Bab 2. Dipaksa Menikah

1310 Words
Belum sempat menjelaskan, Benjamin sudah melayangkan bogeman. Membuat tubuh Darius tersungkur ke lantai karena mendapat serangan tiba-tiba. Tinjuan Benjamin membabi buta, dia salah paham karena posisi Benjamin membelakangi, jadi saat membenarkan bantal jadi terlihat seperti mencium. Ditambah lagi, Darius sedang tidak memakai baju, Benjamin jadi semakin berpikir kotor. “Kenapa dari sekian banyaknya wanita kau malah meniduri anakku, hah?!” bentak Benjamin, dia tak terima jika anak semata wayangnya diperlakukan tak wajar. Tak peduli itu oleh sahabat atau siapa pun, Benjamin tidak akan pandang bulu menyangkut keluarganya. Darius mengaduh, memegangi wajahnya yang terasa sakit. Darah segar mengalir di sudut bibirnya, Darius tak melawan lantaran kepalanya terasa pening. “Apa yang kau bicarakan? Jangan konyol, aku dan anakmu tidak melakukan hal tak senonoh. Aku menolongnya karena dia pingsan tadi!” timpal Darius menjelaskan kalau dia hanya menolong Kalila, malah seperti ini jadinya. Namun, Benjamin tak percaya begitu saja. Apa yang ia saksikan tadi cukup jelas di depan mata. Logikanya, tidak mungkin dua orang dewasa berada di ruangan tertutup tak melakukan apa-apa. “Jika terjadi sesuatu dengan anakku, kau harus tanggung jawab. Kau harus menikahinya, Darius!” ketus Benjamin menegaskan. Dua bola mata Darius melebar, pria itu membelalak kala disuruh menikah dengan Kalila. “Ck, apa-apaan? Kenapa aku harus menikahi anakmu sementara aku tidak berbuat macam-macam padanya? Ah, ayolah, kau salah paham!” Namun, Benjamin enggan peduli. “Aku tidak peduli! Kau harus menikahi anakku, jangan banyak alasan dan banyak mengelak!” Darius berdecak kesal sambil mengaduh, wajahnya sangat sakit jika digerakan. “Jika kau tidak percaya, kau tanyakan saja pada anakmu!” Sia-sia menjelaskan pada Benjamin kalau Darius hanya menolong Kalila, dia menyuruh Benjamin untuk mendengarkan penjelasan dari anaknya saja agar percaya. Benjamin melangkah ke arah ranjang, duduk sambil mengguncang bahu Kalila yang masih menutup mata. “Kalila, bangun!” Berkali-kali dia berusaha membangunkan, tapi masih belum bisa bangun juga. “Cih, apa yang telah kau lakukan, Darius? Kau meracuni anakku atau memberikan dia obat tidur?” Benjamin menuduh. Dituduh begitu, jelas saja Darius kurang terima. “Kau menuduhku, kurang ajar sekali,” timpal Darius seraya membersihkan sudut bibirnya dengan tisu. “Kalila, bangun. Astaga anak ini. Bangun, Kalila. Ini Papa.” Benjamin menepuk pipi Kalila dengan menahan rasa kesal dan gemas menjadi satu. Merasa sebuah tepukan di pipi, Kalila yang berada di alam bawah pun mulai tersadar. Dia mengerjapkan matanya, sambil memegangi kepalanya yang berdenyut dan berat. Kala mata itu terbuka, Kalila kebingungan. Dia menatap ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Ruangan asing. Ada ayah serta temannya ayahnya. “Papa? Om Darius? Kenapa kalian ada di sini?” tanya Kalila, berupaya mengubah posisi menjadi duduk. “Nggak usah pura-pura nggak tahu kamu, berani sekali melakukan hal terlarang sebelum pernikahan. Papa nggak mau tahu, kalian harus menikah!” Benjamin menegaskan, menyuruh keduanya untuk menikah. Kalila dan Dariusan spontan menoleh pada Benjamin, keduanya tentu menolak keras. “Apa? Kok Lila ujug-ujug dinikahin sih, Pa? Apalagi sama Om Darius. Lila nggak mau, dia tua, Lila juga nggak cinta. Papa kenapa, sih? Kenapa Lila malah disuruh nikah?” gerutu Kalila tak santai, suaranya yang cempreng membuat sakit gendang pendengaran. Darius mendelik kesal. Jika tahu akan seperti ini, dari awal dia tinggalkan saja Kalila, menolong pun malah terjebak dalam sebuah kesalahpahaman. “Gila kamu. Masa aku dinikahkan dengan bocah? Apalagi itu anakmu, jangan gila, Benjamin. Aku tidak mau!” Darius menentang cepat. Kalila mengangguk, setuju dengan Darius yang sama-sama menolak. “Om Darius benar Papa, Papa jangan gila. Masa Lila dinikahin? Ini ada apa sebenarnya? Kenapa Lila ada di kamar orang? Ini kamar siapa?” Gemas dengan Kalila, Benjamin menyentil keningnya. “Kau di kamar Darius, Kalila. Katakan pada Papa, apa yang telah kalian perbuat di tempat ini tanpa sepengetahuanku?” Kalila menatap ayahnya bingung. “Hah? Maksud Papa apa? Jadi ini kamar Om Darius? Gimana bisa aku ada di kamarnya?” Dia bertanya-tanya, perasaan tadi dia berada di lorong, saat bangun sudah ada di kamar teman ayahnya. Kebingungan Kalila ini tak ayal menambah kekesalan Benjamin, dia semakin berasumsi jika Darius memang berbuat macam-macam pada putrinya ketika Kalila di alam bawah sadar. “Nikahkan anakku sekarang juga! Jika tidak, kau akan tahu akibatnya!” Benjamin mencengkeram kerah kemeja Darius kuat, menatapnya dengan pandangan tak bersahabat. Dua insan itu terus bersikeras menolak, berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Benjamin mengabaikan mereka. Alhasil, karena sebuah kesalahpahaman itulah membuat Kalila dan Darius dinikahkan paksa. Kalila menangis tersedu-sedu karena dipaksa menikah dengan teman ayahnya itu. Pria yang jauh lebih tua, bahkan hampir seumuran dengan ayahnya. “Papa salah paham, aku dan Om Darius nggak melakukan hal terlarang. Papa harus percaya sama aku!” ujar Kalila memeluk erat tubuh Benjamin, terus menangis tersedu-sedu, ingin lari saja dari paksaan pernikahan ini. "Om Darius, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa aku ada si sini?" Benjamin mendengkus kasar, membuang pandangan ke lain arah saking kecewanya dengan mereka. “Papa tidak percaya! Jadi begini kelakuan kamu di belakang orang tuamu? Bilang pada kami keluar karena ingin bertemu teman, tetapi malah asik ngamar dengan si Darius. Otakmu ditaruh di mana, hah?” Benjamin menyentak tangan Kalila kasar, emosinya masih belum bisa dikendalikan. Darius juga mencari berbagai cara agar bisa meyakinkan sahabatnya, kalau tidak ada hal apa pun antara dia dan Kalila. “Aku menolong anakmu karena pingsan, Benjamin. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa periksa rekaman CCTV di lorong apartemenku,” kata Darius, terus berusaha meyakinkan. Apes sekali nasibnya ini, niat hati ingin menolong malah disuruh menikah dengan wanita muda. Bukan cocok jadi istri, tetapi malah cocok jadi anak. “Jelas-jelas kau mencari kesempatan di saat Kalila sedang tak sadarkan diri. Aku tahu kau butuh belaian wanita, tapi tidak anakku juga!” Amila yang sedang mengantar sang suami pun menunggu suaminya masuk ke apartemen, mendengar ada keributan di dalam sana, Amila pun masuk. "Kenapa kayak orang lagi ribut?" Amila terkejut melihat kehadiran Kalila di sini. Menyimak Benjamin yang sedang marah. Amila hanya bisa menenangkan anaknya, sambil merangkul bahu Kalila yang berguncang. Belum mengerti apa motif sang suami dengan menikahkan mereka ini. “Sebenarnya ada apa sih, Benjamin? Kenapa tiba-tiba Kalila dinikahkan dengan Darius? Kau harus menjelaskannya padaku!” tutur Amila, sebagai ibunya, dia berhak tahu. Lantaran Benjamin belum menjelaskan, datang ke rumah langsung marah-marah. “Mama harus percaya sama aku. Aku dan Om Darius nggak ngapa-ngapain. Demi Tuhan, jelaskan pada Papa, Ma!” isak Kalila, hanya Amila yang bisa membantu agar terlepas dari hal sakral yang sudah mengikatnya beberapa jam lalu. “Tadi, ketika aku akan mengambil berkas yang tertinggal di apartemen Darius. Aku malah melihat Darius dan Kalila sedang berduaan di dalam kamar, aku melihat dengan jelas jika Darius sedang mencari kesempatan di saat Kalila tak sadar, padahal sudah jelas dia tidak memakai baju saat aku datang, tapi dia tidak mau mengakui perbuatannya. Itulah sebabnya aku langsung menyuruh mereka menikah, sebagai bentuk tanggung jawab, daripada terjadi sesuatu dengan anakku.” Benjamin menceritakan secara perlahan alasan kenapa dia melakukan semua ini. “Aku harus mengakui apa astaga? Sementara aku tidak melakukan hal buruk pada putrimu. Otakmu terlalu dangkal untuk memahami, jika sudah begini, aku yang harus menanggung kesalahan yang tidak aku perbuat!” tukas Darius kesal. “Kenapa kau tidak tanya putrimu, kenapa dia ada di apartemen, jangan hanya menyalahkanku. Tanya padanya,” lanjutnya. Kalila menelan saliva susah payah, dia tak mau menceritakan kalau dia mendatangi apartemen Dallas dan mengetahui kebusukan pria itu. Ditambah dirinya sedang hamil, jika orang tuanya tahu, maka dia akan diusir dan tak akan dianggap sebagai keluarga. "Cepat jawab! Jangan diam saja! Papa tanya dengan serius padamu, jangan takut. Apa pria sialan itu macam-macam padamu? Jika iya, Papa akan menyuruh pria itu untuk tanggung jawab dan menikahimu!" kata Benjamin dengan ketus dan tak sabaran. "Iya, Pah, aku setuju menikah sama Om Darius!" jawab Kalila. "Sial! Apa maksudmu!?" Sontak saja Darius sangat terkejut saat mendengar jawaban Kalila. Bukannya mendapatkan dukungan untuk menolak pernikahan itu, Kalila justru malah menyetujuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD