanpa rasa takut. “Apa yang gue bilang emang bener, ‘kan? Loe itu cepu, sukanya mata-matain urusan orang. Tukang ngadu-ngadu! Apa loe masih mau ngelak, huh?” Rico tertawa jengkel dengan tuduhan Clarisa. Ia tidak perduli dibilang cepu, asalkan kebenaran itu sudah terungkap. “Terserah loe mau ngomong apa! Mau cepu, kek. Mau tukang mata-mata, kek. Mau tukang ngadu, kek. Yang penting gue udah lega, kalau Airin udah tau apa yang loe lakuin selama ini di belakangnya. Dasar, duri dalam daging, loe! Pengkhianat murahan!” Sontak, semua anak yang bersorak tadi pun seketika terkejut mendengar apa yang dituturkan oleh Rico. Sementara Clarisa, nampak mengeram kesal dengan kedua telapak tangannya mengepal kuat. Rasanya, ia ingin menampar mulut lancang Rico yang sudah membongkar aibnya di depan teman-teman sekelasnya. “Airin, apa yang dimaksud dengan Rico? Apa mungkin, Clarisa mengkhianati loe, atau gimana sih?” tanya salah satu teman wanita Airin yang belum begitu paham dengan penuturan Rico. “Ya, Airin! Apa bener, Clarisa mengkhianati loe?” timpal yang lainnya penasaran. Airin menggeleng kuat. Ia tidak mau, urusan pribadinya menjadi konsumsi public. “Rico, balik ke tempat duduk loe, sekarang! Jangan bikin gue membenci loe juga, Rico!” titah Airin tegas. Rico pun menoleh sekilas sambil mengangguk, lalu tersenyum puas ke arah Clarisa, karena ia berhasil membuat gadis itu bungkam. Ck! Siallan si Rico Bancii itu. Awas, gue akan balas, nanti! Rutuk Clarisa dalam hati. *** “Hei… hei, gue bawa berita terupdate loh! Mau tau nggak?” Seorang gadis centil yang baru saja datang ke kelas, membuat ketegangan tadi berubah menjadi heboh kembali. “Mau… mau,” sahut riuh kebanyakan dari anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki, hanya terlihat santai. “Tadi gue nggak sengaja, liat dan denger dosen baru yang mau gantiin mata kuliah Bu Tari. Weeh… masih muda dan guantengnya kebangetan, guys! Terus, gue denger kalo dosen baru itu, lulusan dari luar negeri. Keren nggak sih?” “Ah, yang bener? Loe nggak salah liat, ‘kan? Jangan-jangan, dosennya udah tua lagi. Mata loe ‘kan kadang-kadang nggak sinkron sama mata kita,” tanya salah satu anak perempuan yang terlihat ragu. “Ya, bener. Loe ‘kan kadang-kadang suka ngaco kalo ngomong,” timpal yang lainnya. “Suerr…! Kali ini mata gue lagi bener. Kalo nggak percaya, kita tungguin ajah dosen itu masuk ke kelas ini. ‘Kan pagi ini ada mata kuliah dosen Tari, pastinya dosen Tari akan pamitan dan langsung digantiin sama dosen ganteng itu.” “Ya… ya, kita liat ajah, nanti.” “Awas kalo loe salah, loe harus traktir gue.” “Percayalah, semoga beneran dosennya ganteng. Biar tambah semangat belajarnya. Kita ‘kan menjelang akhir semester, biar nilainya dapet bagus.” Berbagai tanggapan dari anak-anak perempuan yang antusias, jika dosen baru yang akan menggantikan dosen Tari itu benar-benar dosen berwajah tampan dan muda. “Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak semuanya!” Terdengar suara salam menggema, membuat suasana kelas pun seketika hening. Detik kemudian, sahutan salam pun dengan semangat terdengar dari semua anak mahasiswa di kelas tersebut. “Waalaikumusalam, selamat pagi juga, Bu Dosen!” “Apa kabar semuanya?” tanya Dosen Tari dengan menebarkan senyuman menawan. “Baik, Bu Dosen,” sahut semuanya dengan riuh. “Alhamdulilah, Anak didik Ibu harus sehat selalu, okay!” serunya. “Okay, Bu Dosen!” “Kalau begitu, Ibu Dosen bisa meninggalkan kampus ini dengan lega dan tenang,” ucap Dosen Tari, nampak berkaca-kaca dengan suara terdengar serak. Seketika, ruangan kelas yang tadinya ramai dan ceria, berubah menjadi sendu dan bibit-bibit air mata kesedihan, mulai merayapi sanubari semua mahasiswa dalam kelas tersebut. “Maafkan Ibu ya, kalau selama ini sering memarahi kalian, menghukum kalian yang sering terlambat dan tidak mengerjakan tugas dengan benar. Maafkan Ibu yang sering mengadakan quis dadakan, sering memberi tugas berat untuk kalian. Tapi, semua itu Ibu lakukan semata-mata demi masa depan kalian, agar kalian lebih pandai, lebih disiplin, lebih berani dan memiliki mental yang tangguh. Ibu berharap, kalian bisa menerima perlakuan Ibu selama ini. Sekali lagi, Ibu minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada kalian semuanya.” Ibu dosen itu tidak sanggup untuk tidak meneteskan air matanya di hadapan semua anak didiknya. Dadanya terasa sesak, jika teringat masa-masa mengajar saat bersama mereka di kelas itu. Semua anak mahasiswa di kelas itu pun seketika menjerit histeris. Ada pula yang menangis dan meminta maaf kepada dosen Tari. Suasana di kelas pun berubah mengharu biru, isak tangis dari bibir anak mahasiswa itu pun memenuhi ruangan kelas tersebut. “Kami sayang kepada Bu Dosen,” ujar Airin, lalu diikuti oleh teman-temannya yang lain. Mereka pun nampak mengusap air matanya, lalu berhamburan untuk memeluk dosen Tari bergantian. “Terima kasih, Ibu pun sayang pada kalian. Ibu jadi terharu begini,” ucap dosen Tari, disela isak tangisnya. Setelah reda beberapa saat, detik kemudian, para mahasiswa pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. “Mulai hari ini, Ibu terakhir bertemu dengan kalian. Selepas ini, akan ada dosen baru yang datang menggantikan Ibu. Jadi, Ibu harap kalian akan semakin semangat belajarnya. Ingat, satu tahun lagi, kalian akan menghadapi skripsi!” “Baik, Bu Dosen!” sahut semua anak mahasiswa di kelas itu dengan penuh semangat. “Terima kasih, Anak-anak Ibu yang Ibu sayangi. Kalau begitu, Ibu akan segera pamit meninggalkan kelas ini. Assalamualaikum,” ucap Bu Tari, sambil meninggalkan ruangan kelas tersebut. "Waalaikumusalam, Bu Dosen. Selamat jalan, sampai jumpa lagi," sahut semua anak di kelas itu dengan melambaikan tangan. Tidak berselang lama, ada dua orang laki-laki berbeda generasi memasuki ruangan kelas tersebut. Rupanya, satu orang laki-laki paru baya yang sudah mereka kenal yaitu rector di kampus itu. Dan, satu orang laki-laki muda yang mereka yakini, sebagai pengganti dosen Tari. “Woow… bener-bener guantengnya pool!” “Beeh, gantengnya nggak ada obat!” “Duuh… senyumnya bikin meleleh.” “Ya, Tuhan. Ini manusia apa Malaikat, sih?” Seketika, wajah-wajah penuh kekaguman dari para kaum hawa, nampak begitu ketara. Terkecuali Airin, yang shock bukan main. “B-bima…” ucapnya lirih, nampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Sementara para mahasiswa kaum Adam, nampak terancam dan kalah saing dengan ketampanan dosen baru tersebut,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD