Prisa hendak melayangkan tamparan di pipi Kalila, tetapi sebuah tangan lekas menahan pergelangannya. Saat menoleh, ternyata Darius yang menghentikan.
Menyaksikan istrinya diperlakukan kasar, Darius menghempas pelan tangan Prisa. “Apa yang kamu lakukan, Prisa?! Jangan kurang ajar kamu pada istriku!” tegur Darius.
Dia menarik Kalila ke dekatnya, Kalila menunjukkan wajah sendu. Bersikap sedramatis mungkin agar dibela oleh suaminya, hitung-hitungan memanasi Prisa dengan menunjukkan kemesraan di hadapannya.
“Aku nggak papa kok, Om,” bisik Kalila, diam-diam ia melempar senyum smirk pada Prisa yang menahan diri karena ada pamannya di sini.
“Jika ada masalah itu dibicarakan dengan kepala dingin, jangan dengan cara kasar apalagi sampai main tangan, kalian berdua berdua sudah dewasa, bukan lagi anak kecil. Kamu juga, Prisa. Istriku sedang sakit, nggak seharusnya kamu begitu pada Kalila, mau bagaimanapun juga dia tantemu. Kamu harus akur dengannya, Prisa,” sambung Darius kesal pada keponakannya. Sebenarnya dia penasaran apa yang terjadi pada Prisa dan Kalila sampai keduanya berdebat di tempat umum.
"Dia bukan tanteku, aku nggak mau punya tante kayak dia! Om Darius kenapa nggak nikah sama Mbak Selena aja, sih? Kenapa harus sama Kalila?!"
"Prisa!" tegur Darius. "Itu bukan urusanmu, Om berhak menentukan! Terserah kamu mau menerimanya atau tidak, dia tetap istriku, kamu jangan kurang ajar padanya."
Darius sama sekali tidak tahu, lantaran meninggalkan mereka yang ingin bicara empat mata. Untung saja Darius datang tepat waktu, sehingga bisa menahan Prisa yang hendak memukul Kalila.
“Kok Om Darius belain dia? Dia yang ngeselin dari tadi!” timpal Prisa tak mau kalah, kesal sekali karena Darius membela Kalila.
“Ngeselin gimana, sih? Bukannya kamu yang dari tadi nyolot-nyolot. Lihat tuh, Om, kelakuan keponakan Om kayak nggak disekolahin. Masa dia minta aku sama Om Darius cerai,” ungkap Kalila, sengaja memprovokasi agar Darius menegur dan memarahi Prisa.
Mendengarkar perkataan Kalila barusan, Darius menghela napas kasar sambil menatap Prisa dengan tatapan tajam.
Melihat Kalila yang mengadu pada Darius, Prisa membelalakkan kedua matanya.
“Astaga, Prisa. Benar begitu?” tanya Darius.
“Benar, Om. Aku nggak mau, tapi dia malah mau nampar aku. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba cari masalah.” Kalila semakin menjadi-jadi, tidak peduli dengan wajah memerah Prisa yang sedang menahan amarah.
“Kurang ajar, gue nggak bakalan diam aja! Lihat nanti!” ketus Prisa sambil menghentakkan kakinya, pergi meninggalkan Darius dan Kalila dengan kekesalan yang menghinggapi raganya.
Kepergian Prisa, Kalila ikut lega. Dia baru tahu kalau Darius dan Prisa keluarga, meski sudah kenal Darius lama, dia baru mengetahui hal ini.
Di satu sisi, Kalila akan mengambil kesempatan untuk membuktikan pada Dallas dan Prisa jika dia bahagia meski sudah dikhianati oleh mereka.
‘Gue nggak bakalan diam dan terpuruk gitu aja. Sekarang ada Om Darius yang bakalan bantu gue, gue bakalan balas perbuatan kalian berdua,’ batin Kalila.
Setelah apa yang mereka lakukan, tentu saja Kalila tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas mereka secara perlahan.
"Om ... 'kan Om Darius punya pacar, pacar Om Darius pasti marah saat tahu kita menikah. Aku nggak mau menyakiti hati wanita lain, karena aku tahu rasanya gimana," ujar Kalila.
"Sudah kubilang, urusan kekasihku itu urusanku, aku akan menyelesaikannya bersama nanti. Lagipula kita menikah gara-gara kau juga yang bodoh, aku harus meninggalkannya karena aku sudah punya istri."
"Maksud Om Darius apa? Om akan tetap memilihku dan bersamaku?"
Darius mengangguk pelan. Karena sekarang Kalila adalah istrinya.
"Jangan terlalu PD karena aku memilihmu, aku terpaksa asal kamu tahu." Darius mengingatkan agar Kalila tidak kegeeran. "Ayahmu akan membunuhku andai tahu aku memiliki kekasih di saat sudah menikah."
Kalila pun bungkam saja, dia tidak akan lupa apa yang dilakukan memang terpaksa, tetapi Kalila lega mendengarnya.
“Kamu nggak apa?” tanya Darius seraya berjongkok di hadapan Kalila, memastikan jika gadis itu baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu padanya.
Kalila mengulas senyum tipis, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Aku nggak papa, makasih ya udah nolongin aku. Kalau nggak ada Om Darius, pipi aku mungkin bonyok ditampar Prisa,” ucap Kalila diiringi kekehan.
“Kalian masih muda, wajar aja masih kekanak-kanakan. Menyelesaikan masalah dengan cara demikian, aku lega jika kamu baik-baik saja,” ujar Darius, dia mendapat amanat dari Benjamin untuk menjaga Kalila.
Meski sulit menerima pernikahan keduanya, Darius tetap akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Mungkin ini sudah garis takdir untuknya, sekeras apa pun menghindar, keduanya memang sudah ditakdirkan dipersatukan.
“Tumben banget Om Darius kalem, biasanya selalu emosi kalau bicara sama aku.”
Di jalan menuju ruangan, Kalila membuka pembicaraan sebagai pemecah keheningan. Dia menatap Darius di belakangnya.
“Tergantung situasi, nggak mungkin aku marah tanpa sebab.” Darius membalas santai. Dia harus banyak bersabar menghadapi gadis muda seperti Kalila.
“Jangan marah-marah, nanti cepat tua kayak papa,” kekehnya.
Mendengar Kalila mengatai ayahnya, Darius tertawa pelan. “Anak durhaka,” balas Darius.
***
Dallas berjalan ke sana kemari untuk mencari keberadaan Prisa yang menghilang entah ke mana. Dia membawa langkahnya, mencari ke berbagai sudut agar Prisa ditemukan.
“Prisa!” panggil Dallas setengah berteriak ketika Prisa muncul di lorong rumah sakit.
Dallas berlari menghampiri.
“Nggak usah pegang-pegang aku!” ujar Prisa menepis tangan Dallas.
“Sayang, kamu kenapa? Kamu habis dari mana?” tanyanya. Menyadari jika Prisa sedang kesal saat kini, tidak tahu apa yang membuat Prisa kesal seperti ini.
Prisa menyedekapkan tangan di depan d**a dengan wajah di tekuk. Sejujurnya, dia iri dengan Kalila yang sudah menikah dengan pamannya. Sementara dirinya? Prisa harus memaksa Dallas agar segera menikahinya.
“Aku kasih kamu waktu dua Minggu untuk nikahin aku, aku nggak mau tahu dan nggak mau nunggu lama-lama.”
Secara tiba-tiba Prisa berubah pikiran, ingin mempercepat proses pernikahan.
“Apa? Kenapa kamu tiba-tiba mempercepat pernikahan kita, Sayang? Apa yang harus aku jelaskan pada orang tuaku?”
“Kok kamu nanya aku? Kamu itu pria, Dallas. Harusnya ngerti tanpa harus aku jelaskan. Asal kamu tahu aja, aku tadi ketemu si Kalila. Wanita sialan itu rupanya udah menikah dengan Om Darius, pamanku,” gerutu Prisa.
Andai saja tidak menyangkut hubungannya dengan Dallas, Prisa pasti sudah membongkar kebenaran pada semua orang kalau Kalila tengah mengandung saat kini.
“Kok bisa, Sayang? Kamu serius?” Dallas memekik kaget, dia masih belum percaya kalau Kalila sudah menikah dengan pamannya Prisa.
Prisa memukul Dallas. “Lihat wajah aku! Dikira aku bercanda? Aku serius. Aku nggak tahu kenapa bisa mereka tiba-tiba nikah, pasti ada yang nggak beres! Kurang ajar banget, nggak sudi aku punya tante kayak si Kalila. Awas aja kalau kamu masih suka sama dia!”
“Sebelumnya mereka ada hubungan? Atau dekat gitu?” Dallas penasaran, dia tidak rela jika Kalila sudah menikah dengan pria lain.
Pertanyaan Dallas ini tak ayal menimbulkan kecurigaan bagi Prisa. “Buat apa kamu nanya gitu? Daripada mikirin mantan kamu, mending kamu nikahin aku. Aku bakalan bilang ke keluargaku.”
Tidak ada pilihan lain selain pasrah, Dallas mengiyakan saja. Toh, dia juga bisa mencari kesempatan bertemu dengan Kalila karena mereka akan berada dalam ruang lingkup keluarga nantinya.
“Iya, iya. Aku bakalan nikahin kamu secepatnya. Tenang, ya, kasihan anak kita kalau kamu emosi gini,” goda Dallas seraya mengecup kening Prisa agar wanita itu tenang, tidak membuat keributan.
“Nah, gitu dong dari dulu.”
Karena sudah selesai diperiksa, Dallas dan Prisa memutuskan untuk pulang. Saat di jalan, Dallas tak sengaja melihat ada Kalila yang sedang sendirian.
“Sayang, bentar, ya. Aku ke toilet dulu, kebelet, nih,” alibi Dallas.
“Kenapa nggak dari tadi, Sayang? Ya udah, cepetan!”
Tanpa rasa curiga apa maksud Dallas, Prisa mengizinkan. Dallas lekas berjalan untuk menemui Kalila.
“Kalila,” panggil Dallas.
Yang dipanggil berbalik, wajahnya terkejut melihat siapa yang datang menghampirinya.