Pria beristri

1081 Words
Langit pagi hari ini begitu cerah setelah semalam diguyur hujan. Pria dengan setelan jas berwarna coklat lengkap dengan celana bahan berwarna senada, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalan aspal yang setengah basah sisa-sisa air hujan semalam. Ia melirik jam tangan merk Rolex yang melingkar di lengan kirinya. Waktu masih pukul 07.00 pagi sebenarnya hari ini tidak ada pekerjaan yang begitu mendesak hanya saja ia terlalu sesak jika terlalu lama didalam rumah. Apalagi jika teringat kejadian semalam. Flashback on. Setelah kepergian sang adik yang menghilang entah kemana. Arkan menundukkan kepalanya menatap makanan dihadapannya yang tinggal sedikit dengan tatapan kosong. Perkataan sang adik memang enar. Hanya saja jika ia melepas apa akan semudah itu. Ketika hidupnya sudah diatur oleh kedua orang tuanya. Si dia pasti juga tidak akan masalah, tapi bagaimana dengan pihak orang tua masing-masing. Ia sejak kecil selalu diajarkan untuk menghormati dan tidak membantah semua keputusan mereka. Jika dirinya mengambil keputusan itu apa yg akan terjadi. Bahunya merosot lelah ia beranjak meninggal meja makan tidak lagi selera. Taman belakang rumahnya menjadi tempat baginya menenangkan pikirannya. Duduk di atas gazebo kayu dengan perasaan hampa dan kosong. Lama dirinya duduk disana termenung, sampai tidak menyadari jika ada sosok paruh baya yang memperhatikannya dari bilik pembatas ruangan ini dengan bagian dalam rumah. “Arkan.” suara berat bariton yang terdengar jelas di gendang telinganya menyadarkannya Arkan dari lamunannya. Ia menoleh mendapati sang ayah berdiri menjulang dengan setelan jas nya yang masih lengkap. “Oh Papa. Ada apa?”. Tanyanya. Josh Alvaro Pramudya. Ayahnya adalah sosok pria pekerja keras yang sudah sukses menitih karir sejak usia remaja. “Ngapain kamu malam-malam disini?”. Tanya beliau saat sudah duduk disebelah putranya tersebut. “Tidak ada apa-apa Pa. Hanya sedang cari angin saja.” Balas Arkan. Josh terlihat manggut-manggut mengerti. “Dimana Sherin? Papa belum ada melihat dia lagi?” Josh bertanya dengan nada datarnya. Deg. Sial. Rutuk Arkan dalam hati. Pembicaraan yang hampir setiap hari mereka bahas tentang si dia wanita bernama Sherin Anatasha wanita cantik, dan bersosialita yang dijodohkan dengannya sekitar satu tahun yang lalu oleh kedua orang tua masing-masing. Perjodohan untuk memperkuat kerja sama kedua perusahaan pada saat itu. Arkan yang pada saat itu baru menyelsaikan study nya di Amerika harus mampu menelan pil pahit kenyataan bahwa kedua belah pihak telah sepakat mengikat hubungan mereka dengan sebuah perjodohan. Tanpa peduli pendapatnya yang saat itu hanya bisa mematung seperti orang bodoh. Lebih parahnya tidak butuh waktu lama bagi mereka menyiapkam semuanya sehingga dirinya dan Sherin menjadi sah di depan penghulu mengikat janji di depan keluarga besarnya. Ya. AKU ADALAH PRIA BERISTRI. “Aku tidak tahu Pa.” Sahutnya malas membayangkan tingkah wanita itu dari awal pernikahan mereka hingga sekarang membuatnya semakin muak. Josh, beliau terlihat menaikkan alis matanya memicing menatap putranya. Ia menghela napas berat, “Kamu tidak melarangnya. Seharusnya dia mengikuti ucapanmu sebagai kepala keluarga Arkan. Bukan sebaliknya. Kalian juga harus cepat-cepat memberikan papa seorang cucu untuk menjadi penerus keluarga Pramudya.” Paparnya panjang lebar namun nada itu tetap tegas terdengar bak perintah mutlak yang tidak bisa ia bantah, membuat Arkan menghela nafas kasar berulang kali. “Aku sudah berusaha Pa.” Hanya itu balasan Arkan untuk sang ayah. Joshh mendengus mencibir, “Yakin kamu. Sepertinya bukan kamu yang jadi kepala rumah tangga tapi Sherin.” Sarkas beliau membuat Arkan semakin lelab mendengarnya. Josh sudah bersiap beranjak dari gazebo tempat mereka duduk sebelum melangkah beliau mengucapkan kalimat pedas untuknya sekali membuat Arkan mengumpat. “Kamu jangan bikin papa malu karena sudah menjadi lelaki yang lembek, Arkan." Brengsek umpatnya sepanjang malam. FLashback off. Tin tin tin. Bunyi klakson dari belakang mobilnya yang terdengar saling bersahut-sahutan kencang membuatnya tersentak kaget dari lamunan. Menoleh terkejut ketika banyak pengendara yang memaki dirinya yang tidak menjalankan mobilnya disaat lampu merah sudah berubah hijau. Ia pun mengeluarkan kepala sedikit menunduk meminta maaf lalu segera melajukan mobil sportnya kembali. Arkan merutuki kebodohannya yang melamun dijalan. Tak ingin terjadi sesuatu dijalan ia memilih menepikan kendaraannya di pinggir jalan. Merebahkan kepalanya pada sandaran jok mobil, ia memejamkan mata seraya memijit pelan pangkal hidungnya. Arkan mendesah panjang, selang berapa menit saat merasa sudah lebih baikan ia membuka mata dan tepat di detik berikutnya kedua bola matanya membesar melihat sosok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. **** Hari ini karena tidak mengantar Raka ke sekolah ia memutuskan untuk pergi belanja kebutuhan rumah sebelum berangkat kerja. Tadi tepat pukul 06.30 putranya Raka sudah terbangun dan meneleponnya. Berceloteh panjang lebar karena sepanjang malam ia bermain dengan mainan baru yang diberikan Andre untuknya. Suara riang putranya menjadi penyemangat dirinya pagi ini, ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan ke pasar yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakannya. Clarissa memutuskan pergi kepasar dengan menaiki angkutan umum. Menikmati suasana pagi yang ramai kendaraan lalu lalang. Kini dirinya sedang duduk didalam angkot berwarna biru jurusan ke pasar raya tradisional yang berada dilingkungannya. Angkutan yang di tumpanginya kini hanya berisi sekitar enam orang saja tiga diantaranya adalah anak sekolahan dan sisanya ibu-ibu yang hendak kepasar sebab mereka tampak membawa keranjang anyaman berukaran sedang di tangannya. Setelah menghabiskan waktu dijalan sekitar 10 menit, dirinya sudah sampai di tempat tujuan. Berdiri ditrotoar untuk menyeberang ke seberang jalan menuju pasar. Clarissa kini mengenakan pakaian rumah celana jeans hitam panjang dan atasan berwarna biru dongker ia tidak membawa dompet karna uangnya ia letakkan di dalam saku celana. Mencegat aksi pencopetan yang sedang marak terjadi. Berjalan memasuki area pasar tradisional yang tidak terlalu besar namun semua kebutuhannya terpenuhi disini. Selain harganya yang murah ia juga sudah akrab dengan beberapa pedagang disini karna Raka yang selalu menemaninya. Biasanya Clarissa akan ke tempat ini dengan putra kesayangannya, tapi khusus hari ini Clarissa berangkat seorang diri. *** Arkan terkejut bukan main jantungnya berdetak cepat melihat sosok wanita berkulit putih, dengan celana jeans berwarna hitam dan atasan biru dongker tersebut yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sepertinya wanita itu baru turun dari angkot biru didepannya tadi. Arkam mengikuti arah tujuan wanita itu yang ternyata memasuki area sebuah pasar tradisonal di pinggiran kota. Saat wanita itu menghilang ia baru tersadar dengan kebodohannya yang tidak menyusul atau mengikuti wanita itu cepat. Bahkan saat ia melihat wanita itu berdiri ditrotoar jalan dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya, dirinya dibuat tidak berdaya untuk bergerak sedikitpun. Pikiran dan hatinya berperang cukup dahsyat saat ini. Jika menuruti egonya Arkan yakin dia akan menarik wanita itu kedalam dekapan rindu, tapi pikirannya yang berpikir jernih menekan semua ego dalam hatinya. Mengingat apa status dirinya saat ini. Arkan tersenyum miris dalam hati memejamkan matanya erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD