Di depan ruangan, Darius terus mondar-mandir dengan perasaan sedikit tidak tenang karena Kalila belum kunjung ada kabar. Pria itu bersedekap d**a, mengusap dagunya sambil melirik ke arah pintu ruangan. Ditambah Darius harus menjemput ke bandara, tidak mungkin dia membiarkan Kalila yang sedang sakit sendirian.
“Ck, kenapa lama sekali? Sebenarnya apa yang terjadi dengan bocah itu?” gumam Darius berdecak kesal lantaran pihak medis belum selesai melakukan pemeriksaan.
Dia menunggu dengan sabar, saat Darius akan duduk, pintu kamar dibuka. Memperlihatkan dokter dan suster yang keluar dari ruangan.
Darius beranjak, bangkit dari duduknya untuk menghampiri dokter tersebut. “Dok, gimana keadaan istri saya?” tanyanya cepat.
Dokter mengernyit ketika Darius bertanya, jelas saja Darius kesal. Di saat sedang khawatir, malah mengulur waktu.
“Pasien tadi itu istri Anda?” Bukannya menjawab, dokter itu malah balik bertanya dengan ekspresi heran dan juga terkejut.
Darius mengangguk, tidak tersinggung, hanya saja kesal. “Ya, dia istriku. Cepat katakan! Bagaimana keadaannya?”
Dokter perempuan itu menggaruk pelipis, merasa tidak enak hati. “Maafkan saya, saya kira itu anak Anda. Keadaan pasien sudah lebih baik. Saya hanya menyarankan untuk kandungan trimester awal sebaiknya jangan terlalu sering berhubungan karena masih rawan keguguran. Janinnya sehat, hanya saja harus lebih dijaga lagi. Jangan sampai terjadi hal seperti ini atau mungkin bisa saja terjadi risiko keguguran jika dibiarkan,” papar dokter pada Darius yang terdiam.
Dia juga tidak mau menyentuh Kalila, hanya saja jiwa kelelakiannya mendominasinya tadi. Dia juga sampai kehilangan kendali, saking lamanya tidak merasakan sentuhan wanita semenjak ditinggal mendiang istri.
“Tapi tidak terjadi sesuatu dengan dia, 'kan?” Darius kembali bertanya. Ingin memastikan secara langsung keadaan Kalila di dalam sana.
Dokter menggeleng. “Tidak, Pak. Ibu dan bayinya baik-baik saja. Jika Anda ingin menjenguknya silakan,” kata dokter.
Setelah mengucapkan terima kasih, Darius melenggang pergi menuju ruangan rawat istrinya. Di atas brankar, terlihat Kalila sedang diimpus. Kedatangan Darius ke sini, seketika saja Kalila memasang wajah datar.
Dia meyakini kalau ini terjadi karena kesalahan Darius. “Ngapain Om Darius ke sini? Mending Om pulang aja, deh. Aku nggak mau lihat wajah Om di sini,” usir Kalila sinis.
Namun, Darius tidak menghiraukan. Kalila hanyalah gadis muda, masih labil menurutnya.
“Kalau aku pulang, kamu bersama siapa di sini? Nggak bakalan ada yang menjagamu,” timpal Darius, ada benarnya juga.
Kalau Kalila memberitahu orang tuanya, pasti rahasia besar ini akan terbongkar. Kalila tidak mau itu terjadi.
“Nggak perlu dijaga, lagian masih ada perawat yang bakalan jagain aku. Nggak usah sok baik, anakku kenapa-kenapa juga karena Om!” Kalila terus menyalahkan, meluapkan semua kekesalan pada Darius seorang.
“Iya, iya. Salahku. Puas kamu?” Kesal karena Kalila terus menyudutkan, alhasil Darius hanya bisa mengiyakan saja supaya tidak diperpanjang.
Kalila mendesis pelan, dia membuang pandangan ke sembarangan arah. Dia mengelus perutnya yang masih rata, masih belum menyangka ada nyawa di dalam perutnya.
“Kenapa lagi?” tanya Darius menyadari mata Kalila berkaca-kaca.
“Nggak papa. Cuma sedih aja, kenapa bisa ya takdirku sepedih ini? Udah dijebak, dibikin hamil, eh dapat cowok nggak tahu diri.” Kalila tertawa samar, mentertawakan takdir yang tidak berpihak padanya.
“Mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, bukan seolah-olah karena memang takdir, itu karena kamu juga nggak hati-hati dengan pria. Begini jadinya, aku nggak habis pikir dengan gaya pacaran anak muda zaman sekarang,” kata Darius panjang lebar.
“Bukannya dihibur, malah menyudutkanku,” ketus Kalila lirih, sambil mengusap kasar air matanya.
Darius berdecak pelan, selalu serba salah begini jadinya. “Ya sudahlah. Sekarang ada aku, jika ada sesuatu kamu bisa bilang padaku. Meskipun aku nggak sudi mengakui bayi itu, tapi karena kamu anak sahabatku, aku akan menjagamu, anggap saja seolah aku ini ayah bayimu itu.”
Kalila tertegun, di balik sikap keras Darius, ternyata dia masih memiliki sisi kemanusiaan juga. Mau menerima serta menjaga anak yang bukan darah dagingnya. Kalila menunduk dalam.
“Kalau aku bukan anak sahabat Om, Om nggak bakalan menerima?” Kalila bertanya memastikan.
“Siapa yang sudi menerima anak yang bukan darah daging kita?”
Mendengar itu, Kalila langsung menunduk. Menahan rasa sesaknya. Darius benar, siapa juga yang mau menerima anak yang bukan darah dagingnya? Tak seharusnya ia bertanya, padahal dia sendiri sudah bisa menebak apa jawabannya.
“Om Darius nggak ngasih tahu orang tuaku kalau aku dibawa ke rumah sakit?” tanya Kalila.
Di satu sisi tidak mau membuat orang tuanya khawatir, di sisi lain dia tidak mau orang tuanya tahu kalau ia sedang hamil.
Darius menggeleng. Dia terlalu panik tadi, tidak ada pikiran untuk memberitahu siapa pun, selain ingin cepat membawa Kalila sampai.
“Tidak. Mana sempat aku berpikir ke sana. Kalaupun ingat, kamu pasti akan menyuruhku merahasiakannya, bukan?” Darius menebak, Kalila mengatupkan bibir rapat karena Darius paham.
“Syukur kalau gitu, pokoknya nggak boleh ada yang tahu. Om harus sembunyikan hal ini dari siapa pun. Oke?”
“Kamu menyuruhku untuk berbohong? Lihatlah, berapa banyak hal yang harus kulakukan untuk bocah sepertimu, sementara aku tidak mendapatkan apa pun dari membantumu,” sindir Darius sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Terus Om mau apa? Supaya Om bisa tutup mulut, tapi jangan kemauan yang aneh-aneh.”
"Di matamu aku memang selalu buruk, ya? belum dijawab saja sudah nuduh begitu."
"Lagian wajahnya mencurigakan, apa yang Om Darius inginkan?"
Mendengar Kalila melempar tanya, Darius menatapnya lekat. Raut wajahnya seperti penuh arti.
“Jika aku menginginkan hal tadi, bagaimana?”
"Tuh 'kan! Apa aku bilang!" Nyaris terdesak ludahnya sendiri, mata Kalila membulat sempurna. “Om Darius gila! Dasar pria tua m***m!”
***
Sementara di bandara, Selena masih menunggu Darius yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Sudah 30 menit lamanya Selena menunggu, tetapi yang ditunggu belum kunjung datang.
Selena mengecek ponsel, nomor Darius malah tidak aktif. "Ya ampun, Darius ke mana, sih? kenapa dia belum datang juga sampe sekarang?" gerutunya tak sabaran.
Dia menunggu sampai satu jam lamanya, tetapi Darius belum datang hingga sekarang. Kesal karena Darius ingkar janji, Selena memutuskan untuk pulang naik taksi, sembari datang ke rumah kekasihnya.
Saat tiba di rumah Darius, Selena menyeret kopernya. "Darius ada nggak, Mbok?"
"Tuan Darius sedang pergi ke rumah sakit, Nona."
"Ngapain? Darius sakit?" tanya Selena cemas.
Narsih menggeleng, dia ragu untuk menjawab. "Bukan, Non. Bukan Tuan Darius yang sakit."
"Terus siapa yang sakit?"
"Non Kalila," balas Narsih.
Alis Selena menaut bingung, nama itu terdengar asing. "Siapa Kalila? Kenapa namanya baru pertama kali aku dengar."
Narsih jadi serba salah, antara jujur atau tidak. Takutnya Darius menyembunyikan ini. "Sebaiknya Non Selena tunggu saja, saya tidak berani menjelaskan."
"Jelasin aja nggak papa." Selena sudah terlanjur penasaran.
"Non Kalila itu ... istri Tuan Darius, Nona. Mereka sudah menikah kemarin."
Sekujur tubuh Selena mendadak lemas, dia tidak percaya begitu saja jika Darius sudah menikah. "Nggak, nggak mungkin!" sergahnya dengan pandangan mulai berkunang-kunang, dia lelah karena telah melakukan perjalanan panjang. Sampai tubuhnya ambruk ke atas lantai.
***
“Dallas, kamu dari mana aja, sih? Aku cariin kamu dari malam tapi kenapa ponselmu tidak aktif?” Prisa masuk ke dalam ruang kerja kekasihnya dengan segumpal emosi.
Wajahnya sudah merah, menandakan adanya amarah. Prisa kesal karena Dallas tidak ada kabar sejak semalam, di saat dirinya butuh jawaban serta kepastian.
“Sayang, ya ampun. Kenapa kamu marah-marah? Kamu 'kan tahu kalau aku lagi kerja,” balas Dallas, dia terkejut dengan kedatangan Prisa ke ruang kerjanya.
Prisa mendengus kesal, tak bisa menahan kemarahan. “Bukan menghindar soal pernikahan kita, 'kan? Kapan kamu mau nikahin aku? Aku butuh kepastian, Dallas. Kamu harus tanggung jawab dong sebagai pria, jangan mau enaknya aja.”
Dallas berdecak, dia masih belum memikirkan pernikahan. Dia masih kepikiran soal Kalila.
“Sayang, tenang. Aku bakalan nikahin kamu bulan depan, sekarang aku lagi sibuk ngurusin kerjaan. Jangan marah, dong.”
Rangkulan di lehernya Prisa tepis, enggan berdekatan. “Gimana aku nggak marah, aku diusir orang tuaku karena kamu juga. Semalam tanteku nyuruh aku buat bicara sama kamu, dia nyuruh kamu buat cepat-cepat nikahin aku!”
Dallas menggaruk pelipisnya, dia bingung menghadapi ini. Masih sulit, karena kepikiran Kalila yang mengandung anaknya juga.
“Iya, nanti aku bakalan bicara sama keluarganya kamu, Sayang. Kamu yang sabar, aku janji bakalan nikahin kamu bulan depan.”
“Nanti, nanti, nanti! Bullshit, gitu aja terus jawabannya. Kamu itu sebenarnya cinta nggak sih sama aku? Atau kamu masih belum bisa ngelupain mantan pacarmu itu?”