27. Hendro aneh

1268 Words
Di pagi hari Cyn sudah berjalan menuju meja makan, terdapat sang Mami sedang sarapan entah kenapa Papinya itu.  "Mami tadi beli bubur tuh di meja," ucap Mami melihat anak cantiknya menuruni tangga.  Cyn mengangguk lalu meminum air putih dan duduk di hadapan Maminya, "Papi kemana Mi?" Cyn mengedarkan pandangannya mencari Papi.  "Kedepan tadi, bantuin tetangga baru pindahan, gaenak," meletakkan sendoknya dan memandang lurus Cyn. "Bener kamu bisa ngatasin ini semua?" dengan wajah seriusnya.  Cyn tahu kalau Papinya sudah pasti akan cerita ke Maminya ini, pasangan romantis ini menjadikan keterbukaan sebagai kunci dalam sebuah hubungan.  "Papi bilanh kalau Cyn bisa ngatasinnya-"  "Haduh Papi kamu tuh selalu gitu deh, ga khawatir apa sama anaknya ini." Dengan raut yang frustasi. "Tapi Cyn malah tambah yakin Mi kalau Papi udah bilamh kayak gitu. Pas kemaren Papi bilang kalau Cyn bisa sendiri, itu tuh kaya mantra buat Cyn jadi Cynnya sendiri juga udah anggep enteng masalahnya."  "Betul Mami juga setuju, tapi yang namanya kamu udah ada di rahim Mami sembilan bulan, anak Mami satu-satunya ya tetap aja khawatir."  "Mami tenang oke. Nanti kalau Cyn butuh Cyn bakal bilang kok," ucap Cyn mencoba menenangkan Maminya.  "Janji loh ya, kalau sedih cerita coba sama Mami, dulu kamu gitukan. pulang-pulang teriak Mami terus nangis kenceng," meledek sang anak.  Cyn menutup kedua kupingnya dan memejamkan mata mengingat masa awal remaja suka meledak dan berakhir mengadu ke kepada kedua orang tuanya, ya namanya juga proses dewasa ya bund.  "Mi stop ya, kan udah gede sekarang," bibirnya sudah maju menandakan sedang ngambek ya kawan.  "Hahaha... iya kan juga udah punya anak, tapi mami kangen kamu yang manja," Mami dengan senyuman sendunya, "saking udah dewasanya anak Mami, masalah apapun bisa ngatasinnya sendiri ya Nak," sedikit memerah mata Mami mengingat segala hal yang sudah di lalui anaknya ini.  "Mami kok jadi sedih gini, Cyn males ah. Gasuka." Membuang wajahnya ke samping agar tidak ikut melow melihat raut sedih Maminya.  "Iya maaf deh, Mami cuma ngingat kamu dulu, lucu-lucu gitu, mana dulu banyak banget yang deketin sampe Papi kamu pusinh sendiri." Mami mengusap matanya yang memerah itu.  "Iyakan aku cantik, banget," gurai Cyn mencairkan suasana.  "Hahaha iya cantik banget, siapa dulu Maminya." Tunjuk Mami ke dirinya sendiri dengan wajah jumawanya.  "Haha..."  "Siapa dulu Papinya," ucap seseorang bergabung dengan mereka di meja makan.  "Huuu... " sorak ibu dan anak kompak.  Papi menaikkan kedua alisnya, "loh! Bener dong."  "Sabian belum bangun Cyn?" seraya membuka plastik buburnya yang akan dimakan.  Cyn menatap ayahnya lalu menggeleng, mulutnya sedang penuh dengan sereal. "Kamu kayak bocah deh, jangan penuh-penuh itu mulut," ucap Mami gemas.  "Kamu ngapain tadi Pi ke tetangga," lanjut Mami. "Itu yang rumah Pak kasdi udah ditempatin sama orang baru, pindahan dari depok. Bantu-bantu dikit gapapa," saut Papi.  "Kafe kamu gimana Cyn?" tanya Mami.  "Normal-normal aja syukur, masih bisa di kontrol dari rumah. Xena jugakan mau lahiran." Yang di respon anggukan oleh Maminya.  "Cyn mau ke atas dulu ah, mau meluk Sabian," canda Cyn.  "Inget ya Cyn, kamu cantik, kamu kuat, kamu hebat. Anak Papi paling the best." Papi menaikkan jempolnya ke arah Cyn.  "Aku paling the best!" sahut Cyn semangat. Cyn tahu Papinya menyemangatinya dan memantau setiap pergerakannya terlihat doang cuek, padahal aslinya ngawas sana-sini. Siang hari tidak begitu terang ataupun mendung, Cyn sudah bersama dengan Gio dalam perjalanan menuju tempat pertemuannya dengan Hendro.  "Nanti aku tunggu mobil aja," ucap Gio sambil fokus menyetir.  "Ya jangan lah, situ supirku memangnya?" sedikit sewot.  "Ngga, maksudnya biar kalian enak ngobrolnya."  "Gaklah sama aja, kalau ga nanti beda meja aja. Kamu tetep masuk jangan di mobil," perintah Cyn.  Kalau seperti itu kesannya Cyn ini seperti memanfaatkan Gio, padahal tidak seperti itu kenyataannya.  Sabian seperti biasa, di rumah dengan Ibu Bita, his bestfriend. Kali ini ia tidak terlalu khawatir menghadapi Hendro.  "Gimana bengkel?" tanya Cyn menoleh ke arah Gio, pria itu memakai kaos polo lengan panjang dan celana jeans dengan sandal kulitnya, terlihat santai dan penuh kharisma.  "Ya kayak biasa aja sih." Mengangkat kedua bahunya.  "Proyek yang di subang gimana? lancarkan?" Cyn mengingat Gio pernah bercerita tentang proyeknya yang di subang bersama dengan Ridho dan kawan-kawannya.  "Lancar cuma disana lagi sering hujan, jadi makan waktu yang lama pasti." Menoleh sekilas ke arah wanita cantik itu.  Cyn mengangguk dan jarinya memutar lagu agar tidak terlalu hening di antara mereka.  "Kamu udah ga khawatir kayak yang udah-udah ya?" tanya Gio hati-hati.  Cyn mengerti apa yang dimaksud lelaki ini, dirinya terkadang seperti terkena panic attack kalau berhadapan dengan Hendro, suka memilin tangannya terlalu keras hingga Gio menyadari itu.  "Iya lebih santai, kata Papi aku bisa ngadapi Hendro sendiri. Semacam suggest gitu, tapi Papi dari dulu kalau ngomong kayak gitu ke aku pasti aku emang beneran bisa."  "Papi berarti tau kemampuan kamu sampai mana ya?"  "Iya semacam kayak gitu, jadi akunya lebih pede aja."  Cyn mengamati Gio, lelaki ini memang memiliki postur yang memukau, saat pandangan pertama saja Cyn sudah lihat bagaimana wow proporsi tubuhnya. Namun jika di lihat lebih dekat lagi, Gio ini memiliki pundak yang lebar dan tubuh bidang yang kokoh. Seperti idaman para perempuan ABG di khayalan fiksi.  Mereka tiba di kafe, Cyn sudah bisa melihat mobil Hendro terparkir di sana.  "Kenapa?" tanya Gio. "Gapapa, yuk masuk," ajak Cyn sambil membuka pintu mobilnya.  Hendro di sana menaikkan alisnya melihat Cyn datang bersama Gio, lalu pria itu membuang mukanya mendengus.  "Aku di sana aja ya, kamu kalau butuh apa-apa bisa bilang," ucap Gio menunjuk dirinya untuk duduk di pojok kafe.  "Sebentar ya Mas, aku ke sana dulu," ucap Cyn menatap Gio yang di respon anggukan oleh lelaki itu.  "Kesini sama Gio?" biarkanlah dirinya terlihat bodoh, sudah jelas-jelas mata mereka sudah bertatapan.  "Iya, sekalian," ucap Cyn santai seraya duduk di hadapan mantan suaminya itu.  "Sekalian?" tanya Hendro heran.  "Ada," oke cukup Hendro terlalu kepo dengan dirinya.  Hendro yang mengerti ucapan itu artinya ia tidak boleh bertanya lebih jauh, tetapi kenapa dirinya merasa kesal? entah karna tidak boleh tahu atau karna Cyn dengan Gio.  "Oke langsung aja, aku cuma mau hak asuh Sabian sepenuhnya di aku," ucap Hendro melihat manik. cantik Cyn, sekarang mantan istrinya itu menggunakan blouse dan celana bahan serta sepatu hak dari merk kesayangannya, louboutin.  "Kenapa begitu? Saya ga nelantarin Sabian sama sekali, anakku, ku beri makan yang baik, pendidikan non formal masih berlangsung, mainannya saya belikan, dan suasana pertumbuhan mendukung." Menatap berani manik Hendro, "jadi apa yang salah?"  Hendro sedikit kaget dengan tutur bicara Cyn dan keberanian wanita itu, cukup lama dengan Cyn dirinya tahu ada yang berubah. "Aku bisa mensekolahkan Sabian sampai kuliah dan mengasih dia lebih dari kamu."  "Apa itu semua perlu di masa pertumbuhannya atau kalau kamu belum puas, kita ke pengadilan saja?"  Cyn merasa pede kali ini. Selain karna anak di bawah dua belas tahun jatuh ke tangan sang ibu, secara keseluruhan juga Cyn tidak mengabaikan peran dan tanggung jawabnya. “Kenapa kamu gamau kasih hak asuh Sabian tanpa melalu jalur hukum?”  “Saya sudah setuju dengan semua permintaan Mas yang mau membagi waktu Sabian, kenapa tiba-tiba minta hak asuh?” Cyn memang sedang menahan dirinya agar tetap waras.  “Aku ayahnya.”  Ini pembicaraan bodoh macam apasih, Hendro sosok yang terkenal pintar dalam membaca situasi dan mematahkan lawan bicara, tetapi kenapa sekarang lelaki itu seperti tidak ada otak? ucap Cyn dalam hati.  “Kamu ayahnya tetapi hanya status, tidak ada peran dirimu dalam hidupnya.” Cyn menyisir rambutnya kebelakang, dirinya capek menghadapi manusia aneh ini, iya aneh.  Hendor terlihat tercenung mendengar Cyn mengatakan kalimat seperti itu, ia mengakui dirinya lalai.  “Sebenernya mau apa sih Mas? Seakan-akan menjadikan Sabian sebagai bahan untuk kit bertengkah, padahal saya sudah mengizinkan Mas untuk membawa anak itu menginap.”  Dia menyadarinya? sahut Hendro dalam hati. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD