Bab 4. Pisah Kamar

1071 Words
Kalila menggelengkan kepalanya cepat, menolak keinginan Darius yang di luar nalar. Seulas senyum yang tadinya terbit, langsung redup seketika. “Aku nggak mau. Lagian pernikahan kita ini paksaan, kenapa harus begituan? Aku nggak mau pokoknya, jangan sentuh aku dan kita harus pisah kamar.” Kalila dengan tegas menolak. Darius pun berdecih pelan, rasanya tidak adil jika dia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa setelah membantu Kalila. Terlebih persoalan serius. Rugi sekali. Kendati demikian, Darius tak akan memaksa. “Cih, lalu aku tak dapat keuntungan apa pun setelah menolong serta menyelamatkanmu?” tanya Darius terkekeh sinis. Andai bukan anak sahabatnya, tidak akan dia tolong sampai sebegitunya. Kalila mengatupkan bibir. “Kalau nolong orang itu harus ikhlas, masa nagih balasan? Itu urusan Tuhan.” “Pandai sekali kau beralasan,” cibir Darius, raut wajahnya berubah datar. Pernikahan ini memang tidak diharapkan, tetapi Darius dan Kalila adalah dua orang dewasa meskipun umur Kalila lebih muda. Apalagi Darius seorang duda, yang sudah lama ditinggal mati oleh istrinya. Belum pernah dia satu atap dengan wanita dewasa mana pun, ini sulit baginya untuk menahan diri. “Om jangan macam-macam sama aku.” “Siapa juga yang mau macam-macam? Aku hanya bicara asal tadi, meskipun iya, kenapa?” Darius menyeringai penuh arti, dia berjalan maju mendekati Kalila yang langsung memundurkan tubuhnya. Mundur hingga tubuhnya mentok ke tembok, Kalila menoleh, mencari celah untuk menghindar. Akan tetapi, tidak ada celah sedikit pun. Sebelah tangan besar Darius menyentuh tembok, sambil terus menatapi Kalila yang gemetaran. “Jawab aku. Meskipun iya, kenapa? Apa yang akan kamu lakukan?” Kalila menahan d**a bidang Darius agar ada jarak karena posisi mereka hampir rapat. “Aku … aku nggak bakalan maafin Om sampai kapan pun kalau kurang ajar!” balas Kalila. Darius tertawa samar, tidak takut dengan ancaman apa pun. Terlebih lagi dengan gadis kecil seperti Kalila. “Begitu? Kurang ajar bagaimana? Kita sudah suami istri, bukan?” Dengan jahilnya Darius memperhatikan penampilan Kalila dari atas hingga bawah dengan seringai yang terus terpatri di ujung bibirnya. “Lumayan, meskipun tepos, tubuh gadis muda aku suka,” lanjutnya. “Om apaan, sih? Nggak lucu kalau bercanda gini. Anggap aja kita bukan suami istri, udah tua kok jelalatan!” Darius terbelalak ketika Kalila mengatakan dirinya jelalatan. Padahal selama ini dia cuek dan tidak tertarik dengan wanita lain, selain mendiang istrinya. “Lalu apa gunanya kamu jika semuanya tidak mau?” Darius pun mulai kesal, dia tak boleh hanya dapat rugi saja dengan apa yang terjadi padanya. “Aku bakalan belajar jadi istri yang baik, tapi nggak soal urusan ranjang. Kita nggak usah begituan, lagian kita nggak memiliki perasaan.” “Yakin?” Kalila mengangguk meyakinkan jika dia tidak butuh hal itu. Darius meragukan. “Oke, jika kau yang berubah pikiran. Siap-siap saja akan kutertawakan. Pergi sana, ini kamarku!” usir Darius sambil menjauhkan diri, Kalila bisa bernapas dengan lega. “Terus aku tidur di mana?” tanya Kalila, karena mereka pisah ranjang, Kalila tidak tahu harus tidur di mana. Ditambah belum tahu menahu setiap sudut rumah Darius. “Di kamar sebelah Jennie, sebentar lagi dia akan pulang sekolah, dan ya … jangan menyentuh barang peninggalan istriku. Paham kamu?” Lagi, Kalila mengangguk saja. Dia sudah lelah ingin rebahan diri. Sampai di kamar miliknya, Kalila mengempaskan tubuhnya di sana. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, lalu melirik ke semua penjuru ruangan asing yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tak terasa, bulir air mata pun menetes. Kalila mengusap perutnya yang masih datar, terdapat nyawa yang hidup di dalam sana. “Kenapa hidupku ngenes banget, Tuhan? Andai aja aku nggak kenal si b******k itu, mungkin nggak bakalan menanggung masalah dan beban seberat ini,” gumamnya pilu, menyesali meski penyesalan tidak dapat mengubah apa pun. Semua sudah terjadi, Kalila harus menerima anak di kandungannya ini, walaupun sulit. Sedangkan Darius, dia berdiri sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku, menatap foto mendiang istrinya yang masih ia pajang di dalam kamar sebagai penuntas kerinduan. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengkhiantimu, tetapi pernikahan ini bukanlah keinginanku. Semua terjadi karena terpaksa dan tiba-tiba, aku tidak mencintainya, cintaku hanyalah untukmu,” gumam Darius menatap sendu pada foto mendiang istrinya itu. Sudah lima tahun ditinggalkan, Darius masih sulit untuk melupakan. *** “Papa, Papa!” teriak seorang gadis kecil turun dari mobil, dia berlari kencang karena ingin bertemu dengan sang ayah. Mendengar teriakan dari arah luar, Darius yang sedang berada di samping rumah berbalik badan. Ia mengulas senyum tipis sambil merentangkan tangan, menyambut kepulangan putri semata wayangnya. “Jangan lari-lari, nanti jatuh,” tegur Darius, mengecupi pipi chubby Jennie. Jennie terkekeh, memeluk Darius erat. Namun, wajah cerianya tak berangsur lama, bocah itu terlihat sedih. “Kenapa, Sayang? Kok cemberut?” tanya Darius, membawa Jennie ke dalam rumah. Kebetulan ada Kalila sedang menuruni tangga. Jennie bingung melihat kehadiran Kalila di rumahnya. “Kata temanku, mereka bilang besok adalah hari ibu dan mau merayakannya di rumah sama ibu mereka. Aku mau kayak mereka, Papa. Kenapa aku nggak punya ibu? Mama aku ke mana?” tanyanya menohok, membuat Darius tercekat dengan pertanyaan anaknya. “Wah, ini anaknya Om Darius, ya? Widih, udah besar,” ujar Kalila bergabung bersama mereka, sambil membawa minuman. “Tante Lila? Kenapa Tante Lila ada di rumah kita?” tanya Jennie. Sekejap Kalila dan Darius saling bertatapan. “Oh, itu, ya? Anu … Tante disuruh papa Tante buat tinggal di sini sama kalian, karena di rumah nggak ada yang nemenin, papa sama mama Tante bakalan ke luar kota, jadinya Tante ditinggal,” alibi Kalila agar Jennie percaya, masih belum siap mengatakan kalau dia istri baru Darius sekaligus ibu tiri Jennie. Jennie mengangguk-angguk. “Asik, aku bakalan ada teman kalau Tante Lila ada di sini. Tante besok mau rayain hari ibu kayak teman-temenku nggak? Aku pengen, tapi nggak punya mama.” Jennie menunduk lesu, Kalila jadi iba. Darius hanya bisa menghela napas dalam, kelimpungan jika Jennie selalu membahas perihal ibu. “Jennie nggak sendirian, Tante juga nggak ngerayain, kok. Karena mamanya Tante 'kan nggak ada di rumah,” kata Kalila, tak gentar untuk mengembalikan keceriaan gadis kecil di depannya. “Rei, bawa Jennie ke kamar,” kata Darius pada Reisha---babysitter anaknya. Reisha mengangguk, menuntun Jennie untuk berganti pakaian dan istirahat. “Ayo, Non Jennie. Kita ke kamar dulu. Permisi, Tuan.” Darius pun berdehem, setelah keduanya pergi, hanya ada Kalila dan Darius di sini. Darius berdehem melihat Kalila tampil dengan baju terbuka. “Kamu ngapain pakai baju terbuka di hadapanku? Jika aku bernafsu, memang kamu mau membantuku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD