“Sudah!” bisik lirih Albima, ketika berhasil melepas sabuk pengaman yang melingkari tubuh Airin. Sontak, Airin pun membuka matanya dengan wajah tersipu malu. Apa yang ada di pikirannya, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Pasalnya, Airin berpikir kalau-kalau dosen Bima akan mencium keningnya lagi. Namun, itu tidak terjadi sama sekali. “Kenapa? Ngarep dicium, ya?” tanya Albima seraya terkekeh geli, lalu menyentil dahinya pelan. “Awwh…” Airin meringis lirih, sambil mengusap dahinya yang disentil. Albima mengabaikan ringisan Airin, lalu ke luar dari dalam mobilnya. Airin melototi Albima, seraya mengerucutkan bibirnya. “Ish… nyebelin!” rutuk Airin kesal. “Ayo!” ajak Albima, membukakan pintu mobilnya untuk Airin. Namun, Airin bergeming masih mengerucutkan bibirnya. Ia berpura-pura a

