Tanpa sadar air matanya keluar begitu saja. Dengan raga yang lemah, Diah berusaha sekuat mungkin berpindah dari lantai yang dinging untuk duduk di pinggiran ranjang. Sekujur tubuh Diah gemetar parah, Diah membekap mulutnya menahan tangis yang semakin mengencang. Pipi basah seperti sungai, tak henti-hentinya Diah hanya bisa terus saja menangis tanpa tahu harus apa yang diperbuat sekarang. Diah benci dalam keadaan seperti ini saat menyadari sahabat-sahabat baiknya pergi dengan keadaan yang tak pantas, pergi meninggalkannya. Diah tak ingin kehilangan mereka lagi. Diah tak ingin kehilangan Geya sahabat lamanya. Perlahan, Diah menoleh kearah kasur tempat Geya tidur. Diah mengamati area kasur Geya, tampak begitu berantakan berbeda dengan tempat tidurnya. Di bagian Geya sprei putih itu ter

