Kalila menutup pintu kamarnya sedikit kasar, dia bersandar di pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Peluh keringat terus bercucuran, Kalila menepuk keningnya berkali-kali mengingat kejadian tadi.
Kalila terus memaki diri sendiri, sudah terbawa suasana dan berakhir bercinta dengan Darius. Walaupun pria itu suaminya dan berhak, tetap saja Kalila belum siap jika harus memberikan nafkah batin.
Akan tetapi, malam ini, apa yang dia ucapkan tak berlaku karena malah terpancing. “Gila! Benar-benar bego lo, Kalila! Kemakan omongan sendiri, mampus!” makinya.
Dia berjalan cepat ke depan cermin, membuka gaun tidurnya. Menatap banyaknya noda merah di tubuhnya, noda yang dibuat oleh bibir Darius sepanjang kegiatan panas tadi.
Kalila mengusap bahunya yang terdapat bekas gigitan, dia meringis.
“Kok perut aku jadi sakit, ya?” gumamnya sambil memegangi perutnya, padahal tadi baik-baik saja.
Rasa sakit itu muncul ketika dia sudah berhubungan badan, Kalila duduk di tepi ranjang sambil mengaduh kesakitan.
Rasa sakit itu kian menjalar, Kalila tak kuasa menahannya.
“Argh, sakit!”
Langkah Darius terhenti ketika melewati kamar Kalila, dia mendengar suara Kalila tengah meraung kesakitan di dalam sana. Darius mendekat, menempelkan telinganya di pintu, takut terjadi sesuatu dengan Kalila. Darius langsung menerobos masuk.
Alangkah terkejutnya Darius kala menyaksikan Kalila tengah meringkuk sambil menahan kesakitan. “Kalila, kamu kenapa? Apa yang terjadi?” tanyanya panik.
Belum bisa menjawab lantaran perutnya semakin sakit, Darius memegang wajah Kalila yang sudah dipenuhi keringat dingin.
“Tenang, kamu kenapa?” kata Darius agar Kalila tak ikut panik.
“Perutku sakit, Om, aku nggak tahu kenapa,” balas Kalila lirih, suaranya parau menahan tangisan. Khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.
“Apa? Kok bisa?” Seakan-akan tak sadar dengan apa yang mereka lakukan, Darius baru ingat ketika dia menyentuh Kalila sedikit kasar, padahal dia sedang hamil muda. “Astaga, aku lupa jika kamu sedang hamil muda, Kalila.”
“Sakit banget, Om, aku takut bayiku kenapa-kenapa,” keluh Kalila memegang erat lengan Darius guna menahan kesakitannya.
Sebagai penebus rasa bersalahnya, Darius membantu memakaikan Kalila baju yang tertutup untuk dibawa ke rumah sakit.
“Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Jangan khawatir, anakmu akan baik-baik saja.” Darius berkata meyakinkan, Kalila hanya bisa diam ketika tubuhnya dibopong dan dibawa turun menuju lantai bawah.
Hari sudah malam, Darius tidak yakin jika ada rumah sakit menerima pasien di tengah malam, bahkan mendekati pagi. Kalila duduk di sebelah Darius, Darius juga ikut panik.
“Om, cepetan!” ketus Kalila tak sabaran, ingin segera sampai di rumah sakit.
“Tenanglah, nggak baik mengendarai mobil kebut-kebutan. Bayimu pasti baik-baik saja, mendiang istriku juga pernah mengalami hal sama.”
Melihat kondisi Kalila, Darius jadi teringat mendiang istrinya. Kalila mendengus kasar, sembari menatap Darius tajam.
“Ini semua karena, Om! Om udah lancang menyentuhku, bahkan memaksaku. Kalau terjadi sesuatu dengan anakku, aku nggak bakalan maafin Om Darius!” Kalila berteriak histeris, menyalahkan Darius dengan apa yang terjadi.
Merasa memang ini salahnya, tetapi tak sepenuhnya salah karena Kalila juga menginginkannya. Pria mana yang bisa menahan jika diberikan lampu hijau? Itulah yang Darius rasakan, dia tidak bisa menahan diri tadi.
“Kenapa kamu menyalahkanku? Kamu bahkan menikmati percintaan kita tadi, Bocah!” timpal Darius ikut emosi menanggapi.
“Pokoknya salah, Om Darius! Karena Om yang duluan nyosor!”
Daripada perdebatan semakin panjang, Darius memilih mengalah dan diam saja. Bisa-bisa ia tidak bisa fokus saat berkendara. Demi keselamatan di jalan, Darius fokus menyetir sesekali melirik Kalila yang menangis.
Selang beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Darius keluar, berjalan mengitari mobil sambil membuka pintu sampingnya.
“Om, cepat … aku nggak kuat!” Lagi, Kalila mengeluh, bahkan sekarang sudah menangis.
“Sabar, Kalila. Kamu ini bising terus dari tadi, aku jadi ikut panik jika kamu heboh begini.”
“Watados banget sih jadi orang, andai aja Om Darius nggak sentuh aku, aku nggak bakalan kesakitan kayak gini.”
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Darius, ingin mengomel, tapi dia urungkan.
“Harusnya kamu menolak jika keberatan, tapi apa? Kamu malah menikmati, bahkan mendesah keras lagi,” cibir Darius, ingat jelas bagaimana Kalila ketika dia menggaulinya. Terlihat menikmati, bukan terlihat keberatan.
“Ish, berisik! Jangan diungkit-ungkit, dong. Aku 'kan refleks doang itu.”
“Halah, alasan. Gimana? Enak nggak kemakan omongan sendiri?”
Malu mengingat itu, barulah Kalila diam membisu karena kalah telak.
Darius menggendong tubuh mungil Kalila dengan mudah, membawanya ke dalam untuk dipindahkan ke kursi roda.
“Sus, tolong bantu istri saya. Dia sedang hamil dan mengeluh sakit di bagian perut,” kata Darius pada suster yang datang sambil mendorong kursi roda.
“Baik, Pak. Kami akan segera menanganinya,” balas suster.
Darius memindahkan Kalila ke kursi roda. Kalila menoleh pada Darius yang tampak cemas, Kalila menunduk. Sikap Darius ini seolah-olah ayah dari bayinya.
“Jangan takut, kandunganmu akan aman. Aku menunggumu di luar. Oke?” bisik Darius pada Kalila agar gadis itu tidak khawatir berlebihan seperti tadi.
Kalila mengangguk, membalas tatapan Darius. Keduanya berpisah karena Kalila mulai memasuki ruangan, sementara Darius menunggu di kursi tunggu.
***
“Kapan kekasihmu itu akan menikahimu, Prisa? Kandunganmu sudah lima bulan, tapi kenapa dia belum mau tanggung jawab?” tanya Mayang---ibunya Darius pada Prisa---keponakannya.
Ditanya begitulah oleh tantenya, Prisa menaruh kembali gelas jusnya. Kemudian menatap Mayang yang memindai perutnya.
“Dia bilang bulan depan, Tante, nggak tahu kapan,” balas Prisa, setiap kali ingin menikah, Dallas selalu saja ada alasan untuk menunda.
Keluarga Prisa juga sudah mendesak, meminta pertanggungjawaban dari Dallas. Sejak dirinya dinyatakan hamil, Prisa diusir dari rumah dan tinggal bersama dengan keluarga Darius.
Mayang memijat pelipisnya. Tidak habis pikir dengan jalan pikir anak muda zaman sekarang.
“Ya kamu harus cerdas dong, Prisa. Kamu paksa dia, atau kalau tetap menunda-nunda. Ancam saja. Jangan jadi wanita bodoh, sudah dihamili, masa nggak mau tanggung jawab? Jangan mau enaknya aja, dong!” omel Mayang pada keponakannya, sudah dia anggap seperti anak sendiri.
Prisa juga ingin Dallas segera menikahi dan bertanggungjawab, tetapi dua hari lalu mereka bertengkar hebat karena Dallas bertemu dengan seorang wanita yang mengaku kekasihnya juga.
Saat ditanyakan, Dallas tidak jujur dan banyak alasan, memberikan jawaban palsu. Prisa juga tidak tahu wanita itu siapa.
“Mau gimana lagi, Tante? Kekasihku gila kerja orangnya, mungkin lagi cari waktu tepat untuk menikahiku.”
“Sok sibuk sekali. Sibuk apaan? Celap-celup bisa, masa nikahin nggak bisa? Tante nggak mau tahu ya, Prisa. Kalian harus segera menikah, kasihan anakmu, dia butuh sosok ayah.”
Diomeli dan diberikan wejangan, Prisa hanya bisa mendengarkan seksama.
“Eh, iya, Tante. Dengar-dengar Om Darius udah nikah, ya? Nikah sama siapa? Kok nggak ngasih tahu keluarga,” tanya Prisa mendapatkan info dari grup chat keluarganya kalau Darius sudah menikah, tanpa sepengetahuan keluarga.
“Iya, Tante sampai sakit saat dengar kabar itu. Ini baru mendingan. Tante bahkan nggak tahu siapa wanita itu, bisa-bisanya Darius nggak memberitahu ibunya. Tante seperti nggak dianggap aja.”
Berita pernikahan diam-diam Darius pun mulai tersebar ke para keluarga, Mayang selaku ibunya belum tahu seperti apa rupa menantu barunya. Karena selama ini, Darius susah dekat dengan wanita mana pun setelah ditinggalkan mendiang istrinya.
"Dia nikah sama Kak Selena atau sama siapa?"
"Tante nggak tahu, kayaknya bukan. Soalnya Selena bilang kalau dia belum pulang ke sini, lagi sibuk ngurus kerjaan di luar."
"Lah, terus kalau Kak Selena tahu Om Darius udah nikah. Gimana?"
"Semoga aja sih sama Selena, Tante udah ngedukung mereka."
“Kenapa nggak lihat langsung aja? Aku juga penasaran mau lihat gimana istri baru Om Darius, dia itu meskipun tua tetap ganteng, pasti istrinya bukan wanita sembarangan.”
“Daripada ngurusin orang, mending kamu urusin masalah sendiri dulu agar orang tuamu memaafkanmu. Soal Darius, biar Tante yang urus.” Prisa mengatupkan bibirnya, Mayang kesal, ingin meluapkan kemarahannya terhadap anak serta keponakannya.” Beritahu kekasihmu, jika bulan depan nggak menepati ucapan, Tante nggak akan segan-segan memberikan dia ancaman. Bahkan kalau bisa, Tante akan menghancurkan karirnya. Itu mudah bagiku melakukan itu,” sambungnya menegaskan.