Di ruang dosen. Albima menatap getir, lembaran kertas yang berisi tentang kesepakatan yang ingin ia berikan tadi pagi kepada Airin, calon istrinya. Namun, tiba-tiba saja pikirannya berubah dalam sekejap, untuk membatalkan niatnya tersebut. Entah kenapa, isi kepalanya kini dipenuhi dengan nama dan sosok Airin. Ciuman pertama yang ia sematkan di kening Airin, membuat bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum. “Aish… meresahkan saja tuh Anak,” gumam Albima di sela senyumannya, seraya geleng-geleng kepala tidak habis pikir. “Siapa yang meresahkan, Dosen Albima Hartawan?” tanya dosen Marchella sambil memindai wajah tampan Albima. Ia tidak sengaja mendengar gumaman Albima, ketika melewati meja kerjanya. Albima pun sontak menoleh kepada dosen Marchella dengan tersenyum kikuk. Ia pun mencari a

