Airin pun melotot, ketika mendengar suara Albima yang berbisik lirih di belakangnya. Refleks, Airin pun menghempaskan lengan Clarisa dari cekalan tangannya dengan keras. “Awwh… sakit!” ringis Clarisa, sambil mengusap lengannya yang memerah, akibat ditekan terlalu kuat oleh Airin. “Ck! Lebay,” cicit Airin bersungut-sungut, sambil tersenyum sinis. “Huuuuh….!” sorak riuh mahasiswa yang melihat mereka pun mulai membubarkan diri. “Ikut saya!” titah Albima, sambil berjalan lebih dulu. Airin pun hanya mengekor langkah Albima dengan terpaksa. Clarisa, nampak mengepalkan jemari tangannya geram. Namun, ia pun penasaran, kenapa Airin terlihat dekat dengan dosen Albima, akhir-akhir ini? Apakah Airin memang sudah mengenal dosen Albima, sebelumnya? Atau, memang Dosen Albima menyukai Airin? Ah, sep

