Bab 5. Khilaf yang Keterusan

1428 Words
Ditanya seperti itu, Kalila langsung melarikan diri tanpa menjawab pertanyaan dari Darius. Malam hari pun tiba. Darius tidak tidur lantaran selesai berolahraga, pria itu kembali mengaktifkan ponselnya. Ketika ponsel aktif, ada begitu banyak pesan dan telepon yang belum dirinya jawab, yang paling banyak yaitu dari Selena---kekasihnya. "Apa yang harus aku katakan pada dia jika aku sudah menikah?" Darius bimbang, Selena langsung melakukan panggilan. "Halo, Sayang. Kamu kenapa nggak aktif dari tadi? Aku nungguin kamu loh. Besok aku pulang, kamu jemput aku ya di bandara," kata Selena begitu manja di seberang sana. "Aku sibuk seharian ini, besok aku ada kerjaan. Kamu pulang sendiri saja, aku tidak bisa menjemputmu, Selena," balas Darius berlasan, ingin menghindar sementara. "Nggak bisa gitu, dong! Waktu kemarin kamu yang ngomong bakalan jemput aku, Sayang. Aku nggak mau tahu, kamu harus nepatin ucapanmu." "Minggu ini aku benar-benar sibuk, Selen---" "Kalau nggak mau jemput, aku bakalan bilang ke papi aku, Darius!" Dia mengancam. Darius menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan. "Bisa tidak sih, kamu jangan selalu mengadu pada orang tuamu?" "Makanya kamu jangan ingkar janji!" Pukul jam setengah satu malam, Kalila terbangun ketika merasakan tenggorokannya kering. Wanita muda tersebut beringsut turun dari ranjang, mengucek matanya yang terasa berat terbuka. Kakinya diturunkan ke lantai, melangkah dengan wajah ngantuknya menuju lantai bawah. Kalila mematung di ambang pintu, ketika melihat sosok pria berbadan kekar bertelanjang d**a tengah membelakangi. "Oke, oke. Aku akan menjemputmu ke bandara!" "Nah gitu dong dari tadi. Love you, Sayang." Setelah itu, Selena mematikannya Kalila tertegun, mendengar suara wanita yang sedang teleponan dengan Darius. Mereka tampak mesra. “Om Darius? Habis teleponan sama siapa?” Darius menoleh, lekas memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Bukan siapa-siapa, kamu tidak usah kepo." Kalila terpaku, menatap tubuh Darius yang tampak terpampang jelas otot-otot tubuhnya. Di usianya yang sudah tak muda, pria itu masih bisa merawat tubuhnya. Kalila mengerjapkan mata, berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air. “Kenapa bangun?” tanya Darius menyapa keheningan, penasaran kenapa Kalila bangun malam-malam. Kalila menoleh dengan gugup, membenarkan gaun tidurnya yang terbuka. 'Mampus, kalau tahu ada Om Darius di sini, aku nggak bakalan pakai pakaian seksi kayak gini,’ gumamnya merutuki diri sendiri. “Aku kebangun karena haus, mau ngambil minum tapi malah nabrak meja. Om sendiri kenapa nggak tidur?” balas Kalila kemudian bertanya agar menghalau rasa gugupnya. “Aku tidak bisa tidur, baru selesai olahraga.” Darius menjawab santai, keduanya sama-sama membelakangi. “Apa? Olahraga kok malam-malam?” Kalila sedikit keheranan, malam biasanya dipakai untuk istirahat, tapi Darius menggunakannya untuk olahraga. “Waktuku selalu padat, aku senggang di waktu malam saja. Aku butuh olahraga agar badanku bugar dan bagus.” “Emang umur Om Darius berapa, sih? Kenapa nggak kayak seumuran sama Papa?” Hening. Tidak ada jawaban. Kalila buru-buru menutupi kulkas, saking tergesanya, sampai dia tak sengaja menabrak meja. Alhasil dia meringis kesakitan. Mendengar itu, Darius langsung berbalik badan. Alangkah tersiksanya dia kala melihat penampilan Kalila yang seakan-akan menguji jiwa kelelakiannya. “Kalila! Bukankah tadi siang sudah kukatakan, jangan memakai baju seperti itu di depanku!” Darius menegur. Mau bagaimanapun juga dia lelaki dewasa, masih punya hawa nafsu melihat gadis muda itu. “Ya gimana ya? Aku udah biasa pakai baju gini kalau di rumah. Mana aku tahu kalau ada Om Darius di sini, sumpah nggak tahu,” papar Kalila mengusap siku tangannya. Kalila menahan napas ketika Darius mendekat. Menatapnya intens. Karena tubuh Darius lebih tinggi, Kalila mendongak. Memerhatikan tubuh Darius dari jarak dekat. Sebagai wanita, tentu Kalila terpesona melihatnya. “Itu 'kan di rumah kamu, ini di rumahku. Berbeda. Aku lelaki dewasa, kau juga wanita dewasa.” Darius membalas tak santai, menghimpit Kalila ke kulkas sambil terus melayangkan tatapan tajam. Berada dalam kungkungan tubuh besar Darius, Kalila tak bisa melarikan diri. Apalagi ketika Darius mencengkeram dagunya, mengangkat kepala Kalila agar berhadapan. “Jangan lihat aku kayak gitu!” Kalila memberontak, tetapi tidak bisa melepaskan diri. “Siapa suruh tak mendengarkanku, berani berbuat, berani bertanggungjawab dong harusnya.” “Eh, Om! Mau ngapain, ah!” Darius memangkas jarak, hawa nafsu yang ia tahan selama lima tahun lamanya goyah. Benteng pertahanannya runtuh seketika kala ada wanita di depannya, Kalila membelalak kaget ketika Darius membungkam bibirnya. “Om, Om gila, ya?” maki Kalila melepas paksa, lalu dibungkam lagi. Ia memukul d**a Darius agar dilepaskan, tetapi Darius merengkuh pinggang rampingnya sembari menelusupkan tangan ke dalam gaun malam milik Kalila. Mengusap lembut paha mulusnya. Bagai kehilangan akal mendapatkan sentuhan halus dan cumbuan, mata Kalila mulai terpejam merasakan gelenyar yang menggerayang. Diamnya Kalila, Darius semakin beringas melanjutkan aksinya. “Sudah kukatakan dan kuperingati tadi siang, tetapi kau tidak mendengarkanku, Kalila … kamu memang keras kepala.” “Ngh!” Kalila mendesah ketika sebelah dadanya diremas. Bibir keduanya terlepas, menyisakan sisa benang saliva bekas penyatuan napas mereka. Mata Kalila terlihat sayu, sementara Darius makin bernafsu. “Aku tanya padamu, mau dilanjutkan atau tidak?” tanyanya to the point. “Ak-aku … ak-aku … Om, ak—” Kalila diam, dia bimbang. Sementara sentuhan serta ciuman Darius memabukkan, Kalila jadi kehilangan akal. “Ck, terlalu lama berpikir.” Tubuh Kalila melayang ketika Darius mengangkatnya ala bridal, Kalila didudukkan ke atas meja makan. Pahanya dibuka lebar, Darius mulai mendekat ke depan wajahnya. “Om, ak—” “Diam!” Belum sempat menjawab, Darius kembali membungkamnya. Ciuman yang tadinya lembut, kini mulai memanas dan menuntun. Kalila sulit mengimbangi, apalagi dia minim pengalaman hanya bisa membalas sesuai instingnya. Sembari mencium, Darius tak membiarkan tangannya menganggur. Dia terus memberikan sentuhan di bagian sensitif Kalila sehingga gadis itu tak bisa menahan suara. “Ah!” desah Kalila sambil menengadah ketika Darius menyesap leher jenjangnya. “Gadis gila, aku sudah tak bisa menahannya!” Darius memaki, dia kesal karena jadi tak bisa menahan diri. Tangannya menelusup masuk, menarik kain segitiga milik Kalila untuk dibuka. Diciumnya sebentar, lalu dilempar ke sembarangan asal. Darius membuka resleting celana, kejantanannya sudah tegang dari tadi. “Besar banget.” Seolah tak sadar, Kalila mengatakan. Dia mulai ngeri melihat milik Darius begitu jelasnya. “Bisa masuk, kepala bayi saja muat, apalagi milikku.” Darius berkata nakal, Kalila makin ngeri mendengarnya. Darius tidak menghiraukan, menodorong Kalila untuk berbaring. Pahanya dibuka lebar-lebar, Darius mulai menggesekan kejantanannya di depan inti Kalila. Kalila menggelinjang, dia gelisah di atas meja sambil meremas lengan Darius. “Mending kamu jawab dulu pertanyaanku. Mau dilanjut atau tidak? Jangan sampai kamu menyesalinya, Kalila!” Namun nihil, Kalila tak bisa menjawab. Mulutnya terus terbuka sambil melenguh ketika Darius mempermainkannya. Darius mendorong pinggulnya, sampai berhasil masuk setengah. Kalila terhentak sambil mendesah keras, intinya bagai dirobek paksa ketika benda besar itu mulai masuk. “Uh!” “Jawab dulu, aku tidak akan berhenti jika sudah bernafsu!” Gengsi mengatakan 'lanjut’ Kalila hanya bisa mengangguk. Jawaban simple Kalila ini, bagai lampu hijau bagi Darius. Pria itu menyeringai, mulai bergerak maju agar bisa melakukan penyatuan. Setelah lama mencoba, akhirnya bisa. Darius menatap wajah Kalila yang sudah merah dan dipenuhi peluh keringat, Darius mencondongkan badan. Mengecup dagu dan bibir Kalila, pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan gerakan lumayan cepat. “Jangan salahkan aku, karena kamu pun menginginkannya,” bisik Darius sambil memejamkan mata, menikmati penyatuan tubuh setelah sekian lama menjadi duda. Cengkeraman di bahu Darius makin erat, Kalila terus meloloskan desahan serta rintihannya ketika Darius tak memberikan celah untuk istirahat. “Ngh … terlalu dalam, Om!” keluh Kalila, menjerit sakit secara spontan. “Pelan-pelan, sakit tahu!” Sadar jika Kalila minim pengalaman, Darius mulai menetralkan ritmenya agar Kalila bisa menikmati juga. “Kenapa kamu kayak udah pengalaman banget hubungan badan? Kamu sering melakukannya dengan kekasihmu itu?” tuduh Darius saat melihat Kalila seperti sudah pengalaman ketika melakukannya. Dituduh oleh Darius, jelas saja Kalila tidak terima. “Sembarangan kalau ngomong, aku nggak pernah hubungan badan sama si Dallas. Itu juga aku dijebak, nggak tahu gimana rasanya. Om menuduhku!” “Terus sekarang gimana rasanya? Enak?” Semburat rona merah muncul di wajah Kalila. Dia melenguh panjang ketika merasakan hangat di dalam sana. Begitu juga Darius, ia bisa bernapas lega karena sudah mencapai puncak pelepasan untuk kedua kalinya. Napas keduanya terengah-engah, diam sejenak untuk melepaskan penat. Tubuh keduanya kembali terlepas. Di atas meja, tubuh Kalila banyak dipenuhi noda kissmark, dia sudah tak memakai sehelai benang karena pakaiannya sudah tanggal. Sadar dengan apa yang mereka lakukan, Kalila langsung duduk dan turun dari meja. Memakai pakaiannya asal, tak ayal Darius memperhatikan. “Dasar bodoh, harusnya ditolak saja tadi,” gumam Kalila memaki diri sendiri. “Kau menangis?” Darius hendak menghampiri, tetapi Kalila sudah melenggang pergi. Dia berlari begitu saja. Sama hal dengan Kalila, Darius mengusap wajahnya kasar. “Astaga, apa yang sudah kami lakukan? Gila kau Darius!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD