Bab 9. Perdebatan Sengit

1266 Words
Kalila duduk di kursi roda sambil menunduk, meremas jari-jemarinya. Sesekali ia menatap telapak tangannya sembari terus memaki diri sendiri karena tidak sengaja menyentuh milik Darius tadi. Akibatnya, Kalila harus menanggung malu, sementara dia harus menunggu Darius yang sedang di dalam kamar mandi. Entah sedang apa. “Gila, gila, kenapa harus nyentuh itunya, sih?” gumam Kalila sambil tertawa, mentertawakan kebodohannya sendiri. Suara pintu dibuka membuyarkan lamunannya, Kalila menoleh pad Darius yang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. “Om Darius ngapain sih lama-lama di kamar mandi? Aku pegal nunggu Om dari tadi,” omel Kalila, berdehem berkali-kali guna menetralisir perasaan gugupnya. Ekspresi Darius tetap saja datar, Kalila tidak tahu dan tidak mengerti betapa tersiksanya dia tadi. Dia harus menuntaskannya sendiri di kamar mandi, tentu tanpa sepengetahuan Kalila. Bisa-bisa dia malu andai Kalila tahu. “Aku lama di kamar mandi juga karena ulahmu, bocah,” timpal Darius tidak kalah kesal. Harusnya dia yang marah, bukan malah Kalila. Kalila memicingkan mata curiga, dia diam-diam memperhatikan sesuatu di balik celana Darius yang tidak lagi berdiri. “Atau jangan-jangan, Om Darius ….” Dia menggantung ucapan. Alis tebal Darius terangkat, meskipun Kalila anak kecil di matanya, tetap saja dia itu gadis dewasa yang pastinya mengerti. “Karena kamu nggak mau tanggung jawab, aku yang kesusahan menidurkannya sendiri, lain kali hati-hati, menyusahkanku!” Darius menegaskan. Kalila membeliak, ia membekap mulutnya jika dugaannya itu benar. “Omaygat! Jadi, jadi benar kalau Om habis anu di kamar mandi?” pekiknya kaget. Berbeda dengan Darius yang memasang wajah biasa saja. “Mau bagaimana lagi? Mengajakmu pasti tidak mau.” Darius menyeringai penuh arti, bulu kuduk Kalila meremang sambil mengalihkan pandangan. “p*****l,” gumam Kalila, tentunya masih bisa didengar oleh Darius. Darius tidak menanggapi, terserah Kalila saja mau mengatainya seperti apa. Baginya, ini hal wajar, dirasakan oleh pria dewasa sepertinya. Sebuah panggilan telepon masuk, Darius langsung mengangkatnya. "Angkat aja, siapa tahu penting," kata Kalila. Telepon itu bukan dari Selena, tetapi dari Narsih. "Kenapa, Mbok?" "Anu, Tuan ... ada Non Selena datang. Beliau pingsan saat saya kasih tahu kalau Tuan sudah menikah." "Biarkan saja, aku tidak bisa pulang sekarang. Jaga saja dia dengan baik." "Baik, Tuan." "Selena itu siapa?" Kalila memberanikan diri bertanya. Darius menatap Kalila serius. "Kekasihku, wanita pilihan mama." Kalila terdiam, pantas saja semalam Darius bicara mesra di telepon, ternyata Darius sudah punya kekasih. Kalila merasa bersalah karena sudah menjadi penghalang hubungan orang lain. "Maaf, andai aku nggak nyusahin Om Darius, mungkin aku nggak bakalan jadi penghalang hubungan kalian." "Tidak masalah, aku akan membicarakannya dengan dia nanti." Keduanya mulai keluar dari ruangan. Seperti permintaan Kalila, dia ingin jalan-jalan ke taman guna menghilangkan rasa bosannya. Ketika di lorong rumah sakit, mata Kalila tidak sengaja menangkap dua sejoli yang tidak asing. “Dallas?” gumam Kalila, ia menajamkan pengelihatan. Memastikan jika pria dari kejauhan itu memang benar Dallas. Dirasa memang benar, Kalila menepuk tangan Darius agar berbalik arah. “Om, Om, lewat sana aja. Aku nggak mau lewat sini!” katanya tiba-tiba. “Loh, kenapa? Jalan sini cepat sampai,” kata Darius heran. “Udah, jangan banyak tanya, balik aja.” Mau tidak mau, Darius terpaksa memutar kursi roda. Mendorong Kalila ke lain arah agar tidak berpaspasan dengan pria yang sangat Kalila benci. Hatinya mendadak sesak menyaksikan Dallas serta selingkuhannya ada di sini. Sampai di taman, Kalila diam dengan pandangan menerawang ke depan. Darius duduk di kursi, sambil menoleh pada Kalila yang menutup wajahnya. Darius terkejut, kala mendengar isak tangis berasal dari gadis di sampingnya. “Kalila? Kamu kenapa?” tanya Darius. Kepala Kalila menggeleng, masih belum mau bercerita. Darius yakin, ada sesuatu terjadi pada gadis itu. “Kenapa? Bicara padaku jika ada sesuatu yang mengganggumu. Aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang.” Wajah Kalila memerah karena menangis. Dia tidak mau menangisi pria seperti Dallas, tetapi air matanya tidak bisa ditahan mengingat semua yang dilakukan pria itu padanya. Dia merasa jika takdir ini tidak adil. “Ada mantan kekasihku dan selingkuhannya di lorong tadi, Om. Aku nggak mau nangis, tapi nggak bisa nahan, sakit hati banget, Om,” keluh Kalila dengan napas tersendat-sendat, diiringi isak tangis yang terus keluar dari mulutnya. Sekarang Darius mengerti, kenapa Kalila tiba-tiba ingin memutar jalan tadi. “Harusnya kamu tidak menghindar, biar pria berengsek itu aku hajar.” “Udah muak banget lihat wajah dia, apalagi lihat wajah selingkuhannya, jijik aku,” ejek Kalila. Darius menghela napas pelan, sambil mengusap pundak Kalila agar tidak tenang. Dia paham, tidak mudah bagi Kalila menjalani ini semua. “Om Darius?” panggil seseorang dari belakang tubuh mereka. Kalila dan Darius menoleh dengan kompak ke arah sumber suara. Dari belakang mereka, terlihat seorang wanita yang sedang hamil melambaikan tangan pada Darius. Yang membuat Kalila shock, ternyata wanita itu adalah Prisa. Selingkuhan mantan kekasihnya. “Om, Om Darius ngapain di sini?” tanya Prisa menghampiri Darius, belum sadar ada kehadiran orang lain di antara mereka. “Nganter istriku,” balas Darius. Prisa menyampingkan tubuhnya, melihat wanita yang berada di belakang Darius. Tatkala Kalila terlihat, keduanya sama-sama terkejut. “Kamu?” pekik Prisa. Kaget sejadi-jadinya jika istri baru Darius ternyata Kalila. Kalila memutuskan pandangan, Prisa mengepalkan tangan. Wajahnya tampak menahan amarah, Prisa menatap Darius dengan tatapan tanya tanya. “Kalian kenal?” tanya Darius menyadari jika Kalila dan Prisa seperti sudah pernah bertemu. “Maksud Om apa, sih? Maksudnya wanita ini istri baru Om?” Prisa naik pitam, tidak terima jika istri baru pamannya adalah Kalila. Darius mengangguk, mengiyakan. “Iya, dia Kalila. Istri baruku, meskipun usianya lebih muda darimu, dia tetap tantemu. Kamu harus bersikap sopan padanya.” Prisa mendengus kasar. Dari sekian banyak wanita, kenapa harus Kalila? “Om Darius udah gila, ya?!” Darah Prisa mendidih, terlebih dia tahu jika Kalila sedang hamil anak Dallas. “Om berhak menentukan dengan siapa Om menikah, Prisa. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” “Aku mau bicara berdua sama dia!” Prisa menunjuk Kalia, tadinya Darius tidak mengizinkan, tetapi melihat Prisa sepertinya ada hal serius. Darius mengalah, meninggalkan keduanya untuk bicara berdua. “Lo sengaja ngejebak Om gue, hah? Kenapa lo bisa nikah sama Om gue, sialan!” Prisa mulai meluapkan kekesalan pada Kalila yang tampak santai, di luar nalar sekali jika Prisa adalah keponakan Darius. “Gue nggak selicik lo yang ngegoda pria,” sindir Kalila tetap santai, puas sekali menyaksikan kemarahan Prisa. Prisa memajukan langkah. “Gue nggak bakalan ngebiarin lo masuk ke dalam keluarga gue. Gue bakalan bongkar siapa lo sebenarnya ke Tante Mayang, biar lo berdua cerai!” ancamnya. Bukannya takut, Kalila tidak peduli sama sekali. Kalila melirik sekitar, memastikan jika Darius sudah tidak ada di sekitar taman. Kalila berdiri, lalu bersedekap d**a. “Lo pikir gue takut? Nggak!” balas Kalila tepat di depan wajah Prisa, tidak takut meskipun Prisa lebih tua darinya. Baginya, umur hanyalah angka. “Kurang ajar, lo benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya nikah sama Om gue sementara anak yang lo kandung itu bukan anak Om Darius, licik lo, ya!” “Terus? Lo aja bisa ngerebut Dallas, masa gue nggak? Lagian gue sama Om Darius udah nikah, sementara lo? Kasihan banget, nggak dinikahin meskipun udah hamil besar. Makanya jangan mau dibegoin jadi cewek, percaya aja sama pria kayak si Dallas. Mending gue nikah sama om lo aja nggak, sih? Udah pasti.” Kalila tertawa renyah, dia tidak akan terlihat lemah di hadapan wanita yang sudah menjadi perusak hubungannya. “Gue bakalan bongkar semuanya ke tante gue dan keluarga besar gue, Kalila!” “Silakan aja. Kalau lo bongkar semuanya, otomatis kebusukan di Dallas juga bakalan kebongkar. Emang lo nggak mikir, gimana jadinya andai keluarga lo tahu lo nikah sama pria b******k kayak dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD