Diah menatap luruh keatas, tepatnya ke langit-langit kamar dengan tatapan kosong, tak tentu arah. Berkali-kali Diah hanya bisa menghembuskan napas dengan sesak saat kembali mengingat kenangan lama dengan Ben dan Geya. Diah masih merasa hancur, Diah masih belum bias menerima kenyataan meskipun keadaan memaksannya untuk sadar akan semua ini. Desahan berat lolos dari bibirnya, "Rav gue nggak bisa tidur." Diah bergumam pelan. Tak tahu apakah Aarv sudah tidur atau tidak, Diah tak sedikitpun menatap kearah tempat Aarav tidur. Diah sibuk dengan otaknya yang berkecamuk. Jam dinding sudah menunjuk pukul lewat dari jam dua belas tapi Diah tetap tidak bisa tidur, matanya seakan tak ingin tertutup. Meskipun terlelap nanti, Diah pasti tak merasa nyaman dengan tidurnya. Ada aja yang dipikirannya sehing

