Bab 3. Hamil Duluan

1391 Words
Saat hendak akan melayangkan protesan, Benjamin mencekik leher Darius dengan sorot mata tajam. Jawaban yang Kalila katakan sudah cukup jelas, Benjamin tidak mau mendengarkan penjelasan apa pun lagi. "Sudah kuduga jika kamu memang b******n, Darius! Kau harus menikah dengan putriku sekarang juga. Jika kau menolak, aku akan memutus kontrak kerja sama denganmu dan melaporkanmu ke kepolisian atas kasus pelecehan!" seloroh Benjamin menekankan sahabatnya supaya tidak berani menolak. Pikiran Darius jadi buntu. Dia bingung harus melakukan apa. Di satu sisi Darius tidak mau menikahi sahabat putrinya, di sisi lain ancaman yang Benjamin berikan membuatnya telak. Darius tahu betul jika Benjamin tidak pernah main-main dengan perkataannya. "Diammu kami anggap setuju, Darius," ucap Amila karena Darius tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya terlihat merah, menahan api amarah pada Kalila yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. Detik itu juga, orang tua Kalila menghubungi salah satu penghulu kenalan mereka untuk datang ke apartemen. Keduanya akan melaksanakan akad di apartemen milik Darius. 'Wanita sialan, awas saja kau,' batin Darius menggeram kesal dalam hati. Tidak lama kemudian, penghulu pun datang dengan dijemput oleh Benjamin. Darius dan Kalila duduk bersebelahan, di atas meja, tangan Darius dan penghulu saling berjabat tangan. "Apa Anda sudah siap, Pak?" tanya penghulu, Darius terpaksa mengangguk. Mengikuti intruksi dari penghulu. "Saya terima nikah dan kawinnya Kalila Aileen Devara binti Bapak Benjamin Brawijaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana para saksi, sah?" "Sah!" Ketika kata 'sah' mulai terucap dari mulut para saksi, Darius dan Kalila sudah resmi menjadi pasangan suami istri. *** Setelah akad pernikahan yang diadakan secara privasi, Benjamin dan Amila pamit pergi. Menyuruh Kalila tetap di sini, karena mereka sudah dinikahkan. Kalila langsung masuk ke kamar untuk mencari tempat persembunyian. Tok! Tok! Tok! Darius mengetuk pintu dengan tak sabaran ketika Kalila malah menghindar di saat Darius membutuhkan penjelasan. Kekesalan Darius terus memuncak, dia sangat geram karena menolong Kalila adalah malapetaka besar. “Buka, Kalila!” teriak Darius begitu ketus, tangannya mengepal kuat, ingin sekali meminta penjelasan Kalila yang diam saja sejak tadi. Sementara di dalam kamar, Kalila menahan pintu sambil gemetaran dengan kemarahan Darius. “Aku bakalan buka dan ngasih penjelasan, asalkan Om Darius jangan marah, aku takut loh,” sahut Kalila di dalam sana. Mata Darius terpejam, ia memijat pangkal hidungnya. Berusaha untuk meredakan kemarahan walaupun sulit. “Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk tak marah, sementara menolongmu ternyata sebuah kesialan bagiku. Kenapa tidak kau jelaskan yang sejujurnya pada ayah dan ibumu tadi, hah?” seru Darius sambil memutar handle pintu, sayangnya dikunci di dalam. Kalila juga bukan bermaksud mempersulit Darius ketika ditanya oleh orang tuanya. Dia hanya ingin aman, agar mereka tidak mengetahui kebenaran kalau dirinya hamil duluan. Demi menyelamatkan dirinya, Darius malah menanggung konsekuensi yang tidak diperbuat. “Aku bakalan cerita, tapi jangan marah. Aku jadi takut kalau Om Darius marah kayak gini, serem!” “Ck, bocah!” Darius langsung mendobrak pintu dengan tenaganya yang besar, Kalila hampir tersungkur ketika pintu berhasil didobrak. “Jangan menguji kesabaranku!” Netra mata Darius merah, ada kilat amarah ketika melihat Kalila yang meringis. Memegangi tangannya, gadis itu meneguk saliva kala Darius mendekat. Darius melangkah lebar, menghampiri Kalila yang tak bisa ke mana-mana lantaran Darius sudah mencekal pergelangan tangannya. “Kenapa kau diam saja jika tidak mau dinikahkan? Harusnya kau menolak dan menjelaskan hal yang sebenarnya pada mereka. Jika kau tidak diam, mungkin kita tidak akan dinikahkan. Itu karena kebodohanmu, yang terus diam sejak tadi, apa kau bisu?” Kalila tertarik mendekat, cengkeraman di pergelangannya begitu kasar dan kuat. “Aku nggak bisa mikir tadi, makanya aku iyakan.” “Bodoh! Seharusnya kau cari cara lainlah. Punya otak itu dipakai!” hardik Darius, Kalila langsung diam ketika dibentak oleh pria yang lebih tua darinya. Kalila menunduk lesu, bibirnya gemetar menahan isakan. Melihat Kalila menangis, Darius mencoba menetralkan kemarahan sambil mengembuskan napas dalam. Cengkeraman di pergelangan mulai dikendurkan, Darius mengempas Kalila yang menutup wajahnya. “Percuma bicara dengan bocah sepertimu, bukan membuat masalah selesai, yang ada semakin menambah beban. Ck, menyusahkan!” Darius berkacak pinggang, membelakangi Kalila yang masih terpukul ketika dirinya tengah berbadan dua. Bukan sengaja melakukannya, tetapi karena dia dijebak oleh sang kekasih saat menghadiri acara pesta dan diberi obat tidur. Kalila tidak tahu jika Dallas akan setega itu padanya. Meski marah pada Kalila, Darius juga ada rasa tak tega. Dilihat dari wajahnya, Kalila seperti sedang banyak pikiran. Ego dia turunkan, mendekati Kalila yang menangis kencang. “Kau kenapa? Ada masalah?” tanyanya sambil menyingkirkan telapak tangan Kalila. Wajahnya sudah merah, dibasahi oleh air mata yang terus mengalir di pipinya. Sejenak keduanya bertatapan. “Maaf, maafkan aku. Aku nggak bermaksud untuk mempersulitmu atau apa pun itu, Om, aku ….” “Usiamu berapa, sih? Kenapa malah seperti Jennie jika menangis seperti ini?” Darius terheran-heran, membiarkan Kalila tenang sebentar. “Aku … aku akan cerita, tapi Om harus janji dulu gak bakalan cerita ke siapa-siapa. Cukup kita saja yang tahu. Janji?” tanya Kalila memastikan jika Darius tidak akan membocorkan rahasia besarnya. Tentang kenapa Kalila ada di apartemen dan ditemukan tak sadarkan diri. Agar cepat diberi penjelasan, Darius hanya bisa mengangguk saja. Menarik kerah baju Kalila untuk didudukkan di atas ranjang. Kalila masih menunduk dalam, dia merasa buruk menjadi seorang wanita, yang tak bisa menjaga kehormatan serta harga dirinya. “Ceritakan saja.” Dirasa sudah tenang, Kalila menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan segenap keberanian agar bisa bercerita. “Aku hamil, Om.” Bagai disambar petir di siang bolong, Darius sangat terkejut dengan pengakuan Kalila. Kendati demikian, wajahnya tetap datar, tak berekspresi apa-apa. “Hamil?” Kalila mengangguk lemah, dia memilin bajunya, malu dan sedih mengatakannya. “Bagaimana bisa? Siapa yang sudah menghamilimu?” “Pacarku. Aku dijebak, Om. Aku dikasih obat tidur saat menghadiri pesta, lalu … aku dilecehkan oleh kekasihku. Aku bingung harus menjelaskan apa tadi, aku takut jika papa dan mama marah padaku, bahkan takut mereka mengusirku,” tutur Kalila tidak lagi menutupi rahasia besarnya karena mereka suami istri, meski terpaksa dinikahkan karena sebuah kesalahpahaman. “Kenapa kamu tidak meminta pertanggungjawaban? Lelaki b******n, sudah melakukan tak mau tanggung jawab. Lain kali hati-hati dengan pria, apalagi masih sebagai pacar, jangan percaya sepenuhnya.” Wejangan Darius memang ada benarnya. Kalila terlalu percaya, sampai pada akhirnya dia juga menderita dan dirugikan. Dallas tak mau tanggung jawab, dia juga selingkuh, bahkan sudah menghamili selingkuhannya. Sangat keterlaluan. “Iya, Om. Salahku karena telat menyadari jika dia seburuk itu, aku bahkan baru sadar kalau aku hamil. Aku diperiksa ke dokter tadi, kata dokter aku hamil satu bulan ….” Kalila menjeda ucapan, belum sanggup melanjutkan karena ini terasa berat, dadanya sesak. Kemarahan yang semula memuncak, mulai ada rasa prihatin ketika hal buruk menimpa anak sahabatnya. Pasti sulit dan berat. “Terus?” “Aku ke apartemen untuk menemui kekasihku dan meminta pertanggungjawaban, tetapi dia tidak mau, bahkan dia berselingkuh dariku. Selingkuhannya sedang hamil besar, mereka akan menikah bulan depan. Ketika aku mau pulang, aku malah pusing dan pingsan. Aku tidak tahu jika Om Darius menolongku, Papa malah salah paham. Maafkan aku, maafkan aku.” Hanya kata maaf yang bisa Kalila sampaikan, harus membawa Darius ke dalam masalahnya, padahal dia tidak tahu apa-apa dan tak berbuat salah. Rumit sekali, Darius sampai sulit berkata-kata mendengarkan setiap rangkaian kata yang keluar dari mulut Kalila. Darius diam, dia juga merasa rugi karena harus dinikahkan paksa. Dengan bocah yang usianya belasan tahun lebih muda. “Harusnya dilaporkan saja ke polisi lelaki b******k seperti itu. Terus bagaimana? Aku tidak mau dengan pernikahan ini.” “Aku juga sama, aku gak mau sama om-om tua. Gimana, ya? Aku belum ada cara, aku mohon sama Om, jaga rahasia ini dari siapa pun, utamanya dari orang tuaku,” pinta Kalila, menatap Darius dengan serius. “Begini saja. Kita pikirkan jalan keluarnya nanti, saat ini mungkin harus bersama agar orang-orang tidak tahu jika kamu hamil anak orang lain. Supaya mereka mengira kamu hamil anakku, agar tak malu,” kata Darius memberikan keringanan pada Kalila, awalnya geram dan kesal, tapi setelah mendengarkan ceritanya iba juga. Seulas senyum terbit di bibir Kalila, dia merasa sangat beruntung jika Darius mau membantunya. Jika tak ada Darius, entah bagaimana jadinya. “Makasih banyak, Om, maaf udah merepotkan. Aku janji bakalan cari solusi agar bisa lepas dari pernikahan ini.” “Lagi-lagi aku harus tertimpa sial. Pertama dinikahkan, kedua harus menutupi kebohongan. Karena kita sudah menikah, bukankah aku berhak melakukan apa saja padamu? Termasuk butuh pelayanan ranjang? Apa kau siap melayaniku? Sebagai balas budimu padaku, hmm.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD