Lagi dan lagi, fakta mengejutkan pun kembali datang. Di sini, Darius sudah seperti orang bodoh saja yang tidak mengetahui permasalahan tiga orang terdekatnya.
Darius benar-benar tidak menyangka jika Dallas adalah ayah dari bayi yang Kalila kandung. Kurang ajarnya Dallas, tidak mau tanggung jawab dan justru malah masuk ke dalam ruang lingkup keluarganya.
“Sialan! Kenapa kamu baru bilang sekarang? Jika saja kamu bilang dari awal, aku tidak akan membiarkan si berengsek itu menjadi bagian keluargaku, Kalila. Aku tidak akan diam saja, aku harus memberitahu keluargaku agar Prisa tidak asal memilih pria!” gerutu Darius sangat murka.
Andai tahu dari awal, dia tidak akan setuju dan merestui pernikahan keponakannya ini. Gara-gara Dallas juga, Prisa diusir dari rumah karena hamil di luar nikah, ditambah lagi Dallas mengulur waktu untuk bertanggungjawab.
Sebelum Darius bertindak, Kalila menahan lengan kekar sang suami. Meski ada rasa benci yang ia rasakan pada Dallas dan Prisa, tetapi Kalila tidak ingin Prisa merasakan apa yang dia rasakan.
“Om, jangan!” ujar Kalila terus menahan.
Jika Darius membongkar kebusukan Dallas, Kalila bisa menebak kalau keluarga besar suaminya tidak akan menerima dan membuat bayi Prisa akan kekurangan figur ayah.
Kalila tidak tega, karena dia juga seorang wanita. Tidak peduli sebesar apa kesalahan yang mereka perbuat padanya.
“Kenapa kamu menahanku? Harusnya pria b******n seperti dia jangan dibiarkan lolos begitu saja setelah apa yang dia perbuat padamu. Dan kamu juga! Jangan hanya diam saja!” Darius jadi tersulut emosi.
Demi menenangkan suaminya, Kalila menenggelamkan rasa malunya dengan mengusap d**a Darius. Wajah Darius begitu menyeramkan jika sudah marah.
“Mau gimana lagi, Om? Meskipun kesalahan mereka sulit dimaafkan, tapi bayi Prisa nggak bersalah. Aku nggak mau bayi itu menderita, setiap anak butuh figur ayah dan ibunya,” kata Kalila bermurah hati membiarkan keduanya bersama, andai saja dia tidak punya rasa kemanusiaan, sudah dia bongkar kebusukan Dallas pada semua orang.
“Lantas bagaimana denganmu? Kamu yang banyak menanggung derita atas perbuatan mereka, Kalila.” Darius memindai wajah sendu Kalila, dia paham, pasti tidak mudah berada di posisi Kalila.
Kalau saja Darius ada di posisi Kalila, niscaya dia akan menghabisi mereka berdua dan tidak akan memberikan ampun. Namun sayangnya, itu Kalila, yang masih memiliki rasa kemanusiaan meski dua orang itu sudah melakukan kesalahan fatal.
“Aku nggak butuh pria seperti itu, meskipun andai Dallas nggak selingkuh dan menghamili wanita lain, aku nggak mau bersama pria yang begitu mudah merusak wanita. Biarkan saja, aku selalu ingat jika segala sesuatu yang diperbuat bakalan ada balasannya.” Kalila bersikap tenang, dia tidak rugi kehilangan pria seperti Dallas. Justru dia senang dan lega, Tuhan sudah memberikan petunjuk untuknya.
Darius salut dengan keputusan Kalila, meski sudah dibuat hancur, tetapi masih bisa berlapang d**a membiarkan mereka hidup bersama.
“Ada aku yang akan membantumu. Kamu istriku, aku akan melindungimu, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Ingat itu,” kata Darius, hati Kalila berdesir mendengar penuturan Darius yang terlihat tulus memberikan perlindungan padanya.
Kalila mengulum senyum, mencoba untuk tidak terbawa perasaan dengan sikap manis Darius. Rupanya, pria itu tidak segalak dan sekaku yang Kalila kira.
“Aku mau membuktikan pada mereka jika aku bisa bahagia, aku mau Om Darius bantu aku buat pura-pura di hadapan mereka kalau kita pasangan yang bahagia.”
Darius hanya membalas dengan anggukan saja, menuruti kemauan Kalila untuk tidak menunjukkan keterpurukan di depan mereka.
“Kenapa harus pura-pura? Kenapa tidak beneran saja, hmm?”
Sebelah tangan Darius terulur, menyampirkan helai rambut Kalila. Kalila berdehem, menepis tangan Darius.
“Emang nyatanya kita sama-sama nggak nerima pernikahan ini, 'kan?” Kalila menimpali, apa yang dia katakan memang itu kebenarannya.
“Kita lihat saja ke depannya, kita tidak tahu bagaimana nasib pernikahan kita nanti,” kata Darius, dia sendiri belum ada gambaran soal masa depannya dengan Kalila. Dia hanya ingin belajar dan mencoba menerima Kalila, meski sulit.
Selain menikah karena terpaksa, Darius juga masih memiliki rasa pada mendiang istrinya.
“Oke, kita taruhan. Menurutku nggak bakalan berlangsung lama, aku juga bakalan cari cara agar kita nggak terjebak di pernikahan ini. Menurut Om gimana?”
“Feeling yang kurasakan malah justru sebaliknya. Bagaimana jika aku yang benar?”
“Yang menang bakalan dituruti keinginannya.”
“Apa pun?” Darius bertanya, ada maksud tersembunyi di balik pertanyaannya.
Dengan cepat Kalila mengangguk. “Apa pun, andai aku menang, Om Darius harus menuruti keinginanku tanpa terkecuali, kalau Om Darius menang, aku yang bakalan menuruti keinginan Om Darius.”
Taruhan yang menurut Darius sangat kekanak-kanakan, tetapi dia pun menyetujui taruhan yang Kalila putuskan.
“Oke, deal. Lihat saja nanti.”
***
Selena kembali ke rumahnya dengan perasaan campur aduk, hatinya hancur berkeping-keping karena Darius begitu mudah mencampakkannya. Kedekatan selama dua tahun lamanya seperti tidak berarti apa-apa di mata Darius.
"Argh! Seharusnya Darius itu milikku!"
"Aku harus merebut kembali apa yang menjadi milikku, tidak ada yang boleh mendapatkan dia selain aku. Tidak peduli dia sudah menikah, aku yang akan memisahkan Kalian!" ketus Selena sembari menyapu meja riasnya, sampai alat perawatannya berserakan di atas lantai.
"Selena, apa yang kamu lakukan?" tanya ibunya Selena langsung memasuki kamar mendengar suara benda jatuh di kamar putrinya.
Selena memeluk ibunya, menumpahkan kesedihannya. "Darius, Ma ... Darius sudah menikah!"
Ibunya Selena membelalak. "Apa? Kamu jangan bercanda, Selena. Darius menikah dengan siapa?"
"Aku serius. Makanya aku nangis, dia bahkan tidak memberitahuku jika dia menikah. Dia diam-diam punya wanita lain tanpa sepengetahuanku!" Selena menangis sejadi-jadinya, dia sudah terlalu cinta, sehingga sulit menerima.
"Tapi pas Mama ketemu sama si Mayang, dia nggak ada cerita apa-apa tuh, nggak bilang kalau Darius nikah. Harusnya kalau dari awal nggak serius soal perjodohan ini, jangan memberi harapan, kalau udah gini 'kan, kamu yang tersakiti. Kurang ajar mereka!"
"Dan Mama tahu, yang paling bikin aku kesal. Darius ngusir aku, dia lebih memilih wanita jalang itu daripada aku. Akau harus gimana, Ma? Aku udah cinta mati sama dia!" gerutu Selena agar ibunya membantu.
"Mau gimana lagi, Selena? Dia udah nikah, Mama rasa perjodohan kalian diakhiri saja. Mama nggak terima dengan sikap mereka yang semena-mena pada kita. Meskipun tidak mendapatkan Darius, kamu masih berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik. Mama dan papamu akan mencarikan laki-laki yang lebih hebat dari si Darius."
"Nggak, Ma. Aku nggak mau. Pria yang aku inginkan hanya Darius. Mama harus bantu aku, aku nggak mau lelaki lain. Aku hanya ingin Darius."
"Sadar kamu, Selena! Jangan hanya karena seorang pria, kamu jadi merendahkan harga dirimu! Banyak lelaki yang mengincarmu, Mama nggak setuju kamu masih mau sama dia." Ibunya menggerutu, tidak mentolelir kesalahan Darius pada anak kesayangannya.
"Aku akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka, Ma. Apa pun caranya, aku akan mendapatkan Darius!"
***
“Kenapa sih Papa sama Tante Lila berduaan terus?” tanya Jennie ketika datang ke kamar ayahnya di waktu malam.
Ditanya begitu, Darius harus menyiapkan jawaban yang pas agar bocah seperti Jennie mengerti.
“Karena Papa sama Tante Lila udah nikah, Nak. Mulai sekarang dan seterusnya, kita bakalan tinggal bersama,” balas Darius sembari memangku Jennie, mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya.
Jennie mengangguk-anggukkan kepalanya, sudah dari lama dia ingin punya ibu agar sama seperti teman-temannya.
“Tapi kenapa Papa sama Tante Lila tidurnya beda kamar? Bukannya kalau udah nikah itu tidurnya bareng ya, Papa?” Jennie bertanya begitu polosnya, sampai Darius heran, tahu dari mana Jennie soal pernikahan.
“Karena Tante Lila yang nggak mau tidur sama Papa. Kita butuh pendekatan, Tante Lila masih muda, masih kekanak-kanakan pemikirannya.”
“Jadi Tante Lila jadi mama baru aku dong, Pa?”
Lagi, Darius hanya bisa mengangguk. Jika dipikir-pikir, mereka berdua lebih cocok jadi kakak adik, daripada ibu anak.
“Iya, Jennie nggak marah 'kan kalau Papa nikah lagi?”
Jennie mengusap dagu, tampak berpikir. “Nggak dong, kalau Tante Lila ada di sini, Jennie bakalan ada teman. Jennie nggak bakalan kesepian lagi deh kalau Papa lagi sibuk kerja.”
Lega. Itu dirasakan Darius ketika Jennie menerima pernikahan keduanya. Jennie memang anak yang penurut.
“Syukurlah, Papa lega kalau kamu mau menerima pernikahan kedua Papa, Nak.”
Di dalam kamarnya, Kalila kesulitan tidur ketika mendengar suara di luar kamarnya. Kalila yang memang penakut, jadi berpikir yang tidak-tidak.
“Suara apa itu? Jangan-jangan di rumah Om Darius ada hantu?” gumam Kalila, menyibak selimutnya secara perlahan.
Suara di luar kamar makin jelas terdengar, Kalila jadi nambah ketakutan dan berlari keluar. Di tengah malam begini, suasana rumah begitu sepi. Kalila bingung mau ke mana lagi.
“Jennie, Jennie. Tante Lila boleh masuk nggak?” tanya Kalila seraya mengetuk pintu kamar Jennie.
Hening, tidak ada orang ketika membuka pintu. Tidak ada pilihan lain selain pergi ke kamar Darius.
“Om! Om Darius!” panggil Kalila menatap was-was ke sekitar.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka. Darius terkejut ketika Kalila datang dengan gaun malamnya.
“Ngapain kamu datang malam-malam pakai baju seksi, Kalila?”