Bab 11. Keterkejutan Darius

1428 Words
Muak melihat wajah Dallas, Kalila pun mendorong lelaki itu agar menjaga jarak. “Cowok stress, pergi lo dari hadapan gue!” maki Kalila. Tidak ada lagi kelembutan yang ia berikan pada Dallas, yang ingin ia ungkapkan adalah kalimat makian pada lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya. Terkejut dengan sikap kasar Kalila, Dallas mencoba untuk bersikap biasa saja dan tidak tersinggung. “Aku mau minta maaf sama kamu, Kalila. Aku bakalan tanggung jawa—” Kalila terkekeh geli mendengar penuturan kata yang terucap dari bibir mantan kekasihnya. Dallas itu penuh dusta, Kalila tahu jika Dallas hanya membual saja. Plak! “Najis amat, gue nggak sudi! Lo kira gue nggak tahu apa lo mau nikah sama jalang lo itu? Gue juga udah nikah, tentunya sama pria yang lebih baik dari lo!” Dengan penuh percaya diri dan berani, Kalila harus jumawa agar tidak terlihat terpuruk di hadapan orang yang menjadi penyebab hancur hidupnya. Rasa cinta yang Kalila rasa sudah sirna, terganti dengan rasa benci yang terpatri di dalam hati. Kalila tidak akan pernah memaafkan Dallas, sampai kapan pun itu. Dallas tersenyum ketika Kalila begitu mudah melupakannya. Soal kejadian di apartemen, Dallas spontan saja mengatakan karena ada Prisa di antara mereka. “Kenapa kamu begitu mudah melupakanku, Kalila? Aku yakin kamu masih cinta 'kan sama aku, maafin aku soal kejadian waktu lalu. Aku terpaksa bicara gitu karena ada Prisa di antara kita. Aku masih cinta sama kamu, Kalila,” ungkap Dallas tanpa rasa malu mengatakan cinta setelah membuat Kalila hancur berkeping-keping. Semua ungkapkan cinta tidak berarti bagi Kalila. Kalila akan tetap membencinya dan menghapus perasaan yang dulu ia rasakan pada lelaki itu. “Lo emang benar-benar berengsek jadi cowok, Dallas. Untungnya Tuhan nunjukin keburukan lo, kalau nggak, gue bakalan jadi wanita bego yang percaya sama pendusta kayak lo. Pergi lo dari hadapan gue! Gue muak lihat wajah lo!” Sekuat apa pun Kalila menahan tangis, akhirnya cairan bening itu meluncur dari matanya. Kalila memukul Dallas agar pergi. Di satu sisi, Kalila merasa kasihan pada Prisa yang dibohongi oleh Dallas. Memang nyatanya Dallas itu lelaki pendusta dan tidak cukup satu wanita. Kejadian ini memberikan hikmah pada Kalila, dia bersyukur sudah dibuka mata hatinya, mengetahui semua keburukan Dallas. “Dengarkan penjelasanku sebentar saja, Kalila.” “Pergi gue bilang!” ketus Kalila sambil berteriak, berharap Darius segera datang untuk membawanya pergi dari sini. Darius sedang mengurus administrasi, meninggalkan Kalila sebentar. Namun, siapa sangka malah ada orang yang tak diharapkan datang. Samar-samar, Darius mendengar suara Kalila yang seperti sedang marah. Dia menajamkan indera pendengarannya, memastikan jika suara itu adalah Kalila. “Mohon dipercapat, sepertinya terjadi sesuatu pada istri saya,” kata Darius. Usai melakukan pembayaran, Darius bergegas pergi. Menyusul Kalila yang dia tinggalkan seorang diri. Benar dugaannya, jika terjadi sesuatu pada Kalila. “Menyingkir!” ketus Darius mendorong Dallas agar menyingkir dari hadapan Kalila. Kalila berhamburan ke dekapannya karena Dallas memaksanya untuk bicara. “Om! Usir pria itu, aku nggak mau lihat dia!” ujar Kalila dengan suara parau, semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan sang suami. Melihat kemesraan Kalila dan Darius, Dallas terbakar api cemburu. “Apa yang kamu lakukan pada istriku, hah? Lebih baik kamu pergi, jangan pernah menyentuh istriku apalagi sampai mengganggunya!” “Aku hanya ingin bicara dengannya saja, aku nggak berniat mengganggunya,” kilah Dallas. Darius menyembunyikan sang istri di pelukannya. Dia kenal Dallas karena dia kekasih keponakannya. “Pergi, Dallas! Kalau tidak, akan kuberitahu Prisa kalau kau menganggu Kalila!” Darius memberikan ancaman. Alhasil, Dallas pun terpaksa pergi daripada Darius memberitahu Prisa jika dia menemui Kalila, bisa-bisa jadi masalah nantinya. Darius naik pitam, dia juga makin penasaran apa hubungan Kalila dan Dallas. Sampai Kalila dan Prisa bertengkar saat di taman. Darius harus mencari tahu. Sebelum itu, Darius menenangkan Kalila yang tak kunjung berhenti menangis. “Tenang, dia sudah pergi. Nggak ada yang berani mengganggumu selama ada aku.” “Ayo kita pulang, aku malas lama-lama di luar,” ajak Kalila melerai pelukan, sadar jika dia spontan memeluk suaminya. Jika terus menempel begini, Darius mengira jika Kalila suka disentuh olehnya. Kalila berjalan lebih dulu, disusul oleh Darius dari belakang. “Bocah itu aneh sekali. Tiba-tiba menempel, tiba-tiba menjauh. Wanita, wanita, memang terkenal dengan gengsinya,” gumam Darius tertawa memperhatikan Kalila yang berjalan cepat meninggalkan Darius. Kedua pipinya merah bak udang rebus. Darius selalu siap sedia melindunginya di saat Kalila membutuhkan perlindungan. Namun, yang harus Kalila jaga ialah, jangan sampai ia jatuh cinta. “Kayaknya nggak boleh dekat-dekat, nanti baper berabe gue. Amit-amit banget jatuh cinta sama pria tua,” gumamnya. *** Ketika tiba di kediaman, di depan rumah sudah ada Selena yang sedang berdiri sambil bersedekap d**a. Menatap tajam pada dua orang dewasa yang baru saja tiba. "Selena?" panggil Darius, dia lupa jika Selena sudah pulang ke Indonesia, saking sibuknya mengurus Kalila. Kalila menunduk ketika Selena mendelik ke arahnya dengan sorot nyalang. "Sayang, kamu ke mana aja, sih? Aku nungguin kamu loh, aku kangen banget sama kamu," rengek Selena sembari memeluk Darius, mengabaikan Kalila yang hanya diam melihat suaminya dipeluk wanita lain. "Kenapa kamu masih di sini?" tanya Darius, melepaskan diri dari pelukan Selena. "Aku nunggu kamu, kamu nggak nepatin ucapanmu. Katanya kamu mau jemput aku di bandara, tapi apa? Satu jam lamanya aku nunggu, kamu nggak ada. Ya udah aku ke sini, karena aku mau ketemu sama kamu," cerocos Selena. "Selena, sebaiknya kamu pulang. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu." Selena menarik tangannya. "Soal kamu udah menikah? Kenapa kamu tega banget sama aku Darius? Kita udah pacaran dua tahun, kenapa kamu malah nikah sama orang lain? Sedangkan aku, nggak kamu kasih kepastian!" Selena mulai menampilkan wajah sedih, dia merasa sesak mengetahui jika kekasihnya diam-diam menikah dengan wanita lain. "Harusnya kamu tahu jika dari awal kita hanya sekadar dijodohkan, Selena!" pungkas Darius. Jelas saja itu membuat hati Selena tercabik-cabik. "Ini semua karena si perempuan gatal ini! Kurang ajar kamu, jalang! Sudah merebut kekasihku!" maki Selena sembari melayangkan tamparan di pipi Kalila. Plak! Melihat Kalila ditampar, Darius tidak diam. Dia menghadang Selena yang akan kembali menghajar. "Jangan menyentuh istriku! Pergi dari sini atau aku panggilkan satpam untuk mengusirmu!" ancam Darius. Selena mendengkus. "Aku nggak bakalan lepasin kamu, Darius. Aku nggak akan membiarkan kalian berdua tenang!" Lekas itu, Selena pergi sembari menabrak tubuh Kalila yang hampir kehilangan keseimbangan. "Wajahmu memar, biar aku obat---" "Nggak usah, biar aku saja. Om bicara aja sama pacar Om Darius, aku nggak mau ganggu." *** Malam harinya, usai menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya. Darius memilih datang ke kamar Jennie, untuk memastikan putrinya sudah tidur. Setelah itu, Darius membawa langkahnya ke kamar Kalila yang letaknya dekat dengan kamar Jennie. Tidak tahu untuk apa dia ke sini, Darius ingin melihat kondisi Kalila, sudah baikan atau tidak. “Om Darius? Ngapain Om ke kamar aku?” tanya Kalila berjingkat kaget karena Darius datang ke kamarnya di tengah malam. “Ingin memastikan kondisimu saja. Sekalian aku ingin bertanya sesuatu, geser,” balas Darius menyuruh Kalila menggeser duduknya. Kalila menggeser posisi, membiarkan Darius duduk di sampingnya. Kalila tidak bisa mengusir karena ini rumah Darius. “Besok ajalah, Om, aku ngantuk banget ini,” ujar Kalila, menutup mulutnya karena menguap. “Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu, Prisa dan Dallas, Kalila? Kamu sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku.” Darius bertanya langsung pada intinya karena Kalila sudah mengantuk. Kalila diam beberapa waktu, sudah ia duga jika Darius akan bertanya soal hubungan mereka. “Aku belum siap cerita, Om Darius pasti bakalan kaget.” Kalila menunduk dalam, ditambah lagi Darius adalah keluarga Prisa. Entah bagaimana reaksinya andai tahu kalau Dallas, calon suami Prisa yang telah menghamilinya. Dagu Kalila diangkat oleh tangan Darius, keduanya bertatapan. Mata Kalila mengerjap beberapa kali ketika memandangi wajah Darius yang terlihat tampan di usianya yang tidak lagi muda. “Ceritakan, jangan melihatku seperti itu. Aku nggak bakalan tanggung jawab kalau kamu jatuh cinta padaku,” kekeh Darius sembari menyentil kening Kalila. Gadis itu mengaduh. “PD banget, seleraku itu kayak Zhang Linghe, bukan pria tua kayak Om Darius,” ejek Kalila sarkas. Gemas dengan Kalila yang blak-blakan padanya, Darius tidak marah sama sekali. Dia sadar diri jika usianya memang tidak lagi muda. “Tua-tua begini juga perkasa, kamu pun sudah merasakannya.” Darius tersenyum penuh arti, Kalila merinding melihatnya. “Cepat jelaskan, katanya ngantuk, tapi malah basa-basi.” Sebelum bercerita, Kalila menimbang-nimbang dahulu agar Darius tidak marah. “Om masih ingat soal mantan pacar yang pernah aku ceritakan?” Darius mengangguk, tentu ia ingat karena Kalila baru-baru bercerita. “Ingat, terus?” “Dallas itu mantan pacarku, dia pria yang sudah menghamiliku. Prisa adalah selingkuhan Dallas, mereka orang yang aku ceritakan pada Om Darius waktu lalu.” “Apa?” pekik Darius terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD