Dallas gelagapan mendapat pertanyaan dari kekasihnya itu, guna meyakinkan Prisa, Dallas harus bersikap seolah dirinya tidak peduli dengan Kalila.
Direngkuhnya tubuh Prisa ke dalam pelukan, Dallas melayangkan kecupan di kening Prisa agar tenang. “Kamu ngomong apa sih, Sayang? Kenapa malah bahas Kalila? Nggak ada hubungannya sama itu. Lagian kamu sendiri tahu, aku ninggalin dia demi kamu,” katanya, hapal bagaimana meredamkan kemarahan wanita. Hanya dengan pelukan saja Prisa sudah tenang.
Prisa berdecak, dia mencintai Dallas sejak lama. Dia tidak tahu jika pria itu ternyata sudah punya kekasih, karena buta oleh cinta, Prisa tetap mendekati Dallas yang merupakan sahabat temannya.
Prisa menengadah, melingkarkan kedua tangannya di leher Dallas sambil mengerucutkan bibirnya. Dallas terkekeh, mencium bibir ranum Prisa.
“Beneran kamu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia? Tapi dia lagi hamil, gimana kalau dia nuntut pertanggungjawaban?” tanya Prisa serius, ia menghindar ketika Dallas mulai mencium leher jenjangnya. “Jawab dulu pertanyaanku, kita bisa melakukan itu jika kamu sudah menikahiku,” balasnya tegas.
Dallas terbelalak, setiap kali berdekatan dengan Prisa, jiwa kelelakiannya selalu saja diuji dengan penampilan Prisa. Tubuhnya padat, lemak di badannya berada di tempat yang semestinya, membuat tubuhnya terlihat sintal dan memanjakan mata.
“Kamu ingin menyiksaku, Sayang?” Dallas keberatan jika tidak berhubungan, karena hampir setiap bertemu mereka melakukan itu. Jadi tidak heran jika Prisa hamil.
“Ya iyalah, aku mau tahu seberapa serius kamu sama aku,” pungkas Prisa membenarkan gaunnya yang tersingkap.
“Harus dengan cara apalagi aku membuktikan itu? Aku bahkan rela meninggalkan Kalila demi kamu, apa itu tidak cukup?” Nada bicara Dallas meninggi, dia paling risih jika terus dipaksa harus menikahi, di saat dirinya masih memiliki rasa pada Kalila.
Mendengar nada bicara Dallas yang tidak santai, jelas saja Prisa kesal. Prisa mendorong d**a bidang Dallas, memangkas jarak agar tidak berdekatan. “Kenapa kamu nyolot gitu? Kamu terpaksa ninggalin dia? Iya?” tuding Prisa, ia menangkap dari sorot mata Dallas jika dia seperti tidak rela meninggalkan kekasihnya.
Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, seharian mengerjakan pekerjaan, malah dihadapkan dengan kecerewetan Prisa. “Udahlah, daripada kamu nuduh aku kayak gitu. Mending kamu pulang, kita bicarakan ini nanti, aku lagi sibuk!” usirnya sambil menarik Prisa untuk keluar.
“Dallas, lepas! Aku nggak mau nunggu lama-lama, kandunganku semakin besar, anakku butuh sosok ayah, Dallas!” Prisa memberontak, menolak keluar. Karena ia berontak kuat, punggung Prisa sampai menabrak pintu.
Brak.
“Argh!” Prisa mengaduh, dia meringis kesakitan.
Melihat Prisa kesakitan, Dallas jadi ikut panik. “Sayang, Sayang, mana yang sakit?” tanyanya cepat, sambil menahan tubuh Prisa.
“Ayo kita ke rumah sakit, aku takut bayiku kenapa-kenapa. Sakit banget, Dallas,” keluh Prisa. Sebab, akibat benturan itu rasa sakitnya terasa sampai perut.
Karena takut terjadi sesuatu pada kandungan Prisa, Dallas pun lekas membopongnya untuk dibawa ke rumah sakit. “Tahan, ya. Kita ke rumah sakit sekarang, lagian kamu ada-ada.”
“Bisa-bisanya kamu salahin aku!”
Di rumah sakit, Kalila merasa bosan karena sepanjang hari hanya rebahan di atas brankar. Tidak ada yang dia lakukan selain diam. Kalila melirik Darius yang sedang sibuk dengan laptopnya, pria itu menolak pergi kerja hanya untuk menemaninya.
“Mending Om Darius berangkat kerja aja, daripada ngerjain kerjaan di sini. Bikin aku nambah sumpek aja,” cibir Kalila.
Semula Darius sibuk menatap layar laptop, kini beralih pada Kalila. Dia terus saja mengusirnya, dengan berbagai cara.
“Jika aku pergi, kamu akan sendirian nanti. Suster juga nggak bakalan cepat membantu, karena pasien bukan hanya kamu. Lebih baik aku di sini saja, jaga-jaga agar di saat kamu memerlukan bantuan, aku bisa mengawasi,” papar Darius, mengalihkan pandangannya ke laptop. Masih ada beberapa hal yang harus dia urus.
Kalila tertegun. Apa yang Darius lakukan hanya untuknya, tetapi Kalila masa bodoh dengan itu. Dia tidak akan luluh begitu saja.
“Aku bosan, ingin keluar, engap banget disuruh rebahan mulu, sampai pegal badanku,” keluh Kalila.
Percuma saja mengerjakan kerjaan kantor jika Kalila sedang rewel begini. Alhasil, Darius menutup laptopnya. “Kamu sepertinya nggak bisa diam, ya? Sampai pengang telingaku terus mendengarkan kecerewetanmu itu, bocah,” cibir Darius kesal.
Dia bangkit berdiri, mendekati Kalila.
“Lagian dari tadi fokus amat, bukannya menghibur orang sakit supaya nggak jenuh, malah bikin nambah jenuh,” omel Kalila, dia paling tidak bisa diam terlalu lama karena mudah bosan orangnya.
Darius tertawa samar, duduk di kursi samping Kalila sambil menatapnya intens. “Gimana perut kamu? Apa masih sakit?”
Kalila menggeleng, rasa sakitnya mulai berkurang, tidak sesakit awal. “Udah nggak, udah mulai enakan. Bisa kali ya jalan-jalan ke taman?”
“Entah.” Darius mengedikkan bahu, pertanda tidak tahu.”Harus bicara dulu pada dokter bisa atau tidaknya. Kamu hanya perlu diam dan bersantai, banyak sekali protes.”
“Biarin, suka-sukakulah.” Kalila menjawab judes. Tiba-tiba perutnya keroncongan, Kalila merasa lapar dan mulai mengubah posisi menjadi duduk secara perlahan.
Kala akan menggapai buah, tangannya tidak bisa karena ada infusan yang jadi pembatas geraknya. Darius diam memperhatikan, sejauh mana gadis kecil itu bisa melakukan apa-apa sendiri, seperti yang selalu dikatakannya.
“Susah banget, sih,” gumam Kalila pelan, punggung tangannya tertusuk jarum karena terus bergerak. Sampai selang infus pun berubah merah karena darah.
Gegas saja Darius menahan tangan Kalila agar diam. “Sudah kuduga, kamu tidak bisa melakukan apa pun sendirian. Makanya, jangan bebal saat dibilang,” kata Darius, mengambil potongan buah apel di atas meja.
Dia mendaratkan bokongnya di sisi Kalila, ingin menyuapinya. Akan tetapi, Kalila menolak. “Apa, sih? Dikira aku anak kecil apa, disuapi segala! Nggak usah!”
“Di mataku kamu memang anak kecil, nggak jauh beda dengan Jennie.” Darius tertawa mengejek, Kalila jadi makin kesal dibuatnya.
“Taruh aja di situ, aku bisa makan pakai tangan kiri.” Kalila terus menolak disuapi.
“Nggak boleh makan pakai tangan kiri, Kalila. Pamali,” canda Darius.
Kalila mendelik, lalu mendengus. “Dasar orang tua, masih aja bahas-bahas pamali. Bodo amat, ah. Taruh aja di situ, Om.”
Mulut Kalila dibuka, Darius mencengkeram pelan dagunya. Dipaksa oleh Darius, tidak ada pilihan lain selain pasrah.
“Nah, kayaknya memang harus dipaksa, agar nurut. Makan yang banyak, biar cepat besar.”
“Apa banget deh, aku udah besar.”
“Apanya yang besar? Tepos begitu.”
Kalila hampir tersedak, dia mulai meneliti postur tubuhnya yang memang tidak sintal. “Ih, m***m banget! Maksudnya umurku udah besar. Kenapa pikiran pria selalu saja mengarah ke sana?”
Semakin ditimpali, Kalila malah semakin cerewet. Darius jadi sakit telinga terus mendengarkan celotehan Kalila, alhasil Darius tidak lagi menjawabnya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Darius ketika Kalila hendak berdiri.
“Mau ke kamar mandi, kebelet pengen pipis, Om,” balasnya.
Karena tidak memerhatikan jalan, Kalila juga tidak berhati-hati saat berjalan. Tubuhnya mendadak limbung, nyaris terjatuh ke lantai jika Darius tidak menahan.
Mata Kalila membola, ketika tangannya tak sengaja memegang sesuatu di dalam celana Darius. “Bocah sialan, kamu membangunkannya!”