Airin menarik diri dari ruang kantin, setengah berlari dari kerumunan anak mahasiswa yang riuh menyorakinya. Ada rasa bersalah menghinggapi hatinya, atas sikapnya yang sudah keterlaluan tadi. Namun, ia seolah tidak perduli dengan cibiran pedas teman-temannya. Albima pun bangkit dari tempat duduknya, sambil meninggalkan selembar uang senilai seratus ribu Rupiah di atas meja. “Mbak, ini billnya!” “Ya, Pak Dosen!” sahut mbaknya sambil menghampiri. Albima pun segera pergi menyusul langkah kaki Airin yang setengah berlari tersebut, dengan ikut berlari. Sedangkan Rico, hanya menggeleng dan tertawa kecil dengan tingkah sahabat baiknya. Ia sudah hapal dengan tabiat Airin yang terkadang tidak mau dipaksa, suka marah-marah nggak jelas, mood yang berubah-ubah, dan masih banyak tabiat jeleknya ya

