Chapter 3. Sudah Saling Mengenal.

1174 Words
“Nak Airin udah kenal Albima?” tanya Ganjar Hartawan nampak terkejut. Pasalnya, baru dua hari ini putra kandungnya itu kembali ke tanah air. Ya, Albima Hartawan adalah putra kandung satu-satunya dari istri pertamanya yang telah meninggal, hampir lima tahun yang lalu. Semenjak kepergian istrinya itu, putranya itu melanjutkan studynya di Inggris, sampai mendapatkan gelar master. Namun, setelah lulus dengan nilai terbaik, Ganjar meminta putra kandungnya itu kembali ke tanah air. Sebagaimana putra yang baik dan hormat kepada sang ayah, Albima pun mengikuti permintaannya. Di usia Albima yang sudah matang, mengijak usia genap dua puluh tujuh tahun. Ganjar pun, menuturkan apa yang menjadi amanahnya terhadap sahabat terdekatnya, yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Awalnya, Albima menolak permintaan ayahnya, agar ia menerima perjodohan yang telah direncanakan ayah dan sahabatnya yang sudah tiada. Namun, saat ia berpikir untuk tidak tinggal satu atap dengan ibu dan adik tirinya yang baru dinikahi ayahnya satu setengah tahun yang lalu, membuat Albima berubah pikiran. Ganjar pun akhirnya setuju dengan syarat yang diajukan oleh putra kandungnya tersebut. Meskipun setengah tidak rela, akan tetapi ia tidak bisa menolak. Albima memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat ia akan memulai karirnya, nanti. Apartemen yang berharga cukup pantastis di gelontorkan oleh Ganjar untuk syarat yang Albima ajukan. Rita pun nampak terkejut, saat melihat reaksi mereka berdua, anak dan calon menantunya. “Airin, jawab kalau sedang ditanya itu! Kebiasaan kamu itu, sama sekali nggak berubah.” Rita geleng-geleng kepala. “Eh… iya, Om. Nggak sengaja itu pun,” sahut Airin, sedikit terkejut dengan panggilan ibunya. Wajah Airin nampak canggung dan salah tingkah. Albima tersenyum miring, melihat tingkah calon istrinya yang ia anggap seperti ABG itu. Ya, bagaimana tidak, gadis berwajah cantik yang ia temui tanpa sengaja siang tadi itu, terlihat seperti ABG yang sedang putus cinta, galau dan merana. Ia tidak suka dengan gadis cengeng apalagi menangis karena putus cinta. Emangnya, laki-laki di dunia itu hanya satu? Kenapa juga harus ditangisi? ‘Kan tinggal cari gantinya, gampang bukan? Dasar wanita! Sementara Rian dan Sarah, hanya menyimak saja interaksi calon menantu dan calon mertua itu. “Nggak sengaja?” tanya Ganjar nampak mengernyitkan keningnya heran. Airin pun hanya mengangguk cepat, tidak mau memperpanjang masalah. “Berarti, kalian ini memang sudah ditakdirkan berjodoh,” celetuk Rita, berasumsi pertemuan mereka bukanlah sesuatu kebetulan semata. Namun, sudah menjadi takdir dari sang Khalik. Airin dan Albima pun sontak saling bertukar pandang beberapa saat, lalu mengernyitkan dahi dengan ragu. Mereka pun menggeleng kuat, seolah ada benteng yang menghalangi perasaan keduanya. “Waah… benar juga, Bu Rita. Anak kita memang sudah ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan, makanya sebelum kita pertemukan, mereka sudah bertemu duluan.” Ganjar menimpali. Airin menggeleng kuat, sambil menundukkan pandangan. Namun, ia tidak berani membantah sepatah kata pun yang diucapkan oleh ibu dan calon ayah mertuanya tersebut. Sedangkan Albima hanya bisa mengulum senyum dengan menyimpan berbagai rencana licik, agar bisa terbebas dari perjodohan yang sebenarnya menyiksa dirinya. Sejujurnya, Albima belum ingin terikat pernikahan dengan wanita manapun. Terlebih lagi, dengan wanita yang usianya terpaut jauh dengannya. Ia masih ingin bebas menikmati masa mudanya, mencari uang sendiri dan menikmati hasil dari uang yang ia dapatkan sendiri, tidak melulu mengadah pemberian sang ayah yang memang secara finansial sangat mampu. Ia sudah memikirkan dengan sangat matang, wanita impian yang akan menjadi istrinya kelak. Minimal, usianya yang sebaya dengannya, tidak terlalu jauh seperti calon istrinya yang ada di hadapannya. Cantik tapi cengeng dan lemah, Albima benar-benar tidak habis pikir dengan gadis ingusan yang ada di hadapannya sekarang ini. Apa yang akan terjadi di masa depannya, jika menikah dengan gadis ingusan seperti itu? Apa ia akan bertahan, atau akan menyerah? Hanya waktulah yang akan menjawabnya. “Karena kedua Anak kita sudah saling mengenal, lebih baik kita tentukan hari dan tanggal pernikahan mereka saja, sekarang. Bagaimana?” usul Ganjar tidak sabaran. Sontak,semua yang mendengar apa yang dilontarkan oleh Ganjar pun, membuat mereka terperangah. Padahal, Airin pun belum memberikan pernyataan apa pun, terkait diterima atau tidaknya lamaran tersebut. Namun, seolah gayung bersambut. Rita pun segera menjawab dengan cepat. “Usul yang bagus, Pak!” Seketika tubuh Airin lemas, kepalanya tertunduk pasrah. Kalau ibunya sudah berkata, itu merupakan perintah yang tak bisa ditolak. Airin tidak mau mengecewakan perasaan ibunya, yang terlihat senang dan antusias malam ini. Ganjar pun tersenyum puas, dengan jawaban calon besannya tersebut. “Bima…” panggil Ganjar, mengejutkan Bima yang sedang melamun, karena sang ayah mengambil keputusan seenak jidatnya sendiri. Akan tetapi, ia tidak kuasa untuk membantah. “Ya, Pah!” sahutnya, menoleh ke arah Ganjar dengan ekspresi datar. “Kita bicara sebentar,” ucapnya tegas. Lalu, meminta izin kepada Rita dan yang lainnya untuk bicara empat mata dengan putra kandungnya dulu. Mereka pun mengangguk, lalu memberikan waktu kepada dua orang laki-laki tampan yang berbeda generasi tersebut. Rita terlihat mulai berbincang-bincang untuk menjalin keakraban dengan istri kedua Ganja. Namun, Airin dan Rian, hanya menyimak saja obrolan mereka. Meskipun terlihat kurang begitu ramah, dengan sikap Sarah terhadap Rita dan kedua anaknya itu. Namun, Rita nampak terlihat menerima saja. Karena, Rita sadar dengan kondisi yang memang benar adanya. Hal itu wajar-wajar saja bagi Rita. Ya, keadaan rumahnya memang sangat sederhana. Akan tetapi, ia tetap bersyukur dengan kondisi sebagai single parent, masih bisa bertahan hidup dan menyekolahkan kedua anaknya dengan biaya yang tidak sedikit. Ya, wajar bagi Rita. Namun, tidak wajar bagi Airin dan Rian, kedua anaknya. Menurut mereka, sikap Sarah itu terlalu angkuh dan arrogant. Mentang-mentang orang berada, seenaknya saja memandang kondisi rumah mereka yang terbilang sederhana dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarganya. Ya, memang Sarah tidak mengatakan itu secara langsung. Namun, lewat kata-kata sindiran yang menohok. “Semoga saja, Anak tiri saya Bima, bisa hidup bahagia dengan menantu pilihan Suami saya. Sejujurnya, saya khawatir jika Anak tiri saya itu tidak bisa hidup sederhana.” Kali pertama, Airin langsung membalas ucapan Sarah dengan pedas. “Tante tenang saja. Kalau memang Anak tiri Tante tidak bisa bahagia hidup dengan saya, kenapa tidak batalkan saja rencana pernikahannya dari sekarang?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Airin, membuat Sarah seketika bungkam. Ia sebenarnya kesal dan marah dengan calon menantunya yang sangat lancang, berani mengatakan hal itu. Namun, ia pun sadar sedang berada di mana, dan suaminya itu pasti tidak akan membelanya. Justru dirinyalah yang akan tersudutkan, seandainya ia memperpanjang masalah tersebut. *** Di depan pintu ruang keluarga yang tidak jauh dari keempat orang yang masih terlihat oleh Ganjar dan Albima, mereka pun sedang berbicara serius. “Papa ingin, kamu menikah dengan Nak Airin dua minggu dari sekarang. Papa minta, kamu tidak mengingkari janjimu untuk menuruti permintaan Papa, Bima!” Albima terbelalak, Papanya terlalu cepat mengambil keputusan seenak mulutnya sendiri. “Tapi, itu terlalu cepat, Pah. Apa tidak bisa menunggu dua atau tiga bulan dulu, biar aku bisa menilai siapa calon istriku itu, Pah.” Ganjar menggeleng kuat. “Tidak bisa, Bima! Cepat atau pun lambat, kalian tetap harus menikah. Jadi, untuk apa mengulur-ulur waktu?” Ganjar tidak mau dibantah. Albima bergeming, perasaannya campur aduk. Ingin marah, tapi tidak bisa. Ingin melawan, tapi ia tidak punya kuasa. Akhirnya, ia pun menerima dengan terpaksa. “Ya udah, terserah Papa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD