Chapter 28. Ke Cafe.

1162 Words

Di Café dekat kampus. Airin sedang menunggu Albima, di sebuah café yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Hampir lima belas menit berjalan, Airin pun memesan minuman terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, sosok Albima pun muncul di hadapannya dengan senyuman yang menawan. Namun, di mata Airin tetap saja senyuman itu terlihat begitu memuakkan. Senyuman yang mengandung sejuta tanya. Senyuman kematian, dari sang Malaikat Pencabut Nyawa. “Siang, Sayang! Maaf, agak terlambat datang. Tadi jalanan, sedikit macet,” sapa Albima sambil menarik bangku yang berhadapan menatap Airin. “Bisa gak, Pak. Kalau nggak usah panggil-panggil saya dengan kata, Sayang? Saya risih, dengernya. Emang, saya pacar Bapak, huh?” protes Airin ketus. “Kamu juga, bisa nggak, kalau nggak usah panggil-panggil saya, B

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD