Chapter 14. Seatbelt Macet.

1227 Words

Di dalam perjalanan menuju kampus beberapa menit berlalu, Airin hanya terdiam. Begitu juga dengan Albima yang hanya focus menyetir dan nampak senyum-senyum sendiri, membuat Airin mengernyitkan dahinya bingung. “Huh… Dosen sinting! Senyum-senyum sendiri, nggak jelas banget nih orang,” gumam Airin dalam hatinya. Airin yang bosan, perjalanan dari rumah ke kampus yang biasanya hanya memakan waktu tiga puluh menit jika menaiki motornya, seakan sangat lama saat menaiki mobil. Karena Airin sangat penasaran dengan chat semalam, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya soal kesepakatan semalam. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang ingin dosen Bima sampaikan. “Eem… Pak Bima,” panggil Airin ragu. “Heem…” Albima menoleh sekilas, lalu kembali focus ke arah jalan. “Saya udah bilang jangan pan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD