"Aku tau daritadi pas ada Hendro, kamu sudah bisa ngontrol diri, biar ga kepancing apalagi ada Sabian. Kamu hebat banget." Gio mengelus punggung Cyn yang bergetar karna wanita itu menangis, Gio mengeratkan pelukannya.
"Aku capek," dengan suara pelan Cyn meremas kaos Gio.
"Gapapa capek, tapi jangan nyerah ya Cyn."
Mereka berdua masih berpelukan di parkiran dan tidak ada niatan untuk menyelesaikannya. Sabian anak itu belum bangun di temani dengan mobil menyala dan musik bersuara kecil.
"Aku masih punya Sabian yang harus aku bahagiakan." Mengadahkan kepalanya menatap Gio.
"Tentu, salah satu alasan kamu bertahan. Yang satunya lagi, kamu, kamu harus bahagia." Gio mengusap leher Cyn dan mengusap air mata wanita itu.
"Iya, aku juga harus bahagia." Menatap Gio dengan mata merahnya dan senyuman teduh.
"Pinter." Gio menaikkan alisnya menggoda melihat Cyn malu-malu membalas tatapannya sekarang. Wanita itu kembali memeluk Gio menelusupkan wajahnya ke leher Gio yang di balas kecupan pada kepala Cyn.
Mereka berdua menyadari perasaan nyaman masing-masing. Entah sampai kapan mereka denial dengan perasaan ini.
"Mau mampir kemana dulu gitu? Biar sekalian." Gio mengalihkan wajahnya sebentar ke samping melihat Cyn dengan mata sembabnya dan hidung merahnya. Gemas.
Mereka berdua dalam perjalanan pulang melihat hari sudah gelap, Gio tidak mau memulangkan Cyn terlalu malam.
"Gaada." Cyn malu melihat Gio, pasti sekarang wajahnya sudah sangat berantakan. Ia melihat wajahnya di layar ponsel, mirip badut! Cyn dalam hati.
"Mau eskrim mcd ga?"
"Buat?" tanga Cyb bingung.
"Ya buat di makan dong." Gio setiap melihat wajah Cyn gemas rasanya.
"Bukan, maksud aku, kamu lagi pengen eskrim?"
"Ngga, buat kamu biar ga sedih." Menoleh ke arah Cyn dan menatapnya lembut, sekarang sedang lampu merah jadi Cyn tidak bisa mengalihkan wajah Gio agar tidak menatapnya.
"Aku udah ga sedih." Cyn mengigit bibir bawahnya gugup mengingat adegan di parkiran tadi. Ah rasanya malu banget, Cyn dalam hati.
"Kok tiba-tiba udah ga sedih?"
"Gatau." Mengangkat kedua bahunya menjawab Gio.
"Apa karna udah di peluk? Mau lagi ga biar makin seneng?" Gio meledek Cyn.
"Kamu stop ya." Cyn melotot ke arah Gio dengan wajah kepiting rebusnya.
Gio terkekeh melihatnya, pria itu kembali melajukan mobilnya ke arah perumahan Cyn. Gio sejenak berpikir tentang percakapan di restoran tadi, tentang Zikri. Siapa Zikri? Apa sudah dekat sekali dengan Sabian dan Cyn. Ia sendiri tidak tahu kenapa semenjak mendengar nama Zikri dari Ridho dirinya tidak nyaman seperti ini. Awal berteman dengan Cyn juga pure temen, namun lama kelamaan ia nyaman dengan Cyn dan Sabian. Dirinya tidak mungkin masuk ke dalam hidup Cyn terlalu jauh kalau tidak ada perasaan serius.
"Mas Gio!" Cyn menghentak Gio dari lamutan. Lalu menghentikan mobilnya ke sisi jalan.
Gio melotot melihat mobilnya hampir saja menyerempet pengguna lain. Gio melihat ke samping sambil menghembuskan napas lega, "maaf, aku gagal fokus." Lalu lelaki itu memastikan Sabian tidak terganggu.
"Kamu kenapa? Ngantuk?" tanya Cyn.
"Tiba-tiba mikirin sesuatu."
Cyn tidak mau mengganguk privasi lelaki itu, ia tidak akan bertanya lebih jauh tunggu lelaki itu yang bercerita sendiri.
"Mau aku aja yang bawa mobilnya?" tawar Cyn.
"Gausah, aku masih bisa," ucap Gio yakin. "Kamu gapapakan? Ada yang luka?" lanjut Gio.
"Ngga ada kok, aman." Cyn memberikan senyum yakin.
"Maaf ya, ga lagi aku janji." Gio menghembuskan napas menyesal. Pikirannya dipenuhi wanita ini.
"Iya Mas."
Bibirnya gatal sekali ingin bertanya apa yang mengganggu pikiran lelaki itu. Gio mulai menjalankan mobilnya kembali dengan hati-hati, ia sadar sekarang membawa dua nyawa yang ia lindungi. Ia Gio menyadari perasannya semenjak dirinya terganggu oleh nama Zikri.
"Mas, nanti kabarin kalau sudah sampai," ucap Cyn saat mereka sudah sampai di depan rumah Cyn, "cuma mastiin kamu ga bengong lagi kaya tadi," lanjut Cyn.
"Iya maaf ya, bikin panik tadi."
Sabian sudah naik duluan bersama Ibu Bita karna anak itu benar-benar lelah dan mengantuk bahkan ia lupa akan mainannya.
"Gapapa Mas, makasih juga loh udah mau di repotin gini," gurai Cyn.
"Ga repot samasekali, kan aku yang ngajak. Saya pamit ya," ucap Gio melihat keadaan luar makin sepi karna memang sudah malam, ia tidak mau tetangga berpikir aneh-aneh walaupun dirinya yakin warga komplek ini tidak memikirkan hal itu, terlihat dari perumahan ini yang tenang dan elit.
"Iya— Mas." Cyn menahan tangan Gio yang hendak memutar badan.
"Hm?" tanya Gio menaikan alisnya menunggu Cyn.
Tangan Cyn masih menahan Gio, "eum... hati-hati," lalu melepaskan tangannya.
Gio tersenyum ke arah Cyn, "Iya tenang aja." Gio berpikir Cyn memang masih panik karna kejadian tadi. "Kamu cantik banget." Lelaki itu mengusap kepala Cyn lalu berbalik arah menuju mobilnya.
Wajah Cyn memerah mendengarnya, hatinya menghangat sata Gio selalu memujinya. Dilihatnya mobil lelaki itu sudah pergi meninggalkannya.
"Kamu pergi sama siapa Cyn?" tanya Mami di meja makan. "Sudah makan?" lanjutnya.
"Sama temen Mi. Sudah kok." Seraya salim ke Maminya.
"Bener temen?" Entah ingin tahu atau memang mengejek Cyn.
Cyn menganggukkan kepalanya, "Bener."
"Kamu perasaan susah loh deket sama lawan jenis dari dulu," Mami meletakkan garpunya ke meja. "Bahkan Hendro aja deketin kamu lama banget kan?" Maminya memastikan.
"I-iya, tapi Cyn yakin cuma temen. Kan juga udah ada Sabian, bukan waktu buat main-main," meyakinkan Maminya.
"Mami cuma heran aja kok. Mami yakin kamu juga tau yang terbaik buat dirimu, jangan terlalu keras juga sama diri sendiri ya," nasehat Mami.
"Iya Mi. Cyn mau ke atas dulu ya bersih-bersih." Cyn keatas setelah melihat Maminya menggukan kepalanya.
Barang-barang Cyn dan Sabian sudah di rapihkan oleh Bu Bita sedari tadi bahkan Sabian sudah mengganti bajunya dan melanjutkan tidur.
Cyn sedang memakai skincare di depan cermin sesudah membersihkan tubuhnya memikirkan kejadian di restoran tadi, ia merasa Hendro bukan hanya meminta Sabian tetapi ada yang lain dan ia sendiri tidak tahu apa.
Hendro
kamu sedang sibuk?
Cyn mengerutkan alisnya, ada apa dengan dia? Apa kurang jelas perihal tadi? Cyn pensaran apa maksud lelaki itu.
Cynnie
ada apa?
Hendro
mas mau hak asuh Sabian
Cyn membaca itu dirinya sekarang marah, sangat marah. Kalaupun ia harus menghadapi langsung ke pengadilan dirinya akan maju. Apa-apaan dengan lelaki ini, tidak cukup selama ini dia selalu menganggu Cyn?
Cynnie
maksudnya apa?
Hendro
Hak penuh asuh Sabian
Cynnie
gausah gila kamu mas
seakan-akan kamu yang paling sakit disini
Hendro
Mas punya semua untuk menghidupi Sabian hingga dia dewasa
Cynnie
tentang uang? aku juga mampu mas
Cyn tahu uang Hendro melimpah bukan berarti lelaki itu bisa mengambil apapun dari Cyn, setelah menghamcurkan mentalnya, kini mau ambil kenahagian Cyn juga?
Cyn menutup wajahnya dengan kedua tangannya di depan kaca, ia belum membalas pesan Hendro yang baru masuk, membacanya saja sudah males.
Besok akan ia pikirkan, sekarang Cyn sudah mematikan ponselnya agar ia tidak terpancing dengan mantannya itu.
"Bingung banget kalau gini, rasanya mau ngadu tapi bingung ke siapa." Cyn menghelas napasnya lalu berjalan ke sisis ranjang Sabian, anaknya sangat polos saat tidur. Cyn mencium sayang kepala anaknya lalu ikut merebahkan dirinya di sampingnya.
"Ya Tuhan, hamba cuma mau lepas dari Hendro saat ini. Terima kasih atas segalanya. Tolong permudah setiap langkah hamba. Aamiin." Lalu Cyn menyingkirkan segala masalah yang ada di kepalanya menyusul Sabian tidur.