Di ruang Makan keluarga.
“Persiapkan dirimu, Rin! Nanti malam, akan ada keluarga Pak Ganjar Hartawan yang akan datang untuk melamarkan Putranya untukmu.”
Tanpa ada angin atau pun hujan, tiba-tiba saja seorang ibu yang berstatus janda anak dua itu menyuruh anak gadisnya bersiap-siap untuk acara lamarannya nanti malam.
DEG!
DUARR!
Jantung Airin, seperti terkena boom yang baru saja meledak di dalam dadanya secara tiba-tiba. Bagaimana bisa, Ibunya berkata dengan entengnya prihal laki-laki yang akan melamar dirinya secara dadakan seperti ini? Emangnya, tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan. Airin tidak habis Fikri.
“Rin… Airin…! Kalau diajak ngomong sama Ibu tuh sahutin dong, jangan malah bengong kek gitu, Rin! Kek sapi ompong di tengah sawah, melongo kek gitu. Tutup mulutmu itu, nanti ada lalat masuk, Rin!” tegur Rita, melihat anak gadisnya yang tidak merespon ucapannya sedari tadi. Bukannya menjawab apa yang ia katakan, malah bergeming seraya melongo dengan mulut terbuka lebar di hadapannya.
“Eeh…” Airin tersentak, tersadar buru-buru mengatupkan bibirnya dengan cepat. Ia tidak bisa mencerna ucapan ibunya. Semua ini seperti mimpi, tidak nyata dalam pikirannya.
“Waah… Kak Airin mau dilamar, Bu? Kok bisa sih, Bu? Kak Airin ‘kan masih kuliah sekarang. Kenapa malah dilamar?” tanya Rian, adik laki-laki Airin yang masih duduk di bangku SLTP dengan wajah senang sekaligus heran.
“Kamu masih kecil, Rian! Jangan suka kepo urusan orang dewasa! Paham!” sembur ibunya, membuat anak laki-lakinya itu seketika bungkam.
“Baik, Bu,” ucapnya lirih, mengerti jika ibunya tidak suka dengan apa yang baru ia tanyakan tadi.
Airin hanya bisa mendengkus pelan. Ibunya yang paling ia sayangi, setelah kepergian sang ayah dua tahun yang lalu, membuat dirinya tidak bisa melawan atau pun membantah perintah sang ibu.
Ya, hanya ibunya yang sekarang ini menjadi tulang punggung keluarga. Menggantikan posisi ayahnya untuk bekerja, menghidupi dua anaknya yang masih membutuhkan biaya kuliah dan sekolah.
Airin sendiri tidak bisa membantu untuk mencari uang sendiri. Karena, sang ibu sudah melarangnya dengan keras. “Tugas kamu itu belajar. Jangan sok-sokan mencari uang! Ibu masih sanggup untuk membiayai kamu kuliah dan kebutuhanmu sehari-hari. Kamu hanya cukup kuliah yang bener, jadi anak yang nurut sama perkataan Ibu, dan tidak terjebak dengan pergaulan bebas di luar sana!”
Ucapan ibunya itulah, yang selalu berputar-putar dalam pikirannya selama dua tahun belakangan ini.
“Airin!” panggil ibunya kembali.
Airin yang sedari tadi menunduk, sambil memainkan sendok di atas makanannya yang masih tersisa banyak itu, langsung mendongak menatap nanar wajah wanita yang telah melahirkannya dan telah membesarkannya hingga saat ini. “I-iya, Bu!” sahutnya dengan bibir bergetar.
“Kamu dengar’kan, apa yang Ibu katakan tadi?” tanyanya dengan wajah tegas, meskipun hatinya merasa tak tega ketika melihat wajah anak gadisnya yang nampak bersedih.
“I-ya, Bu!” Lagi, Airin hanya bisa berucap kata itu, dengan bibir bergetar yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Bagus!” ucapnya dengan mengulas senyum tipis. Meskipun hatinya sebenarnya menangis, kala harus merelakan putri satu-satunya itu menikah disaat waktu yang tidak tepat seperti ini. Namun, ia tidak bisa menolak, karena semua ini bagian dari wasiat almarhum suaminya, Agus Mahardika.
Rita pun segera menyudahi makan siangnya, lalu beranjak meninggalkan kedua anaknya yang masih duduk di tempat. Ia tidak ingin memperlihatkan air matanya yang sudah ia tahan di depan kedua anaknya, terlebih lagi putri kesayangannya itu.
***
Di dalam kamar.
Airin mondar-mandir, sambil menggigit bibir bawahnya dengan wajah bingung. Hatinya masih terasa sakit, akibat pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, pagi tadi. Namun, tiba-tiba ibunya mengatakan ada laki-laki yang akan melamarnya malam ini.
Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus menerima lamaran ini, sedangkan hatinya sedang tidak baik-baik saja? Ataukah ia harus menolak dengan baik-baik? Airin benar-benar dilema.
Kriing….
Drrrt….
Suara pekikan telpon genggam Airin, terus berbunyi. Airin pun tersadar dari lamunan, lalu melirik siapa yang sedang menghubunginya. “Bayu…” gumamnya lirih.
Namun, Airin langsung merijek nomor panggilan itu. Tak mau ambil pusing, Airin pun segera memblokir nomor ponselnya, agar Bayu tidak lagi bisa menghubunginya.
Meskipun Airin sudah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan Bayu. Namun, Airin tidak pernah memiliki nyali untuk mengenalkan Bayu kepada ibunya sebagai kekasih. Karena, peraturan yang telah dibuat ibunya yang begitu keras, mengurungkan niatnya untuk berkata jujur perihal asmaranya dengan Bayu yang merupakan kakak seniornya, di kampus.
Airin membuang napas kasar, demi mengurangi rasa sesak yang sedang menyelimuti dadanya yang begitu nyeri.
***
Di ruang keluarga.
Seorang pria paruh baya, yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan almarhum ayah Airin, datang bersama istri keduanya, dan putra kandungnya yang bernama Albima Hartawan.
“Selamat malam, Pak Ganjar, Bu Sarah dan Nak Bima. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini,” sapa Rita, dengan wajah ramah dan ceria, seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Hal itu pun diikuti oleh Rian, putranya.
“Selamat malam juga, Bu Rita dan Nak Rian,” sahut Ganjar Hartawan tak kalah ramah, lalu diikuti oleh istri dan anaknya yang menyahut pelan, seraya menerima uluran tangan Rita dan Rian.
“Silahkan duduk dulu, saya akan panggilkan sebentar Putri saya.” Rita mempersilahkan mereka untuk duduk.
Mereka pun mengangguk kecil, lalu menempati tempat duduknya masing-masing.
Sarah menyapu seluruh ruangan keluarga itu dengan tatapan mengolok dalam hatinya. Ternyata, selera suami barunya itu, sangat tidak berkelas sama sekali.
“Pah, apa tidak salah dengan gadis pilihan dari keluarga seperti ini? Bukankah, masih banyak gadis yang berasal dari keluarga berkelas dengan keluarga kita, Pah?” bisik Sarah, terlihat tidak menyukai dengan pilihan suaminya. Ya, walaupun Albima hanya anak tirinya, tetapi ia cukup perduli dengan kehidupan putra tirinya yang masih sedikit menjaga jarak dengannya.
“Kamu jangan melihat semua ini dari luarnya saja, Sarah! Ini adalah sebuah amanah, dari sahabat baikku. Tanpa sahabatku, aku tidak akan pernah berada di posisi yang sekarang ini.” Ganjar membungkam mulut istri keduanya itu dengan telak.
Sarah pun akhirnya diam seribu kata, setelah mendengar suaminya berucap.
Albima hanya tersenyum sinis, ke arah mereka berdua. Diam-diam, ia pun mendengarkan apa yang diucapkan oleh ayahnya tersebut.
Seorang wanita paru baya, yang menjadi ART di rumah itu pun, tersenyum ramah saat datang membawakan beberapa minuman dan cemilan untuk disuguhkan kepada tamu istimewa majikannya.
“Terima kasih, Mbok!” ucap Pak Ganjar, yang memang sudah mengenal ART di rumah itu.
“Sama-sama, Pak!” ucapnya, sambil melangkah mundur dan meninggalkan ruangan keluarga tersebut.
***
Tok!
Rita mengetuk pelan pintu kamar anak gadisnya.
“Airin, buka pintunya, Nak! Tamunya udah datang, cepetan ke luar!”
“Bu, Kak Airin sakit perut katanya,” kata Rian, menghampiri sang ibu yang sedang memanggil kakaknya.
“Apa? Sakit perut?” Rita nampak tersentak, lalu buru-buru menarik handel pintu kamar putrinya dan mendorong daun pintu itu terbuka lebar.
“Iya, Bu.” Rian mengekori langkah ibunya yang sudah masuk ke dalam kamar Airin.
Rupanya, Airin tidak ada di dalam kamarnya. Rita pun mencarinya ke kamar kecil yang menjadi satu dalam kamarnya tersebut.
“Airin… Airin! Apa kamu ada di dalam, Nak?’ tanyanya dengan cemas.
“Iya, Bu. Aku sedang buang air besar. Perutku melilit perih, Bu,” slorohnya berbohong.
Ya, Airin ingin menghindar, agar lamarannya itu batal, dengan cara klasik seperti itu. Tamu yang sudah datang dan menunggu lama, pasti akan kesal dan marah. Kemudian, mereka pun akan membatalkan lamaran itu dengan sendirinya. Itulah yang ada dalam pikiran Airin.
Namun, bukan Rita namanya, kalau putrinya itu bisa membohonginya.
“Kamu jangan berbohong, Airin! Ibu tahu, kamu hanya mencari alasan untuk menghindari pertemuan ini, bukan? Ibu yakin, perutmu itu baik-baik saja. Cepat, ke luar! Jangan sampai Ibu marah dan meminta Adikmu untuk mendobrak pintu kamar mandi ini!”
Plak!
Airin menepuk jidatnya pelan. Ibunya ini seperti dukun saja, bisa tahu apa yang dia lakukan. Dasar aneh!
“AIRIN!” teriak Rita kembali. Kesabarannya, tidak lebih dari setipis tisu yang dibagi menjadi lima bagian.
“Ya, Bu!” sahut Airin, sambil membuka pintu kamar kecilnya dengan wajah meringis.
***
“Nak Airin… !” gumam Ganjar lirih, ketika calon menantunya datang bersama ibu dan adiknya.
“Sapa dan salimlah, calon mertua dan suamimu, Airin!” titah Rita, dengan lembut.
Airin pun mau tidak mau, harus mengikuti perintah ibunya.
“Selamat malam, Om, Tante dan….” Ucapan Airin terhenti, kala netranya menatap kaget lelaki yang berada di hadapannya itu. "Eloh...!" kejut Airin menunjuk wajah lelaki yang ia temui tadi siang di jembatan favoritenya.
Ngapain lelaki menyebalkan ini ada di rumahku? Apa dia laki-laki yang ingin melamarku? Apa dunia ini begitu sempit, sehingga aku harus bertemu dia sampai dua kali dalam sehari? Airin bermonolog dalam hatinya.
“Panggil saja saya, Bima, Cantik!” slorohnya dengan tersenyum smirk.