Cyn sampai sekarang belum membalas pesan Hendro yang menginginkan hak asuh darinya. Tadi saja dia bangun dalam keadaan kaget karna mimpi Hendro tiba-tiba merebut Sabian darinya.
Ia ingin bercerita kepada Xena dan meminta soluso tetapi wanita itu sedang dalam hamil tuanya, ia gamau nanti Xena bicara yang macem-macem.
"Abang nanti kalau disuruh pilih mau tinggal sama Mama atau sama Papa, Abang jawab apa?" tanya Cyn yang sedang menemani Sabian memasang hot wheels track-nya di kamar. Hari ini cuaca sangat panas bahkan keluar kamar saja rasanya malas, hanya ingin bersantai dengan AC yang terus menyala.
Sabian melihat ibunya lalu melanjutkan mamasang mainan itu. "Abang. Kamu ga dengerin Mama ya?"Cyn dengan wajah merajuknya.
"Aku akan milih sama Mama," jawab Sabian tanpa melihat mata Cyn yang berkaca-kaca.
"Kenapa?"
"Kalau Papa kan laki-laki, kalau Mama perempuan, aku yang akan lindungi Mama." Sabian dengan tingkah cueknya tetapi bisa membuat wanita ini meleleh dibuatnya.
"Sabian, bisa liat Mama ga?" pinta Cyn agar Sabian menghentikan mainannya sebentar.
walaupun dengan wajah yang sedikit kesal Sabian akhirnya menuruti perintah Mamanya.
"Sabian bakal sama Mama terus kan ya?" Dengan senyuman lembut sambil mengelus kepala anaknya itu.
"Iya Mama, sampai Sabian sangat besar nanti akan terus sama Mama." Entah mengerti dari mana anak seusianya itu. Seharusnya ia sedang bermain dengan anak sebayanya tanpa memikirkan masalah keluarganya.
Untuk menjadi support system-nya, Cyn hanya butuh Sabian untuk saat ini.
Hendro
ayo kita ketemu
bicara tentang abang
Cyn pikir memang seharusnya ia bertemu langsung untuk membicarakan ini. Namun masalahnya ia takut meledak kalau bertemu Hendro sekarang, stok kesabarannya menitipis.
Tetapi sebelum itu ia harus berbicara kepada kedua orangtuanya dahulu, ia bertekad akan membicarakannya, awalnya ia yakin bisa mengurusnya sendiri tetapi semakin lama ia juga tidak bisa selalu berusaha terlihat kuat.
Cyn pamit kepada Sabian untuk kebawah, melihat Papinya sedang memberi makan iguana kesayangannya itu. "Pi, boleh Cyn ngomong sebentar?"
Papinya tahu kalau pembicaraan ini sensitif karna jarang sekali anaknya meminta permisi untuk bicara. "Ke ruang kerja Papinya aja Cyn. Papi cuci tangan dulu."
Cyn langsung melenggang pergi ke ruang kerja Papinya. Cyn melihat terdapat foto Mami di meja kerja Papinya itu, bukan hanya satu tetapi tiga dan ada juga fotonya dengan Sabian. Dasar bucin, Cyn mengatai Papinya dalam hati, namun ia selalu bersyukur kedua tetap rukun sampai sekarang, doa yang selalu ia panjatkan untuk dirinya sendiri, namun doa itu tidak terkabul sekarang.
"Kenapa Cyn? Tumben kamu," seraya duduk di sebrang sofa Cyn.
"Mas Hendro ingin hak asuh Sabian Pi." Cyn berbicara dengan hati-hati, takut Papinya marah mendengarnya.
Papi menaikkan alisnya, "dia lagi bercanda?" tanya Papi santai.
sekarang Cyn yang bingung, "maksud Papi?"
"Coba saja kamu lawan dia jika mau hak asuh Sabian. Kamu seriusin, percaya sama Papi," jawab Papi santai.
"Haduh Papi jangan muter-muter dong."
"Ikutin kata Papi, kamu seriusin, lawan pake cara kamu sendiri. Papi yakin nanti kamu akan ngerti sendirinya."
Cyn merasa aneh, apa akan semudah itu semuanya? Atau pikirannya sendiri yang terlalu ruwet? Beginilah cara Papi mengajarkan Cyn sedari kecil, ikutin apa kata Papi lalu mencarinya sendiri. Namun ketika ia selalu merasa puas ketika mengalaminya dan mencarinya sendiri daripada hanya dikasih teori. Sedikit menantang banyak belajarnya.
"Oke. Cyn ikutin kata Papi, tapi nanti Papi mau bantu aku kan?" Dengan wajah sendunya menatap Papinya.
"Kamu kayak Cyn umur lima tahun sayang, kamu anak Papi satu-satunya, Papi ga akan biarin kamu terluka terlalu dalam tapi papi hanya mau belajar sedikit. Bukan berarti Papi akan biarin kamu sendiri sayang."
Cyn menglengkungkan bibirnya kebawah karna memang ia benar-benar terharu. "Huuuuu."
"Hahaha... udah ah Papi mau lanjut kasi makan anak Papi yang satu lagi."
Cyn melototkan matanya, "Bener-bener deh," ucap Cyn pasrah.
Papi bangkit mendekati Cyn lalu mengusap pipi dan kepalanya, "anak Papi yang paling cantik nih." lalu mencium kepala Cyn dan melenggang pergi. "Tapi masih cantikkan iguananya Papi," lanjutnya.
"Papi!"
"Hahahaha..."
masa gue disamain sama iguana, Cyn menolak disamakan. Namun tidak menutupi kalau dirinya menghangat setelah berbicara kepada Papinya.
Sesuai buku yang Cyn baca you’ll attract what you think. Cyn menaiki tangga denga perasaan yang lebih ringan.
“Semua jalanku di permudah, setiap langkahku di permudah, rejekiku di lapangkan, aku cantik, aku pintar, aku baik, segalanya yang aku mau mudah untuk aku dapatkan.” Cyn tersenyum secara otomatis setelah mengucap mantranya itu.
Namun ia tetap harus menghadapi Hendro, ia akan ikut kata Papinya itu. Pasti ia bisa menjalaninya.
Melihat Sabian masih asik dengan mainannya di atas karpet Cyn langsung menyerang Sabian dengan Kecupan gemas setiap sisi wajahnya, “ih anak siapa sih ini gemes banget.”
“Mama stop...” “Mama ih...” Sabian sungguh kesal kegiatannya di ganggu oleh Mamanya.
“Mama cuma mau cium, kok gaboleh?” ucap Cyn dengan nada merajuknya.
“Mama ganggu, aku kesel.” Tanpa melihat Cyn dan melanjutkan mainnya.
Cyn dengan percaya diri mengambil ponselnya dan mengajak Hendro bertemu langsung.
Hendro
lusa mari ketemu
Cynnie
kamu yakin? mau hak asuh Abang?
Hendro
yakin.
kenapa?
Cynnie
mari kita bicarakan nanti
Hendro
kamu serius dekat sama Gio?
Cyn menaikkan alisnya, “kita bukan siapa-siapa lagi, ga sopan nanya ranah pribada ya tuan,” ucap Cyn sendiri tanpa memerdulikan tatapan Sabian aneh kepadanya.
“Abang nanti kalau udah mau makan kasih tau mama ya,” ucap Cyn yang dibalas hanya anggukan oleh Sabian. Dasar cuek kamu Nak, Cyn dalam hati.
Cyn berjalan mengambil buku yang ia beli, ia membeli hanya dua, itu perintah Gio karna takut tidak terbaca olehnya. Katanya, nanti kalau sudah baca semua baru lelaki itu akan mengantarnya kembali untuk membelinya.
Cyn menyalakan lilin aroma terapi, ia sangat suka wangi-wangian. Cyn sendiri adalah pengoleksi parfum, wangi bisa menaikkan mood secara drastis menurutnya. Namun untuk ruangan ia suka sekali wangi caramel dan kopi.
Asik membaca di sofa pijat dengan keadaan santai dan wangi yang membuat dirinya senang. Cyn menyadari bahwa yang ia pusingkan sebenarnya hanya sedikit tetapi pikirannyalah yang membuat semuanya seakan-akan begitu besar, itu yanh Cyn tangkap dari buku ini. Semua masalah yang seakan begitu berat adalah opini di kepala mu saja, faktanya cuma hanya ada sedikit.
Cyn menutup bukunya yang baru ia baca seperempat bagian, menutup matanya lalu memikirkan semua masalah yang terjadi. Semua hanya opini gue, masalah gue ga sebesar itu, tolong ya kepala gue gausah lebay, Cyn menasehati dirinya sendiri.
Cyn membuka matanya mendengar telponnya berdering.
Cyn mengambil ponselnya dan melihat Gio menelponnya langsung saja Cyn angkat, tidak mau lelaki itu menunggu lama, tidak tahu juga kenapa dengan dirinya.
“Halo Mas,” ucap Cyn terlebih dahulu.
“Hai, udah baca bukunya?” tanya Gio.
“Baru seperempat Mas, baru sempet soalnya.” Cyn mendudukkan dirinya di sisi ranjang melihat Sabian sedang bermain puzzle sambil menikmati bolu yang dibikin Ibu Bita.
“Ya ndak papa, asal di baca aja.”
“Iya Mas, ada apa nih sore-sore nelpon?”
“Gapapa, cuma kepikiran aja mau nelpon kamu.”
Enteng bener deh ngomongnya yang disinikan jadi kepedean nih, Cyn dalam hati.
“Loh kenapa gitu, saya jadi kepedan nanti,” Cyn mengigit bibir bawahnya gugup.
“Kamu ga kepedan kok tapi emang bener.”
Cyn tambah keras menggigit bibir bawahnya, “aws!” is terlalu kencang mengigit karna salah tingkah.
“Eh kamu kenapa?” Gio terdengar panik di sebrang.
“Gapapa, cuma kegigit aja bibirku.”
“Kok digigit bibirnya,” Gio bertanya dengan nada yang benar-benar bingung.
Ya karna situ saya jadi gigiy bibir, gasadar apa ya dia, grutu Cyn dalam hati.
“Mas, lusa aku mau ketemu Mas Hendro.” Entah kenapa Cyn seperti harus mengabari Gio tetapi jujur ia sendiri tidak tahu mengapa.
“Mas temenin.” Ini bukan pertanyaan tetapi pernyataan.
“Ga sibuk emang?”
“Ngga sama sekali, nanti sama Mas aja, Mas ga ikut campur kok cuma mau nemenin kamu takut kenapa-napa.”
Cyn bersyukur karna sekarang hanya by phone, dirinya tidak tahu kalau ketemu langsung semerah apa mukanya sekarang.
“Iya Mas,” ucap Cyn patuh.
Cyn mendengar seseorang memanggil Gio, sepertinya itu bawahan Gio. “Aku sedang di bengkel sekarang, matiin dulu ya Cyn mau liat mobil sebentar.”
Gio seperti tahu apa yang di dalam pikiran Cyn tanpa ditanya terlebih dahulu, Cyn rasa lelaki itu sedang sibuk namun masih sempat ingin berbicara dengannya, gapapa pede dulu yang penting seneng.
“Iya Mas lanjutin aja, Cyn matii ya. Semangat kerjanya.”
“Iya makasih.” Cyn tidak tahu saja di sebrang sana lelaki yang ia beri semangat sedang menahan senyumnya karna sedang berhadapan dengan karyawannya.