Tatapan sendu milik wanita dengan dress biru itu tampak begitu jelas menatap wajah pucat di atas brangkas yang saat ini sedang menatap balik hangat dirinya. Clarissa wanita itu menggenggam tangan pasien yang tak lain adalah ayah angkatnya. Toni Wijaya. Lelaki paruh baya yang sudah menolong, merawat, serta menjadi pengganti kedua orangtua selama hampir 5 tahun belakangan. Bahkan di saat dunia tengah menghina dan mencaci janin yang bahkan belum mengerti apa-apa saat itu beliau datang bagai peri dongeng yang di kagumi kaum anak-anak. Di lihatnya wajah yang biasa berseri setiap hari itu dalam. Papa sakit apa?. batinnya miris. "Sayang." Lamunan Clarissa buyar saat Toni memanggil lembut dirinya, lelaki yang tidak pernah meneriakinya sekali pun, lelaki yang selalu memberinya tempat hangat d

